6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Grtasamada, Para Antara | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
March 15, 2025
in Cerpen
Grtasamada, Para Antara | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

BAGIAN tengah panggung Ksirarnawa berbentuk teratai kelopak delapan berwarna putih. Seorang lelaki  memainkan lakonnya di pusat kelopak, ia  menari, ujung telunjuk tangannya seperti sedang menggurat aksara-aksara di udara.

“Padma berkelopak delapan, sari mengikat kelopak-kelopak yang menjadikannya bunga, padmaksara, “suara narator.

Yang agak mengagetkan penonton adalah dari guratan aksara-akasara di udara itu menjelma sosok laki perempuan dalam berbagai sikap. Ada dalam posisi tidur, bersiap lari, jongkok, terbang, bahkan ada yang ada samar antara ada dan tiada.

Pada sari bunga muncul sesosok kecil, seperti kanak-kanak yang dewasa. Dinding sari bunga yang melingkar itu terhubung dengan kelopak-kelopak bunga warna warni berbagai bentuk dan posisi yang ditempati sosok yang berbeda-beda. Sesosok sedang yang berbusana putih transfaran, berkeliling menyundul-nyundul sosok lain yang menempati bidang kelopak masing-masing. Anehnya masing-masing sosok seperti tak merasakan kehadiranmu sosok sedang berkaca mata itu.

“Ke mana aku, di mana aku, sama saja, berputar, tak berumah, tak berasa rumah, tak memiliki, tak dimiliki,” gumamnya.

Tertangkap seperti keluhan, sekaligus kebanggaan.

“Rumah istriku,  tujuan anakku, akulah perjalanan-perjalanan, Astapaka,” lelaki sedang berkaca mata itu bergerak lagi, menyundul-nyundul lagi. Di tanah, dia hadir menjadi pemikir, kadang jelas dan tegas, tapi kadang buta tanpa kaca mata. Di air tubuhnya mengalir kadang muncul, kadang tenggelam. Di api ia menjadi bara, menghangatkan membakar, lenyap menjadi temperatur, di udara ia meniada.

“Kenapa aku, dimana aku, kemana aku…, ” teriaknya di gelap malam.

Sosok kecil bergerak lincah, di antara rak buku-buku perpustakaan. Buku kuno menyimpan peradaban halamannya terbuka. Diantara aksara-aksara yang berdebu, tangannya mengipas-ngipas, kerajaan kuno, alam bawah, alam tengah, alam atas, ditembusnya dengan tatapan mata.

“Apa ini, jelas saya hanya pemain yang diatur sutradara, saya hanya sutradara, yang merangkap pemain teater remaja SMA  yang berlakon konyol. Inem, Otong… ”  Lelaki kecil tersentak.

Ingatannya kembali ke masa 25 tahun silam. Ia terkekeh, mengingat kelucuan-kelucuan yang lugu, bersama Inem si pelayan seksi.

Selama ini ia telah menyutradarai hidupnya dengan rapi dan penuh perhitungan. Kepulangannya dari luar negeri, juga divisi yang akan dia pimpin juga telah diatur dengan sempurna. Tiba-tiba ada kabar, pimpinnya berpulang, ia merasa gamang. Menjadi semakin gamang saat seminggu jelang kepulangannya menerima surat dari Pimpinannya yang telah berpulang.

Tetapi kelucuan dan kelucuannya menemukan cara untuk bergembira, menikmati hidup.

“Hidup adalah teka-teki, menanggapinya sebagai kelucuan akan melahirkan kebahagiaan,” simpulnya.

Keluguan dan kelucuan-kelucuan membuatnya dengan mudah menghadapi peristiwa. Puncaknya adalah saat pesawat yang ditumpanginya terjatuh dan menewaskan orang-orang yang berada di bagain ruangannya. Dengan jelas ia melihat bagaimana wanita berumur dihadapannya berubah menjadi muda, menjadi tua dan pecah menjadi-cahaya.

Dan dua lelaki berpakaian adat Bali menjemputnya membawa ke luar kabin pesawat dengan hanya menyisakan luka gores di kening dan bibirnya.

“Saya akan berusaha menjaga pikiran dan perkataan,” katanya dengan mimik serius, tapi nampak lucu.

Hahaha posturnya yang kecil, bibirnya yang selalu tersenyum, kata-katanya yang cerdas dan bernas memantulkan cahaya keriangan, mempesona yang mendengarnya.

Kekecilannya menyembunyikan kecerdasan, keluguan dan kelucuannya , mengusir kecurigaan. Membuatnya mampu mencairkan kebuntuan, kebekuan pikir. Dengan cekatan membuka pintu-pintu waktu, kesempatan, kesepakatan demi kesepakatan, demi keadilan kesejahteraan.

Seperti kisah raja Bali berabad-abad silam yang meremehkan brahmana kecil, Wamana, yang hanya meminta tiga langkah kekuasaan. Hingga akhirnya menguasai alam bawah, tengah dan atas.

 Gratasamadha,dan para Gratasamadha, para antara yang mengisi ruang-ruang waktu demi perdamaian dan keharmonisan.

Seorang lelaki tinggi besar bermata sipit memuja, terus memuja, mengapai-gapai langit, mengabdi pada bumi, mengais-ngais esensi, Kuning.

“Saya hanya perantara umat untuk menggapai keagungan Tuhan, ” tekadnya.

Seorang lelaki berisi dengan sorot mata menyala menembus ruang-ruang rahasia, yang gelap, menjanjikan keadilan bagi manusia.

“Hukum harus ditegakkan untuk kenyamanan hidup bersama.” Pedang merahnya menyala-nyala, menebas-nebas.

Sosok lelaki sedang bertualang dari kafe ke kafe, dari diskusi ke diskusi, dari masalah ke masalah. Penglihatannya terang, pandangannya lapang. Para lelaki dan wanita berkumpul, mengidolakannya, menganggapnya guru, untuk ditiru.

Di remang malam, ia ada, menjadi mimpi juga ilusi, bagi para pencari yang merasa tak pasti.

Gratasamadha, dan Para Antara, ada dan tiada,  di bumi tak merasa menginjakkan kaki.  Datang dan pergi, menemui dan menghindari sampai ia bisa menyadari diri yang sejati. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Mimpi-mimpi Dewi Sri | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi  Ira Apryanthi | Kedai Tua Jalan Kakatua

Next Post

Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy

Narman, Sang "Entrepreneur" Etnis Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co