25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Arsip Seratus Tahun Silam: Singaraja Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali 1925

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
August 28, 2025
in Esai
Dari Arsip Seratus Tahun Silam: Singaraja Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali 1925

Arsip media massa di Bali zaman Kolonial | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

KEBETULAN ada bukti tertulis atau arsip dari media massa, dengan penuh taksim saya ingin mengajukan klaim bahwa “Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi Indonesia di Bali”.

Secara historis, Singaraja pernah menjadi Ibu Kota Provinsi Sunda Kecil. Sebelum pindah ke Denpasar, ibu kota Bali adalah Singaraja. Dalam dunia sastra, Singaraja membuktikan diri sebagai ibu kota (kelahiran) puisi.

Puisi Indonesia yang pertama lahir di Singaraja berjudul “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” karya Gd.P. Kertanadi. Puisi yang berbentuk syair ini dimuat di halaman pertama kalawarta (koran stensilan) Bali Adnjana, tepat 1 Januari 1925.

Ada tiga puisi atau syair yang lahir tahun 1925 di Singaraja. Dua lainnya adalah puisi “Assalamualaikum” karya WD dimuat di kalawarta Surya Kanta (Oktober 1925, hlm. 7) dan “Ilmu” karya AWD juga dalam Surya Kanta (November 1925, hlm. 3).

Kalawarta Bali Adnjana dan Surya Kanta, keduanya terbit di Singaraja. Bali Adnjana dicetak stensilan dalam bentuk sangat sederhana, sedangkan Surya Kanta hadir dalam bentuk cetak modern, konon dicetak di Surabaya (lihat foto arsip).

Media massa memainkan peran penting dalam kelahiran dan kehidupan sastra di Bali zaman kolonial dan sesudahnya. Sama dengan era kemerdekaan dan bahkan sampai sekarang, media massa menjadi salah satu pilar perkembangan sastra.

Saya beruntung memiliki arsip media massa yang terbit di Bali sehingga bisa mengakses publikasi karya sastra zaman kolonial di Bali.

Arsip kalawarta Bali Adnjana dan Surya Kanta yang memuat puisi akrostik “Setia pada SK” | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

Tabel daftar media massa yang terbit di Bali 1920-an hingga 1940-an

Inspirasi Klaim

Inspirasi membuat klaim ‘Singaraja sebagai Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali’ ini datang pagi hari, Sabtu, 26 Juli 2025, saat saya bersiap menuju ke Singaraja (dari Denpasar), untuk menghadiri acara keren Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025.

Awalnya, saya ingin menulis esai pendek untuk tatkala.co yang dikelola Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti yang sekaligus menjadi ayah dan ibu kandung SLF. Rasanya ada yang kurang jika menjadi tamu SLF tanpa menulis sesuatu tentang sastra. Syukur saya dengan cepat menemukan data puisi yang terbit di media massa di Singaraja 100 tahun lalu. Dari sana terpikir untuk membuat klaim, “Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi indonesia di Bali”.

Klaim ini kiranya bisa mendukung eksistensi SLF. Singaraja memang hebat. Cocok menjadi tempat SLF. Atau, SLF cocok digelar di Singaraja karena kota ini sudah sejak seabad lalu gegap gempita dengan kehidupan sastra modern.

Penasaran, seperti apa bentuk puisi yang lahir pertama di Singaraja? Berikut adalah kutipan utuh puisi yang pertama lahir di Singaraja.

Gd. P. Kertanadi

Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana

Bali Adnjana taman jauhari
Buat pengerah putra dan putri
Bersinar bagaikan matahari
Bagi suluh BALI negeri
Akan penerang di tempat gelap
Akan pembangun si tidur lelap
Anak negeri masih terlelap
Agar jangan selalu disulap
Lara rakyat telah diperhatikan
Laki perempuan tak disingkirkan
Lalim penindas disapukan
Laksana bola dapat sepakan
Inilah pertama pembela kita
Isinya penuh dengan mestika
Ikhtiar jujur tidak terkata
Ikatan AGAMA hendak direka
Agama SIWA-BUDA itu dianya
Akan disusun apa mestinya
Aksarawan menyetujuinya
Allah pun memberkatinya
Dicetaknya banyak pustaka
Di antaranya PARWA mestika
Dan RAMAYANA kanda purwaka
Dengan harga murah belaka
Nurnya mengkilat bagaikan mutu
Nasihat disebar sepanjang waktu
Negeri putra senanglah tentu
Nasibnya sudah ada membantu
Yakinlah kita akan jasanya
Yang telah disebarkannya
Yojana dibentang dengan luasnya
Yogia dibaca dengan rajinnya
Agar dapat timbang menimbang
Angan yang sesat lekas tertumbang
Arsa yang suci tentu berkembang
Akan penyuluh si hati bimbang
Nasihat itu laksana obat
Nafsu jahat tentu tersumbat
Nista caci juga terhambat
Nakal lenyap karenanya tobat
Amin tak putus kami ucapkan
Akhirulalam kami serukan
Agihan madah salah onggokan
Abang dan adik sudi maafkan

(Bali Adnjana, 1 Januari 1925, p. 1)

Bentuk Syair dan Akrostik

Puisi ini berbentuk syair [a,a,a,a], terdiri dari 11 bait, sama dengan jumlah kata dalam kata ‘Bali Adnjana’. Tiap bait diawali dengan baris-baris yang huruf awalnya adalah huruf ‘B-a-l-i  A-d-n-j-a-n-a’.

Puisi yang baris atau baitnya diawali dengan kalimat yang huruf awalnya huruf pertama dari judul atau sebagian dari judul disebut dengan puisi akrostik. Puisi akrostik menjadi ciri kebanyakan puisi penyair Bali di era kolonial. Sifat akrostik puisi ini mengandung penyesuaian, yakni huruf ‘J’ dalam puisi ini diganti dengan ‘Y’ (Yakinlah kita akan jasanya), menandakan bahwa penyair menerapkan licentia poetica atau kebebasan dalam berekspresi untuk mencapai keindahan bentuk dan isi.

Tema puisi “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” ini berkaitan dengan misi koran-kalawarta Bali Adnjana, dan kontekstual dengan Tahun Baru saat terbitnya edisi Januari.

Propaganda mengenai Bali Adnjana tampak eksplisit sekali bahwa Bali Adnyana sebagai kumpulan orang pandai (taman jauhari) yang hadir menjadi ‘suluh bagi negeri’ untuk membantu memberikan pencerahan kepada masyarakat agar bebas dari kegelapan. Dalam usahanya memajukan itu, mereka memperhatikan semua, laki dan perempuan, tidak ada diskriminasi. Dalam memberikan pencerahan itu, Bali Adnjana berusaha untuk menyediakan bahan bacaan dengan harga murah.

Data Puisi, 39 Judul

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas keempat majalah atau media massa yang terbit di Bali, Surya Kanta, Bali Adnjana, Bhawanegara, dan Djatajoe, dapat diidentifikasi cukup banyak puisi, tepatnya 39 judul. Puisi tersebut terbit antara tahun 1925-1939 (lihat tabel).

Ciri umum dari puisi penulis Bali dari era kolonial adalah berbentuk syair, namun bukan syair dalam pengertian puisi lama. Ciri syair terletak pada persamaan bunyi akhir dan bait umumnya terdiri dari empat baris. Dalam hal jumlah kata atau suku kata tidaklah sama dengan syair aslinya, yang biasanya sekitar empat kata atau 8-10 suku kata.

Selain menyerupai syair, puisi Indonesia dari Bali dari era kolonial juga tampil dengan bentuk bebas, dalam arti sudah menyerupai puisi modern yang bebas. Penyampaian pesan diutamakan, sementara persamaan bunyi dijadikan nomor dua.

Sajak akrostik “Setia pada SK” berisi propaganda kepada Surya Kanta, baik sebagai organisasi maupun sebagai nama surat kabar/majalah. Bait pertama menegaskan bahwa Surya Kanta mengajak anggotanya untuk bersatu (Satunya bangsa selalu dicari). Hanya saja, ajakan ini disampaikan khusus untuk golongan jaba, warga stratifikasi terbawah dalam catur wangsa (kasta).

Pesan kepada jaba ini sangat ‘politis’ kalau dibaca dalam konteks polemik keras antara Bali Adnjana dengan Surya Kanta mengenai status kewangsaan. Kelompok Surya Kanta menganggap manusia sama dan dihormati berdasarkan prestasi dan pencapaian, sementara Bali Adnjana mempertahankan perbedaan status kasta berdasarkan kelahiran. Pertentangan kasta di Bali Utara tahun 1920-an/1930-an ini sudah ditulis oleh para ahli, seperti Putra Agung (2001), Bagus (1996), dan Picard (1999).

Promosi Surya Kanta sudah terasa di judul seperti promosi agar pembaca berlangganan. Di sini jelas puisi merupakan sarana promosi atau alat propaganda organisasi. Jika dilihat dari konteks media yang memuatnya, wajar saja penulis dan wajar saja Surya Kanta memuat puisi yang menguntungkan Surya Kanta. Banyak puisi lain yang terbit di Surya Kanta juga berisi pesan promosi visi misi dari koran atau majalah yang memuatnya seperti puisi “Hiduplah SK” karya MAR dan “Berlanggananlah Surat Bulanan SK” karya  KK.

Kecenderungan sama juga terdapat dalam Djatajoe, seperti terlihat dalam sajak “Ke Taman BDL” karya Ktut Gde Maroete dan “Hiduplah Badala” karya K. Djeloen. Kata-kata BDL di judul adalah singkatan dari Bali Darma Laksana, demikian juga akronim “Badala” yang berarti “Bali Darma Laksana”.

Arsip media massa di Bali zaman Kolonial | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

Tema lain dari puisi Djatajoe adalah masalah yang dihadapi Bali sebagai daerah tujuan wisata, identitas kasta, dan pentingnya pendidikan untuk perempuan. Saat itu, pendidikan dianggap penting untuk laki-laki, perempuan dianggap akan menjadi ibu rumah tangga, tidak perlu pendidikan. Pesan ini terungkap dalam “O Putriku” karya Ni Wayan Sami dan “Seruan” karya Ni Made Tjatri. Puisi ‘O Putriku” (Djatajoe, 23 Maret 1937, p. 226) mendorong kaum perempuan untuk aktif (Gerakkan tangan yang berpangku/ Gerakkan jiwa yang lebih bebas).

Dilihat dari segi bentuknya, puisi ini sudah tampil sebagaimana puisi modern, tidak menggunakan pola pantun atau syair. Konteksnya adalah mengajak perempuan bergerak maju, mencapai kesetaraan dengan laki-laki. Puisi tentang perempuan yang ditulis perempuan ini menunjukkan bahwa perempuan Bali sudah aktif berekspresi menyampaikan aspiras di media massa era 1930-an.

Ada satu puisi yang kiranya menarik dikaji dilihat dari temanya tentang isu sosial aktual. Puisi “Och Ratna” karya M. Oke tidak saja melukiskan dampak pariwisata terhadap Bali, tetapi juga mengaitkan Bali dalam peta global sehingga dalam puisi ini terasa bahwa Bali sudah ada dalam pusaran globalisasi. Sajak “Och Ratna” (Djatajoe, 25 May 1938, pp. 317-8) terdiri dari 11 bait. Dua bait berikut secara intens melukiskan popularitas Bali sebagai destinasi wisata.

Och Ratna jika saya tak salah sangka
Rambutmu terurai ditiup angin tiba di Amerika
Suaramu dibawa radio ke Eropa, Jepang dan Afrika
Pula kelain-lain benua, itulah mudah diterka
Kecantikanmu menarik penduduk itu negeri
Kemolekanmu meresap di dalam sanubari
Tiap-tiap tahun berduyun-duyun datang menghampiri
Jerih, lelah dan bermilyun harta hamburkan tak dipikiri

Yang dimaksudkan dengan Ratna di sini adalah Bali, yang dipanggil Ibu, Ibu Pertiwi. Bali di sini adalah Bali yang cantik dan molek, Bali yang menjadi daya tarik wisata, yang memikat hati, menarik warga dari berbagai dunia, yaitu Amerika, Eropa, Jepang, dan Afrika. Dalam baris-baris yang dikutip di atas terasa Bali terkenal ke mancanegara.

Dalam puisi ini, Bali bukan lagi pulau kecil yang terletak di tengah-tengah atau terjepit di antara pulau-pulau besar Indonesia. Namun, Bali yang populer di mancanegara. Banyak orang datang berkunjung ke Bali setiap tahun (Tiap-tiap tahun berduyun-duyun datang menghampiri). Kunjungan inilah yang kemudian menjadi saluran masuknya budaya global yang membuat Bali ‘gelisah’ karena harus menyesuaikan diri (Diribaanmu gelisah, beribu-ribu putra dan putrimu/ Sakit mata menentang cahaya natuur dan dunia sekitarmu).

Puisi ini bisa dibaca sebagai keresahan Bali atas berbagai pengaruh luar yang masuk ke pulau ini lewat saluran pariwisata. Puisi in bisa dibaca sebagai kiasan akan pentingnya Bali menyiapkan diri agar jangan hanyut dalam kemajuan pariwisata, sebaliknya bisa maju bersama sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika dikaitkan dengan puisi lainnya yang mempromosikan kehebatan media yang memuatnya yaitu Bali Adnjana dan Surya Kanta, puisi ini pun merupakan propaganda kemuliaan usaha Djatajoe untuk memajukan Bali. Ciri puisi propaganda sangat kuat dalam puisi-puisi penyair Bali pada era kolonial.

Penutup

Seperti jelas dalam uraian dari awal, bahwa puisi Indonesia sudah hadir semarak di Singaraja melalui media massa, sehingga tidak berlebihan untuk mengklaim bahwa Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi Indonesia di Bali.

Klaim ini tentu juga benar untuk kelahiran novel (karya-karya Panji Tisna), naskah drama, dan cerita pendek, tetapi karena jumlahnya sedikit (bahkan untuk drama hanya ada satu naskah drama “Kesetiaan Perempuan” dimuat di Surya Kanta, 1927), kiranya kurang kuat membuat klaim Singaraja sebagai kota kelahiran naskah drama di Bali. Untuk puisi selain karena banyak, kehadirannya jelas paling pertama, yaitu Januari 1925.

Tak hanya sebagai tempat kelahiran, Singaraja juga menjadi tempat berlanjut berkembangnya sastra Indonesia modern sampai sekarang, sampai akhirnya menjadi tempat pelaksanaan Singaraja Literary Festival.[T]

NOTE: Dalam versi lain, materi tulisan ini saya sudah sajikan di publikasi berikut:

Putra, IND (2011). A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. KITLV/Brill  [open access: https://library.oapen.org/handle/20.500.12657/34680%5D

Putra, IND. (2017). Eksistensi Puisi Indonesia di Bali Pada Era Kolonial, Aksara, Vol. 29, No. 2, Desember 2017.

Putra, IND (2021). Heterogenitas Sastra di Bali. Pustaka Larasan; Penerbit BRIN (https://penerbit.brin.go.id/press/catalog/book/552)

Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Jaswanto

Tags: Bali AdnjanaBhawanegaraDjatajoemedia massaPuisisastraShanti AdnjanaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Surya Kanta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [30]: Kencan Magis di Aplikasi Pertemanan

Next Post

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co