24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

LMKN, Musik yang Tak Dibayar, dan Bayangan-Bayangan yang Mengganggu

Aminova by Aminova
September 1, 2025
in Esai
LMKN, Musik yang Tak Dibayar, dan Bayangan-Bayangan yang Mengganggu

Ilustrasi tatkala.co

SAYA sering merasa aneh ketika mendengar orang bicara soal musik. Ada yang bilang, musik itu “rezeki seni dari langit”. Ada pula yang bilang musik itu sekadar “hiburan”. Tapi di sela-sela itu, saya menemukan satu ironi: ketika musik hadir di telinga kita, banyak yang lupa kalau di baliknya ada keringat, waktu, bahkan doa.

Coba bayangkan begini: ada seorang musisi yang memikirkan notasi sampai larut malam, ada produser yang bolak-balik mengedit mixing sampai telinganya panas, ada teknisi studio yang menyalakan komputer lebih lama daripada ia menyapa matahari. Dan akhirnya, sebuah lagu lahir. Namun, ketika lagu itu masuk ke dunia digital, orang lebih suka mencarinya di situs bajakan ketimbang membayar Rp10.000 untuk mendengarnya secara sah.

LMKN yang Tak Pernah Usai Diperbincangkan

LMKN, atau Lembaga Manajemen Kolektif Nasional, sering jadi bahan debat di warung kopi maupun forum musisi. Ada yang menyebut lembaga ini sebagai “jalan tengah” antara hak cipta dan publik. Ada pula yang menganggapnya sekadar simbol birokrasi yang tak menyentuh akar.

Saya pernah mendengar obrolan seorang teman: “Kenapa sih uang royalti harus lewat lembaga itu? Bukannya lebih enak kalau langsung ke musisinya?”

Saya hanya mengangguk. Tapi di kepala, saya tahu jawabannya tidak sesederhana itu. LMKN dibuat agar distribusi royalti lebih rapi, lebih adil. Tapi di negeri yang sering bingung membedakan antara hak dan gratisan, lembaga itu akhirnya seperti lampu jalan yang cahayanya sering tertutup debu. Ada, tapi tidak terang.

Orang-Orang yang Enggan Bayar Lagu

Orang Indonesia suka musik. Dari dangdut di pesta kawinan, pop melayu di angkot, EDM di kafe malam, sampai kidung rohani di gereja. Musik menyatu dengan hidup. Tapi ironisnya, sebagian besar orang tidak suka membayar musik.

Saya teringat cerita seorang kawan yang punya studio rekaman kecil, Escapia Mount Recording. Di sana, ia mencoba menjaga standar kualitas rekaman sebaik mungkin. Mikrofon kelas profesional, ruangan kedap suara, mixing yang teliti. Tapi ketika hasil rekaman itu dilempar ke pasaran, orang lebih senang mencari bajakannya. Seolah-olah, musik yang dihasilkan dengan biaya besar itu hanyalah “udara gratis” yang boleh dihirup siapa saja.

Apakah salah kalau orang tidak mau bayar musik? Bagi saya, ini bukan sekadar soal salah atau benar. Ini soal cara kita memandang kerja kreatif. Kita rela bayar kopi susu seharga Rp35.000 di kafe, tapi menganggap lagu seharga Rp5.000 itu mahal. Ada sesuatu yang janggal di situ.

Pembajakan sebagai Bayangan yang Mengganggu

Saya ingat, dulu di sekolah, ada kawan yang selalu bawa CD bajakan. Isinya lagu-lagu Barat terbaru, yang diunduh entah dari mana. Saat itu, saya ikut mendengarkan tanpa rasa bersalah. Bagi kami, itu biasa saja. CD asli dianggap terlalu mahal, dan lagi pula “tidak ada yang rugi kan?”.

Namun ketika saya dewasa, bertemu dengan orang-orang yang hidup dari musik, barulah saya sadar: pembajakan itu seperti bayangan hitam yang selalu mengganggu. Tidak selalu terlihat, tapi selalu ada. Ia menempel di dinding-dinding kamar musisi, di meja produser, di lembar laporan studio rekaman. Bayangan itu merampas sesuatu yang tidak kasat mata: hak untuk dihargai.

Ketika Musik Bukan Lagi Sekadar Hiburan

Ada masa ketika musik dianggap sakral. Dinyanyikan untuk upacara, ditabuh untuk menyambut musim tanam, atau diperdengarkan untuk menyampaikan doa. Tapi di era sekarang, musik lebih sering jadi background video TikTok, jadi teman jogging, atau sekadar pengusir sepi di perjalanan.

Musik turun derajat menjadi “konsumsi instan”. Dan ketika musik dianggap instan, orang merasa wajar tidak membayarnya. Padahal, justru karena musik itu menemani momen personal kita—entah patah hati, jatuh cinta, atau kegelisahan—kita seharusnya lebih sadar akan nilainya.

Antara Negara dan Pasar

LMKN berdiri di tengah-tengah tarik-menarik ini. Di satu sisi, negara ingin memberi perlindungan hukum. Di sisi lain, pasar digital bergerak terlalu cepat. Spotify, YouTube, Joox, hingga TikTok memutar musik setiap detik, dengan algoritma yang tidak selalu memihak musisi kecil.

Pertanyaannya: apakah LMKN cukup kuat menghadapi arus itu? Atau hanya jadi papan nama yang tak mampu menghadapi tsunami digital?

Kalau saya boleh jujur, saya khawatir LMKN sering hanya sibuk pada laporan dan birokrasi. Sementara musisi yang lagunya dibajak di pojok kota, tidak pernah tahu harus mengadu ke mana.

Musik, Kerja, dan Doa

Ada satu hal yang jarang kita sadari: musik bukan hanya seni, tapi juga kerja. Sama seperti petani menanam padi, nelayan melaut, atau buruh pabrik memeras keringat. Bedanya, hasil kerja musisi sering dianggap “tidak nyata”. Padahal, justru di balik ketidaknyataan itu, ada realitas ekonomi yang keras.

Saya pernah bertemu seorang vokalis indie yang bercerita: “Bang, kalau bukan karena manggung, saya enggak bisa makan. Streaming itu cuma cukup buat beli bensin motor.”

Kata-kata itu membekas. Karena saya tahu, lagu yang ia buat sebenarnya menolong banyak orang. Teman saya pernah sembuh dari depresi ringan hanya karena mendengar salah satu lagunya. Tetapi, musisi itu sendiri kesulitan untuk sekadar bertahan hidup.

Apakah Kita Masih Bisa Jujur?

Mungkin inilah saatnya kita bertanya: apakah kita benar-benar mencintai musik, atau hanya ingin menikmatinya secara gratis? Apakah kita jujur terhadap kerja orang lain?

Kalau kita bisa membayar makanan, transportasi, bahkan kuota internet, kenapa kita enggan membayar musik? Apakah musik memang tidak bernilai di mata kita?

Sebuah Harapan yang Pelan-Pelan

Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan pesimisme. Karena saya tahu, masih ada orang-orang yang peduli. Ada komunitas kecil yang membeli rilisan fisik meski jarang diputar. Ada penonton yang mau bayar tiket konser meski mahal. Ada pula studio seperti Escapia Mount Recording yang terus bertahan, menjaga kualitas rekaman meski keuntungan tipis.

Harapan itu kecil, tapi nyata. Seperti lilin di tengah gelap, ia tetap memberi cahaya.

Musik yang Menguji Kejujuran Kita

Pada akhirnya, musik bukan hanya soal nada atau kata. Ia adalah ujian bagi kejujuran kita sebagai manusia: maukah kita menghargai kerja orang lain, atau terus bersembunyi di balik alasan “gratisan”?

LMKN mungkin masih harus mencari cara agar lebih relevan. Industri musik mungkin harus beradaptasi dengan algoritma digital. Tapi kita, pendengar, punya tugas sederhana: membayar musik yang kita nikmati. Karena dengan itu, kita sedang menjaga kehidupan musisi, menjaga doa yang mereka titipkan dalam setiap nada, dan menjaga diri kita sendiri dari kebiasaan mencuri hal-hal kecil yang tak kita sadari. [T]

Penulis: Aminova
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikroyalti musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unb’rocken Lepas Video Klip “Fuck It”: Rock Bali Siap Guncang Melbourne, Sydney, Perth, dan Adelaide

Next Post

RASIS BERTENTANGAN DENGAN AJARAN LELUHUR BALI

Aminova

Aminova

Musisi indie asal Pekalongan yang biasa nyanyi di cafe, mantenan, hingga sunatan. Ia mengeluarkan singel Menggapai Mimpimu pada tahun 2025. Hobinya menulis lagu dan suka ngulik berbagai alat audio.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

RASIS BERTENTANGAN DENGAN AJARAN LELUHUR BALI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co