2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

LMKN, Musik yang Tak Dibayar, dan Bayangan-Bayangan yang Mengganggu

Aminova by Aminova
September 1, 2025
in Esai
LMKN, Musik yang Tak Dibayar, dan Bayangan-Bayangan yang Mengganggu

Ilustrasi tatkala.co

SAYA sering merasa aneh ketika mendengar orang bicara soal musik. Ada yang bilang, musik itu “rezeki seni dari langit”. Ada pula yang bilang musik itu sekadar “hiburan”. Tapi di sela-sela itu, saya menemukan satu ironi: ketika musik hadir di telinga kita, banyak yang lupa kalau di baliknya ada keringat, waktu, bahkan doa.

Coba bayangkan begini: ada seorang musisi yang memikirkan notasi sampai larut malam, ada produser yang bolak-balik mengedit mixing sampai telinganya panas, ada teknisi studio yang menyalakan komputer lebih lama daripada ia menyapa matahari. Dan akhirnya, sebuah lagu lahir. Namun, ketika lagu itu masuk ke dunia digital, orang lebih suka mencarinya di situs bajakan ketimbang membayar Rp10.000 untuk mendengarnya secara sah.

LMKN yang Tak Pernah Usai Diperbincangkan

LMKN, atau Lembaga Manajemen Kolektif Nasional, sering jadi bahan debat di warung kopi maupun forum musisi. Ada yang menyebut lembaga ini sebagai “jalan tengah” antara hak cipta dan publik. Ada pula yang menganggapnya sekadar simbol birokrasi yang tak menyentuh akar.

Saya pernah mendengar obrolan seorang teman: “Kenapa sih uang royalti harus lewat lembaga itu? Bukannya lebih enak kalau langsung ke musisinya?”

Saya hanya mengangguk. Tapi di kepala, saya tahu jawabannya tidak sesederhana itu. LMKN dibuat agar distribusi royalti lebih rapi, lebih adil. Tapi di negeri yang sering bingung membedakan antara hak dan gratisan, lembaga itu akhirnya seperti lampu jalan yang cahayanya sering tertutup debu. Ada, tapi tidak terang.

Orang-Orang yang Enggan Bayar Lagu

Orang Indonesia suka musik. Dari dangdut di pesta kawinan, pop melayu di angkot, EDM di kafe malam, sampai kidung rohani di gereja. Musik menyatu dengan hidup. Tapi ironisnya, sebagian besar orang tidak suka membayar musik.

Saya teringat cerita seorang kawan yang punya studio rekaman kecil, Escapia Mount Recording. Di sana, ia mencoba menjaga standar kualitas rekaman sebaik mungkin. Mikrofon kelas profesional, ruangan kedap suara, mixing yang teliti. Tapi ketika hasil rekaman itu dilempar ke pasaran, orang lebih senang mencari bajakannya. Seolah-olah, musik yang dihasilkan dengan biaya besar itu hanyalah “udara gratis” yang boleh dihirup siapa saja.

Apakah salah kalau orang tidak mau bayar musik? Bagi saya, ini bukan sekadar soal salah atau benar. Ini soal cara kita memandang kerja kreatif. Kita rela bayar kopi susu seharga Rp35.000 di kafe, tapi menganggap lagu seharga Rp5.000 itu mahal. Ada sesuatu yang janggal di situ.

Pembajakan sebagai Bayangan yang Mengganggu

Saya ingat, dulu di sekolah, ada kawan yang selalu bawa CD bajakan. Isinya lagu-lagu Barat terbaru, yang diunduh entah dari mana. Saat itu, saya ikut mendengarkan tanpa rasa bersalah. Bagi kami, itu biasa saja. CD asli dianggap terlalu mahal, dan lagi pula “tidak ada yang rugi kan?”.

Namun ketika saya dewasa, bertemu dengan orang-orang yang hidup dari musik, barulah saya sadar: pembajakan itu seperti bayangan hitam yang selalu mengganggu. Tidak selalu terlihat, tapi selalu ada. Ia menempel di dinding-dinding kamar musisi, di meja produser, di lembar laporan studio rekaman. Bayangan itu merampas sesuatu yang tidak kasat mata: hak untuk dihargai.

Ketika Musik Bukan Lagi Sekadar Hiburan

Ada masa ketika musik dianggap sakral. Dinyanyikan untuk upacara, ditabuh untuk menyambut musim tanam, atau diperdengarkan untuk menyampaikan doa. Tapi di era sekarang, musik lebih sering jadi background video TikTok, jadi teman jogging, atau sekadar pengusir sepi di perjalanan.

Musik turun derajat menjadi “konsumsi instan”. Dan ketika musik dianggap instan, orang merasa wajar tidak membayarnya. Padahal, justru karena musik itu menemani momen personal kita—entah patah hati, jatuh cinta, atau kegelisahan—kita seharusnya lebih sadar akan nilainya.

Antara Negara dan Pasar

LMKN berdiri di tengah-tengah tarik-menarik ini. Di satu sisi, negara ingin memberi perlindungan hukum. Di sisi lain, pasar digital bergerak terlalu cepat. Spotify, YouTube, Joox, hingga TikTok memutar musik setiap detik, dengan algoritma yang tidak selalu memihak musisi kecil.

Pertanyaannya: apakah LMKN cukup kuat menghadapi arus itu? Atau hanya jadi papan nama yang tak mampu menghadapi tsunami digital?

Kalau saya boleh jujur, saya khawatir LMKN sering hanya sibuk pada laporan dan birokrasi. Sementara musisi yang lagunya dibajak di pojok kota, tidak pernah tahu harus mengadu ke mana.

Musik, Kerja, dan Doa

Ada satu hal yang jarang kita sadari: musik bukan hanya seni, tapi juga kerja. Sama seperti petani menanam padi, nelayan melaut, atau buruh pabrik memeras keringat. Bedanya, hasil kerja musisi sering dianggap “tidak nyata”. Padahal, justru di balik ketidaknyataan itu, ada realitas ekonomi yang keras.

Saya pernah bertemu seorang vokalis indie yang bercerita: “Bang, kalau bukan karena manggung, saya enggak bisa makan. Streaming itu cuma cukup buat beli bensin motor.”

Kata-kata itu membekas. Karena saya tahu, lagu yang ia buat sebenarnya menolong banyak orang. Teman saya pernah sembuh dari depresi ringan hanya karena mendengar salah satu lagunya. Tetapi, musisi itu sendiri kesulitan untuk sekadar bertahan hidup.

Apakah Kita Masih Bisa Jujur?

Mungkin inilah saatnya kita bertanya: apakah kita benar-benar mencintai musik, atau hanya ingin menikmatinya secara gratis? Apakah kita jujur terhadap kerja orang lain?

Kalau kita bisa membayar makanan, transportasi, bahkan kuota internet, kenapa kita enggan membayar musik? Apakah musik memang tidak bernilai di mata kita?

Sebuah Harapan yang Pelan-Pelan

Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan pesimisme. Karena saya tahu, masih ada orang-orang yang peduli. Ada komunitas kecil yang membeli rilisan fisik meski jarang diputar. Ada penonton yang mau bayar tiket konser meski mahal. Ada pula studio seperti Escapia Mount Recording yang terus bertahan, menjaga kualitas rekaman meski keuntungan tipis.

Harapan itu kecil, tapi nyata. Seperti lilin di tengah gelap, ia tetap memberi cahaya.

Musik yang Menguji Kejujuran Kita

Pada akhirnya, musik bukan hanya soal nada atau kata. Ia adalah ujian bagi kejujuran kita sebagai manusia: maukah kita menghargai kerja orang lain, atau terus bersembunyi di balik alasan “gratisan”?

LMKN mungkin masih harus mencari cara agar lebih relevan. Industri musik mungkin harus beradaptasi dengan algoritma digital. Tapi kita, pendengar, punya tugas sederhana: membayar musik yang kita nikmati. Karena dengan itu, kita sedang menjaga kehidupan musisi, menjaga doa yang mereka titipkan dalam setiap nada, dan menjaga diri kita sendiri dari kebiasaan mencuri hal-hal kecil yang tak kita sadari. [T]

Penulis: Aminova
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikroyalti musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unb’rocken Lepas Video Klip “Fuck It”: Rock Bali Siap Guncang Melbourne, Sydney, Perth, dan Adelaide

Next Post

RASIS BERTENTANGAN DENGAN AJARAN LELUHUR BALI

Aminova

Aminova

Musisi indie asal Pekalongan yang biasa nyanyi di cafe, mantenan, hingga sunatan. Ia mengeluarkan singel Menggapai Mimpimu pada tahun 2025. Hobinya menulis lagu dan suka ngulik berbagai alat audio.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

RASIS BERTENTANGAN DENGAN AJARAN LELUHUR BALI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co