5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Arsip Seratus Tahun Silam: Singaraja Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali 1925

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
August 28, 2025
in Esai
Dari Arsip Seratus Tahun Silam: Singaraja Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali 1925

Arsip media massa di Bali zaman Kolonial | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

KEBETULAN ada bukti tertulis atau arsip dari media massa, dengan penuh taksim saya ingin mengajukan klaim bahwa “Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi Indonesia di Bali”.

Secara historis, Singaraja pernah menjadi Ibu Kota Provinsi Sunda Kecil. Sebelum pindah ke Denpasar, ibu kota Bali adalah Singaraja. Dalam dunia sastra, Singaraja membuktikan diri sebagai ibu kota (kelahiran) puisi.

Puisi Indonesia yang pertama lahir di Singaraja berjudul “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” karya Gd.P. Kertanadi. Puisi yang berbentuk syair ini dimuat di halaman pertama kalawarta (koran stensilan) Bali Adnjana, tepat 1 Januari 1925.

Ada tiga puisi atau syair yang lahir tahun 1925 di Singaraja. Dua lainnya adalah puisi “Assalamualaikum” karya WD dimuat di kalawarta Surya Kanta (Oktober 1925, hlm. 7) dan “Ilmu” karya AWD juga dalam Surya Kanta (November 1925, hlm. 3).

Kalawarta Bali Adnjana dan Surya Kanta, keduanya terbit di Singaraja. Bali Adnjana dicetak stensilan dalam bentuk sangat sederhana, sedangkan Surya Kanta hadir dalam bentuk cetak modern, konon dicetak di Surabaya (lihat foto arsip).

Media massa memainkan peran penting dalam kelahiran dan kehidupan sastra di Bali zaman kolonial dan sesudahnya. Sama dengan era kemerdekaan dan bahkan sampai sekarang, media massa menjadi salah satu pilar perkembangan sastra.

Saya beruntung memiliki arsip media massa yang terbit di Bali sehingga bisa mengakses publikasi karya sastra zaman kolonial di Bali.

Arsip kalawarta Bali Adnjana dan Surya Kanta yang memuat puisi akrostik “Setia pada SK” | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

Tabel daftar media massa yang terbit di Bali 1920-an hingga 1940-an

Inspirasi Klaim

Inspirasi membuat klaim ‘Singaraja sebagai Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali’ ini datang pagi hari, Sabtu, 26 Juli 2025, saat saya bersiap menuju ke Singaraja (dari Denpasar), untuk menghadiri acara keren Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025.

Awalnya, saya ingin menulis esai pendek untuk tatkala.co yang dikelola Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti yang sekaligus menjadi ayah dan ibu kandung SLF. Rasanya ada yang kurang jika menjadi tamu SLF tanpa menulis sesuatu tentang sastra. Syukur saya dengan cepat menemukan data puisi yang terbit di media massa di Singaraja 100 tahun lalu. Dari sana terpikir untuk membuat klaim, “Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi indonesia di Bali”.

Klaim ini kiranya bisa mendukung eksistensi SLF. Singaraja memang hebat. Cocok menjadi tempat SLF. Atau, SLF cocok digelar di Singaraja karena kota ini sudah sejak seabad lalu gegap gempita dengan kehidupan sastra modern.

Penasaran, seperti apa bentuk puisi yang lahir pertama di Singaraja? Berikut adalah kutipan utuh puisi yang pertama lahir di Singaraja.

Gd. P. Kertanadi

Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana

Bali Adnjana taman jauhari
Buat pengerah putra dan putri
Bersinar bagaikan matahari
Bagi suluh BALI negeri
Akan penerang di tempat gelap
Akan pembangun si tidur lelap
Anak negeri masih terlelap
Agar jangan selalu disulap
Lara rakyat telah diperhatikan
Laki perempuan tak disingkirkan
Lalim penindas disapukan
Laksana bola dapat sepakan
Inilah pertama pembela kita
Isinya penuh dengan mestika
Ikhtiar jujur tidak terkata
Ikatan AGAMA hendak direka
Agama SIWA-BUDA itu dianya
Akan disusun apa mestinya
Aksarawan menyetujuinya
Allah pun memberkatinya
Dicetaknya banyak pustaka
Di antaranya PARWA mestika
Dan RAMAYANA kanda purwaka
Dengan harga murah belaka
Nurnya mengkilat bagaikan mutu
Nasihat disebar sepanjang waktu
Negeri putra senanglah tentu
Nasibnya sudah ada membantu
Yakinlah kita akan jasanya
Yang telah disebarkannya
Yojana dibentang dengan luasnya
Yogia dibaca dengan rajinnya
Agar dapat timbang menimbang
Angan yang sesat lekas tertumbang
Arsa yang suci tentu berkembang
Akan penyuluh si hati bimbang
Nasihat itu laksana obat
Nafsu jahat tentu tersumbat
Nista caci juga terhambat
Nakal lenyap karenanya tobat
Amin tak putus kami ucapkan
Akhirulalam kami serukan
Agihan madah salah onggokan
Abang dan adik sudi maafkan

(Bali Adnjana, 1 Januari 1925, p. 1)

Bentuk Syair dan Akrostik

Puisi ini berbentuk syair [a,a,a,a], terdiri dari 11 bait, sama dengan jumlah kata dalam kata ‘Bali Adnjana’. Tiap bait diawali dengan baris-baris yang huruf awalnya adalah huruf ‘B-a-l-i  A-d-n-j-a-n-a’.

Puisi yang baris atau baitnya diawali dengan kalimat yang huruf awalnya huruf pertama dari judul atau sebagian dari judul disebut dengan puisi akrostik. Puisi akrostik menjadi ciri kebanyakan puisi penyair Bali di era kolonial. Sifat akrostik puisi ini mengandung penyesuaian, yakni huruf ‘J’ dalam puisi ini diganti dengan ‘Y’ (Yakinlah kita akan jasanya), menandakan bahwa penyair menerapkan licentia poetica atau kebebasan dalam berekspresi untuk mencapai keindahan bentuk dan isi.

Tema puisi “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” ini berkaitan dengan misi koran-kalawarta Bali Adnjana, dan kontekstual dengan Tahun Baru saat terbitnya edisi Januari.

Propaganda mengenai Bali Adnjana tampak eksplisit sekali bahwa Bali Adnyana sebagai kumpulan orang pandai (taman jauhari) yang hadir menjadi ‘suluh bagi negeri’ untuk membantu memberikan pencerahan kepada masyarakat agar bebas dari kegelapan. Dalam usahanya memajukan itu, mereka memperhatikan semua, laki dan perempuan, tidak ada diskriminasi. Dalam memberikan pencerahan itu, Bali Adnjana berusaha untuk menyediakan bahan bacaan dengan harga murah.

Data Puisi, 39 Judul

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas keempat majalah atau media massa yang terbit di Bali, Surya Kanta, Bali Adnjana, Bhawanegara, dan Djatajoe, dapat diidentifikasi cukup banyak puisi, tepatnya 39 judul. Puisi tersebut terbit antara tahun 1925-1939 (lihat tabel).

Ciri umum dari puisi penulis Bali dari era kolonial adalah berbentuk syair, namun bukan syair dalam pengertian puisi lama. Ciri syair terletak pada persamaan bunyi akhir dan bait umumnya terdiri dari empat baris. Dalam hal jumlah kata atau suku kata tidaklah sama dengan syair aslinya, yang biasanya sekitar empat kata atau 8-10 suku kata.

Selain menyerupai syair, puisi Indonesia dari Bali dari era kolonial juga tampil dengan bentuk bebas, dalam arti sudah menyerupai puisi modern yang bebas. Penyampaian pesan diutamakan, sementara persamaan bunyi dijadikan nomor dua.

Sajak akrostik “Setia pada SK” berisi propaganda kepada Surya Kanta, baik sebagai organisasi maupun sebagai nama surat kabar/majalah. Bait pertama menegaskan bahwa Surya Kanta mengajak anggotanya untuk bersatu (Satunya bangsa selalu dicari). Hanya saja, ajakan ini disampaikan khusus untuk golongan jaba, warga stratifikasi terbawah dalam catur wangsa (kasta).

Pesan kepada jaba ini sangat ‘politis’ kalau dibaca dalam konteks polemik keras antara Bali Adnjana dengan Surya Kanta mengenai status kewangsaan. Kelompok Surya Kanta menganggap manusia sama dan dihormati berdasarkan prestasi dan pencapaian, sementara Bali Adnjana mempertahankan perbedaan status kasta berdasarkan kelahiran. Pertentangan kasta di Bali Utara tahun 1920-an/1930-an ini sudah ditulis oleh para ahli, seperti Putra Agung (2001), Bagus (1996), dan Picard (1999).

Promosi Surya Kanta sudah terasa di judul seperti promosi agar pembaca berlangganan. Di sini jelas puisi merupakan sarana promosi atau alat propaganda organisasi. Jika dilihat dari konteks media yang memuatnya, wajar saja penulis dan wajar saja Surya Kanta memuat puisi yang menguntungkan Surya Kanta. Banyak puisi lain yang terbit di Surya Kanta juga berisi pesan promosi visi misi dari koran atau majalah yang memuatnya seperti puisi “Hiduplah SK” karya MAR dan “Berlanggananlah Surat Bulanan SK” karya  KK.

Kecenderungan sama juga terdapat dalam Djatajoe, seperti terlihat dalam sajak “Ke Taman BDL” karya Ktut Gde Maroete dan “Hiduplah Badala” karya K. Djeloen. Kata-kata BDL di judul adalah singkatan dari Bali Darma Laksana, demikian juga akronim “Badala” yang berarti “Bali Darma Laksana”.

Arsip media massa di Bali zaman Kolonial | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

Tema lain dari puisi Djatajoe adalah masalah yang dihadapi Bali sebagai daerah tujuan wisata, identitas kasta, dan pentingnya pendidikan untuk perempuan. Saat itu, pendidikan dianggap penting untuk laki-laki, perempuan dianggap akan menjadi ibu rumah tangga, tidak perlu pendidikan. Pesan ini terungkap dalam “O Putriku” karya Ni Wayan Sami dan “Seruan” karya Ni Made Tjatri. Puisi ‘O Putriku” (Djatajoe, 23 Maret 1937, p. 226) mendorong kaum perempuan untuk aktif (Gerakkan tangan yang berpangku/ Gerakkan jiwa yang lebih bebas).

Dilihat dari segi bentuknya, puisi ini sudah tampil sebagaimana puisi modern, tidak menggunakan pola pantun atau syair. Konteksnya adalah mengajak perempuan bergerak maju, mencapai kesetaraan dengan laki-laki. Puisi tentang perempuan yang ditulis perempuan ini menunjukkan bahwa perempuan Bali sudah aktif berekspresi menyampaikan aspiras di media massa era 1930-an.

Ada satu puisi yang kiranya menarik dikaji dilihat dari temanya tentang isu sosial aktual. Puisi “Och Ratna” karya M. Oke tidak saja melukiskan dampak pariwisata terhadap Bali, tetapi juga mengaitkan Bali dalam peta global sehingga dalam puisi ini terasa bahwa Bali sudah ada dalam pusaran globalisasi. Sajak “Och Ratna” (Djatajoe, 25 May 1938, pp. 317-8) terdiri dari 11 bait. Dua bait berikut secara intens melukiskan popularitas Bali sebagai destinasi wisata.

Och Ratna jika saya tak salah sangka
Rambutmu terurai ditiup angin tiba di Amerika
Suaramu dibawa radio ke Eropa, Jepang dan Afrika
Pula kelain-lain benua, itulah mudah diterka
Kecantikanmu menarik penduduk itu negeri
Kemolekanmu meresap di dalam sanubari
Tiap-tiap tahun berduyun-duyun datang menghampiri
Jerih, lelah dan bermilyun harta hamburkan tak dipikiri

Yang dimaksudkan dengan Ratna di sini adalah Bali, yang dipanggil Ibu, Ibu Pertiwi. Bali di sini adalah Bali yang cantik dan molek, Bali yang menjadi daya tarik wisata, yang memikat hati, menarik warga dari berbagai dunia, yaitu Amerika, Eropa, Jepang, dan Afrika. Dalam baris-baris yang dikutip di atas terasa Bali terkenal ke mancanegara.

Dalam puisi ini, Bali bukan lagi pulau kecil yang terletak di tengah-tengah atau terjepit di antara pulau-pulau besar Indonesia. Namun, Bali yang populer di mancanegara. Banyak orang datang berkunjung ke Bali setiap tahun (Tiap-tiap tahun berduyun-duyun datang menghampiri). Kunjungan inilah yang kemudian menjadi saluran masuknya budaya global yang membuat Bali ‘gelisah’ karena harus menyesuaikan diri (Diribaanmu gelisah, beribu-ribu putra dan putrimu/ Sakit mata menentang cahaya natuur dan dunia sekitarmu).

Puisi ini bisa dibaca sebagai keresahan Bali atas berbagai pengaruh luar yang masuk ke pulau ini lewat saluran pariwisata. Puisi in bisa dibaca sebagai kiasan akan pentingnya Bali menyiapkan diri agar jangan hanyut dalam kemajuan pariwisata, sebaliknya bisa maju bersama sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika dikaitkan dengan puisi lainnya yang mempromosikan kehebatan media yang memuatnya yaitu Bali Adnjana dan Surya Kanta, puisi ini pun merupakan propaganda kemuliaan usaha Djatajoe untuk memajukan Bali. Ciri puisi propaganda sangat kuat dalam puisi-puisi penyair Bali pada era kolonial.

Penutup

Seperti jelas dalam uraian dari awal, bahwa puisi Indonesia sudah hadir semarak di Singaraja melalui media massa, sehingga tidak berlebihan untuk mengklaim bahwa Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi Indonesia di Bali.

Klaim ini tentu juga benar untuk kelahiran novel (karya-karya Panji Tisna), naskah drama, dan cerita pendek, tetapi karena jumlahnya sedikit (bahkan untuk drama hanya ada satu naskah drama “Kesetiaan Perempuan” dimuat di Surya Kanta, 1927), kiranya kurang kuat membuat klaim Singaraja sebagai kota kelahiran naskah drama di Bali. Untuk puisi selain karena banyak, kehadirannya jelas paling pertama, yaitu Januari 1925.

Tak hanya sebagai tempat kelahiran, Singaraja juga menjadi tempat berlanjut berkembangnya sastra Indonesia modern sampai sekarang, sampai akhirnya menjadi tempat pelaksanaan Singaraja Literary Festival.[T]

NOTE: Dalam versi lain, materi tulisan ini saya sudah sajikan di publikasi berikut:

Putra, IND (2011). A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. KITLV/Brill  [open access: https://library.oapen.org/handle/20.500.12657/34680%5D

Putra, IND. (2017). Eksistensi Puisi Indonesia di Bali Pada Era Kolonial, Aksara, Vol. 29, No. 2, Desember 2017.

Putra, IND (2021). Heterogenitas Sastra di Bali. Pustaka Larasan; Penerbit BRIN (https://penerbit.brin.go.id/press/catalog/book/552)

Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Jaswanto

Tags: Bali AdnjanaBhawanegaraDjatajoemedia massaPuisisastraShanti AdnjanaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Surya Kanta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [30]: Kencan Magis di Aplikasi Pertemanan

Next Post

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co