DI tanah kelahiran saya, Bali, pariwisata tumbuh menjadi mesin ekonomi raksasa. Upacara keagamaan digelar dengan megah. Tapi di balik kemeriahan, ada sisi lain yang sunyi dan menyayat.
Saya pernah menyurvei beberapa lokasi lahan pertanian di Tabanan. Di setiap tempat—Selabih, Jelijih, Adeng, Tegaljadi—ceritanya serupa: tanah dijual karena ada kebutuhan mendesak, keempatnya mengaku untuk membiayai upacara ngaben. Sertifikat sudah digadaikan ke bank. Tradisi yang sakral berubah menjadi beban finansial. Dalam kasus kami, saya dan dua teman sesama pensiunan mendapatkan sebidang lahan seluas 2.135 meter persegi. Di depan, embung atau danau kecil memantulkan langit. Di sisi kiri, beji suci Panca Tirta. Di sisi kanan Pura Ulun Danu, dengan air terjun mengalir di bawahnya. Sungguh indah. Tapi diperoleh dari keterdesakan seseorang. Karena BUC: Butuh Uang Cepat.
Sementara itu, data dari Riskesdas 2018 dan Pusiknas Polri 2023 menunjukkan bahwa Bali termasuk provinsi dengan angka gangguan kejiwaan dan bunuh diri tertinggi di Indonesia. Prof. Luh Ketut Suryani, seorang psikiater terkemuka di Bali sekaligus praktisi meditasi, menyebut ini sebagai paradoks pariwisata: fisik dan bangunan budaya tampak utuh, tapi jiwa masyarakat rapuh.
Dunia yang Terbelah
Apa yang kita lihat di Bali sejatinya adalah potret mikro dari dunia. Agama begitu menonjol di ruang publik, tapi spiritualitas justru menghilang dari ruang batin.
Sindhunata mengutip Charles Kimball bahwa agama bisa menjadi sumber cinta kasih, tapi juga alat kekerasan ketika dikorupsi. Siti Musdah Mulia menyebut agama masa kini kian menjauh dari fungsi utamanya: membentuk manusia yang lebih manusiawi. Ulil Abshar-Abdalla menambahkan, agama tanpa spiritualitas menjelma dogma kaku tanpa nurani. Dan Romo Mangun menegaskan bahwa religiositas sejati lahir dari kedalaman batin, bukan hanya dari ritual dan simbol.
Guruji Anand Krishna selaras dengan semua ini. Baginya, spiritualitas adalah intisari agama. Beliau berkata: “Kita boleh saja berjubah manusia, namun jika kesadaran hewani yang muncul ke permukaan, kita tidak lebih baik dari binatang.” (Krishna, 2007)
Jalan Kesadaran
Dunia kita sedang sakit. Tubuh planet ini tergerogoti oleh keserakahan. Jiwa umat manusia didera kecemasan dan konflik. Yang kita butuhkan bukan lagi sekadar obat, tetapi kesadaran. Dan kesadaran itu tidak datang dari luar. Ia lahir dari dalam.
Para resi sejak zaman Upanishad telah mengajarkan tentang lima lapis kesadaran manusia—Pancamaya Kosha: tubuh fisik, energi (prana), gugusan pikiran dan perasaan, intelegensia atau buddhi, dan kebahagiaan sejati. Anand Krishna menerjemahkan ajaran ini menjadi sistem pemberdayaan diri yang holistik melalui yoga dan meditasi. Inilah sumbangan terbesarnya: menjadikan kebijaksanaan kuno sebagai jalan hidup modern.
Meditasi bukan sekadar teknik, tapi tujuan dari yoga itu sendiri. Dalam Yoga Sutra Patanjali, meditasi (dhyana) adalah angga atau bagian ketujuh menuju samadhi, the ultimate experience. Setiap bagian yoga semestinya dilakoni secara holistik. Tapi hari ini, yoga disempitkan jadi sekadar asana untuk kebugaran. Esensinya hilang.
Yoga dan meditasi seringkali dipisahkan seakan berbeda satu sama lain. Padahal dia adalah dua sisi dari satu coin yang sama. Dan seorang Meditator adalah juga seorang Yogi. Bhagavad Gita percakapan keenam disebut Dhyana Yoga, bagaimana kita dapat memisahkan keduanya?
Bhagavad Gita menyebut semua ajaran Krishna sebagai ajaran yoga. Bukan dalam arti sempit, tapi yoga sebagai penyatuan: dengan Diri Sejati, dengan sesama, dengan alam semesta. Swami Vivekananda berkata bahwa fanatisme agama telah merusak dunia. Guruji Anand Krishna menjawabnya dengan meditasi.
Menuju Harmoni Baru
Dunia baru tidak akan dibangun oleh sistem politik atau agama lama. Dunia baru akan lahir dari manusia-manusia baru—yang damai dalam diri, penuh cinta dalam hidup bersama, dan harmoni dengan dunia. Beyond Religion, begitu Yang Mulia Dalai Lama menyebutkan dan mengingatkan kita semua, “I am a man of religion, but religion alone cannot answer all our problems.” Namun tanpa perlu mengikuti jejak David Hawkins: saya kehilangan agama, tetapi menemukan spiritualitas (Hawkins, 2002)
Visi Guruji Anand Krishna bukanlah utopia. Ia adalah panggilan bagi kita semua. Untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Untuk menghidupkan spiritualitas, bukan sekadar mengamalkan agama. Untuk kembali ke dalam—dan dari situ, membawa damai keluar.
Inner Peace, Communal Love, Global Harmony. Itulah panggilan zaman. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole


























