23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tafsir Terminologi: Dari Marxisme Klasik hingga Marxisme Kontemporer

Farouq Syahrul Huda by Farouq Syahrul Huda
September 23, 2025
in Esai
Tafsir Terminologi: Dari Marxisme Klasik hingga Marxisme Kontemporer

Ilustrasi: Canva

Ideologi dan idealisme terus tumbuh dalam sejarah dan dalam pengalaman hidup manusia bagi mereka yang memiliki kesadaran akan majunya ilmu pengetahuan melalui kontradiksi, negasi, perdebatan, persaingan, dan konflik. Khususnya yaitu ideologi yang munculnya bukan karena secara mendadak, bukan karena kompetisi intelektual dan juga bukan karena fenomena egoisme yang vertikal maupun horizontal. Begitu pula Marxisme, ia muncul atas keadaan ilmiah dan kondisi kehidupan manusia yang saling campur aduk mengembangkan kepentingan dan kemaslahatan hajat hidup manusia. Karl Marx adalah seorang agitator, propagandis revolusioner, penggerak, penggagas, serta pencipta dari sekian penemuan marwah yang muncul dari pemikirannya. Marxisme adalah identitas ideologi bagi kaum Marxis, kaum Marxis berpedoman pada gagasan dan ide-ide mutlak Marx melalui Marxisme. Meskipun pada kenyataannya Marx tidak mencetuskan diksi tersebut.

Marx hanya memberi langkah, premis-premis, dan ramuan khusus untuk terciptanya sebuah revolusi sosial yang saat itu prinsip dasar dari sebuah Marxisme adalah revolusi atas nama perjuangan kelas khususnya perjuangan buruh yang idealis. Inilah yang menjadi langkah awal terorganisirnya Marxisme gaya klasik dengan menyesuaikan kondisi dan keadaan pada abad ke-19. Marx terilhami dari gaya filsafat Hegel yang membuat gagasan dan peta pemikirannya yang kelak tumbuh pada beberapa negara Dunia Ketiga seperti Kuba, Vietnam, Tiongkok, dan beberapa negara yang menjadi sekutu pada negara-negara Blok Timur yang dinahkodai Uni Soviet. Saya mendapati hal unik ketika mendalami Marxisme dalam konteks pemikiran filsafat Marx. Marx terinspirasi dari paradigma filsafat Hegel tetapi di sisi lain Marx mengubah cara pandangnya terhadap asumsi filsafat Hegel yang menurutnya adalah sebuah kesalahan.

Marx dan Hegel melihat dunia dengan perspektif yang berbeda. Dalam analisis yang  saya dapatkan, Hegel berpendapat bahwa adanya proyeksi dan adanya sebuah “ada” di dunia ini terpancar dari ide-ide manusia sebagai subjek yang menciptakan asal muasal dari mereka dan bagaimana mereka ada di dunia ini, dunia adalah objek bagi manusia. Hal itu pun ditolak oleh Marx secara akademis. Marx mengatakan dan berpendapat lain bahwa justru dunialah yang memunculkan ide-ide tersebut dan manusia menerimanya sebagai sebuah realitas dan entitas yang mungkin harus ditafsirkan dengan sedemikian rupa. Hegel mengutarakan asumsi tentang ide sebagai sebuah perjalanan panjang tentang “Terminologi Bahasa” yang berpotensi menimbulkan paradoks di antara sesama manusia, sehingga menemukan titik ujung yang kemudian disebut Hegel sebagai “Ide Absolut”.

Berbeda dengan Marx yang melihat dunia dan sejarah sebagai sebuah sebab-akibat yang ditimbulkan dari rasionalitas yang nyata tentang manusia. Maka berangkat dari asumsi itulah Marx disebut sebagai seorang Materialis. Inilah yang selanjutnya mendasari dari pemikiran Marxisme Klasik yang secara tak sengaja Marx menciptakan sebuah landasan teori yang di kemudian hari dipakai oleh para Marxis di seluruh dunia dengan konsep dan cara yang berbeda. Saya sedikit memahami bagaimana arah dan peta gerakan Marxisme berjalan dari tahun ke tahun sehingga masih eksis hingga sekarang walaupun sudah terdistorsi dari berbagai ancaman-ancaman dan kebijakan-kebijakan politik yang mempropagandakan stigma negatif yang berlebihan baik secara bukti sejarah maupun penyelewengan arsip ilmiah dan kajian tentang Marxisme.

Marx melihat sejarah sebagai sebuah perjuangan kelas, baik itu kelas Borjuis maupun kelas Proletariat dengan kepentingannya masing-masing. Marx mengkaji dari segi ekonomi dan ketimpangan sosial dari akibat sistem Kapitalisme yang tercipta dari hierarki kelas. Faktor utama inilah yang mendorong Marx dan Engels membentuk sebuah kitab utama kaum kiri bernama “Manifesto Komunis” pada tahun 1848. Selanjutnya Marx lebih detail menganalisis kapitalisme dalam bentuk buku berjilid “Das Kapital” dengan jumlah total tiga jilid volume. Bersandarkan pada fenomena sosial-ekonomi masyarakat yang hari-harinya hanya dihabiskan untuk bekerja dan di sisi lain ada beberapa minoritas masyarakat yang mengambil keuntungan lebih dari pekerjaan itu. Dasar konsep kelas itulah yang menjadi struktur pemikiran Marxisme. Kaum Proletar pada akhirnya teralienasi oleh kehidupan mereka sendiri dalam belenggu kapitalisme, begitu pula kaum Borjuis yang terasingkan sebagai manusia yang memiliki kewajiban positif secara sosial dan menghilangkan apa yang disebut sebagai penindasan.

Saya begitu memahami apa yang dimaksudkan dari retorika Marx, kesimpulan mendasar dari apa yang diutarakan adalah bahwa manusia memiliki “progres wajib” bernama kebebasan dan itu harus dicapai dengan gerakan materialis yang bernama Revolusi Sosial. Sehingga sosialisme dapat tercapai setelah revolusi, tetapi bagi saya tujuan Marx terlalu ambisius di tengah-tengah masyarakat yang pluralis dalam konteks beragama dan berbudaya begitu pula munculnya masyarakat hedonis yang membuat sulit akan timbulnya kesadaran kelas. Teori Marx sangat sulit dicapai untuk para revolusionis awam di zaman modern ini. Para filosof dan sosiolog barat pada akhir abad ke-19 beranggapan bahwa Marxisme telah usang dan mereka menemukan sebuah kegagalan dalam jantung Marxisme. Ramalan Marx tentang kehidupan setelah revolusi sangat sulit untuk dibuktikan dan justru kapitalisme tumbuh berkembang menjelma menjadi imperialisme.

Menurut Vladimir Lenin, Imperialisme adalah bentuk paling mutakhir dari kapitalisme. Karena doktrin tentang akumulasi kapital dan investasi modal telah masuk kemudian berhasil menyihir di beberapa negara di dunia melalui birokrasi pemerintahan dengan kepalsuan-kepalsuan yang dibungkus menggunakan ilusi kesejahteraan secara masif dan dogmatis. Kapitalisme dengan sangat cepat berkembang dan mengakar di belahan dunia, ini yang membuat Marxisme jatuh mundur ke belakang dalam beberapa tahun karena tidak sanggup mengikuti pola perkembangan zaman di mana kebiasaan hidup manusia mulai berubah-ubah, dan teknologi menemukan jalan baru untuk hinggap di tempat dengan mayoritas negara yang sudah mulai memasuki fase industri modern. Francis Fukuyama dalam bukunya “The End of History and The Last Man” yang terbit pada tahun 1992 mengatakan bahwa kapitalisme akan menandai sebuah akhir dari sejarah manusia dalam bentuk Demokrasi Liberal, di mana semua kebutuhan manusia akan terpenuhi, manusia menemukan kemewahan dalam bentuk penghargaan diri, pengakuan atas pencapaian kapital dan menempatkan kondisi hidupnya pada kapasitas yang ia miliki.

Walaupun terdengar seperti memaksa, tetapi bagi saya bukan hal yang mustahil melihat perkembangan zaman yang menjerumus pada sistem mutakhir dari kapitalisme, dan gerakan Marxis seperti mati total dan bahkan nyaris tak terlihat serta hanya tumbuh pada pemikiran dan teori pada tiap diri manusia yang mendalami Marxisme dari bilik buku-buku ataupun jurnal ilmiah tentang Marxisme. Apa yang saya lihat adalah Marxisme bisa tumbuh dan berkembang melalui celah-celah zaman dan menyesuaikan diri dalam nilai-nilai moral yang eksplisit pada tiap diri manusia di mana awal perkembangan Marxisme berada pada titik awal klasikisme zaman dan Marx kala itu menganalisis kehidupan manusia dengan cara yang cukup sederhana dan ia berhasil membuat suatu pakem khusus dalam metode-metode yang ia buat.

Marxisme di era pramodern pun cukup menghasilkan stigma buruk dan telah jauh dari prinsip dasar Marxisme ketika Joseph Stalin memimpin Uni Soviet setelah Lenin meninggal. Apa yang diharapkan Lenin jauh dari kata sempurna ketika Leon Trotsky gagal mengemban amanah untuk melanjutkan visi mulia dari apa yang kelak disebut Marxisme-Leninisme. Perseteruan Trotsky dan Stalin pun kian memanas hingga berujung terbunuhnya Trotsky yang menolak pandangan politik kepemimpinan ala Stalin. Marx mungkin sudah memperkirakan ini bahwa pada ajaran Marxisme di masa mendatang akan terjadi konflik internal dalam kubu Marxis yang tidak dapat dihindari. Karena manusia secara politik memiliki kepentingan-kepentingan ambisius dalam menjaga kebijakan idealismenya. Marxisme pun tumbuh dalam makna dan tafsir-tafsir yang berbeda dari tahun ke tahun.

Elaborasi yang dijalankan para filosof Marxis dan sosiolog Marxis pada akhirnya menemukan metodologi baru untuk menyempurnakan Marxisme dan menyembuhkan cacat serius dalam Marxisme yang hanya secara spesifik memfokuskan pada ide-ide materialisme dan menambahkan perspektif yang lebih luas dalam melihat dunia dan sejarah manusia. Di Indonesia, Marxisme sudah lenyap secara politik dan yang tersisa hanyalah gagasan dan wacana pada diri tiap akademisi, publik, ataupun mahasiswa yang mempelajari Marxisme. Kepentingan para kapitalis di Indonesia pada akhirnya membentuk konstitusi baru melalui amandemen praktis dan legitimasi secara gradual melalui undang-undang yang telah dibuat. Rata-rata mereka yang berkuasa tidak sempat meluangkan waktu untuk membuka wacana pemikiran melalui aktivitas membaca buku, sehingga mereka minim mengetahui tentang informasi faktual apalagi hanya perkara sejarah yang banyak beredar di beberapa buku. Dan mereka yang tak membaca buku tidak pantas duduk di kursi kekuasaan.

Akhir kata dari saya adalah bahwa Marxisme sudah cukup besar dalam perjalanan akhir dari sebuah terminologi, retorika, metodologi, kitab sejarah, dan dokumen serta arsip pustaka bagi realitas kehidupan berideologi. Marxisme hanya terpilah saja menjadi beberapa bagian ketika ia masuk ke dalam dimensi kehidupan manusia dan secara naluriah menjadi pokok pikiran para filsuf dan akademisi yang mendalami ajaran Marxisme. Mereka yang menentang konsep ini adalah justru mereka mendalami dengan hasil yang tidak memuaskan dan mengubah sebagian arah gerak Marxisme ke dalam bentuk dan pola yang mereka inginkan. Marx hanyalah manusia biasa yang terjun dalam eksistensi politik ekonomi yang menjerat kehidupan manusia dan terpaksa manusia harus menjadi bagian dari eksistensi itu sendiri.

Marx bahkan menghabiskan waktunya dalam pengasingan dan terlempar dari strata sosial hingga membuatnya menjadi seorang nomaden yang mengantarkannya pada istirahat terakhirnya di London, Inggris. Konsep Marx pasti berpotensi salah dalam teorinya karena dalam ilmu kajian ilmiah bahwa ia disebut “ilmiah” jika memang berpotensi salah atau tidak akurat. Revolusi sosial hanya berhasil dalam beberapa kurun waktu tertentu di berbagai negara, ia tidak menyeluruh secara total karena hegemoni kapitalisme memiliki tempat di setiap zaman dan bercokol pada periode era yang cukup dinamis serta modernisasi membuat kapitalisme tidak menjadi ideologi yang stagnan karena efek dominonya. Saya yakin Marx dalam lubuk hatinya yang paling dalam pasti memperkirakan ini. Seperti yang dikatakan Rupert Woodfin seorang dosen filsafat asal Inggris, Woodfin mengatakan “Selama kapitalisme hidup di dunia, maka Marxisme tak akan pernah berhenti meskipun hanya sekadar untuk dipelajari.” [T]

Penulis: Farouq Syahrul Huda
Editor: Adnyana Ole

Tags: filsafatilmu pengetahuanKarl MarxmarxismePendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Pianist Berlangsung Meriah di Antida Soundgarden

Next Post

65 Tahun UUPA: Masih Ada Ketimpangan Penguasaan Tanah

Farouq Syahrul Huda

Farouq Syahrul Huda

Biasa dipanggil Syahrul. Asal Klaten, Jawa Tengah. Alumnus Fakultas Syariah UIN Surakarta, akun medsos hanya X/twitter yaitu @FarouqSh.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

65 Tahun UUPA: Masih Ada Ketimpangan Penguasaan Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co