23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tafsir Terminologi: Dari Marxisme Klasik hingga Marxisme Kontemporer

Farouq Syahrul Huda by Farouq Syahrul Huda
September 23, 2025
in Esai
Tafsir Terminologi: Dari Marxisme Klasik hingga Marxisme Kontemporer

Ilustrasi: Canva

Ideologi dan idealisme terus tumbuh dalam sejarah dan dalam pengalaman hidup manusia bagi mereka yang memiliki kesadaran akan majunya ilmu pengetahuan melalui kontradiksi, negasi, perdebatan, persaingan, dan konflik. Khususnya yaitu ideologi yang munculnya bukan karena secara mendadak, bukan karena kompetisi intelektual dan juga bukan karena fenomena egoisme yang vertikal maupun horizontal. Begitu pula Marxisme, ia muncul atas keadaan ilmiah dan kondisi kehidupan manusia yang saling campur aduk mengembangkan kepentingan dan kemaslahatan hajat hidup manusia. Karl Marx adalah seorang agitator, propagandis revolusioner, penggerak, penggagas, serta pencipta dari sekian penemuan marwah yang muncul dari pemikirannya. Marxisme adalah identitas ideologi bagi kaum Marxis, kaum Marxis berpedoman pada gagasan dan ide-ide mutlak Marx melalui Marxisme. Meskipun pada kenyataannya Marx tidak mencetuskan diksi tersebut.

Marx hanya memberi langkah, premis-premis, dan ramuan khusus untuk terciptanya sebuah revolusi sosial yang saat itu prinsip dasar dari sebuah Marxisme adalah revolusi atas nama perjuangan kelas khususnya perjuangan buruh yang idealis. Inilah yang menjadi langkah awal terorganisirnya Marxisme gaya klasik dengan menyesuaikan kondisi dan keadaan pada abad ke-19. Marx terilhami dari gaya filsafat Hegel yang membuat gagasan dan peta pemikirannya yang kelak tumbuh pada beberapa negara Dunia Ketiga seperti Kuba, Vietnam, Tiongkok, dan beberapa negara yang menjadi sekutu pada negara-negara Blok Timur yang dinahkodai Uni Soviet. Saya mendapati hal unik ketika mendalami Marxisme dalam konteks pemikiran filsafat Marx. Marx terinspirasi dari paradigma filsafat Hegel tetapi di sisi lain Marx mengubah cara pandangnya terhadap asumsi filsafat Hegel yang menurutnya adalah sebuah kesalahan.

Marx dan Hegel melihat dunia dengan perspektif yang berbeda. Dalam analisis yang  saya dapatkan, Hegel berpendapat bahwa adanya proyeksi dan adanya sebuah “ada” di dunia ini terpancar dari ide-ide manusia sebagai subjek yang menciptakan asal muasal dari mereka dan bagaimana mereka ada di dunia ini, dunia adalah objek bagi manusia. Hal itu pun ditolak oleh Marx secara akademis. Marx mengatakan dan berpendapat lain bahwa justru dunialah yang memunculkan ide-ide tersebut dan manusia menerimanya sebagai sebuah realitas dan entitas yang mungkin harus ditafsirkan dengan sedemikian rupa. Hegel mengutarakan asumsi tentang ide sebagai sebuah perjalanan panjang tentang “Terminologi Bahasa” yang berpotensi menimbulkan paradoks di antara sesama manusia, sehingga menemukan titik ujung yang kemudian disebut Hegel sebagai “Ide Absolut”.

Berbeda dengan Marx yang melihat dunia dan sejarah sebagai sebuah sebab-akibat yang ditimbulkan dari rasionalitas yang nyata tentang manusia. Maka berangkat dari asumsi itulah Marx disebut sebagai seorang Materialis. Inilah yang selanjutnya mendasari dari pemikiran Marxisme Klasik yang secara tak sengaja Marx menciptakan sebuah landasan teori yang di kemudian hari dipakai oleh para Marxis di seluruh dunia dengan konsep dan cara yang berbeda. Saya sedikit memahami bagaimana arah dan peta gerakan Marxisme berjalan dari tahun ke tahun sehingga masih eksis hingga sekarang walaupun sudah terdistorsi dari berbagai ancaman-ancaman dan kebijakan-kebijakan politik yang mempropagandakan stigma negatif yang berlebihan baik secara bukti sejarah maupun penyelewengan arsip ilmiah dan kajian tentang Marxisme.

Marx melihat sejarah sebagai sebuah perjuangan kelas, baik itu kelas Borjuis maupun kelas Proletariat dengan kepentingannya masing-masing. Marx mengkaji dari segi ekonomi dan ketimpangan sosial dari akibat sistem Kapitalisme yang tercipta dari hierarki kelas. Faktor utama inilah yang mendorong Marx dan Engels membentuk sebuah kitab utama kaum kiri bernama “Manifesto Komunis” pada tahun 1848. Selanjutnya Marx lebih detail menganalisis kapitalisme dalam bentuk buku berjilid “Das Kapital” dengan jumlah total tiga jilid volume. Bersandarkan pada fenomena sosial-ekonomi masyarakat yang hari-harinya hanya dihabiskan untuk bekerja dan di sisi lain ada beberapa minoritas masyarakat yang mengambil keuntungan lebih dari pekerjaan itu. Dasar konsep kelas itulah yang menjadi struktur pemikiran Marxisme. Kaum Proletar pada akhirnya teralienasi oleh kehidupan mereka sendiri dalam belenggu kapitalisme, begitu pula kaum Borjuis yang terasingkan sebagai manusia yang memiliki kewajiban positif secara sosial dan menghilangkan apa yang disebut sebagai penindasan.

Saya begitu memahami apa yang dimaksudkan dari retorika Marx, kesimpulan mendasar dari apa yang diutarakan adalah bahwa manusia memiliki “progres wajib” bernama kebebasan dan itu harus dicapai dengan gerakan materialis yang bernama Revolusi Sosial. Sehingga sosialisme dapat tercapai setelah revolusi, tetapi bagi saya tujuan Marx terlalu ambisius di tengah-tengah masyarakat yang pluralis dalam konteks beragama dan berbudaya begitu pula munculnya masyarakat hedonis yang membuat sulit akan timbulnya kesadaran kelas. Teori Marx sangat sulit dicapai untuk para revolusionis awam di zaman modern ini. Para filosof dan sosiolog barat pada akhir abad ke-19 beranggapan bahwa Marxisme telah usang dan mereka menemukan sebuah kegagalan dalam jantung Marxisme. Ramalan Marx tentang kehidupan setelah revolusi sangat sulit untuk dibuktikan dan justru kapitalisme tumbuh berkembang menjelma menjadi imperialisme.

Menurut Vladimir Lenin, Imperialisme adalah bentuk paling mutakhir dari kapitalisme. Karena doktrin tentang akumulasi kapital dan investasi modal telah masuk kemudian berhasil menyihir di beberapa negara di dunia melalui birokrasi pemerintahan dengan kepalsuan-kepalsuan yang dibungkus menggunakan ilusi kesejahteraan secara masif dan dogmatis. Kapitalisme dengan sangat cepat berkembang dan mengakar di belahan dunia, ini yang membuat Marxisme jatuh mundur ke belakang dalam beberapa tahun karena tidak sanggup mengikuti pola perkembangan zaman di mana kebiasaan hidup manusia mulai berubah-ubah, dan teknologi menemukan jalan baru untuk hinggap di tempat dengan mayoritas negara yang sudah mulai memasuki fase industri modern. Francis Fukuyama dalam bukunya “The End of History and The Last Man” yang terbit pada tahun 1992 mengatakan bahwa kapitalisme akan menandai sebuah akhir dari sejarah manusia dalam bentuk Demokrasi Liberal, di mana semua kebutuhan manusia akan terpenuhi, manusia menemukan kemewahan dalam bentuk penghargaan diri, pengakuan atas pencapaian kapital dan menempatkan kondisi hidupnya pada kapasitas yang ia miliki.

Walaupun terdengar seperti memaksa, tetapi bagi saya bukan hal yang mustahil melihat perkembangan zaman yang menjerumus pada sistem mutakhir dari kapitalisme, dan gerakan Marxis seperti mati total dan bahkan nyaris tak terlihat serta hanya tumbuh pada pemikiran dan teori pada tiap diri manusia yang mendalami Marxisme dari bilik buku-buku ataupun jurnal ilmiah tentang Marxisme. Apa yang saya lihat adalah Marxisme bisa tumbuh dan berkembang melalui celah-celah zaman dan menyesuaikan diri dalam nilai-nilai moral yang eksplisit pada tiap diri manusia di mana awal perkembangan Marxisme berada pada titik awal klasikisme zaman dan Marx kala itu menganalisis kehidupan manusia dengan cara yang cukup sederhana dan ia berhasil membuat suatu pakem khusus dalam metode-metode yang ia buat.

Marxisme di era pramodern pun cukup menghasilkan stigma buruk dan telah jauh dari prinsip dasar Marxisme ketika Joseph Stalin memimpin Uni Soviet setelah Lenin meninggal. Apa yang diharapkan Lenin jauh dari kata sempurna ketika Leon Trotsky gagal mengemban amanah untuk melanjutkan visi mulia dari apa yang kelak disebut Marxisme-Leninisme. Perseteruan Trotsky dan Stalin pun kian memanas hingga berujung terbunuhnya Trotsky yang menolak pandangan politik kepemimpinan ala Stalin. Marx mungkin sudah memperkirakan ini bahwa pada ajaran Marxisme di masa mendatang akan terjadi konflik internal dalam kubu Marxis yang tidak dapat dihindari. Karena manusia secara politik memiliki kepentingan-kepentingan ambisius dalam menjaga kebijakan idealismenya. Marxisme pun tumbuh dalam makna dan tafsir-tafsir yang berbeda dari tahun ke tahun.

Elaborasi yang dijalankan para filosof Marxis dan sosiolog Marxis pada akhirnya menemukan metodologi baru untuk menyempurnakan Marxisme dan menyembuhkan cacat serius dalam Marxisme yang hanya secara spesifik memfokuskan pada ide-ide materialisme dan menambahkan perspektif yang lebih luas dalam melihat dunia dan sejarah manusia. Di Indonesia, Marxisme sudah lenyap secara politik dan yang tersisa hanyalah gagasan dan wacana pada diri tiap akademisi, publik, ataupun mahasiswa yang mempelajari Marxisme. Kepentingan para kapitalis di Indonesia pada akhirnya membentuk konstitusi baru melalui amandemen praktis dan legitimasi secara gradual melalui undang-undang yang telah dibuat. Rata-rata mereka yang berkuasa tidak sempat meluangkan waktu untuk membuka wacana pemikiran melalui aktivitas membaca buku, sehingga mereka minim mengetahui tentang informasi faktual apalagi hanya perkara sejarah yang banyak beredar di beberapa buku. Dan mereka yang tak membaca buku tidak pantas duduk di kursi kekuasaan.

Akhir kata dari saya adalah bahwa Marxisme sudah cukup besar dalam perjalanan akhir dari sebuah terminologi, retorika, metodologi, kitab sejarah, dan dokumen serta arsip pustaka bagi realitas kehidupan berideologi. Marxisme hanya terpilah saja menjadi beberapa bagian ketika ia masuk ke dalam dimensi kehidupan manusia dan secara naluriah menjadi pokok pikiran para filsuf dan akademisi yang mendalami ajaran Marxisme. Mereka yang menentang konsep ini adalah justru mereka mendalami dengan hasil yang tidak memuaskan dan mengubah sebagian arah gerak Marxisme ke dalam bentuk dan pola yang mereka inginkan. Marx hanyalah manusia biasa yang terjun dalam eksistensi politik ekonomi yang menjerat kehidupan manusia dan terpaksa manusia harus menjadi bagian dari eksistensi itu sendiri.

Marx bahkan menghabiskan waktunya dalam pengasingan dan terlempar dari strata sosial hingga membuatnya menjadi seorang nomaden yang mengantarkannya pada istirahat terakhirnya di London, Inggris. Konsep Marx pasti berpotensi salah dalam teorinya karena dalam ilmu kajian ilmiah bahwa ia disebut “ilmiah” jika memang berpotensi salah atau tidak akurat. Revolusi sosial hanya berhasil dalam beberapa kurun waktu tertentu di berbagai negara, ia tidak menyeluruh secara total karena hegemoni kapitalisme memiliki tempat di setiap zaman dan bercokol pada periode era yang cukup dinamis serta modernisasi membuat kapitalisme tidak menjadi ideologi yang stagnan karena efek dominonya. Saya yakin Marx dalam lubuk hatinya yang paling dalam pasti memperkirakan ini. Seperti yang dikatakan Rupert Woodfin seorang dosen filsafat asal Inggris, Woodfin mengatakan “Selama kapitalisme hidup di dunia, maka Marxisme tak akan pernah berhenti meskipun hanya sekadar untuk dipelajari.” [T]

Penulis: Farouq Syahrul Huda
Editor: Adnyana Ole

Tags: filsafatilmu pengetahuanKarl MarxmarxismePendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Pianist Berlangsung Meriah di Antida Soundgarden

Next Post

65 Tahun UUPA: Masih Ada Ketimpangan Penguasaan Tanah

Farouq Syahrul Huda

Farouq Syahrul Huda

Biasa dipanggil Syahrul. Asal Klaten, Jawa Tengah. Alumnus Fakultas Syariah UIN Surakarta, akun medsos hanya X/twitter yaitu @FarouqSh.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

65 Tahun UUPA: Masih Ada Ketimpangan Penguasaan Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co