2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ngopi” Kekinian, Kekinian “Ngopi”

Caecilia Menzelthe by Caecilia Menzelthe
October 26, 2025
in Esai
“Ngopi” Kekinian, Kekinian “Ngopi”

Caecilia Menzelthe

SECARA umum ngopi di Indonesia dapat diartikan sebagai kegiatan meminum atau mengkonsumsi kopi. Namun, ada pula definisi lain ngopi.  Pada budaya Sunda, ngopi diartikan sebagai kegiatan ngemil atau mengkonsumsi camilan yang dapat berupa makanan dan minuman apapun dan tidak harus kopi. Di Aceh, ngopi adalah kegiatan berkumpul bagi berbagai kalangan masyarakat tanpa mengenal usia. Bagi kaum muda kini, ngopi diartikan sebagai kegiatan nongkrong untuk kumpul bersama kawan atau mengunjungi kedai kopi.

Ngopi sebetulnya bukan merupakan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Budaya ngopi sebetulnya sudah ada dan melekat dalam masyarakat sejak dulu. Seduhan kopi sebagai teman sarapan bagi bapak-bapak sebelum berangkat kerja, atau kopi sebagai minuman selamat datang yang disuguhkan bagi tamu yang berkunjung kerumah merupakan hal yang telah ada sejak dulu.

Namun kini, kegiatan ngopi telah berubah. Ngopi tidak lagi menjadi kegiatan yang hanya dinikmati orang tua atau dianggap kuno, ngopi telah menjadi kegiatan yang dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat dari berbagai usia dan gender. Hal ini terbukti dari bertambahnya tingkat konsumsi kopi di Indonesia.

Menurut International Coffee Organization (ICO), pada tahun 2018 – 2019, Indonesia menjadi negara dengan tingkat konsumsi kopi tertinggi diantara negara penghasil kopi terbesar di dunia seperti Ethiopia, Brazil, Kolombia dan Vietnam. Konsumsi kopi lokal Indonesia sebesar 50,97% membuktikan bahwa Indonesia saat ini tidak hanya sebagai produsen kopi, namun juga sebagai pasar atau konsumen kopi yang cukup besar.

Laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang dikutip dari survei Goodstats pada 2024, konsumsi kopi domestik Indonesia diperkirakan mencapai 4,79 juta kantong (60 kg per kantong) pada periode 2023/2024, mengalami peningkatan dari 4,8 juta kantong pada periode sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatatkan konsumsi kopi per kapita Indonesia meningkat menjadi 1,8 kg/tahun pada 2023, dibandingkan dengan 1,0 kg/tahun pada 2013. Peningkatan ini mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin menggemari kopi.

Budaya Ngopi Indonesia

Budaya ngopi dan masyarakat Indonesia merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Kopi sebetulnya bukan merupakan tanaman khas Indonesia. Kopi adalah tanaman khas dari Ethiopia yang menyebar akibat perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Arab.

Di Indonesia sendiri, kopi pertama kali hadir pada masa penjajahan Belanda. Biji kopi pertama kali dibawa ke pulau Jawa dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Indonesia. Biji kopi saat itu merupakan komoditi perdagangan utama yang sangat mahal harganya, sehingga para petani yang menanamnya bahkan tidak diijinkan untuk mengkonsumsinya secara pribadi.

Petani kopi kemudian mencari cara untuk mengkonsumsi kopi tanpa melanggar aturan yang ada. Caranya adalah dengan mengumpulkan biji kopi dari kotoran luwak, hewan pemakan buah kopi. Cara ngopi dari kopi luwak ini merupakan bukti bahwa ngopi telah menjadi hal yang menyatu dalam keseharian masyarakat Indonesia sejak dulu. Bukti lainnya adalah dengan adanya cara penyeduhan kopi paling sederhana dan tradisional dengan mencampukan kopi dan gula yang disebut sebagai kopi tubruk.

Selain kopi tubruk, terdapat berbagai cara penyajian kopi tradisional lainnya. Misalnya penyajian kopi seduh yang dibalik di atas pinggan atau piring kecil di Aceh yang bernama kopi walik. Kopi taluo, kopi yang disajikan dengan mencampur kopi seduh dengan telur ayam kampung, di Sumatera Barat. Kopi joss atau yang biasa disebut kopi arang karena penyajian kopi yang dicampur dengan arang yang dibakar, khas angkringan Yogyakarta.

Sebelum berkembang seperti saat ini, aktivitas mengkonsumsi kopi yang dilakukan masyarakat Indonesia berawal dari kegiatan minum kopi yang dilakukan oleh bapak- bapak dan kemudian menjalar ke berbagai kalangan masyarakat baik perempuan, laki-laki, anak-anak, maupun dewasa. Budaya ngopi di Indonesia juga menjamur seiring dengan kehadiran warung kopi yang menyajikan kopi seduh lengkap dengan camilan seperti pisang goreng, tempe goreng, kacang rebus, dan berbagai jenis panganan tradisional lainnya.

Coffee Culture

Perkembangan transformasi kopi dunia terbagi menjadi beberapa gelombang. Gelombang pertama ditandai dengan berlomba-lombanya produsen kopi mendorong konsumsi kopi dengan membuat kopi murah berkualitas rendah untuk dipasarkan. Jenis kopi yang digunakan adalah biji kopi robusta yang dikenal sebagai kopi dengan rasa pahit dan mengandung kafein tinggi. Gelombang pertama budaya kopi ini dimulai pasca Perang Dunia ke-2. Pada masa ini, kopi dijadikan sebagai komoditas dalam perdagangan.

Gelombang kedua berada pada sekita tahun 1980 hingga 1990. Teknik pengolahan biji kopi dengan menggunakan mesin kopi espresso dan pengaruh kopi dari Italia ke Amerika menjadi awal dari fase ini. Pada fase ini biji kopi arabika yang cenderung asam menjadi tren untuk konsumsi kopi massal. Lahirnya kedai kopi modern Starbucks dengan latte art menjadi ciri khas pada gelombang kedua budaya ngopi ini.

Gelombang ketiga dimulai dengan mulai hadirnya kedai kopi lokal yang menyajikan kopi single origin. Kopi pada masa ini diseduh oleh barista dengan menggunakan metode berbeda seperti V60, French Press, dan lainnya. Jika pada gelombang kedua minum kopi dinilai sebagai rutinitas yang melihat status seseorang dalam kehidupan sehari-hari, maka pada gelombang ketiga ini kopi memiliki makna yang lebih baik.

Kopi mulai memiliki penggemarnya sendiri. Penggemar kopi atau yang biasa disebut sebagai penikmat kopi adalah konsumen kopi yang meminum kopi untuk memuaskan selera pribadinya. Para penikmat kopi biasa memiliki pengetahuan, bahkan selera khusus dalam menikmati kopi. Tak jarang para penikmat kopi ini berkeliling dunia untuk memenuhi rasa ingin tahu atau memuaskan seleranya akan kopi.

Meluasnya pasar kopi dengan beragam kopi kekinian yang dijual dengan harga murah menjadi tanda-tanda dimulainya gelombang keempat dalam fase transformasi kopi. Selain itu, hadirnya perpaduan kopi daerah yang disajikan dengan cara khas daerah juga dianggap sebagai ciri khas dari fase ini. Cara penyajian kopi ini dimaksudkan agar penikmatnya tidak hanya dapat menikmati kopi, namun juga memahami informasi sejarah dan budaya dari kopi yang disajikan.

Budaya ngopi di Indonesia saat ini mulai memasuki gelombang keempat dalam gelombang transformasi kopi dunia. Fase budaya ngopi di Indonesia dimulai dengan fase warung kopi atau kedai kopi tradisional yang menyajikan kopi robusta pada gelombang satu, kehadiran kedai kopi modern seperti Starbuck yang berasal dari Amerika dengan espresso dan kopi arabika yang diolah dengan mesin kopi pada gelombang kedua serta kehadiran kopi khas daerah atau kopi lokal atau yang biasa dikenal sebagai single origin pada gelombang ketiga. Gelombang keempat dalam budaya ngopi ini ditandai dengan munculnya berbagai jenis gerai atau outlet kopi kekinian yang menjual kopi siap minum dengan harga murah.

Ngopi Sebagai Budaya Populer

Pergeseran makna ngopi dari suatu hal tradisional menjadi sebuah budaya populer di Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari munculnya sebuah film berjudul Filosofi Kopi (2015) yang diangkat dari novel dengan judul sama karya Dee Lestari. Kemunculan film Filosofi Kopi menjadi titik baru perkembangan kopi di berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Sosok Ben yang digambarkan sebagai penikmat kopi dan rela berjuang untuk menciptakan kopi terenak dan sosok Jody sebagai orang yang memaknai kopi sebagai sebuah komoditi memberikan pemahaman dan gambaran nilai baru terhadap kopi kepada masyarakat.

Kehadiran media sosial juga menjadi hal yang membuat perubahan budaya ngopi menjadi sebuah budaya populer menjadi semakin cepat. Misalnya kemudahan akses media sosial seperti Youtube, Instagram dan berbagai platform lain diberbagai perangkat elektronik seperti ponsel.

Kehadiran Instagram dan selebgram yang memposting berbagai kegiatannya bersama secangkir kopi serta budaya pamer yang menjalari pengguna media sosial dan kehadiran kedai kopi modern atau coffee shop dengan dekorasi yang menarik membuat banyak pengguna Instagram turut serta dalam budaya posting ngopi.

Penggunaan kopi dan coffee shop sebagai latar belakang dalam berbagai video di youtube juga menjadi salah satu penyebab semakin berkembangnya ngopi sebagai budaya populer. Misalnya yang ditampilkan di lagu berjudul Bergema Sampai Selamanya di kanal Youtube @nadhifbasalamah, Soda Pop Official Lyric Video di kanal @SonyAnimation, @IndoSemarSakti dalam video klip seorang penyanyi Indonesia Mahen berjudul Cinta Selesai. Short movie seperti yang ditayangkan dalam kanal youtube @SalshabillaTV berjudul Akhirnya Jatuh Cinta Lagi (Short Movie) | Salshabilla, dan dalam kanal Youtube @KevinHendrawan berjudul Matchalatte, Pertama Kali, dan Terus Didekatmu.

Dampak perubahan budaya kopi menjadi sebuah budaya populer dapat dilihat dari mudah dan perkembangan kedai kopi modern atau coffee shop yang ada di Indonesia. Kedai kopi modern di Indonesia saat ini sangat mudah dijumpai. Tidak hanya hadir di wilayah perkotaan, coffee shop kini telah hadir bahkan hingga ke wilayah pinggiran bahkan pedesaan.

Peningkatan jumlah coffee shop dalam kurun waktu sembilan tahun yang meningkat hamper sepuluh kali lipat menjadi salah satu bukti bahwa budaya populer ngopi telah membawa perubahan dalam tatanan sosial masyarakat. Misalnya memunculkan ngopi sebagi budaya konsumtif, seperti pada banyaknya masyarakat yang hanya latah membeli kopi di coffee shop demi memajang foto atau ikut–ikutan tren di media sosial. Atau perubahan gaya hidup yang menilai bahwa ngopi itu harus dilakukan di coffee shop. Bahkan munculnya pengelompokkan kelas sosial akibat adanya coffee shop.

Misalnya konsumen kopi di kedai kopi modern seperti Starbucks, Tanamera atau Toffee Coffee dianggap sebagai coffee shop kelas atas, coffee shop tertentu seperti Up Normal, Ruang Kopi, atau kopi kekinian seperti Janji Jiwa, Kopi Kenangan sebagai kopi kelas menegah dan warung kopi pinggiran sebagai warung kopi bagi masyarakat kelas bawah. Lahirnya budaya konsumtif dan pelabelan kelas masyarakat dari jenis kedai kopi yang dipilihnya tentunya menjadi sebuah dampak buruk dari perubahan budaya ngopi menjadi budaya populer.

Pada sisi lain, ngopi juga dapat menghadirkan kesempatan baru. Kondisi ekonomi dan keadaan yang tidak seimbang antara pekerjaan dan pencari kerja membuat banyak orang membutuhkan ide untuk membuka usaha atau berwirausaha. Kehadiran budaya populer ngopi menjadi alternatif baru dalam menjadi ide usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Bahkan kehadiran coffee shop juga membuka profesi baru yaitu barista. Barista atau peracik kopi sebetulnya bukan hal baru dalam dunia kopi. Namun, kehadiran coffee shop menuntut kehadiran barista atau peracik kopi yang tidak hanya bisa membuat kopi, tetapi juga sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam dunia kopi, atau yang biasa disebut sebagai Q–Grader. Tentunya kehadiran spesialis kopi atau Q–Grader dapat menjadi sebuah hal baru bernilai positif dari peracik kopi.

Selain itu, penyajian kopi blend; kopi yang dibuat dari campuran biji arabika dan robusta dengan kadar tertentu; dengan berbagai cara seperti Vietnam Drip (penyajian kopi dengan mencampur kopi seduh dengan susu kental manis) atau cappucinno (perpaduan kopi espresso, susu panas dan busa susu), di berbagai coffee shop menjadi simbol perdamaian antara nilai kopi arabika yang dulu dinilai sebagai kopi kalangan atas dan kopi robusta yang identik dengan kopi massal tak berkualitas.

Kehadiran kopi blend juga dapat bernilai toleransi. Hal ini disebabkan, kopi blend dengan penyajiannya yang beragam yang tidak hanya berupa kopi asli atau kopi item dan dapat ditambahkan pemanis seperti gula, susu kental manis atau madu menjadi alternatif bagi orang yang ingin mengkonsumsi kopi, namun tidak tahan atau tidak suka dengan rasa pahit yang ada di kopi.

Perubahan budaya ngopi juga berdampak pada perubahan gaya hidup masyarakat. Kopi yang dulu menyatukan berbagai kalangan, misalnya, kehadiran berbagai komunitas pecinta kopi menjadi ruang baru untuk bersosialisasi dan memulai persahabatan. Perubahan budaya ngopi sebagai budaya populer menjadi alternatif baru dalam memilih lingkungan pertemanan di tengah masyarakat yang mulai individualis. [T]

Penulis: Caecilia Menzelthe
Editor: Adnyana Ole

Tags: Budayakopikuliner
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggagas Estetika Teater Modern Bali Utara

Next Post

Semangat Literasi dan Etika Digital di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2025

Caecilia Menzelthe

Caecilia Menzelthe

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Semangat Literasi dan Etika Digital di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2025

Semangat Literasi dan Etika Digital di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co