Tahu adalah kata sifat yang merujuk pada manusia sebagai mahluk berjiwa-raga, mempunyai pikiran, dan perasaan. Penambahan awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ memberi pengertian, pada sifat ‘tahu’ yang melekat pada manusia yang berjiwa-raga yang mempunyai pikiran dan perasaan.
‘Pengetahuan’ seorang manusia berjiwa-raga, yang berpikir dan berperasaan, berbeda-beda, tergantung dari usia, kondisi dan jenisnya.
Pengetahuan sebagai sesuatu yang melekat pada manusia, terefleksi pada kata-kata dan perbuatannya.
Pengetahuan pikiran yang bersifat rohani, pada manusia tidak secara otomatis terefleksi pada kata-kata/suara. Berbeda halnya dengan binatang, suara/bunyinya dengan mudah kita ketahui dari usia, kondisi dan jenisnya. Misalnya suara monyet kecil, suara monyet sakit, suara monyet marah dan lain-lain.
Pengetahuan Rakyat Indonesia
Secara umum, pengetahuan dikatagorikan menjadi dua:
1) Pengetahuan Biasa: Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat umum, seringkali berdasarkan pengalaman sehari-hari dan tradisi.
2) Pengetahuan Ilmiah: Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah, terstruktur, dan teruji kebenarannya.
Jadi, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui dan dipahami oleh seseorang, yang diperoleh melalui pengalaman langsung dan tidak langsung.
Pengalaman langsung melalui panca indria: melihat, mendengar, mencium, mencecap, meraba/menyentuh, merasakan dan memikirkan.
Pengalaman tidak langsung melalui pembelajaran/ introspeksi dan pengalaman orang lain sebagai ilmu pengetahuan.
Sistem Pengetahuan
Sistem Pengetahuan menurut Koentjaraningrat merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan. Selain bahasa, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian.
Pengetahuan Wakil Rakyat Indonesia
Yang dimaksud Wakil Rakyat Indonesia adalah orang-orang yang dipilih melalui sistem organisasi yang dipakai di dalam negara Republik Indonesia yang bersifat formal, dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan negara.
Yang menjadi wakil rakyat adalah orang-orang terpilih, yang memiliki pengetahuan biasa (sebagai manusia umumnya) dan luar biasa (berpengetahuan ilmiah yang terstruktur, dan teruji kebenarannya, terutama dalam ilmu kepemerintahan)
Dalam hal ini tentulah kita, rakyat, sebagai orang biasa yang berpengetahuan biasa, berharap wakil kita adalah seorang yang berpengetahuan luar biasa.
Dalam sidang tahunan DPR/MPR jelang perayaan Kemerdekaan RI Indonesia ke-80, mata rakyat seluruh Indonesia, di dalam dan di luar negeri, terbelalak, marah, geli, sedih dan terluka menyaksikan adegan prilaku wakil rakyat.
Topeng Monyet
Rakyat dengan pengetahuan biasa yang melihat, mendengar, merasakan dan memikirkan prilaku para wakil rakyat, tak ubahnya seperti menonton Pertunjukan Topeng Monyet di pasar-pasar. Sebagai binatang, seekor monyet misalnya bernama Si Tongki atau yang lain, secara naluri akan berakting setelah dijanjikan/diberi pisang dan dimainkan irama musik oleh pawangnya.
Pertunjukan yang diperankan oleh seekor monyet ini disebut Topeng Monyet, mungkin karena Si Pawang, Si Dalang, Si Sutradara menjadikan Monyet itu sebagai Topeng dirinya agar bisa menghibur orang lain, terkenal dan mendapatkan bayaran.
Si Tongki adalah seekor monyet yang biasa dibawa pemain sirkus untuk menghibur orang-orang di pasar. Tongki diberi baju cantik, perhiasan, bawaan dan dilatih berbagai gerakan lucu, yang membuat penonton tertawa, terutama anak- anak.
Anak adalah manusia kecil yang berjiwa-raga, juga punya pikiran dan perasaan sesuai dengan kapasitas usianya. Umumnya bersifat polos dan lugu, tingkah lakunya biasanya sesuai dengan nalurinya, instringnya dan bersifat reflek (tanpa dipikirkan). Perasaan anak- anak seperti halnya binatang mudah terefleksi pada tingkah laku/perbuatannya. Misalnya saat anak-anak diberikan/dijanjikan sesuatu yang membuatnya senang, maka secara otomatis anak akan bersorak kegirangan, menari atau meloncat kegirangan.
Diantara semua binatang, secara karakter monyetlah yang paling dekat dengan manusia. Sungguh ide yang sangat cerdas, saat seseorang memakai monyet sebagai media untuk menghibur. Paling tidak bisa menghibur anak-anak. Terima kasih pelajarannya wahai para pemain sirkus Topeng Monyet. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole


























