DURASI 20 menit bagi sebuah film pendek sering kali menjadi tantangan besar. Tentu saja, sutradara harus merangkum isu yang sarat konflik, kaya makna, sekaligus menghadirkan narasi yang kuat tanpa terasa terburu-buru atau justru bertele-tele.
Itulah yang coba dilakukan Sahar Sotoodeh dalam karyanya, Bitter Chocolate, sebuah film fiksi yang diproduksi tahun 2024 dengan kolaborasi lintas negara antara Iran dan Jerman. Film ini menyentuh persoalan pelik tentang tubuh perempuan, keterbatasan hak, dan pertarungan moral dalam ruang sosial yang mengekang.
Film ini mengisahkan Yasi, seorang perempuan muda yang meninggalkan kota asalnya menuju ibu kota dengan alasan mengikuti ujian IELTS ringan. Namun, alasan itu hanyalah kamuflase. Tujuan sebenarnya jauh lebih rumit.
Yasi berusaha melakukan aborsi ilegal atas kehamilan yang tidak ia inginkan. Dari premis sederhana ini, film membuka ruang diskusi yang luas mengenai hak reproduksi perempuan, stigma sosial, serta ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan di negara-negara dengan regulasi ketat.
Sotoodeh tidak hanya sekadar menceritakan kisah personal seorang perempuan yang berjuang dengan kehamilan tak diinginkan. Ia menyingkap persoalan struktural yang lebih luas. Yasi dipaksa untuk berbohong, menyembunyikan niatnya, dan menanggung risiko medis maupun hukum demi sesuatu yang seharusnya menjadi hak fundamental, kendali atas tubuhnya sendiri.

Pilihan menjadikan IELTS—sebuah ujian bahasa internasional—sebagai kedok perjalanan Yasi bukan tanpa alasan. IELTS kerap dipandang sebagai jalan keluar bagi kaum muda dari keterbatasan sosial dan politik, sebagai tiket menuju dunia luar.
Namun, di tangan Sotoodeh, IELTS berubah menjadi simbol paradoks. Alih-alih menuju masa depan yang lebih cerah, Yasi justru menyamarkannya untuk mengatasi masalah mendasar dalam hidupnya. Di sini terlihat kritik terhadap kondisi masyarakat terhadap mobilitas perempuan, baik dalam arti harfiah maupun metaforis, selalu dibatasi oleh norma dan hukum yang patriarkis.
Yasi digambarkan tidak heroik, juga tidak sepenuhnya putus asa. Ia adalah sosok yang berada di persimpangan. Muda, penuh potensi, tetapi terjerat keadaan. Sotoodeh menampilkan Yasi sebagai representasi banyak perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang aturan yang kaku. Ia tidak ingin melanjutkan kehamilannya, tetapi ia juga sadar betul bahwa pilihan yang diambil berisiko besar. Ketegangan psikologis ini menjadi inti dramatisasi film, meski dikemas dalam gaya penceritaan yang ringkas.
Menariknya, film ini tidak memposisikan Yasi sebagai korban semata. Ia tetap diberi ruang untuk menunjukkan kehendaknya, meskipun jalan yang ditempuh harus penuh tipu daya. Dari sinilah, Bitter Chocolate beresonansi dengan isu-isu feminis global. Perempuan kerap dipaksa menegosiasikan hidupnya di balik layar, di ruang-ruang tersembunyi, bukan dalam terang hukum dan legitimasi.
Judul film, Bitter Chocolate, terasa ironis sekaligus menyentuh. Cokelat sering diasosiasikan dengan kelembutan, cinta, dan kemanisan hidup. Namun, ditambahkan kata “bitter”, cokelat berubah menjadi metafora pengalaman getir yang tetap harus ditelan. Kehidupan Yasi seolah sama seperti itu. Manisnya kemungkinan masa depan dicampur pahitnya realitas sosial yang menindas.

Cokelat pahit juga bisa dibaca sebagai simbol kompromi. Sesuatu yang tidak sepenuhnya manis, namun tetap dikonsumsi demi bertahan. Seperti Yasi yang harus menerima risiko, menjalani kebohongan, dan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan pilihan judul ini, Sotoodeh menekankan ambiguitas moral dan emosional yang membungkus seluruh cerita.
Film ini menohok penonton pada satu titik krusial. Tubuh perempuan bukan hanya miliknya sendiri, melainkan juga arena tarik-menarik antara hukum, agama, tradisi, dan masyarakat.
Keputusan Yasi untuk mengakhiri kehamilan tidak berdiri sendiri. Ia harus menyembunyikan niatnya dari keluarga, berhadapan dengan praktik ilegal yang berisiko, bahkan berpotensi menjadi kriminal di mata negara.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di negara luar. Hal-hal semacam ini juga sering terjadi di Indonesia—bahkan di Bali. Aktivitas dalam mejalani hubungan yang tidak terkontrol antara perempuan dan laki-laki dapat menimbulkan masalah. Tidak hanya bagi perempuan muda namun juga bagi perempuan dengan usia yang lebih matang.
Terkadang, kehamilan dari suatu hubungan yang sah pun tidak diinginkan. Hingga pada akhirnya mengambil jalan pintas untuk melakukan hal yang illegal dan bertentangan. Film ini Bitter Chocolate ini berbicara tentang isu yang sudah sangat umum, terjadi di banyak negara.
Dari sisi sinema feminis, Bitter Chocolate menggarisbawahi bahwa hak reproduksi bukan hanya isu kesehatan, melainkan juga isu politik. Tubuh Yasi tidak bebas. Ia berada dalam pengawasan norma, regulasi, dan pandangan masyarakat yang masih melihat perempuan sebagai penjaga moral keluarga dan bangsa. Inilah yang membuat film terasa sangat relevan, bukan hanya di Iran, tetapi juga di banyak negara lain yang masih membatasi hak reproduksi perempuan.
Dengan durasi 20 menit, film ini tentu harus padat. Sotoodeh tampaknya memanfaatkan bahasa visual yang lebih banyak menyampaikan ketegangan batin Yasi lewat ekspresi wajah, gesture, dan atmosfer kota besar yang asing. Keputusan Yasi meninggalkan kota asal ke ibu kota menciptakan kontras visual. Dari keintiman ruang pribadi menuju keramaian metropolis yang penuh ancaman namun sekaligus menyimpan harapan.
Penggunaan bahasa sinema ini penting, karena alih-alih menjejali penonton dengan dialog, Sotoodeh memilih untuk “menunjukkan” ketimbang “menceritakan”. Keheningan, jeda, dan gesture kecil menjadi lebih berbicara dibandingkan penjelasan verbal. Gaya ini membuat film terasa intim, seolah penonton diajak menyelami batin Yasi secara langsung.
Namun, meski kuat dalam gagasan, Bitter Chocolate juga menyisakan pertanyaan kritis. Dalam 20 menit, ruang untuk mengeksplorasi lebih dalam dinamika sosial di sekeliling Yasi terbatas. Karakter lain—apakah keluarga, pasangan, atau tenaga medis—lebih banyak hadir sebagai bayangan daripada tokoh dengan kedalaman psikologis. Hal ini mungkin disengaja untuk menjaga fokus pada Yasi, namun di sisi lain bisa dianggap mereduksi kompleksitas jaringan sosial yang sebenarnya menopang cerita.

Selain itu, film ini masih terjebak dalam pola narasi personal yang cenderung universal, sehingga risiko stereotip bisa muncul. Penonton mungkin melihat kisah Yasi sebagai “kisah khas perempuan Iran”, padahal problem akses terhadap aborsi juga marak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara yang mengaku demokratis. Tantangan bagi Sotoodeh adalah bagaimana menghindari eksotisasi penderitaan perempuan di Timur Tengah dan justru membuka ruang dialog global yang lebih setara.
Di tengah gelombang perdebatan tentang hak reproduksi—dari gugatan Roe v. Wade di Amerika Serikat hingga regulasi ketat di negara-negara Asia dan Afrika—Bitter Chocolate hadir sebagai pengingat bahwa persoalan ini bersifat universal. Yasi bisa saja perempuan muda dari manapun. Dari Teheran, Berlin, New York, atau Jakarta atau mungkin dari Bali. Yang membedakan hanyalah konteks sosial dan hukum.
Film ini dengan demikian berfungsi sebagai jendela yang memperlihatkan betapa keputusan personal seorang perempuan sering kali harus melewati jalan penuh rintangan yang diciptakan masyarakatnya sendiri.
Sebagai film pendek fiksi, Bitter Chocolate berhasil menyodorkan pengalaman menonton yang intens, ringkas, namun sarat makna. Sahar Sotoodeh dengan cerdas menggunakan cerita Yasi untuk mengungkap lapisan-lapisan ketidakadilan struktural terhadap tubuh perempuan.
Meski ada keterbatasan dalam pengembangan karakter pendukung dan risiko penyempitan konteks, film ini tetap menyajikan kritik sosial yang tajam. Ia menegaskan bahwa keputusan seorang perempuan atas tubuhnya seharusnya bukan urusan negara, agama, atau masyarakat, melainkan urusan dirinya sendiri.[T]
Penulis: Dian Suryantini
Editor: Jaswanto



























