6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia yang Kehilangan Cermin

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 1, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, saya yakin,  kita pasti pernah memandangi sebuah foto dan merasa ikut merasakan keindahannya atau suasananya.  Bisa jadi itu foto seseorang berdiri di tengah keramaian stasiun, atau foto kita sendiri berpose di depan air terjun waktu sedang berwisata, atau tersenyum penuh harapan di depan rumah impian. Tapi kini, kita  tak yakin lagi, apakah foto-foto semacam itu nyata atau tidak. Karena di zaman kita yang serba canggih ini, satu hal sudah jelas, untuk menciptakan gambar tak lagi butuh kenyataan. 

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mampu menciptakan  citra manusia, tempat, suasana, bahkan emosi, dalam sekejap. Tanpa kamera, tanpa perjalanan, tanpa model sungguhan. Bahkan tanpa pernah mengalaminya. Dan ketika gambar foto realistik dibuat hanya dari teks, dunia mulai kehilangan salah satu hal yang paling fundamental dalam relasi sosial, yaitu kepercayaan pada visual. Hal ini juga berlaku untuk video, saudara-saudara. Dan kita semua bisa menyaksikan karya-karya itu di YouTube, TikTok dan sebagainya. Yang mereka bagikan bukan cerita kehidupan tapi berbagi prompt, dan untungnya mereka biasanya jujur kalau semua itu untuk hiburan belaka.

Krisis Kredibilitas Ketika yang Nyata Diragukan

Dulu, kamera adalah mesin waktu. Ia merekam momen, menyimpan kenangan, dan menjadi bukti bahwa seseorang pernah ada di suatu tempat, pernah bersama seseorang, pernah mengalami sesuatu. Namun kini, kita tak butuh kamera untuk menciptakan gambar. Cukup sebuah kalimat prompt, “perempuan muda duduk di samping jendela, cahaya pagi menyinari wajahnya, tampak tenang dan melankolis, latar belakang pedesaan yang asri”. Klik, enter. Dan jadilah sebuah foto yang lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Sebuah citra yang menyentuh, seolah-olah nyata. Tapi ia bukan foto. Ia bukan kenangan. Ia bukan kejadian. Ia murni fantasi visual.  Jean Baudrillard menyebut ini sebagai hiperrealitas.  Ketika simulasi tak lagi merepresentasikan realitas, tapi menjadi realitas baru yang lebih meyakinkan daripada aslinya.

Inilah paradoks zaman kita sekarang,  semakin canggih visual diciptakan, malah semakin meragukan. Dulu, foto adalah bukti. Sekarang, ia bisa jadi suatu kebohongan yang cemerlang. Dan yang menyakitkan, bahkan foto yang benar-benar kita buat dan nyata malah jadi dicurigai. Seorang teman yang memotret dirinya di  pedalaman Kalimantan bersama orang utan bisa ditanyai, “Eh, ini AI ya? Editan ya?”

Dalam jangka panjang, saya pikir ini  akan bisa menciptakan trauma kolektif  di bidang visual, bahwa yang benar tak lagi dipercaya, dan yang palsu jadi biasa. Dan ini menciptakan masalah yang jauh lebih dalam dari sekadar krisis estetika. Kita mulai tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Dan yang lebih parah, kita juga mulai tidak peduli.

Manusia dan Kebutuhan untuk Berbagi

Dalam psikologi sosial, manusia butuh membagi pengalaman untuk merasa hidup. Kita butuh orang lain untuk melihat apa yang kita lihat, merasakan apa yang kita rasakan. Itulah mengapa kita memotret, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk dunia sekitar kita.

Tapi ketika foto kita tak lagi dipercaya, pengalaman yang dibagikan pun jadi kehilangan maknanya. Kegembiraan  di puncak gunung berubah jadi sepi. Timbul keresahan dalam hati, untuk apa aku membagikannya, jika tidak lagi dipercaya.  Menurut Erich Fromm, manusia modern telah berubah dari “makhluk yang menjadi” menjadi “makhluk yang memiliki.”

Dan kini, kita kehilangan keduanya, kita tak lagi menjadi bagian dari pengalaman, karena gambar bisa diciptakan tanpa mengalami. Dan kita lalu tak memiliki kepercayaan, karena siapa pun bisa mengarang apa pun. Dalam psikologi sosial, ini menciptakan disonansi emosional. Ketika manusia membagi pengalaman tulus tapi tak dipercaya, maka akan muncul rasa tertolak, terasing, dan tidak penting. Ini adalah bentuk kesepian sosial baru, lebih dalam dari sekadar kesepian karena sendirian.

Sosiolog seperti Zygmunt Bauman menyebut zaman ini sebagai masyarakat cair, di mana relasi sosial tak lagi stabil. Salah satu penyebabnya adalah banjir citra dan informasi tanpa filter.  Kini, ketika foto yang berisi pengalaman sebagai bentuk transaksi sosial, kehilangan kredibilitas, maka yang terjadi adalah isolasi pengalaman.

Seseorang bisa mengalami sesuatu yang luar biasa, mengabadikannya, tapi tak bisa lagi membaginya dengan suatu keyakinan, bahwa orang lain akan mempercayai atau memahami. Ini membuat manusia makin terasing. Seperti kata Søren Kierkegaard, “Kekhawatiran terbesar bukanlah mati, melainkan hidup tanpa disaksikan.”

Ketika Imajinasi Menggantikan Kenyataan

Menggunakan AI untuk menciptakan visual imajinatif tidak salah. Bahkan bisa menjadi alat ekspresi baru yang luar biasa. Sangat berguna untuk keperluan pendidikan, industri atau marketing misalnya. Tapi ketika kita bicara soal yang fiktif mulai menggantikan kebutuhan akan pengalaman nyata, kita menghadapi risiko disosiasi realitas.

Orang tak perlu bepergian, tak perlu bekerja keras, tak perlu menunggu matahari terbit, cukup menulis prompt, dan visualnya hadir. Ini memang menyenangkan, tapi juga membuat yang namanya proses jadi kehilangan nilai. Kita jadi tamu di hidup kita sendiri. Seorang psikolog kognitif, Sherry Turkle, pernah menulis dalam Alone Together (2011), “Kita menciptakan teknologi untuk mendekatkan, tapi kita justru semakin sendiri.”AI memperkuat itu.

Kita bisa menciptakan gambaran kehidupan yang sempurna, tanpa harus benar-benar menjalaninya. Apa kabar fotografer, apa kabar pula videografer? Haruskah Kita Menyerah?Tentu tidak. Sejarah teknologi selalu menciptakan ketakutan, tetapi juga peluang. Ketika kamera ditemukan, para pelukis potret khawatir mereka akan punah. Tapi yang terjadi adalah transformasi dari seni realisme ke impresionisme, ekspresionisme, dan seterusnya.

Demikian pula fotografi hari ini. Dengan berbagai tantangan yang telah kita bahas di atas, maka kini fotografer bukan hanya tukang potret, tapi menjadi penjaga realitas. Yang membedakan bukan alat, tapi niat antara mereka yang menciptakan untuk menyentuh, dan mereka yang mencipta untuk menipu.

Cermin yang Retak, Tapi Masih Memantulkan

Foto bukan hanya tentang gambar. Ia adalah cermin, ruang dialog, jembatan rasa. Dan meski kini cermin itu mulai retak oleh simulasi, tapi kita masih bisa memilih cara kita melihat. Seperti kata Leonard Cohen: “There is a crack in everything, that’s how the light gets in.” Selalu ada retakan dalam segala hal, di sanalah cahaya masuk.”

Kita bisa terus mencipta, tapi musti dengan kejujuran. Kita bisa terus berbagi, tapi dengan niat untuk menyentuh, bukan sekadar untuk mengesankan. Kita bisa tetap menjadi manusia, yang merasakan, mengalami, dan mempercayai. Karena di ujung hari, yang paling kita rindukan bukan gambar yang indah, tapi makna yang nyata.

Maka di era banjir citra, yang paling revolusioner adalah menjadi autentik. Berani hidup sungguh-sungguh. Berani membagi pengalaman meski sederhana. Berani dipercaya meski tak spektakuler.  Karena yang paling menyentuh bukanlah gambar yang sempurna. Tapi kisah yang hidup di dalamnya. Meski demikian, selamat berlatih menulis prompt supaya tidak kudet. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: AIfotogaya hidupmedia sosialmodernmodernitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Riuh PKB, Ada Riuh Gong Mebarung di Desa Munduk: Kebyar Munduk vs Kebyar Desa Musi

Next Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co