10 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Performance “Batu” : Ketika Perempuan Menatap Tubuhnya Sendiri

Arif Wibowo by Arif Wibowo
December 16, 2024
in Ulas Pentas
Performance “Batu” : Ketika Perempuan Menatap Tubuhnya Sendiri

Performance “Batu”. Kolaborasi Ayu Permata Sari (Ayu Permata Dance, Lampung), Hasyimah Harith (Nucleus Dance, Singapura) dan Ni Komang Wulandari (Komunitas Nayaknari/Blackkobra, Bali) | Foto : Amrita Dharma

Memasuki ruang pertunjukan di ruang Mayor yang bergaya arsitektur Cina Peranakan Palembang itu, penonton disambut dengan lagu dangdut Sambolado-nya Ayu Ting Ting. Lagu dangdut populer ini menyambut penonton dengan suka cita yang mencairkan suasana. Ya, musik dangdut memang mampu menyatukan semua kalangan. Para penikmat seni dari berbagai genre rupanya disatukan dengan dangdutan Sambalado dalam pertunjukan ini. Dua perempuan bergoyang bagai biduan di bagian tengah ruangan. Sedangkan tiga perempuan lain duduk bersimpuh sambil berjoget ria di antara gamelan Selonding yang mengitarinya. Sorot lampu warna-warni seakan membawa penonton pada konser dangdut rakyat. Memasuki pertunjukan, dua penari itu melontarkan dialog-dialog centil nan genit kepada penoton. Mulai dari perihal rasa sambal, ulekan dan urusan dapur yang dekat dengan keseharian perempuan Nusantara dengan nada-nada sensual yang menggoda.

Berangkat dari latar kultur perempuan Melayu yang berbasis di Lampung dan Singapura, gagasan pertunjukan ini mencoba menanyakan ulang narasi tentang batu lesung atau cobek yang dekat dengan kehidupan perempuan Melayu dan Nusantara pada umumnya. Dalam khasanah tradisi Melayu, perempuan memiliki kendali penuh dengan urusan dapur. Batu lesung atau cobek batu menjadi salah satu piranti penting dapur untuk menghasilkan ragam budaya gastronomi. Di tengah keseharinya sebagai piranti dapur, batu lesung dan cobek juga menumbuhkan mitos tentang seksualitas perempuan sebagai tubuh yang memiliki otoritas.

Bertajuk “Batu”, adalah sebuah karya pertunjukkan dari kolaborasi dua seniman Ayu Permata Sari  (Ayu Permata Dance, Lampung) dan Hasyimah Harith (Dance Nucleus, Singapura). Keduanya bersama Mulawali Institute menjalani ko-produksi melalui residensi beberapa minggu pada salah satu program B-Part (Performing Arts Meeting) 2024. Sebuah inisiatif temu seni jejering platform, seniman dan kelompok multidisiplin pertunjukan yang diselenggarakan saban tahun di Bali. B-Part berlangsung 29 November-2 Desember 2024 di Masa-Masa, Gianyar, Bali. Sebagai sebuah ruang transit dan pertukaran pengetahuan dari berbagai latar belakang, residensi Ayu dan Hasyimah juga melibatkan kolaborasi komposer perempuan Bali, Ni Komang Wulandari dari Komunitas Nayaknari (Blackkobra) serta Arco Renz (Belgia) sebagai creative presence. Tampil di hari kedua, pertunjukan ini menawarkan gagasan menarik tentang seksualitas dalam perspektif perempuan. Sebuah narasi alternatif di tengah ketabuan perempuan membicarakan perihal seks dan tubuhnya sebagai mahluk biologis yang setara dengan laki-laki.

Menyuarakan Ketabuan melalui Bahasa Koreografi

Di tengah panggung yang dikelilingi penonton duduk lesehan, tergelar sekumpulan batu lesung, cobek dan serta bumbu-bumbu dapur lain. Kedua perempuan Ayu dan Hasyimah duduk bersimpuh melakukan aktivitas membikin sambal. Dua penari asal bumi Melayu itu mengingatkan kita lazimnya perempuan yang sedang beraktivitas di dapur. Kemudian disusul Komang Wulandari yang beranjak dari kalangan gamelan memasuki obrolan mereka. Ketiga perempuan dengan latar belakang budaya berbeda itu menceritakan pengalamannya masing-masing melalui perannya sebagai perempuan di dapur dengan aktivitas sambal-menyambal. Adegan ini menunjukkan bentang keragaman sambal Nusantara dari sambal yang dirajang di Bali, sambal yang diulek di Lampung hingga sambal yang digiling dengan blender di Singapura.

Performance “Batu”. Kolaborasi  Ayu Permata Sari (Ayu Permata Dance, Lampung), Hasyimah Harith (Nucleus Dance, Singapura) dan Ni Komang Wulandari (Komunitas Nayaknari/Blackkobra, Bali) | Foto : Amrita Dharma

Ketiga perempuan tampil membawa ragam narasi perempuan dengan latar belakangan kebudayaan yang kuat. Seperti Ayu, sebagai perempuan yang lahir dari kebudayaan Melayu di Lampung, ia menangkap sebuah transfer pengetuhuan dari leluhurnya melalui mitos perempuan yang diharuskan memiliki kempuan membuat sambal dengan cobek sebagai piranti menghaluskan bumbu-bumbu. Dari aktivitas dan gerak ulekan sebagai proses menghaluskan bumbu juga melahirkan mitos lain tentang peran perempuan sebagai mahluk biologis yang memiliki hasrat seksual dengan pasangan. Mitos yang berkembang di kebudayaan Melayu mengatakan bahwa kepiwaian perempuan mengulek sambal di atas cobek juga harus diikuti dengan kepiwaiannya “mengulek” pasangan ketika memasuki fase rumah tangga di kemudian hari. Mengulek dalam konteks ini diartikan sebuah upaya perempuan menjalankan perannya sebagai istri yang harus mampu melayani sang suami dalam melakukan akivitas seksual.

Mitos ini kemudian diolah melalui pendekatan artistik pertunjukan yang membentangkan tubuh perempuan sebagai repertoar arsip untuk membicarakan seksualitas. Eksekusi artistik diekspersikan melalui berbagai medium seperti tubuh kedua penari sebagai medium utama. Sedangkan batu lesung dan cobek menjadi reprsentasi lingga yoni sebagai bahasa semiotika yang sudah umum dipahami dalam perjalanan sejarah kita sebagai simbol alat kelamin laki-laki dan perempuan. Serta sebongkah batu utuh berukuran diameter antara 30-40cmm sebagai material batu yang asali.

Sepanjang pertunjukan kurang lebih sejam itu, Ayu dan Hasyimah sangat eksploratif mengahdirkan koreografinya. Kedua koreografer ini mengekplorasi keragaman gerak tubuh yang merepresentasikan otoritas tubuh perempuan. Sensualitas gerakan menjadi sangat menonjol untuk menghadirkan bahasa tubuh perempuan dalam merespon pengalaman seksualnya. Kedua penampil merespon keberadaan batu lesung sebagai simbol penis laki dengan beragam ekspresi koreografi.

Performance “Batu”. Kolaborasi  Ayu Permata Sari (Ayu Permata Dance, Lampung), Hasyimah Harith (Nucleus Dance, Singapura) dan Ni Komang Wulandari (Komunitas Nayaknari/Blackkobra, Bali) | Foto : Amrita Dharma

Pertunjukan ini menghadirkan fungsi batu sebagai bagian dari keseharian yang melekat dengan perempuan. Melihat Batu sebagai elemen piranti dapur yang difungsingkan sebagai alat penghalus bumbu dan rempah  hingga sebagai piranti membersihkan tubuh baik untuk keseharian maupun ritus-ritus yang sakral bagi perempuan.

Lebih dari itu, kehadiran batu juga direspon melalui koreografi yang menggambarkan pengalaman seksual dari sudut pandang perempuan. Kedua penari itu membawa batu berbentuk lingga dengan berbagai komposisi koreografi. Babak akhir pertunjukuan ini menghadirkan secara gamblang ekstase puncak dari dari pengalaman seksual perempuan. Diikuti pukulan selonding yang bertalu-talu, kedua penari itu seakan mengalami puncak gairah seksual. Erotisme pengalaman seksual dibawakan melalui koreografi yang puitik sekaligus banal. Ayu menghadirkan ekspresi yang cukup menantang, bagai perempuan yang sedang mengalami puncak gairah seksual dengan gerak tubuh yang tidak terkontrol.

Sebuah lingga ditata diatas sebongkah batu, ia kangkangi seolah melakukan aktifitas persenggamaan. Posisi tubuhnya membungkuk terangkat ke atas, ditahan dengan kedua tangan dan kakinya. Kemudian diikuti  tubuh memutar searah jarum jam dengan batu lingga sebagai porosnya. Di babak pamungkas, pasca esktase telah reda, masing-masing penari itu membawa batu lingga disertai dengan formasi gerak yang harmonis membentuk formasi pola lantai dengan komposisi sejajar dan juga berhadapan. Kemudian sebagai penutupnya, Ayu menyunggi sepasangang lingga dan yoni diatas kepalanya dengan posisi duduk diatas batu, sedangkan Hasyimah duduk melantai membelakangi Ayu.

Pertunjukkan ini menghadirkan pengalaman menonton yang unik. Pada babak sebelum memasuki  bagian inti pertunjukan yang membicang seksualitas, penonton diajak untuk mengalami perbincangan pada dunia perempuan melalui aktivitas membuat rujak buah. Sebuah aktivitas sosial keseharian yang memungkinkan terjadinya perbincangan mulai dari yang topik keseharian hingga yang tabu dibicarakan, salah satunya urusan seksual. Tak hanya itu, penonton juga diajak merasakan rujak buah yang dibagikan ditengah pertunjukan.

Eksplorasi komposisi musik yang dibawakan oleh Ni Komang Wulandari dan kedua rekannya juga tak kalah menarik. Selonding, salah satu genre gamelan kuno Bali menjadi elemen musik utama yang menciptakan suasana dramatis apalagi pada babak yang menghadirkan ketegangan. Tak hanya itu, sumber-sumber bunyi dengan komposisi tertentu juga dihadirkan melalui eksplorasi benda-benda keseharian seperti batu lesung, pisau dan benda-benda yang diketukan pada lantai. Komposisi musik pengiring pertunjukan ini tampil menjadi bagian yang menyatu dengan pertunjukan. Pemusik juga terlibat menjadi penampil alih-alih hanya menjadi pemusik belaka.

Melawan Mitos

Dua perempuan Muslim-Melayu Ayu dan Hasyimah ini cukup berani dan menantang konstruksi kemapanan perempuan ditengah ketabuannya membicarakan pengalaman seksual apalagi dalam kultur dunia yang sangat patriarkis ini. Dalam konstruksi dunia yang patriarkis, perempuan kerap kali menjadi objek hasrat seksual laki-laki. Keadaan ini dilanggengkan dengan kapitalisme yang menjadikan perempuan sebagai komoditas yang laris manis dalam sistem ekonomi pasar.. Narasi media pun ikut melanggengkan objektifikasi perempuan. Seperti narasi perempuan sebagai sosok dengan tubuh ideal, penyangga keluarga, objek seksual, dan perempuan sebagai sosok yang identik dengan dapur. Kondisi diatas menyebabkan perempuan kerapkali tersubordinasi atas dominasi laki-laki termasuk dalam uruasan seks.

Performance “Batu”. Kolaborasi  Ayu Permata Sari (Ayu Permata Dance, Lampung), Hasyimah Harith (Nucleus Dance, Singapura) dan Ni Komang Wulandari (Komunitas Nayaknari/Blackkobra, Bali) | Foto : Amrita Dharma

Sepanjang sejarah, hubungan kesetaraan laki-laki selalu diposisikan sebagai subjek sedangkan perempuan sebagai objek tertanam kuat dalam budaya baik itu seni adiluhung, seni kerakyatan hingga industri pornografi, budaya pop dan budaya sehari-hari. Bahkan tanpa kesadaran kritis, perempuan kerap kali terbawa cara tatapan laki-laki menatap dirinya sendiri. Imam Setyobudi, dkk dalam jurnalnya berjudul Antropologi Feminsme dan Polemik Seputar Tubuh Penari Jaipongan menurut Perspektif Foucault mencoba mananyakan ulang laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek dalam diskursus kesetaraan. Melalui pembalikan posisi perempuan sebagai subjek dan laki-laki sebagai objek, justru perempuanlah yang menggunakan tubuhnya untuk menguasai dan mengendalikan laki-laki. Lebih lanjut ia menyitir komentar Kris Budiman dalam salah satu bukunya yang menggambarkan relasi seksual antar laki-laki dan perempuan. Justru perempuan yang melahap laki-laki, bukan sebaliknya. Mustahil sosis melahap mulut, melainkan mulut melahap sosis!. Penggambaran ini maksudnya, dalam hubungan penetrasi justru organ tubuh perempuanlah yang secara aktif melahap organ tubuh laki-laki. Begitulah penggambarannya sebagai usaha untuk membalik mitos yang selama ini memposisikan perempuan sebagai objek  dalam masyarakat patriarki.

Pada pertunjunkan ini, Ayu dan Hasyimah berusaha menantang narasi itu dengan menghadirkan tubuh perempuan yang dimilikinya secara utuh, dengan memposisikan tubuh perepempuan yang setara dalam menikmati pengalaman seksual dan membincangkannya kepada publik tanpa stigma dan stereotipe negatif. Melalui pertunjukan ini, penonton diajak untuk memahami tubuh perempuan dan suara-suara yang kerap kali tak didengarkan bahkan dipinggirkan. [T]

Ulasan pertunjukan ini ditulis dibawah program Arts Equator Fellowship 2024

  • BACA artikel lain dari ARIF WIBOWO
Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu
Menghidupkan Spirit Marya dan Pernik Estetika Festival sebagai Ruang Alternatif Seni Pertunjukan Bali
Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar”
Tags: Arts Equator Fellowship 2024B-PartMulawali Instituteperformance artseni pertunjukanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Parade Panen Padi, Sebuah Teatrikal Hidup di Subak Tingkihkerep, Tengkudak-Tabanan

Next Post

FBS Undiksha dan Gerakan Literasi Nasional — Catatan Dosen Penggerak Literasi Berbasis Komunitas

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
FBS Undiksha dan Gerakan Literasi Nasional — Catatan Dosen Penggerak Literasi Berbasis Komunitas

FBS Undiksha dan Gerakan Literasi Nasional --- Catatan Dosen Penggerak Literasi Berbasis Komunitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng
Pemerintahan

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng

DEWAN Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Buleleng mengelar pertemuan penting guna membahas arah pembangunan daerah ke depan serta validasi data sosial....

by tatkala
March 9, 2026
‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026
Panggung

‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026

DI antara deretan karya dalam Lomba Sketsa Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026, sebuah gambar berjudul “Gangga Maya” menarik perhatian dewan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta  —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan
Opini

Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan

TULISAN I Gede Joni Suhartawan mengenai Lakon Lobi Pedidian Bali di Pusat di tatkala.co membuka kotak pandora yang selama ini...

by Jro Gde Sudibya
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Esai

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah...

by Satria Aditya
March 9, 2026
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah
Panggung

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan "Kawitan". Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini
Opini

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

ADA nada genting yang terselip dalam pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster belakangan ini. Saat ia meminta para wakil Bali di...

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026
Panggung

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

HARI itu, Minggu pagi, 8 Maret 2026, langkah-langkah kecil berbaris rapi. Lapangan Puputan Badung, Denpasar berubah menjadi arena budaya yang...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026
Panggung

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

PULUHAN sketsa, tapel, dan ogoh-ogoh mini berjajar di dalam tenda pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Di...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’
Esai

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti...

by Angga Wijaya
March 9, 2026
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia
Esai

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

DALAM bentang sejarah musik rock di tanah air, sulit membayangkan struktur megah genre ini berdiri kokoh tanpa menyebut satu nama...

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co