MENAPAKI bulan Mei 2025, Desa Adat Ubud kembali menggeliat dengan gelaran upacara tradisi. Ragam upacara tradisi menjadi satu kekayaan dan daya tarik tersendiri bagi Desa Ubud. Di balik gemerlap industri pariwisata, sejumlah krama atau warga adat Ubud Kaja berkumpul ngayah menyiapkan upakara upacara tradisi yang bernama Atiwa Tiwa Kinembulan atau yang lebih akrab disebut ngaben massal.
Point penting dalam persiapan upacara ngaben massal ini adalah terletak pada proses kerja yang dilandasi konsep ngayah. Ngayah merupakan konsep kerja yang penuh dengan pengabdian dan dilandasi rasa tulus iklas. Dengan landasan ini mereka bahu-membahu mengerjakan segala keperluan upakara dengan semangat kekeluargaan. Kegiatan ngayah persiapan upacara ngaben massal krama Ubud Kaja dipusatkan di Bale Banjar Adat Ubud Kaja. Bale banjar adat ini berada di jantung pariwisata Ubud, sekitar 600 meter ke arah utara dari Jalan Raya Ubud, melintasi Jalan Kajeng, jalan kecil nan indah dengan panel-panel beton bertulis.
Tradisi upacara ngaben dilakukan sebagai ungkapan bhakti dan cinta kasih yang mendalam terhadap leluhur. Suatu kewajiban suci sang anak atau paratisentana yang harus ditempuh, dan dilaksanakan untuk mengantarkan leluhur (sang pitara) ke sunia loka, bersatu dengan Sang Hyang Sangkan Paraning Dumadi.
Pelaksanaan ngaben atau yang disebut sebagai atiwa-tiwa sejak dahulu hingga saat ini masih berlangsung sebagaimana mestinya serta tidak terlepas dari sastra dresta dan desa kala patra yang berlaku di masing-masing wilayah di Bali. Dalam pelaksanaan ngaben yang menjadi ritus keberagamaan umat Hindu di Bali membutuhkan sarana banten sebagai salah satu simbol perwujudan ajaran agama Hindu.

Krama Lanang Banjar Adat Ubud Kaja ngayah membuat katik sate dari bahan bambu di Bale Banjar Ubud Kaja | Dok. Tim Media Ubud Kaja
Dalam lontar yajna prakrti disebutkan bahwa “sehananing bebantenan pinaka raganta twi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka Anda Bhuwana”. Artinya, kesemua yang disebut sebagai banten adalah lambang atau simbol diri sendiri, lambang atau simbol kemahakuasaan Tuhan dan lambang atau simbol bhuwana atau isi seluruh alam semesta. Penejelasan ini menunjukkan ketegasan posisi banten sebagai sarana untuk mewujudkan nilai dari suatu yadnya sebagai landasan umat/krama dalam mengaktualisasikan sraddha dan bhakti ke hadapan Tuhan, serta mengabdi dengan sesama manusia dalam wujud kolektif dalam rangka mewujudkan kesejahteraan semesta.
Dalam pelaksanaan ngaben sendiri kehadiran banten menjadi sangat vital. Selanjutnya jika upacara ngaben telah terlaksana, maka akan dilanjutkan dengan tahapan upacara pitra yadnya berikutnya yakni prosesi upacara atma wedana atau upacara penyucian roh.
Kinembulan berasal dari kata “kembul” yang memiliki arti bersama-sama atau bareng-bareng. Menyematkan kata “kinembulan” dalam hajatan ritual ngaben menunjukkan kepastian bahwa upacara yang diselenggarakan oleh Desa Adat Ubud tersebut dilaksanakan secara bersama-sama. Kebersamaan yang dimaksud tentu diilhami dari sebuah kesadaran bahwa masyarakat tumbuh dan berkembang dalam bingkai masyarakat sosial religious bernafaskan semangat kesamaan asal usul dan kesamaan ikatan tradisi.
Upacara ngaben kinembulan seperti yang dilaksanakan di Banjar Ubud Kaja merupakan sebuah konsep ngaben yang dilandasi semangat gotong royong dan kebersamaan yang telah diwariskan secara turun temurun. Menurut ingatan tetua Banjar Ubud Kaja, ngaben masal di Desa Ubud pertama kali digagas oleh para sesepuh Banjar Adat Ubud Kaja. Kira-kira sekitar tahun 1960an, Banjar Ubud Kaja telah mencoba memulai format gelaran ngaben yang dilakukan bersamaan, dikerjakan bersama-sama dan dilandasi semangat gotong-royong.
Kala itu persiapan ngaben dan lokasi bale petak berada di Bale Banjar Ubud Kuna yang berlokasi sebelah barat Puri Kauhan. Kala itu ngaben massal menyertakan sawa I Nyoman Suweta dan I Made Kajeng, dan I Sunia, yang merupakan tokoh dan pejuang kemerdekaan asal Banjar Ubud Kaja, yang kini diabadikan menjadi nama Jalan Suweta, Jalan Kajeng dan Jalan Sunia yang saat ini menjadi Jalan Mongkey Forrest. Melalui gagasan berani dan visioner tersebut, ngaben massal di desa adat Ubud mulai populer dan menjadi tradisi yang berlangsung secara periodik hingga sekarang.
Upacara atiwa-tiwa kinembulan Desa Adat Ubud terbagi atas empat kelompok yang mengacu dari empat banjar adat yang ada di Desa Adat Ubud, yaitu kelompok Banjar Adat Ubud Kaja, Ubud Kelod, Sambahan dan Ubud Tengah. Pada tahun 2025 ini kelompok Banjar Ubud Kaja menyertakan 18 sawa atau 18 anggota keluarga yang akan diupacarai. Persiapan upacara melibatkan seluruh elemen masyarakat adat Ubud Kaja. Di dalamnya dikenal istilah: penangga atau keluarga yang memiliki sawa; prajuru adat atau pengurus adat; krama banjar adat atau anggota banjar adat yang terdiri atas krama lanang (laki-laki) dan krama istri (wanita), serati atau orang yang memiliki keahlian dalam membuat perlengkapan upacara khususnya banten dan sesaji; welaka, sebagai orang yang dianggap memiliki pemahaman tata upacara dan agama.


Krama Istri Banjar Adat Ubud Kaja ngayah membuat sarana upacara dari rangkaian janur di Bale Banjar Ubud Kaja | Dok. Tim Media Ubud Kaja
Persiapan upacara atiwa tiwa kinembualan atau ngaben massal di Banjar Adat Ubud Kaja diawali melalui paruman krama banjar atau pertemuan adat yang dilaksanakan pada Sabtu (Saniscara Umanis) tanggal 24 Mei 2025. Paruman ini dipimpin oleh prajuru (pengurus) banjar adat dan prajuru Desa Adat Ubud Kaja serta seluruh krama Banjar Adat Ubud Kaja. Dalam suasana penuh kekeluargaan mereka menggelar paruman yang menjadi pijakan awal dari rangkaian panjang prosesi sakral ini.
Selain ngayah berupa kerja fisik dalam menyiapkan berbagai keperluan upacara, penting juga dikemukakan terdapat antusias yang besar oleh krama dan warga setempat dalam menghaturkan dana punia atau menyumbang berupa uang dan barang. Dana ratusan juta berhasil terkumpul menjadi bukti kuatnya konsep gotong-royong dalam upacara ngaben kinembulan di Banjar Adat Ubud Kaja tahun 2025. Sumbangan ini tidak hanya berasal dari krama banjar tetapi juga datang dari berbagai pihak seperti pemerintah daerah, pengusaha dan wisatawan asing juga turut serta menunjukkan rasa kepedulian terhadap pelestarian tradisi.
Sejak tanggal 25 Mei 2025 (Redite-Paing) sampai 26 Mei (Soma-Pon), semangat gotong royong mulai terlihat nyata. Berlokasi di Bale Banjar Ubud Kaja, penangga lanang dan istri mengawali kegiatan ngayah dengan melakukan bersih-bersih dan menyiapkan tempat yang akan digunakan untuk bekerja atau ngayah.
Pada tanggal 29 mei 2025 (Wrespati-Umanis), krama banjar lanang tedun atau hadir ngayah di Bale Banjar. Mereka dengan penuh semangat bergotong royong menyiapkan tempat untuk menaruh sarana upacara.
Dari tanggal 30 Mei hingga 2 Juni para serati yang didampingi oleh para penangga, melakukan ngayah membuat sarana upacara yang disebut sanganan catur. Berikutnya pada tanggal 3 Juni 2025, kegiatan ngayah dilakukan oleh krama banjar lanang. Mereka hadir ke Bale Banjar, ngayah, membuat berbagai kelengkapan sarana upacara termasuk di dalamnya adalah penusangan atau tempat untuk memandikan sawa.
Selanjutnya selama tiga hari, kegiatan ngayah dilakukan oleh krama istri atau warga adat perempuan dan para serati. Ngayah krama istri ini dibagi berdasarkan tempek atau kelompok, yaitu tempek kaja kangin, tempek kaja kauh, tempek babakan. Krama istri ini bekerja menata berbagai unsur-unsur upakara menjadi satu rangkaian banten yang disebut metanding dan nyoroh. Mereka dengan cekatan dan penuh rasa kebersamaan ngayah metanding banten caru darpana dan nyoroh tumpeng solas. Kegiatan metanding dan nyoroh dilanjutkan kembali oleh penangga dan serati hingga tanggal 13 Juni 2025.
Krama banjar lanang (warga laki-laki) kembali tedun (turun) untuk ngayah menyiapkan bale petak. Bale petak merupakan bangunan yang menjadi tempat pelaksanaan prosesi ritual ngaben. Lokasi petak di sebelah Timur Pura Prajapati desa adat Ubud. Pengerjaan bale petak dilakukan selama tiga hari, dengan rincian hari pertama didahului oleh tutus atau krama yang diutus atau dipilih secara khusus oleh Kelihan atau Prajuru Banjar Adat yang memiliki pemahaman dan keahlian dalam bidang bangunan. Hari kedua dihadiri oleh seluruh krama banjar, dan hari terakhir kembali dikerjakan oleh tutus serta panitia bangunan.
Hal yang istimewa adalah keterlibatan dan peran serta para pemuda-pemudi Banjar Ubud yang tergabung dalam Sekaa Teruna Teruni Santi Graha Ubud Kaja (SGUK), dengan penuh dedikasi turut ngayah khususnya mengerjakan dekorasi, hiasan pada bale petak sehingga terlihat indah dan asri.

Krama Lanang Banjar Adat Ubud Kaja ngayah membuat menyiapkan sarana upacara (Panusang) di Bale Banjar Ubud Kaja | Dok. Tim Media Ubud Kaja
Selanjutnya pada tanggal 29 Juni hingga 30 Juni, krama banjar lanang dan para penangga melakukan kegiatan meolahan. Meolahan dapat diartikan sebagai kegiatan memasak atau mengolah makanan dalam porsi besar yang dilakukan secara bersama-sama. Jenis makanan yang dibuat biasanya sate lilit, lawar dan lain-lain. Meolahan ini bertujuan untuk membuat seperangkat masakan tradisional yang dikenal dengan istilah perangkat untuk diberikan sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada mereka yang telah berperan serta berpartisipasi dalam mensukseskan proses persiapan upacara ngaben. Meolahan juga dilakukan untuk mempersiapkan sarana upakara yang disebut ulam banten.
Pada kesempatan ngayah meolahan yang dilakukan pada tanggal 29 Juni ini, prajuru banjar adat melibatkan tenaga kesehatan yang berasal dari Banjar Ubud Kaja melakukan ngayah bhakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis. hal ini disambut dengan sangat antusias oleh krama yang sedang ngayah di Bale banjar. Di tengah kegiatan ngayah yang cukup padat, bergilir mereka menyodorkan diri untuk diperiksa kondisi kesehatan tubuh. Pengecekan tensi dan pemberian vitamin cukup dapat menghadirkan rasa tenang dan meningkatkan daya tahan tubuh dalam menghadapi kerja ngayah yang panjang.
Ngaben kinembulan Banjar Adat Ubud Kaja, bukan sekedar dapat dipandang sebagai tradisi berupacara, tetapi lebih dari itu, ia menjadi wadah yang menyatukan keluarga, membangun kebersamaan, dan meneguhkan kembali nilai-nilai spiritual dalam kehidupan bermasyarakat melalui laku ngayah. mmoment seperti ini menjadi satu potret dalam memandang wajah banjar adat Ubud Kaja, wajah tradisi di tengah gemerlap industri Pariwisata Ubud. Menjadi tempat dimana tradisi bukan hanya dijaga, tetapi juga dihayati. [T]
Penulis: Agus Eka Cahyadi
Editor: Adnyana Ole



























