12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng”: Ajakan Kendalikan Nafsu Angkara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 25, 2025
in Esai
“Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng”: Ajakan Kendalikan Nafsu Angkara

Gombloh | Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari foto di internet

LAGU “Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng” adalah satu  karya “magnum opus” Gombloh, yang memadukan unsur musik kontemporer dengan unsur musik tradisional, kearifan lokal Jawa, dilantunkan mirip sedang membaca suatu doa-doa, mantra keselamatan dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Lagu ini dikenal karena liriknya yang mengambil inspirasi dari Serat Wedhatama dan ditambahkan sentuhan pribadi Gombloh, yaitu frasa “Hong Wilaheng”

Lagu ini dirilis pada tahun 1982, sebagai bagian dari album “Berita Cuaca” bersama Lemon Tree’s Anno ’69, dalam format kaset, oleh Indra Record. Lagu ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenungkan makna kehidupan dan spiritualitas, yang disampaikan lewat liriknya. Lagu ini sarat nilai-nilai pendidikan baik untuk lahir, dan batin kita.

Masih sangat relevan dengan kondisi negeri saat ini. Di mana para elit anak negeri ini masih banyak yang belum dapat mengendalikan hawa nafsu, keserakahan, terus ingin memiliki segala sesuatu hanya berdasarkan keinginan, bukan pada kebutuhannya. Contoh yang masih anyar tertangkapnya seorang wakil menteri oleh KPK, ini nafsu seorang pejabat negara yang sangat memalukan.

Tersirat dalam lirik “Mingkar mingkuring angkoro”, artinya meredam nafsu angkara di dalam diri. Dalam setiap diri kita ada yang nama raga dan jiwa, antara raga jiwa perlu keseimbangan. Fisik  kita sehat, pikiran kita juga akan sehat, atau sebaliknya pikiran (jiwa) kita sakit, raga kita juga akan sakit. Intinya yang ingin disampaikan dalam lirik ini, kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu kita. Seperti kasus  Wamen kita yang terpesona kemilau dunia yang menyilaukan dirinya, akibatnya lupa dan lengah, timbullah nafsu angkara yang merusak diri dan semesta, karena nafsu itu sifat setan dan iblis.

“Akarono karnan mardi siwi”, konteks bait ini dapat dipahami sebagai siklus kehidupan itu adalah belajar sepanjang hayat dikandung badan, dididik dan mendidik. Kita harus terus belajar tentang kehidupan semesta ini, jangan berhenti untuk belajar. Lingkungan alam semesta ini banyak mengajarkan yang dapat kita ambil manfaat, dan petik sebagai pelajaran hidup. “Akarono karnan mardi siwi”, bicara soal belajar mendidik, dididik, mendidik atau tugas seorang guru “Mpu” itu tidak mudah.

Lirik ini tersirat bahwa mengajarkan sesuatu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, tetapi hanya oleh seorang yang sudah paham hakikat kebenaran sejati, hanya mereka yang bisa mengajarkannya. Oleh karena itu kita seorang “Mpu” harus sudah beres dengan “Mingkar mingkuring angkoro”, harus mampu meredam angkara yang ada dalam dirinya, hingga guru sejati tertemukan dalam diri kita.

Bila angkara sudah terkendali, maka apa yang kita ajarkan kelak akan berbuah hasil yang baik dan benar. Tidak terjadi seperti saat ini banyak orang yang terdidik, tapi moralnya jauh panggang dari api, para pejabat negara yang melakukan tindak pidana, korupsi, perselingkuhan, hina menghina, kebijakan publik yang keliru, itu umumnya yang melakukan adalah manusia terpelajar, namun perilakunya menyimpang, bisa jadi akibat prosesnya menyimpang dari serat Wedathama.

Pesan moral yang ingin disampaikan dalam lirik ini, tidaklah mudah dididik dan mendidik itu. Hanya orang yang sudah mengetahui kebenaran dan kesejatianlah yang dapat menjadi seorang guru, filosofi ini sangat ideal dan visioner.

***

Melaksanakan pendidikan, mendidik, itu bukanlah proses yang mudah, perlu ketulusan, baik yang mengajar maupun yang akan diajar seperti tersirat dalam kata, “Sinawung resmining kidhung” artinya dikemas dalam indahnya tembang, dengan bahasa hati pilihan kata yang indah, namun tetap penuh kesederhanaan kata, kalimat yang tidak rumit. Proses yang tak mudah untuk ini, tidak selalu harus menggunakan cara dan bahasa yang rumit untuk menyampaikannya, tapi dengan bahasa yang sederhana dengan sentuhan “bahasa hati” yang indah agar mudah dipahami.

Seperti dalam kata “Sinubo sinukarto” artinya dihiasi agar tampak indah. Kata bahasa yang menarik, walau ilmu sudah dikemas dalam bentuk tembang, tapi tetap tak boleh sembarangan. Pemilihan kata dalam tembangnya tak boleh kata yang rumit, yang sulit dimengerti. Namun bahasa yang lemah lembut, bahasa kalbu yang menyentuh namun tegas.

Aduh Gusti, pakertining ngilmu, Gusti, berikanlah ilmu. Mendidik, belajar, dididik, sesungguhnya bukanlah proses untuk mendapatkan ilmu, itu hanyalah sebuah cara. Melakukan cara, belum tentu menghasilkan. Jika ingin mendapatkan ilmu, langkahnya adalah dengan menanam atau meminta. Bagaimana cara menanam ilmu? Adalah dengan cara membersihkan hati dari pesona keduniawian, ketika hati bersih akan mudah kita menyerap ilmu pengetahuan. Langkah lainnya adalah meminta langsung kepada yang Maha Agung, Maha Kuasa, yang maha menggenggam semua ilmu pengetahuan dengan doa yang ikhlas dan khusyuk.

Gusti Pangeran memberikan pedoman hidup pada kita karena banyak manusia yang lemah, alpa, mudah terpesona dengan kehidupan duniawi, bahkan sering terjerumus karena tidak mengendalikan nafsu angkara. Gusti memberikan petunjuk yang berguna sebagai pedoman hidup. Petunjuk itulah yang kemudian disebut dengan agama. Leluhur Jawa menyebut agama sebagai agami, yang merupakan kepanjangan dari ageming aji—pegangan diri. 

”Sopo entuk wahyuning Allah”, “Siapa yang mendapat wahyu ilham, pencerahan, anugerah, hidayah dari Allah”, menurut lirik ini, orang yang menerima ilham, wahyu dari Tuhan akan segera bersinar dan mampu menguasai ilmu. Untuk  menuju ke sana tentu ada proses yang harus dilakukan oleh setiap insan, dengan melakukan dan menjalankan pedoman hidup yaitu ageming aji pegangan diri yang dianutnya, dengan laku prihatin. Misalnya untuk dapat mengendalikan nafsu angkara dengan berpuasa (shaum), salat malam dan lain-lain, menyesuaikan ageming aji yang dianutnya.

Ketika seorang insan mendapatkan anugerah dari Allah SWT, dalam lirik berikutnya disenandungkan Gombloh “Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit”, segeralah bersinar atau bercahaya untuk menguasai ilmu. Ungkapan ini menjelaskan bahwa siapa yang mendapat ilham atau pencerahan dari Tuhan (wahyu), hendaknya segera menerapkannya untuk menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat atau “ilmu bangkit”, sehingga ia mampu dan bersemangat. Gunakan pengetahuan itu untuk membangun jiwa raga anak negeri ini. 

“Lirih sepuh sepi hawa” adalah sebuah kalimat dari mantra Hindu-Jawa yang merujuk pada Tuhan sebagai kosong yang penuh makna, atau kekosongan yang berisi. Baris pertama mantra tersebut, “Lirih”, memiliki arti ‘kosong’, sedangkan “sepuh” dan “sepi hawa” secara keseluruhan merujuk pada wilaheng hawigena, yang memiliki makna ‘berisi’ atau ‘yang penuh dengan arti’, disarikan dari para pengulas lagu ini. 

Lebih jauh dikemukakan oleh para pengulas lagu ini, Lirih (Hong), dalam konteks mantra Hindu-Jawa, “Hong” atau “Lirih” di sini bukan berarti ‘pelan’ tetapi ‘kosong’. Ini adalah konsep kekosongan primordial atau awal mula keberadaan. Sepuh (Wilaheng), Kata ini merujuk pada kekosongan yang mulai memiliki substansi atau isi. Sepi Hawa (Hawigena), Kata ini juga merujuk pada kualitas ‘berisi’ yang melengkapi ‘kekosongan’ tersebut, sehingga menjadi ‘kosong yang penuh dengan arti’.

Dapat juga diinterpretasikan, suatu keadaan seorang ketika menjadi tua Adalah orang yang sepi akan nafsu angkara, karena jiwa dan raganya sudah menuju sempurna, biasanya sudah bersih dari keinginan pada pesona duniawi, sepi dari nafsu ini bukan berarti tidak memiliki hawa nafsu, namun sudah dapat mengendalikan meredam nafsunya.

 “Hong wilaheng sekaring bawana langgeng…sekar mayang” berarti “Dalam keadaan tenang, damai, dan selaras, seperti kesempurnaan bunga keabadian di alam semesta”. “Sekar mayang” secara harfiah berarti bunga kelapa, digunakan dalam konteks ini untuk melambangkan keindahan dan kesempurnaan yang abadi. 

Karena pohon kelapa adalah pohon yang seluruh bagian pohonnya berguna. Itu menandakan bahwa, orang tua—perlambang atas manusia yang sudah ma’rifat—selalu membawa manfaat dalam kehidupan. Baik untuk sesama manusia, sesama mahluk penghuni bumi, untuk semesta, dan tentu saja untuk Gustinya (https://aoelijaisme.blogspot.com/2016/05/hongwilaheng.html)

“Hong wilaheng sekaring bawana langgeng…sekar kajang” berarti “Dalam keadaan tenang, damai, dan selaras, seperti kesempurnaan bunga keabadian di alam semesta yang kekal”. Hong bermakna “kosong” atau keadaan yang suwung dan tenteram, sementara sekaring bawana langgeng berarti “bunga keabadian di alam semesta”. Sekar kajang di sini dimaknai sebagai “bunga tidur” atau “bunga bantal”, melambangkan ketenangan yang sempurna dan abadi. Hong wilaheng sekaring bawana langgeng…sekar kajang.

Sekar kajang artinya bunga bantal. Bunga bantal adalah istilah untuk mimpi. Apa hubungannya dengan mimpi? Mimpi adalah hal yang terjadinya sangat singkat. Ini menjelaskan, bahwa sesungguhnya hidup ini singkat. Hidup ibarat mimpi, yang singkat.

Lirik lagu ini, yang sebagian besar diambil dari Serat Wedhatama, Serat sastra Jawa lama yang ditulis oleh Mangkunegara IV, sarat dengan makna filosofis dan spiritual, mengajak pendengar untuk merenungkan hakikat kehidupan, kebijaksanaan, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Semoga kearifan, nasihat, filosofi serat Wedhatama yang diadopsi dalam lagu karya Gobloh dapat menjadi salah satu bahan renungan kita, dalam meniti semesta yang fana ini. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Kebyar-Kebyar, Cintai Tanah Air Sepenuh Hati
Tags: Gomblohlagulagu pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nuanu Creative City Melepaskan 5.000 Kupu-kupu ke Alamnya: Dukung Siklus Hidup Kupu-kupu

Next Post

Pamer Koleksi, Usaha Mendekatkan Arsip Sejarah kepada Gen Z

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Pamer Koleksi, Usaha Mendekatkan Arsip Sejarah kepada Gen Z

Pamer Koleksi, Usaha Mendekatkan Arsip Sejarah kepada Gen Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co