DI sebuah sudut jalan sempit, di antara tembok abu-abu yang lapuk dan papan reklame rokok yang setengah robek, seekor anjing duduk dengan tenang. Matanya menghadap kamera, tapi sorotnya tidak menuntut apa-apa. Hanya tatapan pasrah dari makhluk yang terlalu akrab dengan dunia luar yang keras. Ia bukan liar sepenuhnya, juga bukan peliharaan dalam arti penuh. Seperti banyak anjing lain di Bali, ia hidup di antara dua dunia; dipelihara namun dibiarkan, dicintai namun diabaikan.
Anjing seperti ini sering kita jumpai di Bali, terutama di depan warung makan. Mereka duduk diam, kadang meringkuk di pojok, kadang menatap penuh harap ke arah meja pengunjung yang sedang makan. Mereka bukan mengemis. Mereka menunggu. Ada sesuatu dalam tatapan mereka yang seolah berkata: “Aku tahu tidak semua manusia kejam. Mungkin kau, ya, mungkin kau akan memberiku sepotong daging, sisa tulang, atau nasi sisa.”
Fenomena ini bukan hal baru. Dalam masyarakat Bali, anjing adalah makhluk yang akrab. Bahkan dalam struktur rumah tradisional Bali, kita biasa menjumpai anjing duduk di bale, atau tidur di pojok pekarangan, atau melongok dari balik pagar saat ada tamu datang. Mereka bukan sekadar penjaga rumah. Dalam banyak kasus, mereka juga bagian dari keluarga. Mereka diberi nama, kadang diajak bicara seperti anak kecil. Namun hubungan ini tidak selalu menjamin mereka mendapatkan perhatian yang layak, terutama dalam hal makanan dan perawatan.
Inilah paradoksnya: dalam budaya Bali, khususnya dalam narasi Hindu, anjing menempati posisi yang cukup sakral. Kisah Mahabharata mengabadikan simbolisme ini. Yudisthira, raja yang bijak dan adil, digambarkan menuju surga dengan ditemani seekor anjing. Ketika para dewa menolak membiarkan anjing itu ikut, Yudisthira pun menolak masuk surga. Kesetiaan anjing, dan pengakuan Yudisthira atas nilai makhluk itu, menjadi cermin moral, bahwa kemuliaan tidak hanya milik manusia, tapi juga makhluk lain yang hidup bersama kita.
Namun dalam praktik keseharian, kita menyaksikan kontras yang mencolok. Anjing-anjing yang hidup di lingkungan kita sering tampak kurus, penuh luka, bulu rontok, atau pincang karena tertabrak kendaraan. Mereka bertahan hidup dari belas kasihan orang, dari sisa-sisa yang dibuang, atau dari naluri bertahan hidup yang terus diasah oleh kerasnya jalanan.
Sebagian dari kita mungkin berpikir, “Tapi mereka sudah punya tuan.” Ya, betul. Banyak anjing yang tampak liar sebenarnya memiliki pemilik. Tapi kepemilikan di sini tidak selalu berarti tanggung jawab. Kadang anjing itu diberi makan sehari sekali, kadang tidak sama sekali. Mereka dibiarkan berkeliaran, mencari sendiri, menjadi bagian dari pemandangan umum yang makin lama makin kita anggap biasa.
Apakah ini salah sepenuhnya? Tidak juga. Banyak keluarga Bali hidup dalam keterbatasan. Memberi makan manusia saja susah, apalagi hewan peliharaan. Maka yang dilakukan adalah merawat sebisa mungkin, dengan segala kekurangan. Anjing-anjing itu tetap diberi tempat di pekarangan, tetap diajak bicara, tetap dipanggil dengan nama, meski tidak dimandikan sebulan sekali atau diberi vaksin. Mereka tidak ditelantarkan dengan sengaja, tapi juga tidak diurus sepenuhnya.
Namun kenyataan ini tidak lantas menghapus kegelisahan. Ada kebutuhan untuk meninjau ulang relasi kita dengan hewan-hewan yang hidup berdampingan dengan kita. Terutama di tengah makin berkembangnya kesadaran akan kesejahteraan hewan. Apakah kasih sayang tanpa perhatian cukup? Apakah budaya dan spiritualitas bisa tetap kokoh jika tidak tercermin dalam tindakan nyata sehari-hari?
Barangkali sudah saatnya kita menggeser cara pandang, yakni dari sekadar memiliki, menjadi merawat. Dari sekadar mengasihi secara simbolik, menjadi peduli secara praktis. Kita tidak harus menjadi kaya untuk memberi makan anjing yang kita pelihara. Sedikit sisa nasi, sedikit air bersih, bahkan waktu untuk menyapanya bisa menjadi bentuk perawatan yang berarti. Kita tidak perlu menjadi aktivis hewan, cukup menjadi manusia yang tidak membiarkan makhluk lain menderita dalam diam.
Foto anjing yang duduk tenang di trotoar ini adalah potret yang jauh dari dramatis. Ia tidak berdarah, tidak kelaparan sampai tulang rusuk terlihat. Tapi justru dalam ketenangan itulah terasa kedalaman. Ia hidup di ambang, antara peliharaan dan liar, antara diperhatikan dan diabaikan, antara menjadi bagian dari rumah atau hanya pengikut jejak bau dapur.
Saya teringat satu percakapan dengan seorang teman, orang Bali, yang taat beragama. Ketika saya tanya mengapa anjingnya sering terlihat di jalan, ia menjawab, “Dia suka keluyuran. Tapi dia pasti pulang kalau lapar.” Saya sempat diam. Pulang karena lapar, bukan karena dipanggil atau diajak bermain. Anjing itu pulang untuk bertahan hidup, bukan untuk merasa aman. Bukankah ini seperti relasi transaksional, bukan relasi kasih?
Kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita masih belajar. Budaya yang panjang dan kaya seperti budaya Bali tidak selalu berjalan seiring dengan kesadaran kesejahteraan hewan. Tapi budaya juga bukan sesuatu yang kaku. Ia bisa tumbuh, berubah, dan belajar. Kisah Yudisthira dan anjingnya bukan sekadar kisah lama untuk diperingati, tapi cermin untuk direnungi, bahwa, apakah kita sudah cukup layak disebut manusia mulia jika tidak bisa memperlakukan makhluk lain dengan layak?
Anjing-anjing jalanan di Bali adalah saksi bisu dari masyarakat yang sedang bergumul dengan identitasnya—antara adat dan modernitas, antara spiritualitas dan realitas ekonomi. Mereka adalah bagian dari wajah Bali yang tak tertulis dalam brosur pariwisata, tapi hidup di antara kita. Mereka adalah pengingat, bahwa dalam keindahan dan harmoni yang sering kita banggakan, ada makhluk-makhluk kecil yang menunggu sepotong perhatian.
Dan mungkin, suatu hari nanti, anjing-anjing itu tak lagi harus duduk di pinggir trotoar, menunggu belas kasihan. Mungkin mereka akan duduk di bale rumah, perut kenyang, tubuh bersih, dan mata tenang. Bukan karena mereka anjing Bali, tapi karena mereka makhluk hidup—dan kita, manusia, akhirnya memahami apa artinya berbagi dunia dengan mereka. [T[
Denpasar, Agustus 2025
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


























