DI masa lalu, di Bali, lumrah adanya berbagai jenis atraksi seni yang dipertunjukkan di jalanan. Senimannya bergerak, berjalan, atau jeda sebentar, sembari tetap menari dan memainkan alat musik. Orang-orang yang menonton akan berdiri di tepi jalan, bisa berteriak girang, bisa juga khusyuk menikmati keindahan yang bergerak
Secara sekuler ada barong bangkung. Secara sakral tentu saja banyak lagi. Barong atau pratima yang sakral diarak menuju pantai atau danau, diiringi gamelan, dan deret manusia dengan kostum yang meriah, apakah itu bukan seni pertunjukan?
Peed Aya sebagai pengganti sebutan pawai dalam pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) tentu saja adaptasi dari iring-iringan barong, baris gede, balaganjur, dilengkapi lelontek, joli, umbul-umbul, dan lain-lain, ketika umat Hindu di Bali sedang melasti, atau sedang melakukan persinggahan (ngunya) dari satu pura ke pura yang lain.
Pada PKB ke-47 tahun 2025 ini peed aya sebagai sebuah seni pertunjukan jalanan secara perlahan telah menemukan bentuknya. Ia tak lagi sekadar meriah, sekadar menari, sekadar membunyikan alat-alat gamelan, melainkan sudah punya beban sebagai satu bentuk kesenian jalanan yang bisa diadopsi secara modern di dunia modern.
Peed Aya pada PKB ke-47 dilaksanakan Sabtu, 21 Juni 2025. Peed Aya dilepas oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon mewakili Presiden RI dan didampingi Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati dan Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya ditandai dengan pemukulan (nepak) kulkul, lalu disambut dengan disambut dengan suara gamelan Gong Gede, Semar Pagulingan dan Gong Guwung Gumi sekaligus mengiringi maskot PKB “Siwa Nataraja”.
Di masa lalu, penonton yang hendak menonton iring-iringan seni pertunjukan di jalanan akan berdiri di tepi jalan, atau duduk di telajakan depan rumah, atau sambil ngopi di warung tepi jalan. Di masa modern ini, ada kesadaran bahwa seni pertunjukan jalanan harus bisa ditonton dengan nyaman.
Saat menonton peed aya pada PKB ke-47 ini penonton tidak lagi berdiri dan berdesak-desakan untuk dapat menyaksikan atraksi pawai budaya yang sudah kesohor hingga ke luar negeri itu. Kini mereka duduk manis bersama keluarga, karena telah menyiapkan tribun secara khusus untuk masyarakat agar nyaman menikmati sajian seni jalanan itu.
Hanya saja, mereka yang ingin duduk nyaman harus rela datang lebih awal, karena tempat duduk di dalam tribun itu tidak ada nomer tiket, sehingga siapa cepat dia dapat. Kapasitasnya juga lumayan banyak, yakni sekitar 2.500 orang. Lokasinya ada di sebelah timur dan di sebalah barat panggung kehormatan dengan tempat duduk bertingkat-tingkat. Tenang dan sangat nyaman.

Garapan ISI Bali dalam Peed Aya PKB 2025
Maka mulailah peed aya itu dengan Tari Siwa Nataraja diiringi Gong Guwung Gumi disajikan oleh Insititut Seni Indonesia (ISI) Bali. Gong Guwung Gumi R’ta Bhuwana Rena (Meraya Citta Samasta) Mudra Citta Siwa Nataraja dimulia kala mula PKB terpatri. Tari Siwa Nataraja sebagai lambang sakral pembuka PKB. Garapan tari kolosal yang disajikan Insititut Seni Indonesia (ISI) Bali ini menggunakan property menyerupai umbul-umbul dengan berbagai hiasan unik.
Selanjutnya, peserta pawai dari 9 kabupaten dan kota di Bali menampilkan atraksi terbaik mereka dalam pawai yang menjadi simbol kebangkitan kreativitas dan identitas budaya Bali. Setiap peserta mendapat waktu 10 menit untuk unjuk karya di hadapan tamu kehormatan. Setelah garapan Tari Siwa Nataraja yang tampil dengan simbol-simbol dan kaya makna itu, dilanjutkan dengan duta Kabupaten Karangasem, Jembrana, Buleleng, Bangli, Klungkung, Tabanan, Gianyar, Kota Denpasar, dan ditutup dengan duta seni Kabupaten Badung.
Rute Peed Aya mengalir mengikuti arah purwa daksina (searah jarum jam), dimulai dari simpang tiga Jl. Ir. H. Juanda dan Jl. Raya Luputan, dengan start utama tepat di depan ujung timur panggung kehormatan pertama, dan berakhir di depan Kantor Kemenkeu Wilayah Bali.
Peed Aya duta Kabupaten Karangasem yang menampilkan kreasi rarejangan yang terinspirasi dari Rejang Kuningan yang ada di Karangasem. Sedangkan garapan potensi adat ditampilkan tradisi Dangsil, Desa Adat Culik yang diiringi gamelan barungan madya. Atraksi tematiknya menampilkan garapan kreasi baru “Jempana Masolah” yang diiringi gamelan barungan besar.

Garapan Karangasem dalam Peed Aya PKB 2025
Peed Aya duta dari Kabupaten Jembrana yang menyajikan tari kreasi Pajogedan Desa Pendem yang diiringi gamelan Berko. Untuk garapan potensi desa adat ditampilkan Rejang Busana Desa Adat Pendem diiringi gamelan barungan madya. Sedangkan, atraksi tematik dipentaskan garapan kreasi baru “Jimbarwana” yang diiringi gamelan barungan besar.
Peed Aya duta Kabupaten Buleleng menampilkan tarian kreasi yang terinspirasi dari Deeng Buleleng. Untuk garapan potensi desa adat dipentaskan Desa Adat Pedawa dan atraksi tematik “Tradisi Sabha Malunin yang diiringi gamelan barungan besar.

Duta Jembrana
Peed Aya duta Kabupaten Bangli yang menampilkan Tari akreasi Barong Brutuk dengan garapan potensi desa adat tradisi Purwa Sancaya, Nungdung dan Pepet, Desa Adat Sukawana yang diiringi gamelan barungan madya. Sedangkan, atraksi tematik dipentaskan garapan kreasi baru “Jaya Pangus Anglanglang Mandala Nirwana” yang diiringi gamelan barungan besar.
Peed Aya dari duta Kabupaten Klungkung yang menampilkan tarian kreasi bebarisan yang terinspirasi dari Tari Baris Oncer Gana. Untuk garapan potensi desa adat ditampilkan dari Desa Adat Klungkung. Sedangkan atraksi tematik dipentaskan fragmentari berjudul “Manunggaling Kaula Gusti” yang mengisahkan puncak kejayaan Ida Dalem Waturenggong.

Duta Buleleng menampilkan atraksi burdah, kesenian muslim dari Desa Pegayaman
Peed Aya duta dari Kabupaten Tabanan menampilkan tarian kreasi bebarisan yang terinspirasi dari Baris Memedi/Baris Katujeng. Garapan potensi desa adat dari Desa Adat Wongaya Gede dengan atraksi tematik kreasi baru bertemakan “Subak” disertai garapan Tari Sanghyang Sampat yang diiringi gamelan barungan besar.
Peed Aya dari duta Kabupaten Gianyar yang menampilkan tari kreasi Palegongan yang terinspirasi dari Tari Palegongan yang berkembang. Garapan potensi desa adat dipersembahkan dari desa adat Singkerta, Ubud dengan atraksi tematik berjudul “Siat Sambuk” yang diiringi gamelan barungan besar.
Peed Aya Kota Denpasar menampilkan tari kreasi Patopengan yang terinspirasi dari segala jenis topeng yang berkembang di Kota Denpasar. Sedangkan, atraksi tematik ditampilkan “Ngerebong”, garapan dari Desa Adat Kesiman.
Peed Aya dari Kabupaten Badung menjadi penutup pementasan, menampilkan sajian seni berjudul “Perang Untek: Pusaka Agraris Desa Kiadan Kabupaten Badung” yang diiringi gamelan barungan besar. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























