“Sanghe Shakti Kaliyuge – Dalam zaman penuh kekacau ini, hanya semangat kebersamaan dan persatuan yang menjadi kekuatan kita.”
– Swami Vivekananda
Pengantar
Pulau Bali, yang selama ini dielu-elukan sebagai “Pulau Dewata”, tengah menghadapi ancaman nyata, bukan dari senjata atau pasukan asing, melainkan dari dominasi modal, infiltrasi budaya, dan perpecahan internal. Sayangnya, banyak generasi muda justru sedang terbuai oleh mimpi semu: hidup nyaman, glamor, viral, dan sukses secara instan. Padahal, di balik kemilau Bali yang tampak di media sosial, ada gejolak serius yang mengancam keberlangsungan jati diri Bali sebagai pusat spiritualitas nusantara.
Bali di Ambang Kehilangan Jiwa
Hari ini, Bali tak lagi hanya dihuni oleh umatnya, namun juga oleh mereka yang datang membawa uang dan ambisi, membeli tanah, membangun imperium pribadi, lalu perlahan mendikte budaya lokal. Salah satu kelompok yang banyak disebut dalam perbincangan publik oleh masyarakat adalah “mafia Rusia” — simbol dari kekuatan asing yang kini menguasai lahan, mengubah wajah desa, dan menjadikan Bali sebagai panggung eksklusif untuk segelintir elite global.
Kompas, 3 Februari 2025 dalam artikel Cikal Bakal Mafia Rusia di Bali mengungkapkan, mereka berkelompok, berbisnis, menguasai properti, membentuk jaringan, dan “membina hubungan” dengan masyarakat yang rentan korupsi. Kriminolog dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala yang dihubungi pada Minggu (2/2/2025) berpendapat, peristiwa penculikan dan perampokan oleh geng yang didominasi WNA Rusia tidak bisa dianggap kejadian kriminal biasa, apalagi dianggap sebagai gangguan ketertiban umum. Ini kejahatan serius.
Dan tentu saja ancaman besar bagi Bali
Pertanyaannya: di mana posisi anak-anak muda Bali hari ini?
Apakah hanya sebagai pelayan pesta pora? Atau sebagai penonton yang bertepuk tangan menyaksikan tanah kelahirannya berubah jadi komoditas?
Dresta vs Sampradaya: Konflik yang Sengaja Diciptakan
Seiring makin kuatnya kekuatan luar, terjadi pula perpecahan di dalam. Perselisihan antara dresta (tradisi lokal) dan sampradaya (spiritual lintas budaya) makin diperuncing seolah-olah itu konflik besar. Padahal, secara substansi, keduanya mengajarkan hal yang sama: menegakkan dharma, menjaga keseimbangan, dan menyucikan jiwa. Saat ujian terbuka di kampus UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar 17 Juli 2025 lalu, Bapak Made Mangku Pastika sempat juga mengutarakan kegaluannya atas dikotomi Dresta-Sampradaya ini yang menjadi latar belakang disertasi beliau.
Sebagai penerus Sanatana Dharma, kita semua hendaknya memahami bahwa perbedaan hanya pada kemasan, bukan isi. Tapi celakanya, kita mudah terprovokasi, mudah diadu domba.
Siapa dalangnya? Siapa yang untung bila kita sibuk bertengkar?
Mereka adalah “nakhoda gelap di atas sana” — reinkarnasi dari kekuatan yang dulu menghancurkan Majapahit dari dalam dan luar.
Belajar dari 1995/1996: Ketika Kita Bersatu, Kita Menang
Masih segar dalam ingatan sejarah Bali tahun 1995/1996. Kala itu, pemerintah pusat Orde Baru hendak menggusur Pura Rawamangun. Tapi masyarakat Bali — umat Hindu, anak muda, akademisi, para pemuka adat dan agama, awak media serta seluruh elemen masyarakat — bersatu. Saya menyebutnya 5A: Anak muda, Akademisi, Adat, Agama, Awak Media. Dua hari berturut-turut kita bersama membahas strategi yang tepat untuk menghadang kekuatan besar itu. Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, bersama 14 tokoh lainnya, terbang ke Jakarta. Mereka tak membawa amarah, tapi membawa keyakinan dan keteguhan batin. Hasilnya? Rencana penggusuran dibatalkan.
Hari ini, tokoh-tokoh besar seperti beliau mungkin telah tiada. Tapi semangatnya belum padam — kita yang muda mesti meneruskannya.
Dua saksi hidup yang saat itu ikut ke Jakarta masih ada di Bali. Namun karena kini telah menduduki kursi nyaman, tentu perspektifnya berbeda. Bukan berarti mereka tak lagi peduli — mungkin hanya perlu diingatkan kembali bahwa sejarah tak boleh dilupakan, dan kenyamanan jabatan bukan alasan untuk menunda keberpihakan pada dharma.
Kita Harus Berhenti Bermimpi dan Mulai Bergerak
Mimpi jadi YouTuber sukses, selebgram terkenal, atau pengusaha vila mungkin tampak menarik. Tapi apa artinya sukses di atas tanah yang sudah bukan milik kita sendiri? Apa artinya viral jika nilai luhur kita perlahan punah?
Kita tak perlu menjadi ekstremis. Tapi kita perlu menjadi pelindung budaya.
Kita tak harus menolak semua yang datang dari luar, tapi kita harus tahu batasnya.
Apa yang Bisa Dilakukan Anak Muda Bali?
- Kembali pada Jati Diri
Pahami bahwa menjadi orang Bali bukan sekadar mengenakan udeng atau sarung saat upacara. Dharma sebagai inti ajaran leluhur harus dihayati, bukan hanya dihafal. Kita perlu belajar langsung dari teks-teks suci maupun para guru sejati yang tidak menjual ajaran demi popularitas. Spiritualitas Bali bukan untuk dipertontonkan, tapi untuk membentuk karakter luhur dan ketahanan batin. Bila jati diri hilang, kita hanya jadi turis di tanah sendiri. - Rawat Tanah Leluhur
Tanah bukan sekadar benda mati. Dalam pandangan Hindu, tanah adalah ibu (Ibu Pertiwi) yang wajib dihormati. Banyak kasus di mana tanah adat dan pertanian produktif dijual murah untuk pembangunan vila asing. Anak muda perlu terlibat aktif dalam gerakan advokasi dan edukasi hukum tanah, mendukung perda perlindungan lahan, serta menciptakan model ekonomi lokal yang tidak bergantung pada penjualan aset. - Bangun Ekonomi Kerakyatan
Jangan hanya bangga kerja di vila mewah atau beach club milik asing. Jadilah pelaku ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dan nilai spiritual. Produk olahan hasil bumi, kerajinan, atau even spiritual tourism yang berakar pada budaya Bali jauh lebih bermartabat daripada sekadar jadi “waiter mewah” dengan gaji tinggi tapi tanpa kontrol atas nasib sendiri. - Media sebagai Senjata
Alihkan energi dari konten “prank”, “flexing”, dan “drama” ke hal yang mendidik dan membangkitkan kesadaran. Buat video tentang sejarah desa, tokoh spiritual, atau potensi budaya lokal. Gunakan TikTok, Instagram, dan YouTube sebagai alat perjuangan kultural dan pembentuk opini publik. Ingat, narasi bisa menyelamatkan atau menghancurkan — tergantung siapa yang mengendalikannya. - Satu Suara untuk Bali
Hentikan debat Dresta vs Sampradaya yang justru melemahkan barisan. Jangan terjebak pada simbolisme dan klaim kebenaran tunggal. Esensinya sama: dharma sebagai cahaya kehidupan. Jangan biarkan perbedaan tafsir dijadikan celah oleh kekuatan luar untuk memecah kita. Saat Bali menghadapi krisis identitas dan invasi modal, hanya suara yang padu bisa menjadi tembok pertahanan terakhir.
Penutup: Bali Menunggu Kesadaranmu
Bali sedang menanti: bukan generasi yang hanya pintar bicara, tapi berani bertindak dan berdiri untuk tanah leluhurnya.
Seperti kata Veda:
“Satyameva Jayate” – Hanya kebenaran yang akan menang.
Tapi kebenaran hanya bisa menang jika diperjuangkan. Kini waktunya kita semua bangkit — berhenti bermimpi semu dan mulai terjaga.
Bali bukan untuk dijual.
Bali untuk diwarisi dengan bijak dan dijaga dengan cinta. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























