JIKA wisatawan mancanegara menjadikan pelepasliaran kupu-kupu sebagai atraksi wisata, berbeda halnya dengan masyarakat lokal. Masyarakat yang terdiri dari ibu-ibu PKK dan komunitas lokal itu melepas kupu-kupu sebagai cara mengenang masa anak-anak yang akrab dengan serangga bersayap pipih itu. Belakangan ini, keberadaan kupu-kupu memang tak seramai dulu.
Itulah suasana pelepasliaran kupu-kupu terbesar di kawasan Nuanu Creative City, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan – Bali, Minggu 24 Agustus 2025. Acara tersebut dihadiri oleh masyarakat desa setempat, dan dimeriahkan wisatawan mancanegara. Para turis itu tak hanya menyaksikan dan mengabadikan dalam handpone mereka, tetapi juga ikut melepasnya.
Kawasan Nuanu memang berbeda saat itu. Jauh sebelum acara, wisatawan sudah berbaur bersama masyarakat menunggu acara pelepasan kupu-kupu kesenian kalinya ini. Terik matahari siang itu terasa panas, namun orang-orang yang hadir sangat antusias. Sebagai ucapan selamat datang, mereka juga disuguhi air kepala muda.
“Pelepasliaran kupu-kupu ini, kami mengikuti kehidupan kupu-kupu yang ada di daerah Tabanan ini. Artinya, kupu-kupu yang memang yang hidup di daerah ini,” kata IA Astari Prada, Brand & Communications Director Nuanu Creative City disela-sela pelepasliaran kupu-kupu, Minggu 24 Agustus 2025.

Kupu-kupu yang dilepasliarkan di Nuanu Creative City | Foto: Bud
Pada kesempatan ini, jumlah kupu-kupu yang dilepasliarkan sebanyak 3.500 ekor. Maka, sejak Juli hingga Agustus 2025, Nuanu telah melepasliar lebih dari 5.000 ekor kupu-kupu dengan 11 spesies asli Bali ke dalam lanskap berkelanjutan yang sedang dikembangkan. Pelepasan kupu-kupu ini melibatkan masyarakat setempat, komunitas local, ibu-ibu PKK, dan perwakilan muda-mudi. Termasuk wisatawan yang peduli terhadap lingkungan. “Kami melepas siang hari, karena kupu-kupu itu beraktivitas di siang hari,” ucapnya.
Sejak awal, Nuanu aktif mendukung siklus hidup kupu-kupu dengan melakukan pelepasliaran secara berkala di berbagai area. Hingga kini, sudah lebih dari 11.000 kupu-kupu yang dilepasliarkan, menjadikan pelepasliaran hari ini sebagai yang terbesar dalam sejarah Nuanu. “Pelepasliaran ini bukan hanya seremonial, tetapi wujud nyata komitmen tim lingkungan Nuanu untuk memulihkan dan menghidupkan kembali habitat alami,” kata Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City dalam keterangan persnya.
Kupu-kupu bukan hanya hewan yang indah, tetapi juga berperan sebagai indikator alam kesehatan ekosistem. Kupu-kupu tidak seharusnya sekadar terlihat dalam buku atau terpajang dibalik kaca. Harusnya kupu-kupu itu dapat terbang bebas, hadir di sekitarnya. Dengan demikian, mudah ditemukan oleh pengunjung, warga, serta karyawan yang bekerja dalam Nuanu.
“Komitmen kami pun tidak berhenti pada kupu-kupu. Bersama para ahli serangga kami, Nuanu juga melakukan repopulasi kunang-kunang, capung, plankton, serta makhluk kecil lain yang berperan penting dalam menjaga alam dan membuat Bali semakin indah,” ucapnya.

Kupu-kupu yang dilepasliarkan di Nuanu Creative City | Foto: Bud
Kupu-kupu adalah penyerbuk alami yang esensial sekaligus indikator ekosistem yang sehat. Meski rapuh dan hanya hidup 5–14 hari pada fase dewasa, keberadaan mereka membawa dampak ekologis besar, yakni menjaga ribuan tanaman berbunga, memperkuat rantai makanan, dan penanda bahwa habitat sekitar seimbang dan tangguh.
Aktivitas mereka menegaskan bahwa kondisi lingkungan Nuanu merupakan habitat yang sehat bagi berbagai macam makhluk. “Misi utama tim lingkungan Nuanu adalah memulihkan habitat bagi para pahlawan kecil ini dan menciptakan ekosistem yang mampu beregenerasi dengan sendirinya di dalam Nuanu,” tegas Agastya Yatra, Head of Environment Nuanu Creative City.
Menurutnya, pelepasan 3.500 kupu-kupu ini bukan sekadar symbol. Ini menunjukkan kesiapan Nuanu sebagai kawasan kreatif untuk menjadi rumah bagi mereka. “Dalam beberapa tahun ke depan, kami berharap kupu-kupu dapat berkembang biak dengan minim intervensi manusia, hidup dan terbang bebas secara alami di seluruh kawasan Nuanu,” jelasnya.
Seluruh kupu-kupu yang dilepasliarkan hari ini merupakan spesies asli Bali, termasuk Danaus chrysippus (Plain Tiger), Cethosia hypsea (Malayan Lacewing), dan Papilio peranthus (Swift Peacock Swallowtail).

Kupu-kupu yang dilepasliarkan di Nuanu Creative City | Foto: Bud
Di antara ketiganya, Papilio peranthus menjadi spesies ikonik Nuanu, kupu-kupu pesisir yang telah lama hidup di kawasan ini. Karena itu, Nuanu berkomitmen memulihkan habitat asli sekaligus menghadirkan kesempatan langka bagi masyarakat untuk merasakan kedekatan dengan alam, ketika ribuan kupu-kupu beterbangan di area taman.
Tumbuhan inang dan beragam spesies bunga yang ditanam dengan cermat menjadi sumber makanan alami, sehingga pelepasliaran ini bukan hanya sebuah perayaan, melainkan langkah nyata untuk mendukung reproduksi dan keberlanjutan siklus ekologis yang sehat. “Ke depannya, Nuanu akan terus memperluas program pendidikan lingkungan, menjadikan kawasan ini sebagai ruang belajar hidup yang menghubungkan manusia dengan alam sekaligus memperjuangkan ekosistem yang mampu meregenerasi dirinya sendiri,” ungkapnya.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























