MEMBAGI pengalaman membatik menjadi tontonan menarik bagi para delegasi dan tamu undangan dalam Gelaran Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovative (CHANDI) 2025 di The Meru Sanur, Denpasar, Kamis 4 September 2025. Dalam acara Lokakarya Pembuatan Batik itu, mereka tak hanya mendengar dan menyaksikan cara membuat batik, tetapi juga mencobanya. Bahkan, beberapa dari mereka benar-benar merasakan jiwa seni seorang pembatik.
Namun, sebelum para peserta mencoba secara langsung proses membatik itu, mereka juga diperkenalkan alat untuk membuat batik. “Ini adalah canting. Ibaratnya kalau kita menulis, ini seperti pensilnya,” kata Muhammad Taufan Wicaksono Muhammad Rizqi Darmawan, perajin batik asal Laweyan, Surakarta yang memandu acara lokakarya pada konferensi budaya internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan RI semala tiga hari (3-5 September 2025) itu.
Di awal sesi, para peserta diberikan penjelasan tentang batik sebagai salah satu wastra asli Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO. Saat itu juga di paparkan kalau Batik sudah menjadi identitas bangsa Indonesia. Namun, sebelum peserta mencoba secara langsung proses membatik, Taufan memperkenalkan alat untuk membuat batik yang salah satunya canting, alat tradisional yang digunakan dalam pembuatan batik tulis untuk menorehkan atau memindahkan malam (lilin) cair ke atas kain, membentuk pola motif batik.

Delegasi CHANDI 2025 Ikut Mencanting dan Mewarnai Batik Wastra Nusantara | Foto: tatkala.co/Bud
Taufan lalu menegaskan kepada 38 peserta yang hadir, untuk berhati-hati dalam proses pencantingan karena jika terjadi kesalahan dalam proses ini, maka akan berpengaruh terhadap hasil setelah pewarnaan. Para peserta selanjutnya dipandu untuk menorehkan lilin panas diatas sehelai kain menggunakan canting sesuai pola yang telah disediakan. Selanjutnya kain yang telah dicanting diberi warna dengan teknik colet.
Di hadapan para peserta, Taufan yang perajin Batik Mahkota Laweyan itu juga memaparkan, bahwa batik di Indonesia setiap tahun diperingati sebagai bagian dari upaya pelestarian. “Pada setiap tanggal 2 Oktober adalah Hari Batik yang selalu kita peringati,” ungkapnya seraya menanyakan kepada para peserta mengenai pengalaman membatik yang pernah dilakukan oleh para peserta sebelumnya.
Peserta yang terlibat tampak senang. Mereka tampak antusiasme dalam mencoba membuat batik ini menjadi sebuah kesan pengalaman yang berharga. “Pengalaman yang sangat luar biasa untuk saya. Ketika kita melihat pembatik, rasanya seperti mudah sekali. Tapi ketika kita praktik, ternyata tidak semudah yang kita lihat,” ungkap Fine, salah seorang peserta asal Maluku.
Batik merupakan warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang telah diajarkan secara turun-temurun dan menjadi kewajiban kita untuk terus menjaga keberlanjutannya di masa depan.
“Culture for the Future” sebagai tema yang diusung dalam gelaran CHANDI 2025 ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus menjaga warisan batik agar tetap lestari. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























