SASTRA daerah terus dibicarakan. Di kampus, di sekolah, di komunitas sastra, di ruang seminar, di balai banjar, di warung atau kedai kopi, dan di mana saja, sastra daerah—memiliki kekayaan nilai yang tak ternilai—tiada henti diapresiasi dalam berbagai bentuk kegiatan. Termasuk di Aula Mandala Saba Dr. Djundjunan, Lantai V Gedung Paguyuban Pasundan, Bandung, Rabu, 13 Agustus 2025, digelar acara Seminar Kesusastraan Daerah dengan tema “Merebak Ruang Sastra Daerah di Sekolah”. Kegiatan yang digelar oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé untuk membumikan sastra daerah—mendekatkan karya sastra daerah kepada masyarakat luas khususnya warga sekolah.

Kiri-kanan: Darpan Ariawinangun, Dr. Herawati, S.S., M.A., Komang Sujana (penulis), dan Udo Z. Karzi | foto: Dok. penulis
Seminar ini dilatarbelakangi oleh ruang hidup sastra di sekolah yang sempit dan redup. Padahal bahasa, aksara, dan sastra daerah diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah. Mengapa pembelajaran sastra daerah dikatakan cenderung normatif dan tidak produktif? Jawaban inilah yang coba digali oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé dengan mengajak peserta seminar yang terdiri atas guru, dosen, pegiat literasi, penulis sastra daerah, dan mahasiswa untuk merefleksi pembelajaran sastra daerah di sekolah selama ini.
Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra
Udara Bandung pagi itu cukup dingin. Tetapi berkat dimoderatori oleh Darpan Ariawinangun—peraih hadiah Sastera Rancagé tahun 2009 untuk sastera Sunda—jalannya seminar dan diskusi tetap berlangsung hangat.
Sebagai narasumber pertama, Dr. Herawati, S.S., M.A., Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, memaparkan tentang pentingnya sastra daerah sebagai sarana pengenalan dan implementasi nilai kearifan lokal individu dan masyarakat. Sastra daerah yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal, menurutnya sebagai sarana untuk memahami identitas budaya.
Sebagai upaya mendukung program Revitalisasi Bahasa Daerah, Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat telah memiliki beberapa produk unggulan, seperti Sirung Basa (Pusat Data Digital Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat), Kang Agam (Kamus Daring Audio Bergambar Tiga Bahasa), Bengkel Carpon Sunda dan Penerjemahan Cerita Dwibahasa.
Herawati mengajak peserta seminar khususnya guru-guru agar lebih aktif memanfaatkan layanan produk digital yang disediakan oleh Balai Bahasa di provinsi masing-masing maupun Kemendikdasmen, seperti SIBI (Sistem Informasi Perbukuan Indonesia), misalnya, untuk media dan sumber belajar di sekolah.
Kolaborasi dan Konsistensi
Kegiatan apresiasi sastra dapat menguatkan ekosistem sastra daerah di sekolah. Menurut Sapardi Djoko Damono, apresiasi sastra terdiri atas karya sastra, sastrawan, dan pembaca. Masalahnya saat ini adalah karya sastra daerah tak sampai kepada pembaca dalam hal ini siswa. Tak salah jika Udo Z. Karzi, narasumber yang juga penerima hadiah sastera Rancagé 2025 untuk sastera Lampung, menagih aksi nyata pemerintah daerah dalam mendukung distribusi buku sastra daerah yang merata di sekolah.
Penyebaran buku sastra daerah, menurut Taufik Faturohman, penulis sastra Sunda dan pengelola penerbitan buku Geger Sunten, dapat dilakukan dengan melibatkan penerbit buku sastra daerah. Dalam sesi diskusi ia menceritakan kesulitan memperoleh naskah buku sastra daerah yang akan diterbitkan. Ia pun berharap Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat dapat bekerja sama menerbitkan naskah-naskah hasil sayembara. Dengan menggandeng penerbit, menurutnya dapat mempermudah akses pembaca terhadap sastra daerah serta membantu mempromosikan kekayaan nilai karya sastra kepada khalayak.

Suasana seminar di Aula Mandala Saba Dr. Djundjunan, Lantai V Gedung Paguyuban Pasundan, Bandung | Foto: Dok. penulis
Selain itu, menurut saya sekolah juga sebaiknya aktif menggandeng komunitas sastra, pegiat sastra, dan sastrawan untuk penguatan literasi sastra daerah di sekolah. Dengan pengalaman kreatif, kehadiran praktisi sastra atau sastrawan masuk sekolah akan memberikan warna tersendiri sehingga pelajaran sastra menjadi lebih aplikatif.
Kegiatan kesastraan di sekolah yang melibatkan berbagai pihak secara berkelanjutan tidak hanya bermanfaat untuk siswa, juga guru. Sebab menurut Sapardi, agar apresiasi sastra di sekolah dapat berjalan dengan baik, maka guru harus menjadi “rekan yang lebih tua”. Guru disarankan tidak membatasi ruang tafsir dan ekspresi siswa terhadap karya sastra yang dibaca sehingga apresiasi sastra berlangsung dengan kritis dan dinamis. Maka dari itu, guru pun sudah seharusnya akrab dengan sastra melalui terlibat aktif dalam berbagai aktivitas kesastraan baik di dalam dan di luar sekolah.
Pada kesempatan itu, saya bersyukur turut diberikan kesempatan belajar dan berbagi cerita. Tak banyak yang saya sampaikan. Pengalaman saya di bidang sastra dan pembelajaran sastra daerah baru seumur jagung. Dalam segala keterbatasan itu, saya mencoba berbagi tentang pendekatan diferensiasi yang pernah saya implementasikan dalam pembelajaran sastra Bali di ruang kelas.
Pendekatan diferensiasi adalah pendekatan pembelajaran yang menyesuaikan dengan minat, kesiapan belajar, dan profil belajar siswa. Pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra memungkingkan siswa untuk mengonstruksi pengetahuan dalam berbagai aktivitas pembelajaran dan menampilkan apa yang telah ia pelajari dalam berbagai bentuk. Seperti, teks puisi, cerita, gambar, komik, musikalisasi puisi, pembacaan puisi, dan bercerita.
Hadiah Sastera Rancagé
Selesai seminar dilanjutkan dengan Pemasrahan Hadiah Sastra Rancagé tahun 2025. Yayasan Kebudayaan Rancagé memberikan hadiah ini sejak tahun 1989. Tahun ini adalah penghargaan yang ke-37 kalinya. Penerima hadiah Sastra Rancagé tahun ini yakni Hidayat Soesanto (sastera Sunda), St. Sri Emyani (sastera Jawa), Udo Z Karzi (sastera Lampung), Panusunan Simanjuntak (sastera Batak), dan satu penghargaan jasa diberikan kepada Us Tiarsa. Suatu keberuntungan saya turut menerima Rancagé untuk sastera Bali. Semoga amanah ini dapat saya tunaikan dengan penuh tanggung jawab dan berkelanjutan.

Penerima Hadiah Sastera Rancagé | Foto: Dok. penulis
Penghargaan ini digagas oleh Ajip Rosidi—sastrawan dan budayawan Indonesia sekaligus pendiri Yayasan Kebudayaan Rancagé. Sastera daerah tetap berdenyut hingga saat ini tentu salah satunya berkat perjuangan Beliau menjaga nafas sastera daerah melalui Yayasan Kebudayaan Rancagé.
“Kalau kita kehilangan bahasa Ibu, lidah kita yatim piatu,” kata M. Aan Mansyur dalam sebuah diskusi sastra.
Perjuangan Ajip Rosidi patut dijadikan inspirasi. Sekecil apapun hal-hal baik untuk pelestarian dan pengembangan sastra daerah perlu dilakukan agar anak-anak tidak kehilangan bahasa daerah, bahasa Ibu, sehingga lidah mereka tidak yatim piatu. [T]
Penulis: Komang Sujana
Editor: Adnyana Ole



























