13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demonstrasi dalam Bayang-Bayang Simulakra

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 31, 2025
in Esai
Demonstrasi dalam Bayang-Bayang Simulakra

Ilustrasi tatkala.co

SOE Hok-Gie pernah menulis dalam catatan hariannya bahwa demonstrasi adalah “alat untuk menyatakan sikap politik” bukan sekadar keramaian. Baginya, aksi turun ke jalan adalah bentuk kesadaran kritis dan keberanian menghadapi risiko. Dalam buku Catatan Harian Seorang Demonstran, ia menuliskan pengalamannya ikut demonstrasi dengan jujur, getir, dan penuh refleksi. Gie bahkan mengingatkan bahwa demonstrasi bukan hanya untuk melawan kekuasaan, melainkan juga untuk melawan ketidakadilan dan menegakkan nurani.

Saya sendiri masih ingat pengalaman tahun 1998. Saat itu, Jakarta dan berbagai kota besar di Indonesia bergejolak. Krisis moneter menghantam, harga melambung, mahasiswa memenuhi jalanan dengan spanduk, poster, dan suara lantang menuntut reformasi. Saya ikut larut dalam suasana itu, meski hanya melalui berita di televisi atau membaca koran-koran dan tabloid politik yang terbit baru dan begitu masif.  Ada ketegangan sekaligus keberanian yang sulit dilupakan. Demonstrasi benar-benar hadir sebagai peristiwa nyata yang bisa mengubah arah sejarah bangsa.

Kini, lebih dari dua dekade kemudian, demonstrasi tetap ada tetapi wajahnya berubah. Seperti kata Jean Baudrillard tentang simulakra, apa yang kita lihat hari ini sering kali bukan lagi realitas demonstrasi itu sendiri, melainkan citra, representasi, bahkan hiburan. Orang bisa menyaksikan aksi massa tanpa harus hadir di lokasi. Cukup membuka ponsel, menggulir layar, menonton siaran langsung di Instagram, TikTok, atau YouTube. Demonstrasi seakan dipadatkan menjadi tontonan singkat, penuh sorakan, kadang dramatis, kadang ironis, lalu lewat begitu saja di linimasa.

Jika dulu orang menunggu liputan koran esok hari atau siaran televisi malam, kini informasi datang seketika. Demonstrasi menjadi event real-time. Ada yang menonton bukan untuk memahami tuntutan, melainkan sekadar mencari sensasi. Seperti menonton konser atau pertandingan bola, orang lebih sibuk pada “momennya” ketimbang substansi. Inilah yang dimaksud zaman simulakra. Demonstrasi tidak lagi selalu tentang perjuangan, tetapi tentang bagaimana ia ditampilkan, dipotong, dan dibagikan di layar.

Namun apakah ini berarti nilai perjuangan hilang? Tidak sepenuhnya. Masih ada kelompok yang serius, yang sungguh-sungguh membawa agenda perubahan. Tapi sulit dipungkiri, ruang digital membuat semuanya bercampur. Ada demonstrasi yang lahir dari keresahan otentik, tetapi ada pula yang terkesan dikemas untuk kepentingan lain, bahkan untuk kepuasan visual semata.

Pengamatan Lia Lestari, seorang pegiat spiritualitas dan peminat isu budaya, patut dicatat. Ia menulis di akun Instagram-nya tentang kemungkinan demonstrasi besar di Jakarta dan kota-kota lain yang tidak murni datang dari keresahan rakyat, melainkan ada indikasi campur tangan elit global. Menurutnya, ada pihak yang ingin Indonesia jatuh ke dalam kerusuhan agar terjadi pergantian pemerintahan. Pandangan ini memang tidak mudah diverifikasi, tetapi menunjukkan bahwa demonstrasi hari ini sering berada di wilayah abu-abu antara aspirasi rakyat dan permainan kekuatan besar.

Jika dibandingkan dengan era Soe Hok-Gie, nuansanya jauh berbeda. Gie mencatat dengan getir bagaimana aparat sering kali menindas mahasiswa. Ia menulis tentang ketakutan dan luka, tentang teman-teman yang tertembak atau ditangkap. Demonstrasi adalah peristiwa penuh risiko yang dihadapi dengan keberanian. Kini, sebagian risiko itu seakan berkurang, karena orang bisa tetap menjadi “peserta” hanya dengan menonton dan mengomentari dari rumah. Tapi justru di situlah jebakannya. Demonstrasi berisiko menjadi simulasi perjuangan, bukan perjuangan itu sendiri.

Media sosial, dengan algoritmanya, memberi panggung yang unik. Slogan-slogan bisa viral lebih cepat daripada risalah tuntutan. Meme lebih cepat menyebar daripada analisis panjang. Foto dramatis bisa lebih berpengaruh daripada kajian akademis. Demonstrasi masuk ke dunia hiburan, menjadi konten. Kadang tragis, kadang lucu, tapi sering kehilangan konteks.

Saya jadi teringat kembali suasana 1998. Saat itu, informasi tidak semudah sekarang. Untuk tahu apa yang terjadi, kita harus hadir atau mendengar langsung dari teman. Karena itu, keberanian turun ke jalan benar-benar terasa sebagai pilihan. Ada rasa takut sekaligus tanggung jawab. Demonstrasi bukan tontonan, melainkan pengalaman hidup.

Perubahan zaman membawa konsekuensi. Bukan berarti generasi sekarang tidak serius, tetapi cara mereka menyuarakan kritik telah berubah. Demonstrasi digital, petisi online, trending topic, semuanya bagian dari wajah baru perjuangan. Tapi tetap ada pertanyaan penting apakah substansinya masih sama kuat, atau sudah tergeser oleh citra dan hiburan.

Baudrillard mengingatkan bahwa dalam simulakra, tanda dan realitas berbaur sampai tak bisa dibedakan. Demonstrasi hari ini kadang jatuh pada jebakan itu. Antara aspirasi dan pertunjukan, antara perjuangan dan konsumsi tontonan. Dalam situasi ini, refleksi Gie tetap relevan. Ia menulis bahwa mahasiswa tidak boleh menjadi “tukang sorak” dalam sejarah. Pesan itu kini bisa diperluas kita semua jangan hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku yang sungguh peduli pada nasib bangsa. Pada akhirnya, demonstrasi harus tetap dipahami sebagai pernyataan sikap, bukan sekadar tontonan. Ia bisa menjadi simulasi, bisa juga menjadi realitas. Tergantung bagaimana kita menghayatinya. Apakah hanya berhenti di layar ponsel, ataukah berlanjut dalam tindakan nyata untuk memperbaiki negeri. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: demonstrasisimulakra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Next Post

Dunia (Politik) Memang Panggung Sandiwara

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Dunia (Politik) Memang Panggung Sandiwara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co