24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demonstrasi dalam Bayang-Bayang Simulakra

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 31, 2025
in Esai
Demonstrasi dalam Bayang-Bayang Simulakra

Ilustrasi tatkala.co

SOE Hok-Gie pernah menulis dalam catatan hariannya bahwa demonstrasi adalah “alat untuk menyatakan sikap politik” bukan sekadar keramaian. Baginya, aksi turun ke jalan adalah bentuk kesadaran kritis dan keberanian menghadapi risiko. Dalam buku Catatan Harian Seorang Demonstran, ia menuliskan pengalamannya ikut demonstrasi dengan jujur, getir, dan penuh refleksi. Gie bahkan mengingatkan bahwa demonstrasi bukan hanya untuk melawan kekuasaan, melainkan juga untuk melawan ketidakadilan dan menegakkan nurani.

Saya sendiri masih ingat pengalaman tahun 1998. Saat itu, Jakarta dan berbagai kota besar di Indonesia bergejolak. Krisis moneter menghantam, harga melambung, mahasiswa memenuhi jalanan dengan spanduk, poster, dan suara lantang menuntut reformasi. Saya ikut larut dalam suasana itu, meski hanya melalui berita di televisi atau membaca koran-koran dan tabloid politik yang terbit baru dan begitu masif.  Ada ketegangan sekaligus keberanian yang sulit dilupakan. Demonstrasi benar-benar hadir sebagai peristiwa nyata yang bisa mengubah arah sejarah bangsa.

Kini, lebih dari dua dekade kemudian, demonstrasi tetap ada tetapi wajahnya berubah. Seperti kata Jean Baudrillard tentang simulakra, apa yang kita lihat hari ini sering kali bukan lagi realitas demonstrasi itu sendiri, melainkan citra, representasi, bahkan hiburan. Orang bisa menyaksikan aksi massa tanpa harus hadir di lokasi. Cukup membuka ponsel, menggulir layar, menonton siaran langsung di Instagram, TikTok, atau YouTube. Demonstrasi seakan dipadatkan menjadi tontonan singkat, penuh sorakan, kadang dramatis, kadang ironis, lalu lewat begitu saja di linimasa.

Jika dulu orang menunggu liputan koran esok hari atau siaran televisi malam, kini informasi datang seketika. Demonstrasi menjadi event real-time. Ada yang menonton bukan untuk memahami tuntutan, melainkan sekadar mencari sensasi. Seperti menonton konser atau pertandingan bola, orang lebih sibuk pada “momennya” ketimbang substansi. Inilah yang dimaksud zaman simulakra. Demonstrasi tidak lagi selalu tentang perjuangan, tetapi tentang bagaimana ia ditampilkan, dipotong, dan dibagikan di layar.

Namun apakah ini berarti nilai perjuangan hilang? Tidak sepenuhnya. Masih ada kelompok yang serius, yang sungguh-sungguh membawa agenda perubahan. Tapi sulit dipungkiri, ruang digital membuat semuanya bercampur. Ada demonstrasi yang lahir dari keresahan otentik, tetapi ada pula yang terkesan dikemas untuk kepentingan lain, bahkan untuk kepuasan visual semata.

Pengamatan Lia Lestari, seorang pegiat spiritualitas dan peminat isu budaya, patut dicatat. Ia menulis di akun Instagram-nya tentang kemungkinan demonstrasi besar di Jakarta dan kota-kota lain yang tidak murni datang dari keresahan rakyat, melainkan ada indikasi campur tangan elit global. Menurutnya, ada pihak yang ingin Indonesia jatuh ke dalam kerusuhan agar terjadi pergantian pemerintahan. Pandangan ini memang tidak mudah diverifikasi, tetapi menunjukkan bahwa demonstrasi hari ini sering berada di wilayah abu-abu antara aspirasi rakyat dan permainan kekuatan besar.

Jika dibandingkan dengan era Soe Hok-Gie, nuansanya jauh berbeda. Gie mencatat dengan getir bagaimana aparat sering kali menindas mahasiswa. Ia menulis tentang ketakutan dan luka, tentang teman-teman yang tertembak atau ditangkap. Demonstrasi adalah peristiwa penuh risiko yang dihadapi dengan keberanian. Kini, sebagian risiko itu seakan berkurang, karena orang bisa tetap menjadi “peserta” hanya dengan menonton dan mengomentari dari rumah. Tapi justru di situlah jebakannya. Demonstrasi berisiko menjadi simulasi perjuangan, bukan perjuangan itu sendiri.

Media sosial, dengan algoritmanya, memberi panggung yang unik. Slogan-slogan bisa viral lebih cepat daripada risalah tuntutan. Meme lebih cepat menyebar daripada analisis panjang. Foto dramatis bisa lebih berpengaruh daripada kajian akademis. Demonstrasi masuk ke dunia hiburan, menjadi konten. Kadang tragis, kadang lucu, tapi sering kehilangan konteks.

Saya jadi teringat kembali suasana 1998. Saat itu, informasi tidak semudah sekarang. Untuk tahu apa yang terjadi, kita harus hadir atau mendengar langsung dari teman. Karena itu, keberanian turun ke jalan benar-benar terasa sebagai pilihan. Ada rasa takut sekaligus tanggung jawab. Demonstrasi bukan tontonan, melainkan pengalaman hidup.

Perubahan zaman membawa konsekuensi. Bukan berarti generasi sekarang tidak serius, tetapi cara mereka menyuarakan kritik telah berubah. Demonstrasi digital, petisi online, trending topic, semuanya bagian dari wajah baru perjuangan. Tapi tetap ada pertanyaan penting apakah substansinya masih sama kuat, atau sudah tergeser oleh citra dan hiburan.

Baudrillard mengingatkan bahwa dalam simulakra, tanda dan realitas berbaur sampai tak bisa dibedakan. Demonstrasi hari ini kadang jatuh pada jebakan itu. Antara aspirasi dan pertunjukan, antara perjuangan dan konsumsi tontonan. Dalam situasi ini, refleksi Gie tetap relevan. Ia menulis bahwa mahasiswa tidak boleh menjadi “tukang sorak” dalam sejarah. Pesan itu kini bisa diperluas kita semua jangan hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku yang sungguh peduli pada nasib bangsa. Pada akhirnya, demonstrasi harus tetap dipahami sebagai pernyataan sikap, bukan sekadar tontonan. Ia bisa menjadi simulasi, bisa juga menjadi realitas. Tergantung bagaimana kita menghayatinya. Apakah hanya berhenti di layar ponsel, ataukah berlanjut dalam tindakan nyata untuk memperbaiki negeri. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: demonstrasisimulakra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Next Post

Dunia (Politik) Memang Panggung Sandiwara

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Dunia (Politik) Memang Panggung Sandiwara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co