6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Persetan Dengan Perang!”, Begitulah Akhir Film “Blitzmusik” (2024) karya Martin Amiot di MFW11

Son Lomri by Son Lomri
September 13, 2025
in Ulas Film
“Persetan Dengan Perang!”, Begitulah Akhir Film “Blitzmusik” (2024) karya Martin Amiot di MFW11

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

MENONTON film Kanada, Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot, di acara Minikino Film Week 11 (MFW11), Jum’at, 12 September 2025, seperti menonton dua tentara berani mematahkan doktrin komando di tengah perang sedang berlangsung.

Film itu diputar diRuang Taksu Dharma Alaya, Denpasar, bersama lima film lainnya. Film lainnya dari Jepang dengan judul Lunch Woman (2024)karya Tokio OOHARA dan Gertjan ZUILHOF, Cening Nepukin I Kawa (2024)karya Epriliana Fitri Ayu Pamungkas dari Indonesia, dan Noo Room (2024) karya Jelena Oroz dari Kroasia.

Kemudian A Waiting Room (2024)karya Saw dari Thailand, dan Ya Hanouni (2024) karya Lyna Tadaunt dan Sofian Chouaib dari Prancis.

Karena film itu tidak bisa diakses di YouTube, alias mesti langsung pergi ke festival Minikino diputar secara eklusive, maka, kiranya perlu diceritakan sekilas tentang alur cerita Blitzmusik itu.

Jadi ada dua tentara yang terjebak di sebuah gedung (mirip gedung sekolah musik), mereka terperangkap di sana tidak bisa keluar. Satu tentara dengan badan kurus berkacamata, satu tentara lagi badannya agak gendutan.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Mereka terjebak di gedung yang sama, tapi beda ruangan. Ruangan mereka bersebelahan, hanya tersekat satu dinding saja. Setelah si tentara dengan tubuh kurus itu tahu bahwa ada tentara di sebalah ruangannya, lelaki itu mulai mengintip di antara bolong tembok bekas ditembaki.

Tentara kurus itu langsung ambil senjata dan menembak tembok musuhnya dengan membabi buta. Si tentara dengan tubuh agak gembul itu segera mencari perlindungan di bawah meja, karena peluru tembus tembok menyasar dirinya.

Selang beberapa waktu setelah lelaki itu menembak, ia berhenti, merasa capek, dan sia-sia. Lalu memukuli tembok dengan drum (bass), juga sia-sia.

Musuhnya hanya cengengesan seakan tahu itu perbuatan nihil, lantas ia bersender di tembok dengan wajah sayu. Akhirnya mereka saling menjeda sebentar, mencari celah untuk duduk di masing-masing ruangan, dengan ekspresi getir-meratap, seakan menunggu apa yang akan terjadi setelah itu.

Di luar ruangan, gedung bangunan sudah luluh lantak oleh bom, terkecuali gedung mereka. Bunyi bising peluru dan bom terdengar sangat keras di balik tembok mereka.

Ketika reruntuhan gedung dua tentara itu mulai goyang, dan serpihan terjatuh mengklik piringan hitam di ruangan tentara gendut itu, musik terdengar. Mereka mendengar musik bersamaan, antara musik klasik dan suara perang, seakan menjadi hiburan sebelum kematian.

Tentara tubuh ramping itu kemudian mengambil stick drum, ia membalasnya dengan bermain drum. Musik terdengar. Di tengah permainan musik itu, bom masuk ke ruangan, mereka dihantam reruntuhan sekaligus. Tembok pembatas ruangan rubuh.

Alih-alih setelah tembok itu hancur—harusnya saling bunuh, mereka justru duel musik dengan sorot mata yang pasrah. Yang satu main drum, yang satu bermain saksofon dengan bebas. Duel musik mereka menghasilkan ryhthem musik jazz dengan tambahan suara dari ledakan bom dan bedil, dengan nuansa, seakan mereka menolak perang.

Di akhir film tertulis “Fuck Thos War”—Persetan dengan Perang.

Jazz, Desing Peluru, dan—Mengapa Tidak Balik Kanan

Apakah dalam perang, hukumnya haram ketika tentara bandel tidak ikut bunuh membunuh setelah capek mengangkat senjata? Pertanyaan itu yang menggantung di jidat saya ketika menonton film Blitzmusik.

Martin Amiot memberi taruhan mahal antara kenyataan perang membuat semua orang depresi, apa yang dibangun sudah hancur, dengan musik jazz—yang dijadikannya sebagai simbolis perlawanan dalam flmnya, persetanlah dengan perang.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Jazz, sebagai musik kebebasan yang lahir di New Orleans oleh Komunitas Afrika-Amerika dalam menentang rasisme pada abad ke-20 silam, menjadi simbol yang pas sebagai penentangan terhadap perang di film itu. Sederhana, memadukan antara saksofon dengan permainan drum, dan warna bunyi dari reruntuhan bangunan yang terjatuh, di kenyataan dalam perang sungguhan; desing peluru dan suara bom, adalah musik yang getir sesungguhnya.

Film pendek anyar asal Kanada tahun 2024 itu, setidak menjatuhkan semua harkat martabat—seorang pemimpin yang banal, hobi perang. Membayangkan kembali pada negara-negara yang chaos seperti Palestina oleh Israel, yang menjadi langganan isu—tak pernah selesai tentang pembantaian bayi-bayi, ibu-ibu, bapak-bapak, masyarakat sipil lainnya, mengapa tidak para tentara yang berperang di sana untuk menjeda sebentar dan memikirkan kembali kemanusiaannya sendiri!?

Perang menjeda memang ada ditentukan negara adidaya. Tapi itu seakan hanya memberikan waktu untuk membersihkan puing-puing gedung yang sudah rusak, memberi waktu untuk mengubur mayat-mayat pada negara yang teraniaya.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Blitzmusik (2024) karya Martin Amiot itu, justru menawarkan yang lain, yang saya rasa, cape itu perlu—di tengah perang, untuk kembali memikirkan apa-apa yang selama ini diperangi, telah menjadi satu modal dasar untuk menghina Tuhan. Sudah indah bumi diciptakan, malah dihancurkan—berikut dengan manusia-manusianya.

Jika Martin Amiot duduk dan ngopi siang itu bersama saya, saya bakal menunjukkan satu lagu bagus dari Nassida Ria dengan judul “Perdamaian” setelah Jazz desing peluru—melawan kondisi bangsat perang. [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekKanadaMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025musikperang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Gede Muliartha Wiguna, Mahasiswa Berprestasi Poltekkes Kemenkes Denpasar  itu Mendirikan “KASIH”, Komunitas Peduli Hipertensi

Next Post

Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co