ANAK muda itu kira-kira berumur 21 tahun. Ia datang untuk periksa kesehatan diri di klinik tempat saya bekerja.
Gede, begitu nama panggilan akrabnya. Ia duduk santai di depan ruang periksa dokter sambil menunggu namanya dipanggil, dan mungkin juga sambil curi-curi pandang ke asisten muda Pak Dokter yang sedang bertugas sore itu.
Selang 30 menit namanya dipanggil ke ruangan dokter untuk melakukan pemeriksaan, selanjutnya dibantu pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnose dari keluhan yang dialaminya.
Klinik tempat saya bekerja, selain menyediakan layanan praktek dokter, juga menyediakan layanan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen, serta layanan konsultasi gizi.
Sesaat setelah keluar dari ruangan dokter dengan membawa hasil pemeriksaan laboratorium, Gede dirujuk ke ruangan konsultasi gizi, tentu saja untuk konsultasi terkait apa yang dialaminya.
Asisten dokter menginformasikan kepada saya yang bertugas sebagai konsultan gizi bahwa Gede mengalami kenaikan kadar gula darah.
Sebelum sesi konsultasi dimulai, seperti biasa saya memulai sesi dengan meminta Gede menjelaskan tentang kegiatan dan kebiasaan kesehariannya.
Gede bercerita, kesehariannya sekarang ia bekerja di sebuah toko design ternama yang ada di Kota Singaraja, bekerja dengan menggunakan dua kali shif. Pagi dan sore. Ia tidak suka merokok apalagi minum minuman keras, aktif berolahraga. Setidaknya seminggu minimal 3 atau 4 kali ia berolahraga, seperti lari, bersepeda maupun futsal. Olahraga futsal memang sedang ngetren-ngetrennya saat ini.
Gede merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Bapaknya pensiunan guru, dan ibunya seorang ibu rumah tangga.
Akhir akhir ini, kurang lebih sejak setahun ke belakang, Gede punya kebiasaan baru yaitu makan di jam mendekati tengah malam. Seringkali setelah datang dari kumpul dengan teman-temannya atau ada kegiatan yang lain, ia selalu melihat ada sisa nasi putih yang ada di dapur.
Sebagai seorang anak, ia sayang melihat sisa nasi putih yang telah dimasak oleh ibunya akan terbuang dengan sia-sia. Maka Gede selalu makan sisa nasi putih setiap pulang ke rumah malam harinya. Sehabis makan, Gede langsung tidur.
Di ibu karena sering melihat kebiasaan si Gede makan pada malam hari, ia selalu memasak nasi melebihi dari porsi biasanya. Tujuan agar ada sisa pada malam hari untuk bisa dimakan anak tersayangnya itu. Akibatnya Gede selalu makan di jam-jam rawan atau tengah malam.
Keluarga Gede, baik kakek, nenek dan kedua orang tuanya, tidak ada yang menderita penyakit gula atau yang dikenal dengan diabetes melitus.
“Lalu, kenapa ada kenaikan kadar gula darah saya ya, Pak?“ tanya Gede.
Saya memberi penjelasan bahwa makan malam sebenarnya boleh-boleh saja kita lakukan, tetapi perlu diingat bahwa setelah makan malam tubuh kita akan istirahat, bukan bekerja atau beraktifitas kembali. Jadi untuk jenis makan malam bisa kita ubah dengan cara mengurangi porsi karbohidrat sederhana, dalam hal ini nasi putih. Bisa kita ganti dengan menggunakan roti gandum, jagung atau kentang dengan porsi yang sedikit.
Nasi putih dicerna dengan lebih cepat dan akan cepat diubah menjadi glukosa, sehingga cepat menimbulkan lonjakan kadar gula darah kita. Kalau karbohidrat kompleks akan dicerna lebih lambat dan lonjakan kadar gula tidak akan terjadi secara drastis.
Gede bertanya kembali, “Bagaimana nanti kalau ada sisa nasi putih lagi, Pak? Kan kasian ibu saya sudah capek capek masak?”
Saya menanggapi sambil sedikit tertawa “Bapak mau pilih yang mana, mau gula darahnya ikut-ikutan manis, atau hanya senyumnya saja yang manis tapi gula darahnya jangan ikutan terlalu manis?” Sambil sedikit tertawa, Gede menjawab,” Pilih senyum saja yang manis!”
Saya mengangguk setuju.
Setelah selesai konsultasi gizi, Gede saya arahkan ke bagian apotek untuk mendapatkan jenis terapi obat sebagai salah satu terapi dalam mengatasi lonjakan kadar gula darah.
Naiknya kadar gula darah, selain dari faktor keturunan diabetes, sekarang banyak terjadi karena pola makan dan pola hidup yang tidak bagus. Jam makan yang tidak beraturan, porsi makan yang tidak seimbang, kurangnya aktifitas fisik dan juga pola tidur yang sering begadang yang menyebabkan tubuh kita kekurangan waktu untuk istrahat.
Mari budayakan pola makan yang teratur terutama jam makan, jenis makan yang bervariasi dan jumlah makanan yang kita makan. Imbangi dengan olahraga fisik minimal 30 hingga 45 menit sehari serta istirahat tidur 6 hingga 8 jam per hari. Lebih baik senyum kita saja yang manis, daripada gula darah kita yang ikut ikutan manis. [T]
Penulis: Gede Eka Subiarta
Editor: Adnyana Ole