2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janji Politik Pilkada Bali 2024: Pilih Bandara atau Jalur Kereta?

Oktavian Aditya by Oktavian Aditya
September 9, 2024
in Esai
Janji Politik Pilkada Bali 2024: Pilih Bandara atau Jalur Kereta?

Ilustrasi diolah dari Canva

MENJELANG pesta demokrasi 2024, janji politik sebentar lagi akan berterbangan. Pada Pilkada—tingkat provinsi maupun kabupaten—kali ini, pasti masih banyak sekali calon yang menjanjikan akan memajukan daerahnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun, sebagai rakyat, seperti pada umumnya, saya sudah tahu bahwa janji-janji itu hanya omdo—omong doang! Dari sekian banyak janji itu, paling hanya beberapa saja yang benar-benar dipenuhi. Yang begini-begini seolah memang sudah jadi hal yang biasa. Banyak janji manis menjelang kontestasi politik lima tahunan ini.

Para calon akan mulai blusukan ke kampung-kampung. Menerima semua aspirasi meskipun tak selaras dengan visi misi, bahkan mengiming-imingi sesuatu yang barangkali mereka pun tak tahu bagaimana caranya merealisasikan itu semua. Ya, itu lah janji-janji politik yang terus berulang.

Untuk itu, sebagai masyarakat kita harus peka dan pandai memilah dan memilih apa-apa yang benar-benar kita butuhkan dan tentu memilih orang yang tepat, yang kiranya dapat mewujudkannya. Kenapa harus begitu? Ya harus lah. Karena tak semua janji manis itu bisa terealisasi, walaupun ada beberapa yang terjadi.

Di Buleleng, Bali, misalnya. Setiap kali Pilkada, pembangunan bandara Bali Utara selalu disinggung dan jadi “jualan” manis seperti madu. Ini iming-iming yang selalu menarik dibincangkan. Banyak orang mendambakan pembangunan bandara, meski tak sedikit pula yang menentangnya. Pembangunan bandara seolah lebih gampang daripada program makan gratis.

Apakah tahun ini, misalnya ada yang kembali menggaungkan pembangunan bandara di Buleleng, akan bisa terealisasi? Atau jika terealisasi apakah kita cukup yakin bahwa bandara akan membuat Bali Utara lebih berkembang dan maju atau mampu memecah masalah mengenai ketimpangan yang selama ini dielukan?

Mengingat, kalau kita mau melihat ke belakang, sudah berapa calon yang menjanjikan hal tersebut setiap kali pesta demokrasi? Hasilnya mana? Tak ada. Barangkali memang tidak semudah itu mewujudkannya.

Dalam catatan sejarah, Bali Utara di masa lalu merupakan jalur perdagangan terbesar dan pusat ibukota Provinsi Sunda Kecil yang sangat berkembang. Tapi dengan adanya bandara pun juga belum tentu dapat mengembalikan kejayaan Buleleng seperti masa silam. Tentu saja tidak semudah itu. Semenjak perpindahan ibu kota dan pecahnya Sunda Kecil menjadi tiga provinsi, Buleleng semakin sepi.

Membangun bandara juga harus memikirkan infrasturktur pendukungnya. Lihat saja, masih banyak PR di Buleleng. Kualitas destinasi wisata, penginapan, maupun jalan transportasi yang belum begitu menunjang wisatawan untuk bertahan di Bali Utara—kalau tujuan pembangunan bandara memang hanya untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan.

Bisa kita telusuri di media, bahwa pembangunan Bandara Bali Utara ini akan dibangun di bibir pantai Kecamatan Tejakula. Ini yang membuat saya berpikir. Pembangunan ini pasti akan mereklamasi dan untuk itu juga membutuhkan tanah untuk menimbunnya. Kira-kira bukit mana yang akan dieksekusi untuk itu? Entahlah.

Hal ini kurang efisien, menurut saya. Saya kurang tahu soal AMDAL, memang, tapi secara kasat mata ini akan mengorbankan banyak hal, termasuk lingkungan. Jadi cukup riskan diperjuangkan meskipun sudah ada tender pembangunan atau penanggung jawab yang sudah mau mengeksekusinya, katanya. Atau, jangan-jangan, membangun lintasan dan stasiun kereta api terlihat lebih realistis?

Sebenarnya saya lebih setuju kalau para calon itu berjanji untuk merealisasikan pembangunan jalur kerata api di Bali. Dengan memaksimalkan empat titik yang menjadi stasiun besar, yakni Gilimanuk, Denpasar, Singaraja, dan Karangasem, serta stasiun kecil untuk transit di berbagai desa atau kecamatan yang menarik dikunjungi. Sepertinya menarik untuk dipikirkan lebih lanjut.

Rencana ini sebenarnya sudah sempat dibahas di website Pemprov Bali. Namun, keterangan dalam website tersebut begini: pembangunan jalur kereta ini akan terealisasi kalau bandara Bali Utara terbangun lebih dulu.

Hmm, apakah pernyataan di atas tidak terbalik? Bagaimana kalau membangun infrastruktur penunjang lebih dulu—seperti jalur kereta ini, misalnya—supaya bandara tidak sia-sia? Kenapa begitu? Karena bandara ini rencananya akan dibangun besar dan berstandar internasional, untuk memecah kebuntuan pemadatan wisatawan asing di Bali Selatan.

Jadi, sepertinya kereta api ini yang mampu menjawabnya, dan mampu menyambungkan kota-kabupaten di Bali dengan efisien dan lebih mudah terjangkau dari segi biaya, waktu, dan tenaga—seperti jalur lintas kereta di Jawa dan Jakarta. Bahkan ini bisa jadi terobosan baru untuk kemajuan Bali.

Sebenarnya, selain sumber dari web Pemprov Bali yang menyatakan hal demikian, ada sumber lain yang menyajikan soal pembangunan jalur kereta api di Bali, seperti pernyataan Bupati Badung yang ingin membangun KRL di Seminyak dan sekitarnya, bahkan katanya KRL juga akan dibangun di Buleleng.

(Bupati Badung juga calon, berarti itu ada bau janji politik juga. Tapi bagus juga idenya. Tapi kalau itu hanya janji dan tak akan terealisasi, ya percuma. Itu semua akan sama saja.)

Padahal, sepertinya akan banyak orang yang setuju jika jalur kereta dibangun lebih dulu daripada bandara. Atau jika sudah ada jalur kereta, ngapain harus ada bandara?

Coba bayangkan kalau ada kereta api di Bali. Sepertinya lucu dan romantis. Perjalanan akan mudah dan cepat—pula murah, ini yang terpenting. Akses Singaraja-Denpasar atau dari kabupaten satu ke kabupaten lainnya akan mudah saja dijangkau. Kalau dibangun di empat titik yang saya sempat singgung di awal itu tentu lebih bagus. Apalagi kereta, seperti di Eropa, bisa menjadi solusi kemacetan di jalan.

Kereta api sepertinya sangat dibutuhkan di Bali. Kemudahan akses, jarak tempuh, itu yang dibutuhkan sekarang, bukan bandara yang berstandar internasional. Membangun bandara itu boleh saja, tapi untuk saat ini masih banyak yang lebih krusial yang harus dibangun.

Meskipun Jalan Shortcut sudah dibangun, katanya jalan Tol Jembrana-Mengwi juga segera dieksekusi, tapi sepertinya itu semua masih belum cukup untuk memangkas jarak tempuh atau perpindahan masyarakat dan wisatawan ke berbagai kabupaten lain di Bali.

Terakhir, mungkin ini hanya pikiran klise dan sedikit mengkhayal, tapi siapa tahu, kalau dijadikan jualan politik akan banyak orang yang menerima dan mendukungnya. Ya, sekali lagi, siapa tahu.[T]

Mari Memandang Pencoretan Bandara Bali Utara dengan Perspektif Lain
Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Bandara dan Lumba-Lumba
Buleleng Mimpi Bandara dan Kapal Terbang, Datangnya Kapal Laut Raksasa
Tags: bandara bali utaraPilkada 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendekatan Bebas Aktif Indonesia terhadap Nonproliferasi Nuklir di Tengah Krisis Kepercayaan Global

Next Post

Banyak Prestasi, Masih Ada PR — Catatan HUT ke-38 Perumda Tirta Hita Buleleng

Oktavian Aditya

Oktavian Aditya

Seorang pria asal Blitar, Jawa Timur, yang lahir pada 11 Oktober 1998. Sekarang aktif sebagai kader HMI Cabang Singaraja dan senang menggeluti dunia pendakian dan olahraga.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Banyak Prestasi, Masih Ada PR — Catatan HUT ke-38 Perumda Tirta Hita Buleleng

Banyak Prestasi, Masih Ada PR -- Catatan HUT ke-38 Perumda Tirta Hita Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co