6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 14, 2025
in Kuliner
45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Yudianto dan Tik di Depot Siobak Seririt

SIANG itu, langit Seririt menumpahkan rintik hujan tanpa henti. Tiba-tiba, ibu saya melontarkan keinginan yang tak terbantahkan.

”Mang, rasanya enak sekali kalau siang ini makan siobak,” kata Ibu.

”Oke!” sahut saya.

Saya pun bergegas memenuhi permintaan sang ibu. Tujuan saya sudah jelas. Depot Siobak di Seririt, Buleleng, Bali.  Siobak, adalah sebuah nama menu yang melegenda di telinga para pencinta kuliner Buleleng, juga Bali.

Warung makan itu berdiri bersahaja, bertetangga dengan sebuah Indomaret di Jalan Raya Seririt-Singaraja. Tak ada kemewahan di sana, hanya sebuah warung makan yang jujur dalam kesederhanaannya, seolah menyimpan rahasia rasa yang diwariskan turun-temurun.

Depot Siobak Seririt | Foto: Puja

Memasuki warung, aroma khas masakan langsung menyergap indera penciuman, membangkitkan selera. Sambutan hangat langsung saya terima dari sepasang suami istri, Yudianto (74) dan Heti (62), atau yang akrab disapa Tik.

Sembari tangan cekatan Tik menyiapkan pesanan saya dan pelanggan lain, matanya tak lepas dari talenan dan blakas Bali. Dengan fokus yang luar biasa, ia memastikan setiap irisan daging babi terpotong dengan sempurna. Sebuah dedikasi yang terlihat jelas dalam setiap gerakannya. Di usianya yang tak lagi muda, semangat melayani dan menjaga kualitas tetap membara.

Sensasi Rasa yang Tak Tertandingi

Bicara soal siobak, Depot Siobak Seririt memang memiliki kelas tersendiri. Dibuka sejak tahun 1980. Sudah 45 tahun lamanya warung ini berdiri kokoh, menjaga cita rasa autentik yang tak tergantikan. Setiap suapan membawa perpaduan antara manis, gurih, dan sedikit sentuhan pedas yang menggelitik. Daging babinya begitu empuk di lidah, disempurnakan dengan kulit yang renyah sempurna di setiap gigitan.

Kuah siobaknya? Ahh…, itu adalah mahakarya tersendiri. Berwarna cokelat pekat, kental, dan kaya rempah, memeluk setiap potongan daging dan menyatu sempurna. Siobak ini tak pernah disajikan sendiri, selalu ditemani kerupuk babi yang garing renyah, acar timun segar yang memberikan sentuhan asam, dan potongan cabai segar bagi mereka yang ingin sensasi lebih menantang. Sungguh, ini bukan sekadar makanan, melainkan pengalaman kuliner yang memanjakan seluruh indra.

Dengan harga yang cukup terjangkau, Rp 30 ribu per porsi, pelanggan bahkan diberi keleluasaan dengan selera masing-masing.

“Kalau saya jualan sesuai request pelanggan, misalnya siobak full daging. Kasihan kalau makanannya dibuang-buang, nggak dihabiskan,” ucap Heti dengan senyum ramahnya, menunjukkan perhatiannya pada kepuasan pelanggan dan kepedulian agar tak ada makanan yang tersia-sia.

Yudianto

Depot Siobak Seririt buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WITA. Namun, persiapan di dapur sudah dimulai jauh lebih pagi. Dibantu oleh dua orang karyawannya, Heti dan Yudianto mulai meracik bumbu dan menyiapkan bahan sejak pukul 05.00 WITA.

Yang menarik, proses memasak di Depot Siobak ini masih sangat tradisional, menggunakan kayu bakar. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Heti berkisah, ia pernah mengalami trauma ketika kompor yang dulu digunakannya meledak di warung.

“Dari kejadian itu ada positifnya, jadi pakai kayu bakar juga dapat cita rasa makanan berbeda, karena ada rasa khas memasak menggunakan kayu bakar,” ungkap Heti sambil tersenyum, menyiratkan setiap musibah pun bisa membawa berkah. Memang, aroma dan rasa yang dihasilkan dari masakan kayu bakar memiliki kekhasan tersendiri.

Keluhan yang paling sering dialami selama 45 tahun berdagang adalah kenaikan harga daging babi yang tak kunjung turun setiap tahunnya. ”Biasanya beli daging di Pasar Seririt dengan anak. Kalau di langganan beli harganya Rp 110 ribu per kg, sedangkan yang nggak langganan biasanya Rp 120 ribu,” tutur Yudianto.

Kisah Perjalanan dan Warisan Khelok

Di balik kesuksesan Depot Siobak Seririt, tersimpan kisah panjang perjalanan hidup Yudianto. Sebelum mendirikan warung ini, ia merantau selama 15 tahun, berpindah-pindah tempat mulai dari Surabaya, Solo, dan terakhir di Klaten. Profesi yang dilakoninya pun beragam.

Pelanggan yang mengantre | Foto: Puja

“Saya kerjanya mulai kerja di Surabaya di pabrik sepatu, di Solo pabrik bensin, di Klaten pabrik minyak bakar yang buat pembakaran kapur, karena saat itu rumah pakai bahan kapur,” tutur Yudianto.

Namun, sebuah peristiwa kelam di tahun 1979 mengubah jalan hidupnya. Saat itu, di Klaten sedang marak isu penembak misterius (petrus) yang menebar ketakutan.

“Saat itu saya mau nagih uang di pabrik Parkarejo dan muncul kejadian itu, saya langsung pulang,” kenangnya dengan raut serius, mengingat kembali momen yang mengubah haluan hidupnya kembali ke kampung halaman.

Hidangan siobak yang menggiurkan | Foto: Puja

Depot Siobak ini bertahan hingga kini karena merupakan satu-satunya mata pencarian mereka, untuk makan sehari-hari. Yudianto adalah anak kelima dari sembilan bersaudara dari keluarga Khelok. Siobak ini bukan sekadar usaha, melainkan warisan nenek moyang yang terus ia jaga hingga saat ini.

”Kedua anak saya dan menantu saya berjualan siobak juga, dan sudah membuka gerai mandiri tidak satu gerai dengan saya,” tuturnya dengan bangga, menunjukkan bahwa tradisi kuliner ini telah berhasil diturunkan ke generasi berikutnya. Heti pun memiliki harapan besar agar makanan warisan keluarga ini bisa semakin tersebar luas dan menjadi ciri khas cita rasa siobak legendaris yang dikenal banyak orang.

Melihat warung sederhana itu, ingatan saya melayang pada kenangan ibu saya bersama almarhum bapak, saat mereka menikmati siobak di musim hujan.

”Tiap makan sesuap siobak ini, jadi ingat bapakmu yang dulu suka menyuapi ibu,” kenang ibu dengan senyum manis yang menyimpan rindu. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengenal Singaraja Melalui Kulinernya
Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”
Tags: bulelengkulinerkuliner babiSeriritsiobak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
0
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa...

Read moreDetails

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

by Dian Suryantini
October 5, 2025
0
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

SEJAK pukul 16.00 wita, anak-anak di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, telah berkumpul di sawah. Mereka sedang menanti...

Read moreDetails

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

by Nyoman Budarsana
September 15, 2025
0
Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Makan di Warung Badak, serasa ada di desa tradisional yang damai. Restoran yang terletak di Jalan Badak I No.15, Desa...

Read moreDetails

Mencicipi 70 Varian Sambal Kerajaan dari 9 Puri di Bali Royal Chili Festival 2025

by Nyoman Budarsana
September 1, 2025
0
Mencicipi 70 Varian Sambal Kerajaan dari 9 Puri di Bali Royal Chili Festival 2025

ADA pemandangan menarik ketika para undangan dan pengunjung The Amazing Taman Safari Bali dipersilakan mencicipi sambal serangkaian dengan Bali Royal...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co