“Sastra inilah yang menuntun agar apa yang dilaksanakan bermanfaat bagi orang lain,” kata Prof. Duija.
Prof. Duija yang dimaksud adalah Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. Dr. Drs I Nengah Duija, M.Si. Ia mengatakan kalimat itu saat membuka seminar bertajuk “Menelaah Sastra Hindu Nusantara Untuk Penguatan Sraddha”, yang diselenggarakan Yayasan Aksara Sastra Adhyatmika (Yasa), Minggu, 29 Juni 2025, di Pura Agung Jagatnatha, Singaraja.
Prof. Duija mengatakan, belajar menghargai sastra bukan saja menghargai karya seni biasa, tetapi sastra dalam konteks agama adalah seluruh tuntunan hidup yang terkait dengan kehidupan manusia Hindu adalah sastra.


Seminar bertajuk “Menelaah Sastra Hindu Nusantara Untuk Penguatan Sraddha”, yang diselenggarakan Yayasan Aksara Sastra Adhyatmika (Yasa), Minggu, 29 Juni 2025, di Pura Agung Jagatnatha, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son
Seminar itu menghadirkan tiga narasumber yang berkompeten di bidangnya; Made Susila Putra, Jro Gede Pastika, dan filolog Sugi Lanus. Seminar dihadiri oleh 70 peserta dengan latar belakang pemangku dan profesi lain di Buleleng.
Seminar ini bertujuan untuk memaknai kembali makna sastra secara mendalam, tidak hanya merawat sastra dalam lontar-lontar secara fisik.
“Ada rencananya ke depan bisa menjangkau kegiatan pinandita nasional, tidak terbatas hanya di Buleleng saja, sehingga literasi keagamaan ini bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat,” kata Putu Pertama Yasa, Ketua Yayasan Aksara Sastra Adhyatmika.
Sugi Lanus dalam seminar itu mengatakan, merawat lontar tidak cukup hanya menginterpretasikan, atau menyimpannya namun mengimplementasikannya di kehidupan sehari-hari. Hal itu berarti memasukan makna ke dalam tubuh.
Sebab, aksara adalah bahasa untuk memuat isi (sastra), dan bagaimana aksara itu dipahami, diinterpretasikan—diimplementasikan menjadi poin utamanya.
“Aksaranya itu adalah aksaranya, bentuk aksaranya, skrip. Kemudian di kontennya napi napi dagingnya. Oleh kebiasaan bahasa Bali disuruh bahasa Indonesia, apa isi daripada aksara itu? Sastra,” kata Sugi Lanus.
Jadi ketika membaca lontar, kata Sugi Lanus, kelihatan sudah aksaranya. Tapi kalau didalami, maka kita akan mendapat nilai sastranya. Jadi semua yang bisa dicatat, semua yang bisa dieksplorasi secara intelektual di dalam aksara itu.
“Nah, penyuluh bisa mendapatkan bisa merawat lontar-lontar, itu baru artefaknya, baru benda-bendanya itu. Lontar itu kebendaan daripada sastra, begitu, salah satunya,” ujar Sugi Lanus.
Tapi sastra yang dimaksud, kata Sugi Lanus, adalah memasukkannya ke dalam tubuh, di-install seperti komputer itu, ya, memasukkan program ke dalam tubuh, sehingga hidup.
“Nah pawintenan adalah salah satu dari kadhyatmikan praksis yang dibutuhkan oleh seorang pemangku,” kata Sugi Lanus.

Sugi Lanus (kiri) | Foto: tatkala.co/Son
Menurut Sugi Lanus, sekalipun paham tentang sastra dan aksara tetapi kalau tidak di-install, dimasukkan ke dalam badan, ida dane ane niki ten dados naik tuun, tidak boleh naik turun di Padma, santukan dereng setaradengan Padma.
“Boleh naik turun ke Padma, kalau sastranya, aksara sastra itu, bijinya di-winten, gitu. Winten itu permata. Kalau ring aksara mewasta permata nika bijah aksara gitu. Bijah aksara nika winten. Wintenan nika ngeranjing, memasukkan biji-biji aksara suci itu,” kata Sugi Lanus. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























