SEJAK duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Vita Adriani sudah mencintai kesenian tradisional. Ia menggeluti dunia seni tari. Beberapa tarian daerah yang menjadi favoritnya adalah tari Golek, Gambyong, Bondan, dan Serimpi.
Bukan tanpa alasan Vita Adriani menekuni seni tari. Ia ingin nguri-uri atau merawat dan melestarikan seni tari sebagai warisan leluhur. Apalagi kedua orang tuanya juga pelaku seni, meski di jalur yang berbeda. Ayahnya pemain bass di kelompok musik keroncong. Ibunya seorang sinden dalam pagelaran wayang kulit.
Teman-teman sebaya Vita lebih banyak menghabiskan waktu luangnya dengan bermain ponsel dan media sosial. Nyaris tidak ada temannya yang tertarik pada kesenian tradisional. Vita bukannya ketinggalan zaman. Ia juga akrab dengan media sosial. Namun hanya sebatas hiburan dan mencari informasi penting saja. Vita tak mau larut dalam dunia maya.
Selain belajar di sekolah, sebagian besar waktu Vita Adriani dihabiskan untuk berlatih menari. Meskipun ia telah terampil menari, namun jika tidak dilatih akan membuat kelenturannya dalam menari berkurang. Beberapa rekaman video para penari terkenal ia gunakan untuk melatih gerakan-gerakan baru, sehingga tariannya lebih menarik.
Ayah dan ibunya tentu saja sangat mendukung minat Vita Adriani. Mereka begitu bangga terhadap anaknya. Apalagi dalam beberapa kesempatan Vita kerap menjadi juara dalam lomba seni tari di daerahnya. Piala-piala kemenangan Vita pun dipajang di ruang tamu.
Kini, saat Vita Adriani duduk sebagai mahasiswa semester lima, kecintaannya pada seni tari tetap tak memudar. Kedua orang tua Vita menyarankan agar ia berlatih menari lengger, salah satu tarian tradisional daerahnya di Banyumas, Jawa Tengah.
Awalnya Vita agak ragu. Apalagi lengger kadang mendapat stigma yang negatif di masyarakat. Selain itu tarian ini dulunya dimainkan oleh laki-laki yang disebut Lengger Lanang. Namun berkat penjelasan dari beberapa penari lengger yang senior, Vita menjadi yakin bahwa tarian ini memiliki makna filosofis yang tinggi.
Ternyata tidak mudah menjadi penari lengger. Gerakannya berbeda dengan tarian tradisional lain. Ekspresi dan penjiwaan juga sangat diperlukan dalam tarian ini. Beruntung Vita dapat belajar dari penari lengger senior yang telah berpengalaman. Perlahan tapi pasti, Vita menguasai tarian lengger dengan sempurna.
***
Semenjak menjadi penari lengger, Vita Adriani tak pernah sepi dari aktivitas. Ia sering diminta tampil menari, baik di acara instansi pemerintah, perusahaan, maupun di kampusnya. Di luar kampus tarian lengger biasanya dibawakan saat ada kegiatan seminar, konferensi, maupun peresmian gedung baru. Sedangkan di kampus Vita selalu tampil dalam acara wisuda maupun dies natalis fakultas dan universitas.
Gerakan menari yang lincah dan penjiwaan yang baik membuat orang tak pernah bosan melihat tarian Vita. Nama Vita Adriani semakin dikenal orang. Kampusnya sering mengirim Vita sebagai delegasi dalam festival kesenian di berbagai kota. Dan Vita selalu menjadi juara.
Hingga tiba suatu hari, Restuningsih seorang penari lengger senior memberi saran yang mengagetkan bagi Vita. Untuk lebih memantapkan gerakan menarinya, Restuningsih menyarankan Vita untuk memilki indhang. Bagi beberapa penari, indhang adalah sejenis makhluk halus yang akan dipanggil masuk ke dalam tubuh saat menari. Dengan memiliki indhang, seorang penari akan tampak lebih lincah dan lebih ekspresif dalam menari.
“Memiliki indhang…??? Ah.. takut saya, mbak,” ujar Vita menanggapi saran Restuningsih.
“Kenapa takut?” tanya Restuningsih.
“Seram, mbak.. Selain itu saya takut mendapat penilaian negatif jika memiliki indang,” jawab Vita.
“Hampir setiap pemain lengger punya indhang,” sanggah Restuningsih.
“Lagi pula, indhang merupakan bagian dari totalitas kesenian tradisional. Gerakan tarianmu akan lebih bagus jika dilihat orang. Bukan berarti kita berteman dengan setan, jin, atau hantu. Tapi ini bagian dari kearifan lokal tradisi,” lanjut Restuningsih.
Vita Adriani tercenung. Ia memikirkan tentang saran penari senior itu untuk memiliki indhang. Selama ini ia hanya mengandalkan latihan menari secara rutin. Memang ia pernah mendengar cerita tentang pelaku kesenian tradisional di daerahnya yang memiliki indhang.
Setelah berpikir panjang akhirnya Vita mengikuti saran Restuningsih. Berbekal rasa takut dan penasaran, Vita ditemani Restuningsih mendatangi salah satu makam keramat di kota Purwokerto pada malam Jumat Kliwon. Melalui ritual yang dipimpin oleh Restuningsih, sosok indhang berhasil diperoleh. Indhang perempuan untuk Vita Adriani bernama Dewi Sulastri.
Suasana agak mencekam ketika tubuh Vita dirasuki indhang bernama Dewi Sulastri itu. Sepertinya ada angin besar di sekeliling makam keramat. Tangan dan kaki Vita serasa kaku. Kepalanya sedikit berat dan panas. Tanpa terasa, saat indhang itu menyatu dalam tubuh Vita, tangan dan kakinya bergerak layaknya sedang menari lengger. Restuningsih membaca mantra agar Vita menjadi tenang kembali. Malam bertambah larut. Vita Adriani mencoba menenangkan diri menyambut indhangnya.
***
Vita Adriani kini telah memiliki indhang bernama Dewi Sulastri, roh perempuan yang berparas cantik. Setiap Vita hendak menari, Dewi Sulastri akan dipanggil untuk merasuk ke dalam tubuhnya. Totalitas gerakan menari Vita semakin tampak. Ia menari sangat lincah. Ada aura magis ketika Vita menghentakkan kaki dan mengibaskan selendang dengan tangannya.
Misteri mengikuti langkah Vita setelah ia memiliki indhang. Vita selalu ingin menari lengger, meskipun sedang tidak di atas panggung. Dewi Sulastri, indhangnya akan mengajaknya menari. Apalagi menjelang malam Jumat Kliwon, Vita merasa gelisah. Tangan dan kakinya seakan mengajaknya menari lengger.
Suatu ketika, diadakan tradisi Sedekah Bumi di desanya. Tradisi ini merupakan ungkapan terima kasih masyarakat desa kepada Tuhan yang telah melimpahkan rizkinya lewat hasil panen. Seperti biasanya, tradisi ini akan dibarengi dengan hiburan kesenian kuda lumping bagi masyarakat yang diselenggarakan di lapangan desa.
Sebagai warga desa, Vita Adriani ikut menonton kesenian itu di lapangan. Selain seru dan meriah, Vita juga bisa bertemu dengan teman-teman sepermainan dalam acara itu. Tak ingin terhalang oleh penonton lain, Vita berdiri di barisan paling depan.
Kuda lumping dimulai. Gamelan dan tembang-tembang Jawa Banyumasan mulai dilantunkan. Para pemain kuda lumping mulai menari, dan satu per satu kesurupan. Entah mengapa Vita tampak gelisah. Tangan dan kakinya bergerak sendiri. Dan tiba-tiba ia tak sadarkan diri. Vita kerasukan indhang Dewi Lestari.
Mengikuti irama gamelan, Vita memasuki area tengah lapangan berbaur bersama para pemain kuda lumping yang menari kesurupan. Gerakan tangan dan kaki Vita berbeda dengan pemain kuda lumping. Vita menari layaknya penari lengger yang lincah. Sementara pandangan mata Vita kosong. Ia hanya mengikuti irama gamelan sesuai keinginan indhang yang dimilikinya.
Sekitar 30 menit Vita menari di tengah lingkaran pertunjukan kuda lumping. Para penonton memperhatikan gerakan tarian Vita. Banyak yang menduga Vita bukan kerasukan indhang kuda lumping. Apalagi Vita tidak meminta makan sajen berupa aneka bunga yang disediakan untuk pemain kuda lumping.
Tubuh Vita tampak mulai letih. Gerakan tariannya melemah. Pawang atau dukun kuda lumping cepat tanggap. Ia dekati Vita yang berhenti menari. Ia baca mantra di dekat telinga Vita. Seketika tangan dan kaki Vita melemas. Ia tampak bingung saat membuka mata.
“Saya kenapa, Pak?” tanya Vita kepada dukun kuda lumping.
“Kamu kerasukan indhang yang kamu miliki,” jawab dukun itu.
Vita Adriani melihat ke sekeliling. Beberapa penonton memandang ke arahnya. Vita tertunduk. Ia merasa malu telah kerasukan di acara pertunjukan kuda lumping. Ia malu karena orang-orang dan temannya tahu kalau ia memiliki indhang.
Bukan hanya di lapangan dalam pertunjukan kuda lumping Vita tanpa sadar menari lengger. Saat di rumah, ketika ibunya sedang latihan tembang untuk persiapan tampil di pagelaran wayang kulit, indhang Vita mengajaknya menari. Vita ingin menolak, tapi tak kuasa. Tangan dan kakinya tiba-tiba bergerak menari begitu ibunya melantunkan tembang dengan diiringi musik gending Jawa.
***
Misteri indhang Vita Adriani sebagai penari lengger berlanjut hingga ke kampus. Vita sedang mengikuti kuliah Pak Bekto Istiadi. Kebetulan materi kuliah tentang komunikasi lintas budaya di berbagai daerah. Pak Bekto Istiadi memutar video yang berisi musik tradisional gending Jawa. Mendadak dada Vita berdebar. Dewi Sulastri, indhangnya seolah ingin merasuk ke dalam tubuh Vita.
Suasana kelas menjadi gaduh dan menegangkan ketika Vita tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke depan kelas sambil menari lengger mengikuti alunan musik yang ada dalam video materi kuliah Pak Bekto Istiadi. Semua mahasiswa dan dosennya terkejut. Mereka menyaksikan tarian lengger yang misterius.
Menyadari ada keanehan dalam diri Vita, Pak Bekto Istiadi mematikan videonya. Musik gending Jawa terhenti. Bersamaan dengan itu Vita tersadar dan melihat sekeliling kelas. Betapa malu dirinya saat menyadari baru saja kerasukan indhang Dewi Lestari. Ia baru saja menari lengger di kelas.
Mengalami hal-hal yang penuh misteri, Vita mulai merasa tidak nyaman. Ia khawatir jika mendengar musik gending Jawa di tengah keramaian ia kerasukan untuk menari lengger. Ia tak mampu menahan diri ketika indhang Dewi Sulastri ingin merasuk dalam tubuhnya. Vita pun mendatangi Pak Bekto Istiadi di ruangannya untuk berkonsultasi.
“Saya ingin membuang indhang saya, Pak,” kata Vita kepada Pak Bekto Istiadi.
“Apa sudah kamu pertimbangkan masak-masak?” tanya Pak Bekto Istiadi.
“Saya merasa tidak nyaman, Pak. Selalu ingin menari lengger setiap mendengar gending Jawa. Indhang saya tidak dapat dicegah untuk merasuk,” Vita memberikan alasan.
“Sebetulnya indhang itu bisa kamu kendalikan,” ujar Pak Bekto Istiadi.
“Bagaimana caranya, Pak?” tanya Vita penasaran.
“Coba kamu berpuasa setiap hari lahir dan wetonmu. Nanti perlahan kamu dapat mengendalikan indhang itu jika akan merasuki tubuhmu,” saran Pak Bekto Istiadi.
Vita Adriani terdiam. Sejenak ia mencoba mengingat hari lahir dan wetonnya. Ia masih ingat, ibunya pernah mengatakan jika ia lahir pada hari Senin Pahing. Vita mengikuti saran Pak Bekto Istiadi. Setiap hari Senin Pahing ia melakukan puasa sehari penuh.
Tubuh Vita mulai terasa nyaman dan ringan setelah beberapa kali berpuasa setiap hari Senin Pahing. Pembawaannya mulai tenang, tidak selalu gelisah saat mendengar alunan gending Jawa. Tangan dan kakinya juga tidak lagi gemetaran ingin menari lengger. Indhang Dewi Sulastri tidak lagi menguasai tubuh Vita. Ia bisa mengendalikan, kapan Dewi Sulastri diminta merasuk dan kapan harus kembali ke alamnya.
Vitra Adriani telah menjadi dirinya sendiri. Walau ia selalu didampingi indhang Dewi Sulastri. Semangatnya untuk menjadi penari lengger yang profesional kembali menyala. Ia bertekad melestarikan lengger dengan terus menari di kampus. Bahkan ia bermimpi suatu saat dapat menari lengger di Istana Negara. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto
KLIK untuk baca cerita selengkapnya:
![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)



























