6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Perempuan, Hukum, dan Kebohongan: Membaca Film “Bitter Chocolate”

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 17, 2025
in Ulas Film
Tubuh Perempuan, Hukum, dan Kebohongan: Membaca Film “Bitter Chocolate”

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

DURASI 20 menit bagi sebuah film pendek sering kali menjadi tantangan besar. Tentu saja, sutradara harus merangkum isu yang sarat konflik, kaya makna, sekaligus menghadirkan narasi yang kuat tanpa terasa terburu-buru atau justru bertele-tele.

Itulah yang coba dilakukan Sahar Sotoodeh dalam karyanya, Bitter Chocolate, sebuah film fiksi yang diproduksi tahun 2024 dengan kolaborasi lintas negara antara Iran dan Jerman. Film ini menyentuh persoalan pelik tentang tubuh perempuan, keterbatasan hak, dan pertarungan moral dalam ruang sosial yang mengekang.

Film ini mengisahkan Yasi, seorang perempuan muda yang meninggalkan kota asalnya menuju ibu kota dengan alasan mengikuti ujian IELTS ringan. Namun, alasan itu hanyalah kamuflase. Tujuan sebenarnya jauh lebih rumit.

Yasi berusaha melakukan aborsi ilegal atas kehamilan yang tidak ia inginkan. Dari premis sederhana ini, film membuka ruang diskusi yang luas mengenai hak reproduksi perempuan, stigma sosial, serta ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan di negara-negara dengan regulasi ketat.

Sotoodeh tidak hanya sekadar menceritakan kisah personal seorang perempuan yang berjuang dengan kehamilan tak diinginkan. Ia menyingkap persoalan struktural yang lebih luas. Yasi dipaksa untuk berbohong, menyembunyikan niatnya, dan menanggung risiko medis maupun hukum demi sesuatu yang seharusnya menjadi hak fundamental, kendali atas tubuhnya sendiri.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Pilihan menjadikan IELTS—sebuah ujian bahasa internasional—sebagai kedok perjalanan Yasi bukan tanpa alasan. IELTS kerap dipandang sebagai jalan keluar bagi kaum muda dari keterbatasan sosial dan politik, sebagai tiket menuju dunia luar.

Namun, di tangan Sotoodeh, IELTS berubah menjadi simbol paradoks. Alih-alih menuju masa depan yang lebih cerah, Yasi justru menyamarkannya untuk mengatasi masalah mendasar dalam hidupnya. Di sini terlihat kritik terhadap kondisi masyarakat terhadap mobilitas perempuan, baik dalam arti harfiah maupun metaforis, selalu dibatasi oleh norma dan hukum yang patriarkis.

Yasi digambarkan tidak heroik, juga tidak sepenuhnya putus asa. Ia adalah sosok yang berada di persimpangan. Muda, penuh potensi, tetapi terjerat keadaan. Sotoodeh menampilkan Yasi sebagai representasi banyak perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang aturan yang kaku. Ia tidak ingin melanjutkan kehamilannya, tetapi ia juga sadar betul bahwa pilihan yang diambil berisiko besar. Ketegangan psikologis ini menjadi inti dramatisasi film, meski dikemas dalam gaya penceritaan yang ringkas.

Menariknya, film ini tidak memposisikan Yasi sebagai korban semata. Ia tetap diberi ruang untuk menunjukkan kehendaknya, meskipun jalan yang ditempuh harus penuh tipu daya. Dari sinilah, Bitter Chocolate beresonansi dengan isu-isu feminis global. Perempuan kerap dipaksa menegosiasikan hidupnya di balik layar, di ruang-ruang tersembunyi, bukan dalam terang hukum dan legitimasi.

Judul film, Bitter Chocolate, terasa ironis sekaligus menyentuh. Cokelat sering diasosiasikan dengan kelembutan, cinta, dan kemanisan hidup. Namun, ditambahkan kata “bitter”, cokelat berubah menjadi metafora pengalaman getir yang tetap harus ditelan. Kehidupan Yasi seolah sama seperti itu. Manisnya kemungkinan masa depan dicampur pahitnya realitas sosial yang menindas.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Cokelat pahit juga bisa dibaca sebagai simbol kompromi. Sesuatu yang tidak sepenuhnya manis, namun tetap dikonsumsi demi bertahan. Seperti Yasi yang harus menerima risiko, menjalani kebohongan, dan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan pilihan judul ini, Sotoodeh menekankan ambiguitas moral dan emosional yang membungkus seluruh cerita.

Film ini menohok penonton pada satu titik krusial. Tubuh perempuan bukan hanya miliknya sendiri, melainkan juga arena tarik-menarik antara hukum, agama, tradisi, dan masyarakat.

Keputusan Yasi untuk mengakhiri kehamilan tidak berdiri sendiri. Ia harus menyembunyikan niatnya dari keluarga, berhadapan dengan praktik ilegal yang berisiko, bahkan berpotensi menjadi kriminal di mata negara.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di negara luar. Hal-hal semacam ini juga sering terjadi di Indonesia—bahkan di Bali. Aktivitas dalam mejalani hubungan yang tidak terkontrol antara perempuan dan laki-laki dapat menimbulkan masalah. Tidak hanya bagi perempuan muda namun juga bagi perempuan dengan usia yang lebih matang.

Terkadang, kehamilan dari suatu hubungan yang sah pun tidak diinginkan. Hingga pada akhirnya mengambil jalan pintas untuk melakukan hal yang illegal dan bertentangan. Film ini Bitter Chocolate ini berbicara tentang isu yang sudah sangat umum, terjadi di banyak negara.

Dari sisi sinema feminis, Bitter Chocolate menggarisbawahi bahwa hak reproduksi bukan hanya isu kesehatan, melainkan juga isu politik. Tubuh Yasi tidak bebas. Ia berada dalam pengawasan norma, regulasi, dan pandangan masyarakat yang masih melihat perempuan sebagai penjaga moral keluarga dan bangsa. Inilah yang membuat film terasa sangat relevan, bukan hanya di Iran, tetapi juga di banyak negara lain yang masih membatasi hak reproduksi perempuan.

Dengan durasi 20 menit, film ini tentu harus padat. Sotoodeh tampaknya memanfaatkan bahasa visual yang lebih banyak menyampaikan ketegangan batin Yasi lewat ekspresi wajah, gesture, dan atmosfer kota besar yang asing. Keputusan Yasi meninggalkan kota asal ke ibu kota menciptakan kontras visual. Dari keintiman ruang pribadi menuju keramaian metropolis yang penuh ancaman namun sekaligus menyimpan harapan.

Penggunaan bahasa sinema ini penting, karena alih-alih menjejali penonton dengan dialog, Sotoodeh memilih untuk “menunjukkan” ketimbang “menceritakan”. Keheningan, jeda, dan gesture kecil menjadi lebih berbicara dibandingkan penjelasan verbal. Gaya ini membuat film terasa intim, seolah penonton diajak menyelami batin Yasi secara langsung.

Namun, meski kuat dalam gagasan, Bitter Chocolate juga menyisakan pertanyaan kritis. Dalam 20 menit, ruang untuk mengeksplorasi lebih dalam dinamika sosial di sekeliling Yasi terbatas. Karakter lain—apakah keluarga, pasangan, atau tenaga medis—lebih banyak hadir sebagai bayangan daripada tokoh dengan kedalaman psikologis. Hal ini mungkin disengaja untuk menjaga fokus pada Yasi, namun di sisi lain bisa dianggap mereduksi kompleksitas jaringan sosial yang sebenarnya menopang cerita.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Selain itu, film ini masih terjebak dalam pola narasi personal yang cenderung universal, sehingga risiko stereotip bisa muncul. Penonton mungkin melihat kisah Yasi sebagai “kisah khas perempuan Iran”, padahal problem akses terhadap aborsi juga marak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara yang mengaku demokratis. Tantangan bagi Sotoodeh adalah bagaimana menghindari eksotisasi penderitaan perempuan di Timur Tengah dan justru membuka ruang dialog global yang lebih setara.

Di tengah gelombang perdebatan tentang hak reproduksi—dari gugatan Roe v. Wade di Amerika Serikat hingga regulasi ketat di negara-negara Asia dan Afrika—Bitter Chocolate hadir sebagai pengingat bahwa persoalan ini bersifat universal. Yasi bisa saja perempuan muda dari manapun. Dari Teheran, Berlin, New York, atau Jakarta atau mungkin dari Bali. Yang membedakan hanyalah konteks sosial dan hukum.

Film ini dengan demikian berfungsi sebagai jendela yang memperlihatkan betapa keputusan personal seorang perempuan sering kali harus melewati jalan penuh rintangan yang diciptakan masyarakatnya sendiri.

Sebagai film pendek fiksi, Bitter Chocolate berhasil menyodorkan pengalaman menonton yang intens, ringkas, namun sarat makna. Sahar Sotoodeh dengan cerdas menggunakan cerita Yasi untuk mengungkap lapisan-lapisan ketidakadilan struktural terhadap tubuh perempuan.

Meski ada keterbatasan dalam pengembangan karakter pendukung dan risiko penyempitan konteks, film ini tetap menyajikan kritik sosial yang tajam. Ia menegaskan bahwa keputusan seorang perempuan atas tubuhnya seharusnya bukan urusan negara, agama, atau masyarakat, melainkan urusan dirinya sendiri.[T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Jaswanto

Tags: Film Bitter ChocolateIranpatriarkiPerempuanSahar Sotoodeh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peraturan Daerah Tentang Perjanjian Nominee 

Next Post

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co