5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Persetan Dengan Perang!”, Begitulah Akhir Film “Blitzmusik” (2024) karya Martin Amiot di MFW11

Son Lomri by Son Lomri
September 13, 2025
in Ulas Film
“Persetan Dengan Perang!”, Begitulah Akhir Film “Blitzmusik” (2024) karya Martin Amiot di MFW11

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

MENONTON film Kanada, Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot, di acara Minikino Film Week 11 (MFW11), Jum’at, 12 September 2025, seperti menonton dua tentara berani mematahkan doktrin komando di tengah perang sedang berlangsung.

Film itu diputar diRuang Taksu Dharma Alaya, Denpasar, bersama lima film lainnya. Film lainnya dari Jepang dengan judul Lunch Woman (2024)karya Tokio OOHARA dan Gertjan ZUILHOF, Cening Nepukin I Kawa (2024)karya Epriliana Fitri Ayu Pamungkas dari Indonesia, dan Noo Room (2024) karya Jelena Oroz dari Kroasia.

Kemudian A Waiting Room (2024)karya Saw dari Thailand, dan Ya Hanouni (2024) karya Lyna Tadaunt dan Sofian Chouaib dari Prancis.

Karena film itu tidak bisa diakses di YouTube, alias mesti langsung pergi ke festival Minikino diputar secara eklusive, maka, kiranya perlu diceritakan sekilas tentang alur cerita Blitzmusik itu.

Jadi ada dua tentara yang terjebak di sebuah gedung (mirip gedung sekolah musik), mereka terperangkap di sana tidak bisa keluar. Satu tentara dengan badan kurus berkacamata, satu tentara lagi badannya agak gendutan.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Mereka terjebak di gedung yang sama, tapi beda ruangan. Ruangan mereka bersebelahan, hanya tersekat satu dinding saja. Setelah si tentara dengan tubuh kurus itu tahu bahwa ada tentara di sebalah ruangannya, lelaki itu mulai mengintip di antara bolong tembok bekas ditembaki.

Tentara kurus itu langsung ambil senjata dan menembak tembok musuhnya dengan membabi buta. Si tentara dengan tubuh agak gembul itu segera mencari perlindungan di bawah meja, karena peluru tembus tembok menyasar dirinya.

Selang beberapa waktu setelah lelaki itu menembak, ia berhenti, merasa capek, dan sia-sia. Lalu memukuli tembok dengan drum (bass), juga sia-sia.

Musuhnya hanya cengengesan seakan tahu itu perbuatan nihil, lantas ia bersender di tembok dengan wajah sayu. Akhirnya mereka saling menjeda sebentar, mencari celah untuk duduk di masing-masing ruangan, dengan ekspresi getir-meratap, seakan menunggu apa yang akan terjadi setelah itu.

Di luar ruangan, gedung bangunan sudah luluh lantak oleh bom, terkecuali gedung mereka. Bunyi bising peluru dan bom terdengar sangat keras di balik tembok mereka.

Ketika reruntuhan gedung dua tentara itu mulai goyang, dan serpihan terjatuh mengklik piringan hitam di ruangan tentara gendut itu, musik terdengar. Mereka mendengar musik bersamaan, antara musik klasik dan suara perang, seakan menjadi hiburan sebelum kematian.

Tentara tubuh ramping itu kemudian mengambil stick drum, ia membalasnya dengan bermain drum. Musik terdengar. Di tengah permainan musik itu, bom masuk ke ruangan, mereka dihantam reruntuhan sekaligus. Tembok pembatas ruangan rubuh.

Alih-alih setelah tembok itu hancur—harusnya saling bunuh, mereka justru duel musik dengan sorot mata yang pasrah. Yang satu main drum, yang satu bermain saksofon dengan bebas. Duel musik mereka menghasilkan ryhthem musik jazz dengan tambahan suara dari ledakan bom dan bedil, dengan nuansa, seakan mereka menolak perang.

Di akhir film tertulis “Fuck Thos War”—Persetan dengan Perang.

Jazz, Desing Peluru, dan—Mengapa Tidak Balik Kanan

Apakah dalam perang, hukumnya haram ketika tentara bandel tidak ikut bunuh membunuh setelah capek mengangkat senjata? Pertanyaan itu yang menggantung di jidat saya ketika menonton film Blitzmusik.

Martin Amiot memberi taruhan mahal antara kenyataan perang membuat semua orang depresi, apa yang dibangun sudah hancur, dengan musik jazz—yang dijadikannya sebagai simbolis perlawanan dalam flmnya, persetanlah dengan perang.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Jazz, sebagai musik kebebasan yang lahir di New Orleans oleh Komunitas Afrika-Amerika dalam menentang rasisme pada abad ke-20 silam, menjadi simbol yang pas sebagai penentangan terhadap perang di film itu. Sederhana, memadukan antara saksofon dengan permainan drum, dan warna bunyi dari reruntuhan bangunan yang terjatuh, di kenyataan dalam perang sungguhan; desing peluru dan suara bom, adalah musik yang getir sesungguhnya.

Film pendek anyar asal Kanada tahun 2024 itu, setidak menjatuhkan semua harkat martabat—seorang pemimpin yang banal, hobi perang. Membayangkan kembali pada negara-negara yang chaos seperti Palestina oleh Israel, yang menjadi langganan isu—tak pernah selesai tentang pembantaian bayi-bayi, ibu-ibu, bapak-bapak, masyarakat sipil lainnya, mengapa tidak para tentara yang berperang di sana untuk menjeda sebentar dan memikirkan kembali kemanusiaannya sendiri!?

Perang menjeda memang ada ditentukan negara adidaya. Tapi itu seakan hanya memberikan waktu untuk membersihkan puing-puing gedung yang sudah rusak, memberi waktu untuk mengubur mayat-mayat pada negara yang teraniaya.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Blitzmusik (2024) karya Martin Amiot itu, justru menawarkan yang lain, yang saya rasa, cape itu perlu—di tengah perang, untuk kembali memikirkan apa-apa yang selama ini diperangi, telah menjadi satu modal dasar untuk menghina Tuhan. Sudah indah bumi diciptakan, malah dihancurkan—berikut dengan manusia-manusianya.

Jika Martin Amiot duduk dan ngopi siang itu bersama saya, saya bakal menunjukkan satu lagu bagus dari Nassida Ria dengan judul “Perdamaian” setelah Jazz desing peluru—melawan kondisi bangsat perang. [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekKanadaMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025musikperang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Gede Muliartha Wiguna, Mahasiswa Berprestasi Poltekkes Kemenkes Denpasar  itu Mendirikan “KASIH”, Komunitas Peduli Hipertensi

Next Post

Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co