15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Persetan Dengan Perang!”, Begitulah Akhir Film “Blitzmusik” (2024) karya Martin Amiot di MFW11

Son Lomri by Son Lomri
September 13, 2025
in Ulas Film
“Persetan Dengan Perang!”, Begitulah Akhir Film “Blitzmusik” (2024) karya Martin Amiot di MFW11

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

MENONTON film Kanada, Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot, di acara Minikino Film Week 11 (MFW11), Jum’at, 12 September 2025, seperti menonton dua tentara berani mematahkan doktrin komando di tengah perang sedang berlangsung.

Film itu diputar diRuang Taksu Dharma Alaya, Denpasar, bersama lima film lainnya. Film lainnya dari Jepang dengan judul Lunch Woman (2024)karya Tokio OOHARA dan Gertjan ZUILHOF, Cening Nepukin I Kawa (2024)karya Epriliana Fitri Ayu Pamungkas dari Indonesia, dan Noo Room (2024) karya Jelena Oroz dari Kroasia.

Kemudian A Waiting Room (2024)karya Saw dari Thailand, dan Ya Hanouni (2024) karya Lyna Tadaunt dan Sofian Chouaib dari Prancis.

Karena film itu tidak bisa diakses di YouTube, alias mesti langsung pergi ke festival Minikino diputar secara eklusive, maka, kiranya perlu diceritakan sekilas tentang alur cerita Blitzmusik itu.

Jadi ada dua tentara yang terjebak di sebuah gedung (mirip gedung sekolah musik), mereka terperangkap di sana tidak bisa keluar. Satu tentara dengan badan kurus berkacamata, satu tentara lagi badannya agak gendutan.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Mereka terjebak di gedung yang sama, tapi beda ruangan. Ruangan mereka bersebelahan, hanya tersekat satu dinding saja. Setelah si tentara dengan tubuh kurus itu tahu bahwa ada tentara di sebalah ruangannya, lelaki itu mulai mengintip di antara bolong tembok bekas ditembaki.

Tentara kurus itu langsung ambil senjata dan menembak tembok musuhnya dengan membabi buta. Si tentara dengan tubuh agak gembul itu segera mencari perlindungan di bawah meja, karena peluru tembus tembok menyasar dirinya.

Selang beberapa waktu setelah lelaki itu menembak, ia berhenti, merasa capek, dan sia-sia. Lalu memukuli tembok dengan drum (bass), juga sia-sia.

Musuhnya hanya cengengesan seakan tahu itu perbuatan nihil, lantas ia bersender di tembok dengan wajah sayu. Akhirnya mereka saling menjeda sebentar, mencari celah untuk duduk di masing-masing ruangan, dengan ekspresi getir-meratap, seakan menunggu apa yang akan terjadi setelah itu.

Di luar ruangan, gedung bangunan sudah luluh lantak oleh bom, terkecuali gedung mereka. Bunyi bising peluru dan bom terdengar sangat keras di balik tembok mereka.

Ketika reruntuhan gedung dua tentara itu mulai goyang, dan serpihan terjatuh mengklik piringan hitam di ruangan tentara gendut itu, musik terdengar. Mereka mendengar musik bersamaan, antara musik klasik dan suara perang, seakan menjadi hiburan sebelum kematian.

Tentara tubuh ramping itu kemudian mengambil stick drum, ia membalasnya dengan bermain drum. Musik terdengar. Di tengah permainan musik itu, bom masuk ke ruangan, mereka dihantam reruntuhan sekaligus. Tembok pembatas ruangan rubuh.

Alih-alih setelah tembok itu hancur—harusnya saling bunuh, mereka justru duel musik dengan sorot mata yang pasrah. Yang satu main drum, yang satu bermain saksofon dengan bebas. Duel musik mereka menghasilkan ryhthem musik jazz dengan tambahan suara dari ledakan bom dan bedil, dengan nuansa, seakan mereka menolak perang.

Di akhir film tertulis “Fuck Thos War”—Persetan dengan Perang.

Jazz, Desing Peluru, dan—Mengapa Tidak Balik Kanan

Apakah dalam perang, hukumnya haram ketika tentara bandel tidak ikut bunuh membunuh setelah capek mengangkat senjata? Pertanyaan itu yang menggantung di jidat saya ketika menonton film Blitzmusik.

Martin Amiot memberi taruhan mahal antara kenyataan perang membuat semua orang depresi, apa yang dibangun sudah hancur, dengan musik jazz—yang dijadikannya sebagai simbolis perlawanan dalam flmnya, persetanlah dengan perang.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Jazz, sebagai musik kebebasan yang lahir di New Orleans oleh Komunitas Afrika-Amerika dalam menentang rasisme pada abad ke-20 silam, menjadi simbol yang pas sebagai penentangan terhadap perang di film itu. Sederhana, memadukan antara saksofon dengan permainan drum, dan warna bunyi dari reruntuhan bangunan yang terjatuh, di kenyataan dalam perang sungguhan; desing peluru dan suara bom, adalah musik yang getir sesungguhnya.

Film pendek anyar asal Kanada tahun 2024 itu, setidak menjatuhkan semua harkat martabat—seorang pemimpin yang banal, hobi perang. Membayangkan kembali pada negara-negara yang chaos seperti Palestina oleh Israel, yang menjadi langganan isu—tak pernah selesai tentang pembantaian bayi-bayi, ibu-ibu, bapak-bapak, masyarakat sipil lainnya, mengapa tidak para tentara yang berperang di sana untuk menjeda sebentar dan memikirkan kembali kemanusiaannya sendiri!?

Perang menjeda memang ada ditentukan negara adidaya. Tapi itu seakan hanya memberikan waktu untuk membersihkan puing-puing gedung yang sudah rusak, memberi waktu untuk mengubur mayat-mayat pada negara yang teraniaya.

Film Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot diputar di MFW11 | Foto: Son

Blitzmusik (2024) karya Martin Amiot itu, justru menawarkan yang lain, yang saya rasa, cape itu perlu—di tengah perang, untuk kembali memikirkan apa-apa yang selama ini diperangi, telah menjadi satu modal dasar untuk menghina Tuhan. Sudah indah bumi diciptakan, malah dihancurkan—berikut dengan manusia-manusianya.

Jika Martin Amiot duduk dan ngopi siang itu bersama saya, saya bakal menunjukkan satu lagu bagus dari Nassida Ria dengan judul “Perdamaian” setelah Jazz desing peluru—melawan kondisi bangsat perang. [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: film pendekKanadaMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025musikperang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Gede Muliartha Wiguna, Mahasiswa Berprestasi Poltekkes Kemenkes Denpasar  itu Mendirikan “KASIH”, Komunitas Peduli Hipertensi

Next Post

Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails
Next Post
Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Filosofi “Taluh Goreng Ada Hasil” dan Banjir Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co