UNTUK pertama kalinya, siswa SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Isaura Henin Serafina, mampu menebus beasiswa dunia melalui Yayasan Bina Budaya. Ia berhasil lolos seleksi superketat yang diikuti oleh pelajar SMA seluruh Indonesia dan diberangkatkan ke Jepang bersama 10 siswa pada Agustus–Desember 2024. Bonusnya pun ia rasakan atas kebijakan Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan memberikan relaksasi pembelajaran semester III saat ia mengikuti program “Pertukaran Pelajar”.
“Saya berterima kasih kepada Kepala Sekolah yang menjadi motivator sekaligus role model hingga sampai pada tahap ini. Saya diberikan menempuh pembelajaran secara daring di sela-sela kesibukan menyiapkan diri berangkat ke Jepang,” kata Isaura.
Pun, lanjutnya, setelah tiba di Indonesia menjelang pembagian, Isaura diberikan waktu menuntaskan Program Pembelajaran sebulan setelah Tahun Baru 2025. “Syukur saya bisa menuntaskan dalam waktu yang tepat sehingga pada semester IV bisa belajar bersama teman sekelas. Jadi, Pertukaran Pelajar ke Jepang tidak mengganggu studi. Saya juga tidak mengambil cuti,” ujarnya.

Isaura Henin Serafina, siswa berprestasi SMAN 2 Kuta Selatan
Isaura mendapatkan informasi beasiswa ini melalui media sosial Quora yang dijelajahi secara mandiri. Sebagai pecinta buku, ia terinspirasi dari tulisan-tulisan orang hebat Indonesia di Quora. Dari tulisan itu, “Saya bercita-cita menjadi Duta Indonesia untuk mempromosikan berbagai kekayaan alam, budaya dan tradisi yang adiluhung. Tulisan inspiratif mereka di Quora telah mengubah pemahamanan saya tentang dunia. Begitulah hebatnya tulisan,” kata Isaura penuh semangat.
Tak berlebihan bila Gus Dur, mantan Presiden RI, mengatakan, berubah pemahamannya pada agama Islam setelah membaca cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. Pengakuan Gus Dur itu adalah bukti pentingnya literasi untuk memahami hidup dan kehidupan secara mendalam dan komprehensif sesuai dengan semangat deep learning yang terus digemakan sejak Prof. Abdul Mu’ti menjadi Mendikdasmen.
Keberhasilan Isaura meraih beasiswa Pertukaran Pelajar ke Jepang sebenarnya juga berkat ketekunannya merawat pohon literasi. Kecintaannya terhadap buku sudah dimulai sejak SD. Ia juga aktif menulis esai di Quora sejak usia 13 tahun.
“Saya aktif menulis esai di Quora unuk berbagi ilmu ‘Tips dan Trik Belajar Juara Umum SMP’ dan menuai ratusan ribu views dan respon positif dari warganet. Beberapa di antaranya profesor, penulis terbaik Quora, dan alumni universitas ternama,” tulis Isaura via chat WA.
Pada masa Pandemi Covid-19, Isaura mengaku menghabiskan waktu luang dengan belajar Bahasa Jepang dan menggambar digital melalui ponsel jadul dan jari seadanya secara otodidak. “Saya menyadari banyak anak SMP ingin bisa bahasa asing tetapi kesulitan belajar mandiri,” tambah Isaura yang mengaku memiliki kesadaran belajar dari motivasi intrinsik.
Dalam konteks ini, pembelajaran mendalam (deep learning) telah dilakoni oleh Isaura secara berkesadaran (mindful learning), bermakna (meaningful learning) dan menggembirakan (joyful learning). Pendekatan belajar inilah yang membuatnya kasmaran belajar dengan semangat menyenangkan seperti yang digagas Ki Hadjar Dewantara di Perguruan Tamansiswa.

Isaura berpose di sebuah tempat di Jepang
Taman indah yang inspiratif karena warganya menjaga, merawat, menyiangi, memupuk bibit aneka hingga bunga-bunga indah bermekaran dengan buah ranum buat persembahan bagi Indonesia Emas 2045.
Selama di Jepang, Isaura memanfaatkan kesempatan dengan baik. Ia memperkenalkan Indonesia di mata dunia dengan menarikan tari Bali. Lalu, presentasi di hadapan ratusan orang mancanegara, dan bercerita tentang Indonesia yang kaya dengan keragaman budayanya. Lebih-lebih Bali yang sudah terkenal di mancanegara.
Pidatonya di sekolah di Jepang ternyata menyedot perhatian media Jepang. “Berkat pidato dan presentasi, saya diliput TV Nasional Jepang. Saya juga mendapat undangan pertama dari Kementerian Pendidikan Shizuoka dan belajar bersama dalam Seminar Selebriti Jepang Gyaru,” tulis Isaura via Chat WA.
Isaura juga mengaku, awalnya mengira mustahil untuk bisa belajar memanah (Kyudo) karena biayanya mahal. Namun, karena berhasil menjadi inspirasi bagi murid-murid dan guru di sekolah, ia diapresaiasi secara baik.
“Guru saya memberikan perlengkapan dan administrasi gratis sebagai hadiah. Beliau juga mengajak saya berlatih privat dan mendaftarkan lomba. Saya pun diikutkan berkompetisi bela diri kyudõ di Jepang,” tulis Isaura via chat WA sembari menyatakan kebanggaannya menjadi sukarelawan di kelas, ketika belajar.
Begitulah serunya belajar di Jepang, berinteraksi dengan murid Jepang plus bertemu dengan peserta Pertukaran Pelajar dari berbagai negara di dunia. Sesuai dengan misi Yayasan Bina Budaya, yang konsen dengan semangat Bhineka Tunggal Ika, berupaya memberikan karpet merah kepada para pelajar dari seluruh dunia untuk memahami pentingnya hidup berdampingan di tengah-tengah perbedaan.
Dengan memahami perbedaan sebagai kekuatan membangun kolaborasi saling mengisi kekurangan masing-masing, maka kerja sama dalam mewujudkan perdamaian dunia dapat diwujudkan. Bagi Indonesia, Program Pertukaran Pelajar ini adalah memenuhi janji kemerdekaan sesuai dengan tujuan negara khususnya mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut memelihara ketertiban dunia untuk perdamaian.

Isaura bersama teman-temannya di Jepang
Sebagai peserta Pertukaran Pelajar Indonesia-Jepang, tugas dan tanggung jawab Isaura tidaklah ringan. Ia harus menyampaikan pengalamannya di hadapan teman-teman dan para guru.
Setelah dari Jepang, kata Isaura, ia akan mempresentasikan pengalaman di depan kelas untuk berbagi pengalaman, pesan moral, dan pengetahuan. Isaura akan mengambil kebiasaan positif di Jepang dan berusaha menyebarkannya dengan berbagai saluran informasi. Ia juga akan menulis buku tentang pengalamannya agar bisa menginspirasi lebih banyak orang. Pengalaman mengikuti seleksi bersaing dengan orang-orang hebat seluruh Indonesia. Pengalaman mengikuti Program Pertukaran Pelajar ke Jepang dengan segala suka dukanya. Pengalaman setelah mengikuti Program Pertukaran Pelajar dan menyampaikan refleksi kepada teman-teman di sekolah.
“Buku yang saya tulis juga dilengkapi dengan komik tentang tips dan trik terkait edukasi untuk membagikan ide-ide kreatif kepada Gen Z melalui kanvas Line Webtoon English diperlombakan internasional,” aku Isaura dengan semangat.
Sekarang Isaura sudah kelas 12 dan menjadi duta SMA Negeri 2 Kuta Selatan dalam ajang Festival lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) bidang Poster dan Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi dengan semangat mengharumkan nama Toska.
Ke depan, Isaura ingin terus aktif di medsos untuk membagikan tips dan trik belajar dan menyebarteruskan best practice (pengalaman terbaiknya). Isaura telah menerjemahkan moto Wiweka Jaya Sadhu (arif bijaksana memenangkan persaingan berlandaskan kebudayaan bangsa) dalam aksi nyata. Aksinya selaras dengan Visi SMA Negeri 2 Kuta Selatan, “Terbentuknya komunitas pembelajar yang berkecerdasan, berbudaya, dan berdaya saing”.

Isaura saat belajar memanah dan bergaul antarbangsa di Jepang
Begitulah Isaura mewujudkan mimpinya dengan terus belajar, disiplin, menghargai waktu tanpa mengenal lelah. Ketika temannya bermain santai, ia malah sibuk dengan projek-projek yang segera harus dikelarkan. Semangat ini sesuai dengan disiplin orang Jepang pada umumnya: bekerja keras, disiplin, mandiri, menghargai pencapaian, humanis, juga peduli alam dan lingkungan.
Sebagai orang yang pernah seminggu belajar di Jepang pada Februari 2018, saya merasakan benar cerita pengalaman Isaura selama 4 bulan di Negeri Matahari Terbit yang juga dikenal dengan Negeri Sakura itu. Pengalaman itu juga mengingatkan pada disiplin yang diterapkan Jepang di tanah jajahannya, Indonesia selama 3,5 tahun.
Dengan halus Jepang menyindir manusia Indonesia, “Jika diminta memilih antara duduk dan berdiri, orang Indonesia memilih duduk. Jika diminta memilih antara berjalan dan berlari, orang Indonesia memilih berjalan”. Pernyataan itu menggambarkan mental orang Indonesia pada umumnya lembek. Bung Karno menyebutnya mental krupuk. Mental tempe.
Kini, mental demikian disebut sebagai generasi strawberry. Indah di permukaan, keropos di kedalaman. Jalan keluarnya adalah sungguh-sungguh menjadikan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat dengan guru di garda terdepan, sebagaimana dilakukan kaisar Jepang saat bom atom menghanguskan Hirosima dan Nagasaki.
“Berapa guru yang masih hidup ?” tanya Kaisar kepada prajuritnya. Mengapa guru? Karena dengan guru yang cukup secara kuantitas dan kualitas, kehancuran ini segera dapat dipulihkan. Tentara, dokter, bidan, perawat, insinyur, agamawan, pemimpin, anak-anak berkarakter, berdisiplin, dan berintegritas dapat dilahirkan.
Oleh karena itu, janganlah bergurau sebelum berguru. Ke Jepang kita berguru soal disiplin, integritas, dan karakter sebagaimana ditunjukkan Isaura Henin Serafina.
Selamat Isaura. Kau telah menunjukkan integritas walaupun harus kembali ke tanah air lebih cepat dari jadwal karena tidak tahan dengan cuaca ekstrem di Jepang. Namun, kau telah menuntaskan semua projek Pertukaran Pelajar ini dengan baik. Teruslah terbang tinggi seperti semangat elang rajawali tetapi tetap rendah hati.[T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto



























