FESTIVAL Film Indonesia (FFI) 2024 mencatat satu nama yang patut diingat, Suintrah. Film cerita pendek karya sutradara muda Ayesha Alma Almera ini menyabet penghargaan Film Pendek Terbaik tahun 2024. Film ini yang tidak hanya mengukuhkan kepekaan artistik sang sutradara, tetapi juga memperlihatkan keberanian dalam mengeksplorasi narasi, visual, dan audio secara serentak.
Di tengah gempuran film-film pendek lain yang mencoba tampil dengan gaya realis atau eksperimen visual semata, Suintrah tampil sebagai anomali. Suintrah memiliki premis sederhana—seorang ayah dan anak laki-laki satu-satunya menyewa rumah di sebuah desa dengan aturan ketat. Di desa itu, tidak seorang pun boleh berbicara keras. Namun dari premis itu, Almera berhasil meramu sebuah dunia (universe) yang terasa utuh, believable, dan menyimpan lore (tutur) yang kuat. Film ini discreening di Ruang Audio Visual, Dharma Negara Alaya dalam program Market Screening : FFI, Senin, 15 September 2025.
Keberhasilan Suintrah terletak pada kemampuannya menjadikan satu aturan sederhana—larangan berbicara keras—sebagai fondasi dunia yang misterius. Desa tempat Jor (sang ayah) dan Nayak (sang anak) tinggal digambarkan bak kedamaian. Alamnya rindang, pemandangan gemah ripah, suara angin dan burung yang menenangkan. Namun, justru dalam keindahan itu terkandung ancaman yang tak kasatmata.
Setiap kali ada suara yang meninggi, penonton merasakan getaran ancaman. Serasa itu terlibat dalam mendengar, mengintai, dan siap menghukum. Sosok atau kekuatan itu tidak pernah ditunjukkan secara gamblang, tetapi bayangan kehadirannya mengisi seluruh ruang film. Inilah kekuatan world-building Almera—tidak perlu menjelaskan panjang lebar, cukup dengan satu aturan desa, imaji penonton bekerja sendiri.
Dengan cerdas, film ini mengingatkan pada tradisi horor yang membangun teror dari atmosfer, bukan jumpscare murahan. Semacam resonansi dengan A Quiet Place (2018), tetapi dengan kekhasan lokal dan nuansa desa tropis yang hangat sekaligus mencekam.
Jika ada satu aspek paling menonjol dalam Suintrah, maka jawabannya adalah eksperimen audio. Film ini tidak semata-mata bercerita dengan gambar, tetapi dengan keheningan yang dipaksa.

Dialog yang minim dan penuh bisikan justru membuat penonton terperangkap dalam pengalaman mendengar. Suara desir angin, langkah kaki di tanah kering, atau sekadar helaan napas menjadi titik dramatik. Setiap bunyi terdengar signifikan, seakan mengandung risiko.
Di sinilah Almera membangun lapisan kontras audio. Suara manusia yang berbisik, ditimpa efek suara horor yang samar, seolah-olah ada entitas asing yang menyelinap di setiap kata. Ketegangan bukan datang dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang terdengar. Penonton dipaksa siaga, ikut waspada, seperti Jor dan Nayak.
Kekuatan ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang potensi medium film. Almera tidak jatuh pada gimmick suara, tetapi memanfaatkan audio sebagai tulang punggung narasi.

Dari sisi visual, Suintrah menampilkan kontras yang memikat. Sinematografi menghadirkan desa yang tampak damai. Namun, kamera Almera tidak membiarkan penonton menikmati kedamaian itu dengan nyaman. Ada framing yang menekan, komposisi ruang yang terasa mengurung, dan gerakan kamera yang kadang lambat, kadang terhenti tiba-tiba, menciptakan sensasi diawasi.
Desa itu adalah paradoks. Tanah yang tenteram tetapi menyimpan kekerasan aturan. Keindahan visual justru menjadi perangkap psikologis. Penonton diingatkan bahwa kemakmuran tidak selalu identik dengan keramahan. Sebuah aturan sosial bisa meniadakan rasa aman, meski lingkungan tampak ideal.
Dua tokoh utama, Jor dan Nayak, hadir tanpa banyak latar belakang. Almera menolak untuk memberi penjelasan gamblang—dan justru di situlah letak kekuatan narasi. Ayah (Jor) digambarkan sebagai figur yang waspada, berusaha menyesuaikan diri dengan aturan baru yang asing dan menekan. Tetapi Nayak justru berbalik. Rasa acuh dan ketidakpercayaan yang digambarkan oleh anak kecil menjadi titik konflik dalam film ini.
Hubungan mereka tidak sekadar hubungan biologis, tetapi juga simbolik. Ayah sebagai benteng perlindungan yang retak, anak sebagai generasi yang harus menanggung resiko dalam keheningan. Penonton perlahan menangkap bahwa desa dengan aturan sunyi ini bukan sekadar tempat fisik, melainkan cermin dari represi sosial yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.
Mengapa Suintrah terasa relevan? Karena film ini bicara tentang represi suara, larangan untuk berbicara keras, yang bisa dibaca sebagai metafora pembungkaman ekspresi di masyarakat. Aturan desa bukan hanya hukum fiksi, melainkan refleksi sebuah suara individu yang sering diredam oleh norma, kuasa, atau tradisi.
Film ini tidak menyajikan jawaban, tetapi menantang penonton untuk bertanya. Apa yang terjadi jika masyarakat dibangun di atas larangan berbicara dengan keras? Bagaimana identitas, trauma, dan rasa takut diturunkan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Suintrah tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga sebagai wacana sosial.
Meski begitu, film ini juga menyisakan ruang kritik. Sebagai penonton saya merasa narasi terlalu tertutup, minim informasi, sehingga sulit diakses. Ending yang ambigu—tidak menjelaskan asal-usul ancaman—akan menimbulkan frustrasi bagi sebagian orang. Namun, justru di titik inilah letak keberanian Almera. Ia memilih untuk tidak memanjakan penonton dengan jawaban instan.

Tidak berlebihan jika banyak kritikus menyebut Suintrah sebagai film pendek dengan potensi besar untuk dikembangkan menjadi film panjang. Lore (tutur) yang sudah terbentuk—aturan desa, atmosfer, karakter ayah-anak—cukup kuat untuk ditarik lebih jauh.
Versi panjang bisa menggali lebih dalam asal-usul aturan, konflik masyarakat desa, atau transformasi psikologis Jor dan Nayak. Jika dieksekusi tepat, Suintrah berpeluang menjadi horor psikologis lokal yang mendunia.
Kemenangan Suintrah di FFI 2024 bukan sekadar kemenangan teknis, tetapi kemenangan ide. Film ini membuktikan bahwa kekuatan sinema tidak selalu datang dari cerita besar, tetapi dari premis kecil yang dieksplorasi dengan totalitas.
Ayesha Alma Almera telah menunjukkan bahwa keheningan bisa lebih mengguncang daripada teriakan. Suintrah mengajarkan penonton bahwa di balik sunyi, ada suara-suara yang ingin keluar, tetapi ditahan oleh ketakutan. Dan mungkin, di situlah horor yang sesungguhnya. [T]
Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole



























