2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tafsir Terminologi: Dari Marxisme Klasik hingga Marxisme Kontemporer

Farouq Syahrul Huda by Farouq Syahrul Huda
September 23, 2025
in Esai
Tafsir Terminologi: Dari Marxisme Klasik hingga Marxisme Kontemporer

Ilustrasi: Canva

Ideologi dan idealisme terus tumbuh dalam sejarah dan dalam pengalaman hidup manusia bagi mereka yang memiliki kesadaran akan majunya ilmu pengetahuan melalui kontradiksi, negasi, perdebatan, persaingan, dan konflik. Khususnya yaitu ideologi yang munculnya bukan karena secara mendadak, bukan karena kompetisi intelektual dan juga bukan karena fenomena egoisme yang vertikal maupun horizontal. Begitu pula Marxisme, ia muncul atas keadaan ilmiah dan kondisi kehidupan manusia yang saling campur aduk mengembangkan kepentingan dan kemaslahatan hajat hidup manusia. Karl Marx adalah seorang agitator, propagandis revolusioner, penggerak, penggagas, serta pencipta dari sekian penemuan marwah yang muncul dari pemikirannya. Marxisme adalah identitas ideologi bagi kaum Marxis, kaum Marxis berpedoman pada gagasan dan ide-ide mutlak Marx melalui Marxisme. Meskipun pada kenyataannya Marx tidak mencetuskan diksi tersebut.

Marx hanya memberi langkah, premis-premis, dan ramuan khusus untuk terciptanya sebuah revolusi sosial yang saat itu prinsip dasar dari sebuah Marxisme adalah revolusi atas nama perjuangan kelas khususnya perjuangan buruh yang idealis. Inilah yang menjadi langkah awal terorganisirnya Marxisme gaya klasik dengan menyesuaikan kondisi dan keadaan pada abad ke-19. Marx terilhami dari gaya filsafat Hegel yang membuat gagasan dan peta pemikirannya yang kelak tumbuh pada beberapa negara Dunia Ketiga seperti Kuba, Vietnam, Tiongkok, dan beberapa negara yang menjadi sekutu pada negara-negara Blok Timur yang dinahkodai Uni Soviet. Saya mendapati hal unik ketika mendalami Marxisme dalam konteks pemikiran filsafat Marx. Marx terinspirasi dari paradigma filsafat Hegel tetapi di sisi lain Marx mengubah cara pandangnya terhadap asumsi filsafat Hegel yang menurutnya adalah sebuah kesalahan.

Marx dan Hegel melihat dunia dengan perspektif yang berbeda. Dalam analisis yang  saya dapatkan, Hegel berpendapat bahwa adanya proyeksi dan adanya sebuah “ada” di dunia ini terpancar dari ide-ide manusia sebagai subjek yang menciptakan asal muasal dari mereka dan bagaimana mereka ada di dunia ini, dunia adalah objek bagi manusia. Hal itu pun ditolak oleh Marx secara akademis. Marx mengatakan dan berpendapat lain bahwa justru dunialah yang memunculkan ide-ide tersebut dan manusia menerimanya sebagai sebuah realitas dan entitas yang mungkin harus ditafsirkan dengan sedemikian rupa. Hegel mengutarakan asumsi tentang ide sebagai sebuah perjalanan panjang tentang “Terminologi Bahasa” yang berpotensi menimbulkan paradoks di antara sesama manusia, sehingga menemukan titik ujung yang kemudian disebut Hegel sebagai “Ide Absolut”.

Berbeda dengan Marx yang melihat dunia dan sejarah sebagai sebuah sebab-akibat yang ditimbulkan dari rasionalitas yang nyata tentang manusia. Maka berangkat dari asumsi itulah Marx disebut sebagai seorang Materialis. Inilah yang selanjutnya mendasari dari pemikiran Marxisme Klasik yang secara tak sengaja Marx menciptakan sebuah landasan teori yang di kemudian hari dipakai oleh para Marxis di seluruh dunia dengan konsep dan cara yang berbeda. Saya sedikit memahami bagaimana arah dan peta gerakan Marxisme berjalan dari tahun ke tahun sehingga masih eksis hingga sekarang walaupun sudah terdistorsi dari berbagai ancaman-ancaman dan kebijakan-kebijakan politik yang mempropagandakan stigma negatif yang berlebihan baik secara bukti sejarah maupun penyelewengan arsip ilmiah dan kajian tentang Marxisme.

Marx melihat sejarah sebagai sebuah perjuangan kelas, baik itu kelas Borjuis maupun kelas Proletariat dengan kepentingannya masing-masing. Marx mengkaji dari segi ekonomi dan ketimpangan sosial dari akibat sistem Kapitalisme yang tercipta dari hierarki kelas. Faktor utama inilah yang mendorong Marx dan Engels membentuk sebuah kitab utama kaum kiri bernama “Manifesto Komunis” pada tahun 1848. Selanjutnya Marx lebih detail menganalisis kapitalisme dalam bentuk buku berjilid “Das Kapital” dengan jumlah total tiga jilid volume. Bersandarkan pada fenomena sosial-ekonomi masyarakat yang hari-harinya hanya dihabiskan untuk bekerja dan di sisi lain ada beberapa minoritas masyarakat yang mengambil keuntungan lebih dari pekerjaan itu. Dasar konsep kelas itulah yang menjadi struktur pemikiran Marxisme. Kaum Proletar pada akhirnya teralienasi oleh kehidupan mereka sendiri dalam belenggu kapitalisme, begitu pula kaum Borjuis yang terasingkan sebagai manusia yang memiliki kewajiban positif secara sosial dan menghilangkan apa yang disebut sebagai penindasan.

Saya begitu memahami apa yang dimaksudkan dari retorika Marx, kesimpulan mendasar dari apa yang diutarakan adalah bahwa manusia memiliki “progres wajib” bernama kebebasan dan itu harus dicapai dengan gerakan materialis yang bernama Revolusi Sosial. Sehingga sosialisme dapat tercapai setelah revolusi, tetapi bagi saya tujuan Marx terlalu ambisius di tengah-tengah masyarakat yang pluralis dalam konteks beragama dan berbudaya begitu pula munculnya masyarakat hedonis yang membuat sulit akan timbulnya kesadaran kelas. Teori Marx sangat sulit dicapai untuk para revolusionis awam di zaman modern ini. Para filosof dan sosiolog barat pada akhir abad ke-19 beranggapan bahwa Marxisme telah usang dan mereka menemukan sebuah kegagalan dalam jantung Marxisme. Ramalan Marx tentang kehidupan setelah revolusi sangat sulit untuk dibuktikan dan justru kapitalisme tumbuh berkembang menjelma menjadi imperialisme.

Menurut Vladimir Lenin, Imperialisme adalah bentuk paling mutakhir dari kapitalisme. Karena doktrin tentang akumulasi kapital dan investasi modal telah masuk kemudian berhasil menyihir di beberapa negara di dunia melalui birokrasi pemerintahan dengan kepalsuan-kepalsuan yang dibungkus menggunakan ilusi kesejahteraan secara masif dan dogmatis. Kapitalisme dengan sangat cepat berkembang dan mengakar di belahan dunia, ini yang membuat Marxisme jatuh mundur ke belakang dalam beberapa tahun karena tidak sanggup mengikuti pola perkembangan zaman di mana kebiasaan hidup manusia mulai berubah-ubah, dan teknologi menemukan jalan baru untuk hinggap di tempat dengan mayoritas negara yang sudah mulai memasuki fase industri modern. Francis Fukuyama dalam bukunya “The End of History and The Last Man” yang terbit pada tahun 1992 mengatakan bahwa kapitalisme akan menandai sebuah akhir dari sejarah manusia dalam bentuk Demokrasi Liberal, di mana semua kebutuhan manusia akan terpenuhi, manusia menemukan kemewahan dalam bentuk penghargaan diri, pengakuan atas pencapaian kapital dan menempatkan kondisi hidupnya pada kapasitas yang ia miliki.

Walaupun terdengar seperti memaksa, tetapi bagi saya bukan hal yang mustahil melihat perkembangan zaman yang menjerumus pada sistem mutakhir dari kapitalisme, dan gerakan Marxis seperti mati total dan bahkan nyaris tak terlihat serta hanya tumbuh pada pemikiran dan teori pada tiap diri manusia yang mendalami Marxisme dari bilik buku-buku ataupun jurnal ilmiah tentang Marxisme. Apa yang saya lihat adalah Marxisme bisa tumbuh dan berkembang melalui celah-celah zaman dan menyesuaikan diri dalam nilai-nilai moral yang eksplisit pada tiap diri manusia di mana awal perkembangan Marxisme berada pada titik awal klasikisme zaman dan Marx kala itu menganalisis kehidupan manusia dengan cara yang cukup sederhana dan ia berhasil membuat suatu pakem khusus dalam metode-metode yang ia buat.

Marxisme di era pramodern pun cukup menghasilkan stigma buruk dan telah jauh dari prinsip dasar Marxisme ketika Joseph Stalin memimpin Uni Soviet setelah Lenin meninggal. Apa yang diharapkan Lenin jauh dari kata sempurna ketika Leon Trotsky gagal mengemban amanah untuk melanjutkan visi mulia dari apa yang kelak disebut Marxisme-Leninisme. Perseteruan Trotsky dan Stalin pun kian memanas hingga berujung terbunuhnya Trotsky yang menolak pandangan politik kepemimpinan ala Stalin. Marx mungkin sudah memperkirakan ini bahwa pada ajaran Marxisme di masa mendatang akan terjadi konflik internal dalam kubu Marxis yang tidak dapat dihindari. Karena manusia secara politik memiliki kepentingan-kepentingan ambisius dalam menjaga kebijakan idealismenya. Marxisme pun tumbuh dalam makna dan tafsir-tafsir yang berbeda dari tahun ke tahun.

Elaborasi yang dijalankan para filosof Marxis dan sosiolog Marxis pada akhirnya menemukan metodologi baru untuk menyempurnakan Marxisme dan menyembuhkan cacat serius dalam Marxisme yang hanya secara spesifik memfokuskan pada ide-ide materialisme dan menambahkan perspektif yang lebih luas dalam melihat dunia dan sejarah manusia. Di Indonesia, Marxisme sudah lenyap secara politik dan yang tersisa hanyalah gagasan dan wacana pada diri tiap akademisi, publik, ataupun mahasiswa yang mempelajari Marxisme. Kepentingan para kapitalis di Indonesia pada akhirnya membentuk konstitusi baru melalui amandemen praktis dan legitimasi secara gradual melalui undang-undang yang telah dibuat. Rata-rata mereka yang berkuasa tidak sempat meluangkan waktu untuk membuka wacana pemikiran melalui aktivitas membaca buku, sehingga mereka minim mengetahui tentang informasi faktual apalagi hanya perkara sejarah yang banyak beredar di beberapa buku. Dan mereka yang tak membaca buku tidak pantas duduk di kursi kekuasaan.

Akhir kata dari saya adalah bahwa Marxisme sudah cukup besar dalam perjalanan akhir dari sebuah terminologi, retorika, metodologi, kitab sejarah, dan dokumen serta arsip pustaka bagi realitas kehidupan berideologi. Marxisme hanya terpilah saja menjadi beberapa bagian ketika ia masuk ke dalam dimensi kehidupan manusia dan secara naluriah menjadi pokok pikiran para filsuf dan akademisi yang mendalami ajaran Marxisme. Mereka yang menentang konsep ini adalah justru mereka mendalami dengan hasil yang tidak memuaskan dan mengubah sebagian arah gerak Marxisme ke dalam bentuk dan pola yang mereka inginkan. Marx hanyalah manusia biasa yang terjun dalam eksistensi politik ekonomi yang menjerat kehidupan manusia dan terpaksa manusia harus menjadi bagian dari eksistensi itu sendiri.

Marx bahkan menghabiskan waktunya dalam pengasingan dan terlempar dari strata sosial hingga membuatnya menjadi seorang nomaden yang mengantarkannya pada istirahat terakhirnya di London, Inggris. Konsep Marx pasti berpotensi salah dalam teorinya karena dalam ilmu kajian ilmiah bahwa ia disebut “ilmiah” jika memang berpotensi salah atau tidak akurat. Revolusi sosial hanya berhasil dalam beberapa kurun waktu tertentu di berbagai negara, ia tidak menyeluruh secara total karena hegemoni kapitalisme memiliki tempat di setiap zaman dan bercokol pada periode era yang cukup dinamis serta modernisasi membuat kapitalisme tidak menjadi ideologi yang stagnan karena efek dominonya. Saya yakin Marx dalam lubuk hatinya yang paling dalam pasti memperkirakan ini. Seperti yang dikatakan Rupert Woodfin seorang dosen filsafat asal Inggris, Woodfin mengatakan “Selama kapitalisme hidup di dunia, maka Marxisme tak akan pernah berhenti meskipun hanya sekadar untuk dipelajari.” [T]

Penulis: Farouq Syahrul Huda
Editor: Adnyana Ole

Tags: filsafatilmu pengetahuanKarl MarxmarxismePendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Pianist Berlangsung Meriah di Antida Soundgarden

Next Post

65 Tahun UUPA: Masih Ada Ketimpangan Penguasaan Tanah

Farouq Syahrul Huda

Farouq Syahrul Huda

Biasa dipanggil Syahrul. Asal Klaten, Jawa Tengah. Alumnus Fakultas Syariah UIN Surakarta, akun medsos hanya X/twitter yaitu @FarouqSh.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

65 Tahun UUPA: Masih Ada Ketimpangan Penguasaan Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co