SIAPA sangka, sebuah penghapus kecil yang biasanya hanya menjadi alat hapus coretan pensil, kini menjelma jadi bahan baku permainan yang sedang naik daun. Setiap anak-anak yang terlihat pasti memiliki kesibukan yang sama, yaitu merakit tumpukan penghapus dengan isi staples dan juga paku payung. Hasilnya? Tentu saja gasing buatan tangan yang unik, berputar lincah dengan penuh rasa kebanggan dari sang pemilik.
Fenomena ini merebak dengan cepat, terutama setelah video-video gasing penghapus ramai tersebar di media sosial. Hal itu juga tampak jelas di sekitaran Desa Sumerta Kaja, Denpasar Timur, di mana sekelompok anak yang bertetangga kini ramai-ramai menggeluti permainan ini.
Salah satunya, I Kadek Agus Susila Putra (11), siswa kelas 6 di sebuah SD di Sumerta, atau akrab dipanggil Dek Agus. Ia mengaku mengetahui tentang permainan ini dari TikTok. “Awalnya liat di TikTok, eh abis itu pengen nyoba buat deh,” katanya dengan semangat.
Rasa penasaran itu kemudian berubah menjadi sebuah kebiasaan, setiap kali melihat penghapus baru, imajinasinya langsung bekerja dan langsung berpikir, bisa jadi apa bentuknya kali ini?
Anak lainnya juga tak kalah kreatif, Gede Bima Saputra Setiawan (9), siswa kelas 3 di sebuah SD di Tonja, atau biasa dipanggil Bimbim. Bimbum ternyata lebih suka bermain dengan warna,
“Pertama biasanya aku milih warna yang selang-seling, kayak putih sama hitam, pokoknya aku campur. Abistu aku biasanya buat yang bentuk spinner,” jawab Bimbim tampak serius ketika ditanya mengenai kriteria penghapus yang biasa ia gunakan.

Bagi anak-anak itu, memilih penghapus bukan sekedar fungsi, tapi juga soal estetika. Campuran warna dianggap menambah keren penampilan gasing.
Namun, merakit gasing penghapus bukan perkara gampang. Dek Agus mengaku bagian tersulit adalah ketika memasang paku payung di tengah penghapus agar gasing bisa berputar dengan sempurna. Ya betul, rakitan penghapus didukung oleh paku payung atau bisa juga dengan isi staples sebagai alat perekat agar penghapus menyatu satu sama lain, dan paku payung biasanya berfungsi sebagai alat penggerak gasing, lebih tepatnya ada pada moncong paku payung. Gagal? Sudah pasti pernah.
Tapi justru lewat kegagalan tersebut muncul semangat ingin mencoba lagi. Di sisi lain, I Komang Bagus Yasa (8) atau akrab dipanggil Omang, siswa kelas 2 di sebuah SD di Sumerta yang kebetulan merupakan adik kelas dari Dek Agus. Ia menceritakan kesulitan lainnya, ia justru mengaku paling sulit saat menyatukan penghapus dengan isi staples. “Kalau nggak pas tuh penghapusnya jadi gampang lepas,” katanya dengan bersungguh-sungguh.

Meski mendapatkan beberapa kesulitan, semua itu terbayar ketika gasing mereka akhirnya berputar dengan mulus. Bahkan beberapa anak sampai memberi nama gasing buatan mereka. “Kalau gasingku namanya Pemadam Gasing,” ucap Dek Agus dengan semangat.
Sedangkan Omang memilih nama yang lebih unik dan terkesan Garang. “Kalau gitu nama gasingku Naga Api aja biar mantep,” kata Omang sambil tertawa.
Fenomena gasing penghapus tak hanya berhenti pada proses pembuatan saja, ada pula cerita-cerita seru dan lucu yang mereka alami ketika memainkannya. Misalnya Dek Agus, ia dengan bangga membawa gasingnya ke sekolah dan memainkannya bersama teman-temannya. Sementara Bimbim malah terkekeh ketika mengingat pengalamannya. “Pernah bawa ke sekolah, eh malah disita,” ucapnya sambil cengengesan.
Lain halnya dengan Omang ketika ditanyai keseruan bermain gasing bersama temannya. “Serunya tuh pas temen kalah lawan gasingku, ya udah deh gasing punya dia jadi dikasih ke aku,” jawab Omang dengan semangat.
Kalau dipikir kembali, permainan ini terbilang sederhana, hanya membutuhkan penghapus, isi staples, dan paku payung. Tapi justru hal sederhana itu juga yang mempertemukan anak-anak dengan kebahagiaan. Mereka belajar berkreasi, merasakan tantangan, hingga menikmati kemenangan kecil yang terasa begitu berarti.
Dari sisi orang tua, fenomena ini menghadirkan perasaan campur aduk. Kadek Weri (49) merupakan ibu dari Omang, mengaku kadang heran sekaligus kesal. “Satu sisi kesal, karena uangnya dipakai buat beli penghapus terus. Tapi di sisi lain senang juga, soalnya anak jadi lebih banyak main di luar, nggak cuma nonton TV terus-terusan di kamar,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski anaknya jarang minta uang tambahan, tetap saja ia menyadari bahwa uang bekal yang seharusnya untuk jajan sering dialihkan untuk membeli penghapus. Namun, ada rasa bangga tersendiri ketika melihat anak-anak lebih kreatif.
Tak hanya orang tua, pedagang alat tulis pun ikut merasakan dampaknya. Kadek Devi (39) sebagai pemilik toko ATK mengaku beberapa minggu terakhir stok penghapusnya selalu ludes. “Seneng sih, dagangan jadi laku. Tapi kadang kasihan juga, anak-anak habisin uang jajannya buat beli penghapus, bukan buat jajan,” ujarnya.
Meski begitu, ia tak bisa menutup rasa salut terhadap anak-anak. Baginya, ada nilai positif ketika anak-anak rela menyisihkan uang jajannya demi sesuatu yang akan mereka buat sendiri, bukan sekedar membeli mainan jadi.
Gasing penghapus mungkin hanya tren kecil yang tentu saja sewaktu-waktu akan meredup. Tapi dari fenomena ini, kita bisa melihat sesuatu yang cukup bermanfaat. Di tengah derasnya gadget dan game digital, muncul kreativitas yang menjadi sebuah alternatif bermain sederhana tetapi memicu imajinasi.
Dari penghapus seharga seribuan, mereka bisa merakit sebuah permainan yang melibatkan keterampilan, kesabaran, bahkan sedikit strategi dari pikiran kecil mereka. Kini, dalam setiap putaran gasing telah tersimpan berbagai cerita masa kecil yang riuh, sederhana, namun penuh tantangan yang akan tersampaikan di kemudian hari. [T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole



























