Dalam dunia yang kerap membatasi siapa yang layak mencipta dan siapa yang hanya boleh menyaksikan, Bhumi Setara Art Festival memilih arah yang berbeda. Festival ini menolak pemisahan antara seniman dan audiens, antara mereka yang “mampu” dan mereka yang “berbeda”. Di ruang ini, semua suara dirayakan. Semua tubuh diterima. Semua ekspresi dianggap setara.
Dengan tajuk “Suara Sani: Merayakan Ragam Ekspresi dalam Seni Rupa Pertunjukan”, festival ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 9 Agustus 2025, pukul 15.00 hingga 21.00 Wita, di Living World Bali, Denpasar. Acara ini diprakarsai oleh pascasarjana program magister seni ISI Bali dalam mata kuliah manajemen seni dan mengusung semangat inklusi dalam seni. Biaya kontribusi yang ditetapkan sebesar Rp 20.000 sudah mencakup e-sertifikat, kudapan, alat mewarnai, serta pengalaman belajar langsung dari para seniman lintas disiplin.
Namun, Suara Sani tidak hanya menghadirkan pertunjukan. Ia merupakan sebuah peristiwa komunikasi. Festival ini menjadi upaya menghadirkan seni sebagai bahasa yang bisa dirasakan, diciptakan, dan dimaknai oleh siapa saja, tidak hanya mereka yang menyandang label “seniman”.

Konsep acara ini dikembangkan dari kesadaran bahwa tidak semua emosi atau pengalaman dapat disampaikan lewat kata. Beberapa hal hanya bisa muncul melalui gerak tubuh, visual, atau getaran suara. Dalam konteks inilah, seni berperan sebagai bahasa alternatif yang mampu menyambungkan rasa dan gagasan yang sulit dijangkau oleh bahasa verbal.
Suara Sani hadir untuk membongkar mitos bahwa hanya mereka yang terlatih yang berhak mencipta. Festival ini membuka ruang seluas-luasnya untuk siapa saja yang ingin ikut serta, tanpa syarat kemampuan teknis. Melalui rangkaian kegiatan, para peserta tidak hanya menonton, tetapi juga mengalami dan mencipta.
Ada tarian pembukaan dari Komunitas Larajiva serta Art Perfomance oleh Tim Bhumi Setara yang sekaligus membuka acara. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi Sharing & Discussion. Tiga seniman lintas disiplin diundang untuk membagikan perspektif mereka tentang seni sebagai bentuk komunikasi. Putu Wahyu Putra Sudianta, koreografer yang juga penyandang disabilitas, menghadirkan “Metode Gerak dalam Simbol Warna” yang mengajak kita memahami tubuh sebagai alat komunikasi visual yang kuat. Putri Intan Sari Dewi, perupa penyintas gangguan bipolar, mengangkat pengalaman emosionalnya dalam karya seni rupa yang menggetarkan. Sementara itu, Yessica Simanjuntak, seorang komposer perempuan, mempersoalkan relasi kuasa dalam dunia musik, terutama soal siapa yang diberi ruang untuk bersuara.
Diskusi ini dipandu oleh Hagriel Warista Sembiring dan Keristiani Br Keliat sebagai moderator, dengan Kadek Desi Nurani sebagai pembawa acara.
Usai diskusi, para peserta akan diajak mengikuti sesi workshop kolaboratif. Dalam kegiatan ini, para seniman tidak hanya tampil tetapi juga memfasilitasi proses penciptaan bersama. Peserta akan diajak merespons tema gerak, rupa, dan suara, lalu mengolahnya menjadi karya seni kolektif. Inilah momen di mana Bhumi Setara mewujudkan cita-citanya: memberikan ruang bagi siapa saja, apapun latar belakangnya, untuk mencipta. Tidak ada karya yang terlalu sederhana atau terlalu rumit. Yang dihargai adalah proses yang jujur dan keberanian untuk hadir.

Seniman yang terlibat dalam Bhumi Setara Art Festival
Sebagai penutup, hasil workshop akan disajikan secara spontan dalam sesi presenting yang digelar di sisi Timur area acara. Timur dipilih sebagai simbol datangnya cahaya dan awal yang baru. Di sana, karya-karya partisipan akan ditampilkan sebagai bukti bahwa seni bisa menjadi bahasa yang menyinari pengalaman batin manusia. Presentasi ini menjadi puncak festival yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga merayakan kebersamaan dalam penciptaan.
Untuk memperluas dampak festival, Suara Sani juga mengadakan Lomba Mini Vlog Bhumi Setara. Peserta diajak membuat vlog pendek sepanjang acara berlangsung. Kegiatan ini tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga bentuk arsip kreatif yang dapat dibagikan ke audiens yang lebih luas melalui media sosial. Vlog-vlog ini menjadi wajah hidup dari Bhumi Setara, serta perpanjangan suara-suara yang sebelumnya tak terdengar.
Suara Sani bukan sekadar acara seni. Ia merupakan ruang bersama yang menghargai keberanian, mendengar mereka yang kerap diabaikan, dan merayakan keragaman ekspresi. Di festival ini, tubuh tidak dinilai dari bentuknya, suara tidak dinilai dari nadanya, dan karya tidak diukur dari tekniknya. Yang utama adalah kejujuran dalam menyampaikan rasa.
Di tanah yang setara, semua layak bersuara. Di Bhumi Setara, seni bukan milik segelintir orang, melainkan milik kita semua. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























