HANYA cukup 03:00 menit, Lyna Tadount dan Sofian Chouaib menyolok mata dan memukul dada penonton dengan film Ya Hanouni (2024).
Film itu bergenre fiksi. Diputar setelah film pendek Blitmusik (2024), Lunch Women (2024), No Room (2024), dan A Waiting Room (2024), di Ruang Taksu Dharma Alaya, Denpasar, Jumat, 12 September 2025.
Film Ya Hanouni adalah film pendek yang sederhana, yang pendek sekali; 03:00 menit, digarap di Prancis. Tidak dengan simbolis—yang mesti mengerutkan jidat untuk menyecap pesan apa yang hendak di ampaikan Lyna Tadount dan Sofian Chouaib kepada penontonnya.
Bercerita tentang sepasang suami-istri sedang bertengkar sangat romantis. Di rumah di sebuah kamar, sepasang istri (muslim) itu, sedang mengajarkan anaknya yang masih bayi—untuk mengucapkan Mama dan Baba
Pokoknya, si anak, harus lebih dulu bisa memanggil Mama ketimbang Baba. Tentu, sang suami tidak mau kalah, ia berusaha agar si bayi memanggil namanya lebih dulu dengan sebutan Baba.
Pertengkaran mereka adalah pertengkaran cinta. Mereka bertengkar kecil saling dorong dengan sambil tertawa tipis. Dan bermain cilukba dengan si bayi, sebagai sogokan agar anaknya memangil lebih dulu dari salah satu mereka, Mama atau Baba? Si bayi belum bereaksi.
Entah di menit-detik ke berapa, kamar kecil mereka bergetar setelah suara letupan di luar rumah terdengar. Lalu di salah satu adegan mereka melontarkan kalimat penenang untuk si bayi; tenang saja, nak, itu hanya gempa.
Selepas itu, getaran terasa tambah kencang dan suara terdengar sangat keras dan dekat. Suami-istri itu panik saling tatap. Cahaya ledakan mulai masuk ke ruangan mereka silau sekali. Lantas dengan segera si suami menutup bayinya dengan sesuatu agar aman dari reruntuhan gedung.
Lalu sepasang kekasih itu pergi entah ke mana dilalap cahaya, terkecuali bayi itu masih ada, tertimbun reruntuhan rumah sendiri.
Keesokan harinya, ketika semua bangunan sudah runtuh, petugas negara setempat masuk, membuka penutup—tempat tidur si bayi setelah kamar jadi bebas udara. Mereka tercengang ada seorang bayi masih hidup tanpa ibu dan bapak.
“Mama,” ucap si bayi itu menatap petugas yang menatapnya. Film berakhir.
Derita Perang
Tentu, di Prancis, di tahun 2024, tidak ada perang yang sedahsyat Palestina yang diperangi kolonialis Israel. Melihat Lyn Tadount dan Sofian Chouaib menggarap film itu dengan latar keluarga muslim, siapapun bakal mengira—bahwa filmnya, menjelaskan tentang kondisi chaos Gaza, sebagaimana mengangkat latar keluarga muslim.
Lyn Tadount dan Sofian Chouaib mengambil angle yang berbeda ketika pemberitaan di tahun 2024 atau ke belakang, banyak mengabarkan penderitaan soal bayi atau anak-anak, dan tentu sipil lainnya lintas usia—yang dilaparkan di tengah perang, lalu wafat.
Perang bisa merenggut apapun bagi Lyna Tadount dan Sofian Chouaib melalui film itu, salah satunya kasih sayang dan kebahagiaan dari keluarga kecil.
Barangkali lebih luas cara pandang kita selepas menyaksikan atau Anda membayangkan perang, menghasilkan bangunan hancur, termasuk kamar tidur Ayah-Ibu, juga anak-anak, dengan meminjam puisi milik Khaled Juma berjudul “Oh Rescal Children of Gaza”.
Itu adalah puisi jujur sebagaimana Ya Hanouni milik Lyna Tadount dan Sofian Chouaib—dengan latar berbeda sebagai film pendek—yang puitik.
Melalui puisinya, Khaled Juma—menyeret serangan Isarel tahun 2014 dengan sebutan “Operasi Protective Edge”—atau Operasi Perisai Pelindung. Telah membuat sepi rumah-rumah dari teriakan anak-anak. Karena mewafatkan 547 dan 3.374 anak-anak luka, termasuk di dalamnya mencacatkan 1000 anak secara permanen (baca: Jewish Voice For Labour).
Berikut ini penggalan puisinya Khaled Juma :
you wo broke my vase and stole the lonely flower on my balcony // come back // And scream as you want, // And break all the vases // Steal all the flowers//Come back // Just come back //
Kamu yang memecahkan vasku dan mencuri bunga kesepian di balkonku // Kembali– // Dan teriaklah sesuka hatimu // Dah memecahkan semua vas // Curi semua bunganya //
Puisi itu sangat jernih—dengan rasa perih yang pekat. Di puisi itu, terasa betul bagaimana rasa kehilangan pada anak-anak yang biasanya menganggu para tetangga dengan teriakan dan usil, telah hilang wafat berikut dengan rumah-rumah mereka.
Atau ketika di tahun 2024 akhir Juni, The Lancet mengutip Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED) terhitung dari media, masyarakat sipil dan sumber pemerintah, bahwa ada 39.276 kematian di Gaza akibat perang.
Namun setelah serangan brutal tak henti oleh Israel di tahun 2024 atau beberapa tahun terakhir juga brutal, Lyn Tadount dan Sofian Chouaib menyuguhkan kesedihan yang berbeda, kesedihan yang panjang selain kabar kematian.
Ya, perang, mengakibatkan anak-anak menjadi yatim-piatu: tanpa kasih sayang. [T]
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























