MENULIS puisi, berarti kita telah memandang sesuatu hal punya nilai puitik. Dan, mendiamkan teks puisi usai ditulis, berarti kita telah mengkristalkannya menjadi satu bahasa, selain indah, juga bernilai, lalu jadilah ia puisi seutuhnya.
Demikianlah pelajaran penting yang dapat dipetik dari Lokakarya Menulis Puisi di acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Rabu, 1 Oktober 2025.
Penyair Pranita Dewi dan Nanoq da Kansas menjadi narasumber di acara itu. Mereka lebih dulu menjelaskan apa itu—dan bagaimana menulis puisi, juga penyair melihat sesuatu yang bernilai puitik.
Atau Soebagio Sastrowardoyo menyebutnya—dengan matanya ia menyerbu rahasia dunia.
Selain permainan kata, kekuatan puisi ada pada cara seorang penyair dalam menangkap dan menginterpretasikan dunia.
“Dalam sesi ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana mata penyair bekerja—menangkap realitas, menyaringnya melalui sensibilitas kreatif, dan menuliskannya dalam bentuk puisi,” kata Pranita Dewi memulai lokakarya.
Ketakjuban-ketakjuban dalam melihat sesuatu, bisa menjadi satu modal untuk ditulis ke dalam puisi. Penyair biasa menuliskan itu bahkan menjadi visi yang akan dituliskannya pada puisinya.
Proses menulis puisi menjadikan seorang penyair memiliki cara pandang lain, dalam hal ini lebih terbuka dalam melihat dunia; antara realitas dan imajinasi tentu saja.
Penyair memiliki cara pandang unik terhadap dunia. Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan, menghubungkan, dan memaknai. Seperti dalam puisi “Mata Penyair” karya Subagio Sastrowardoyo, dapat ditemukan sebuah kritik dan refleksi, selain sudut pandang yang mendalam.

Ketika itu, Pranita menyilakan salah satu peserta untuk membacakan puisi karya Subagio Sastrowardoyo berjudul Mata Penyair. Di baris kedua tempat duduk peserta, atas nama Wulan maju ke depan dan membacakannya.
Berikut puisi yang dibacakan Wulan;
Ketika terbuka jendela, terdengar hiruk-pikuk kota. “Apa saja yang sudah kuberikan padamu,” kata penyair, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.”
Rakyat yang miskin merangsak ke muka. “Kami ingin matamu!” teriak mereka. “Kami ingin matamu, yang bisa merobah butir pasir yang tercecer dari karung menjadi emas di jalan. Beri matamu, matamu!”
Ada yang masih mau membela penyair itu. “Ingat, tanpa mata penyair menjadi buta!”
Tetapi rakyat yang putus asa tidak peduli. Mereka renggut mata penyair dari lubang matanya, dan lewat kedua bola matanya mereka melihat dunia sekelilingnya. Tetapi pasir yang tercecer tidak menjadi emas. Mereka menjadi kecewa dan merebus dan melahap kedua bola mata itu. Dan tidak terjadi apa-apa.
Penyair yang buta itu duduk di jendela dan tertawa menghadap ke kota. Tanpa mata dilihatnya semua begitu indahnya. Begitu indahnya!
Pembacaan Wulan cukup baik, ia dibalas tepuk tangan oleh peserta lain. Dan usai reda sorak tepuk-tepuk, Pranita tunggangi puisi itu untuk menjelaskan bagaimana mata penyair bekerja.
Puisi ini mengajarkan bahwa “mata penyair” bukan soal organ tubuh, melainkan cara pandang. Bahkan ketika matanya hilang, penyair tetap melihat dunia indah.
“Jadi tugas kita adalah membuka mata batin itu, agar bisa menafsir realitas dengan kedalaman,” lanjut Pranita Dewi.
Dan di bagian penting dari proses melihat—dari cara si penyair memandang, Pranita juga menjelaskan meditasi visual yang dapat membuka kepekaan, itu perlu diterapkan.
“Meditasi visual adalah latihan membuka kepekaan,” lanjutnya.

Dengan menutup mata, kita membayangkan satu objek sederhana. Kita tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan: bagaimana suaranya, aromanya, warnanya, bahkan teksturnya. Semua kata/frasa yang muncul bisa menjadi bahan puisi.
Hal itu bisa menjadi salah satu cara dalam mendekati realitas dan menjaring makna. Ya, dalam mengamati dunia dengan empati, penuh kesadaran, dan kepekaan mendalam.
Misalnya, membayangkan satu objek, seperti laut, pohon, tubuh, atau ritual juga bisa.
Setelah itu, merasakannya dengan semua indera. Suara, aroma, warna, tekstur, bisa dirasakan kemudian dicatat apa yang dirasakan itu, tanpa harus menyensornya. Catatlah secara jujur.
Dan yang lebih penting dari puisi, juga bagian fragmen. Secara umum, fragmen berarti potongan kecil dari sesuatu yang lebih besar. Dalam konteks sastra, fragmen adalah bagian dari sebuah teks atau gagasan yang belum utuh—semacam serpihan.
Ia bisa berupa potongan kalimat, citraan, atau bahkan hanya satu kata yang berdiri sendiri tapi menyimpan energi untuk berkembang.
Sebagai potongan kecil yang memiliki kualitas puitis, fragmen puitik mengandung imaji, rasa, atau metafora yang kuat meskipun singkat.
Misalnya, Langit Jatuh di Matamu, atau Suara Ibu Tersisa di Bantal.
“Fragmen puitik tersebut biasanya lahir dari momen spontan, observasi, atau catatan kecil penyair sebelum menjadi puisi penuh, dengan fokus pada spontanitas,” jelas Pranita Dewi.
Dalam praktek membuat fragmen, Pranita menyarankan fragmen yang ditulis hari ini akan tumbuh menjadi puisi utuh.
Kembangkan menjadi 10–12 baris. Jangan khawatir dengan hasilnya, yang penting biarkan ia lahir. Besok, baru memperdalam dengan teknik dan tema.
Selain itu, dalam puisi juga ada metafora untuk menguatkan bahasa.

Metafora di sini memiliki fungsi untuk menghubungkan realitas dengan makna baru. Benda sehari-hari bisa dilihat sebagai sesuatu yang lain. Pohon bukan hanya pohon, ia bisa menjadi tubuh yang menopang kehidupan. Laut bisa menjadi rahim, dan jalan raya bisa menjadi doa yang panjang. Metafora membuka hubungan yang tak terduga.
Di bagian ini, Nanoq da Kansas, menyarankan setiap peserta, menyudahi mengambil diksi tentang laut—seperti; ala batu karang, laut bergelora, awan berarak, matahari.
“Karena semua itu sekarang pada fakta bisa tersaingi oleh ciptaan kita sendiri,” jelas Nanoq da Kansas, atau biasa disapa Om Nanoq.
Untuk mengungkapkan perasaan pada orang terkasih, lanjut Om Nanoq, bisa dicoba dengan sautu benda, seperti ; tower internet yang bergelut di barat itu. Itu bisa. Fakta.
Karena tower internet, tiap hari kehujanan, kena angin, kena panas, bahkan rasa dingin malam sunyi. Belum lagi, terkenal anak-anak nakal diketok-ketok, dikencingi anjing. Tapi tower internet tetap tegar berdiri.
Itu bisa diandaikan—sebagai perjuangan seseorang dalam mengejar cintanya—begitu menderitanya ia berjuang untuk tetap terhubung, ya, seperti tower internet itu.
“Capek kita mendengar cintaku atau hatiku seperti batu karang. Ayo, itu aku ingin kalian, kalian anak-anak modern, milenial, bisa mengeksplor yang lain. yang lebih segar,” lanjutnya.
Karena membuat puisi adalah latihan keberanian. Tidak ada benar atau salah, karena setiap suara sah. Dengan berbagi—mengeksplor, berarti belajar mendengar cara orang lain melihat dunia, dan itu memperluas mata penyair kita.
Namun dalam puisi, juga ada batas atau chiffer yang mesti diingat.
Karl Jaspers, filsuf eksistensialis, menyebut chiffer sebagai tanda atau situasi batas. Saat manusia berhadapan dengan penderitaan, kematian, kesalahan, cinta, atau keilahian, hidup terasa retak. Tapi justru di sanalah puisi bisa lahir. Fragmen hidup yang rapuh itu menjadi pintu menuju pengalaman transendental.
“Jika kita memahami apa yang dimaksud dengan chiffer-chiffer atau situasi-situasi batas dalam hidup manusia, maka kita akan memahami dengan baik tema-tema dasar apa yang akan menggugah “rasa” terdalam dari jiwa manusia,” kata Pranita Dewi.
Chiffer atau batas dalam puisi, memiliki fungsi agar puisi dapat dipahami, tidak abstrak. Sehingga dalam menulis puisi, mesti ditentukan—akan dibawa kearah seperti apa puisi itu, atau dalam hal ini; cerita dan citra.
Selamat mencoba menulis puisi…[T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























