25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Ragam Patriotisme pada Hari Kemerdekaan di Buleleng

Jaswanto by Jaswanto
August 29, 2024
in Liputan Khusus
Jejak Ragam Patriotisme pada Hari Kemerdekaan di Buleleng

Patriotisme anak-anak di Bukit Yangudi, desa Les, Tejakula | Foto: tatkala.co/Don

BULAN Agustus memiliki perasaan gembiranya sendiri. Ini bulan kemerdekaan. Dan sebagaimana kemerdekaan, bulan Agustus, tepatnya setiap 17 Agustus, juga harus dirayakan, disyukuri, dan dikenang, tak terkecuali bagi orang-orang di Kabupaten Buleleng, Bali. Oleh sebab itu, lihatlah mereka yang tinggal di pelosok-pelosok wilayah, di atas bukit, dan di antah-berantah, meski dengan keterbatasan, tak sudi hanya berpangku tangan sedangkan lainnya menyambut hari kemerdekaan dengan antusias yang berlebih.

Orang-orang yang tinggal di atas Bukit Yangudi, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, wilayah terdalam di desa tersebut, misalnya, bersama anak-anak, selain memperingati hari jadi Bukit Kreatif Space, tempat belajar alternatif di wilayah terpencil itu, mereka juga merayakan Agustusan—tradisi menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan segala keterbatasan mereka menghiasi setiap sudut Bukit Kreatif Space dengan rangkaian bendera merah putih berukuran kecil yang sambung-menyambung pula menyiapkan tempat untuk beberapa lomba seperti mewarnai, menghitung cepat, menerjemahkan kata berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, bermain tajog (egrang), panjat pinang, dan lomba makan kerupuk—kegiatan khas Agustusan di mana pun di Tanah Air.

Patriotisme anak-anak di daerah terpencil di Bukit Yangudi, Desa Les, Tejakula, dalam merayakan kemerdekaan | Foto: tatkala.co/Don

Lomba-lomba tersebut tentu saja bukan sekadar hiburan semata, tapi juga mengembalikan ingatan bahwa ketradisionalan adalah kekuatan dan daya tarik (eksotisme). Tetapi, lebih jauh daripada itu, perayaan Agustusan adalah bentuk patriotisme—yang paling sederhana—rakyat akar-rumput terhadap bangsa dan negara. Lihatlah mereka yang rela berjalan jauh, menanjak dengan risiko yang tak sedikit, untuk menuju Bukit Yangudi demi ikut serta merayakan 17 Agustus 2024.

“Itu adalah bentuk ketulusan dan semangat patriotisme yang mereka kabarkan dan kibarkan. Mereka merayakan hari kemerdekaan di belahan bukit, di pinggir-pinggir jurang, dan mereka bahagia. Saya menyadari, ternyata tak sulit memaknai arti kata merdeka, cukup tertawa lepas di Agustusan itu bagi saya adalah kemerdekaan—walaupun sementara,” ujar Nyoman Nadiana, penggagas dan penggerak Bukit Kreatif Space, seusai acara, Sabtu (17/8/2024).

Jauh sebelum Nadiana bersama orang-orang Bukit Yangudi merayakan Agustusan, pada awal bulan Agustus, Penjabat Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menyebarkan puluhan ribu bendera merah putih. Lihadnyana juga menginstruksikan jajarannya untuk memastikan bendera kebesaran Republik Indonesia itu terpasang di setiap fasilitas umum di Kabupaten Buleleng.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada kegiatan Gerakan Nasional Pembagian Bendera Merah Putih Tahun 2024 di Kabupaten Buleleng yang diselenggarakan di Lobi Kantor Bupati Buleleng, Kamis (1/8/2024). Ini juga merupakan bentuk patriotisme.

Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menerahkan bendera untuk dibagikan kepada warga di Buleleng | Foto: Dok. Kominfosanti Buleleng

Dalam gerakan tersebut, Pemerintah Kabupaten Buleleng berhasil mengumpulkan sebanyak 10.078 bendera. Jumlah bendera yang fantastis itu terkumpul berkat upaya penggalangan swadaya dari instansi vertikal, instansi perangkat daerah, badan usaha dan organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Buleleng. “Tolong jangan lagi diinapkan. Hari ini, tolong tugaskan staf untuk memasang. Memasangnya pun yang rapi, dan tidak hanya memasang, tetapi bertanggungjawab juga untuk mengamankannya,” tegas Lihadnyana kepada jajarannya.

Bendera merah putih merupakan salah satu identitas, simbol—pusaka, dan alat pemersatu seluruh masyarakat Indonesia. Bangsa ini berdiri dan merdeka melalui perjuangan merah putih. Tetapi, belakangan seperti terjadi penurunan penghormatan atas bendera pusa tersebut.

Hari ini banyak orang terkesan cuek saja saat menjelang hari kemerdekaan. Mereka tak lagi bergairah memasang atau mengibarkan bendera merah putih pada bulan Agustus. Itulah sebabnya pemerintah pusat menginstruksikan pemerintah daerah untuk membagikan, memasang, dalam rangka mengenang dan mengokohkan kembali rasa nasionalisme dan patriotisme.

“Seluruh masyarakat kedudukannya sama. Sama-sama berkewajiban untuk melakukan pemasangan bendera merah putih. Saya minta Satpol PP, Kesbang, untuk mengecek. Untuk lebih menyemarakkan ini saya mohon bantuan kepada kepala perangkat daerah memasang di tempat-tempat yang telah ditetapkan,” kata Lihadnyana.

Patriotisme perempuan menari pendet bersama di Lovina Festival | Foto: Dok. Kominfosanti Buleleng

Rupa-rupa patriotisme warga dalam menyambut dan merayakan hari kemerdekaan juga dapat kita lihat di desa-desa lain di seluruh wilayah Kabupaten Buleleng. Lihatlah Pemerintah Desa Sudaji, Kecamatan Sawan. Berkolaborasi dengan Aliansi Pemuda Desa (APD) besutan Bagus Okta, Pemdes Sudaji menggelar kegiatan pagelaran budaya dan pasar malam bertajuk “Sudaji Fest”. Dalam kegiatan tersebut setidaknya 35 lebih peserta UMKM lokal yang ikut serta. Ini bentuk patriotisme sekaligus pemberdayaan ekonomi desa.

“Ratusan juta uang beredar di masyarakat ketika pasar malam digelar. Yang seperti ini harus dikelola dengan baik, maka sangat bagus dalam hal peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Gede Supriatna, Ketua DPRD Buleleng, saat menghadiri acara tersebut, Selasa (6/8/2024) malam.

Jangan juga dilupakan, sebab ini belum lama terjadi. Dari tanggal 16 sampai 22 Agustus 2024 kemarin, Pemerintah Kabupaten Buleleng kembali menggelar Buleleng Development Festival (BDF) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno, Singaraja. Sudah jelas disampaikan Koordinator Pelaksanaan BDF 2024—dalam hal ini Kepala Dinas Kominfosanti Buleleng—Ketut Suwarmawan, bahwa penyelenggaraan kegiatan ini dilakukan dalam rangka memeriahkan rangkaian HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79.

Sebagaimana Sudaji Fest 2024, BDF ini juga diramaikan oleh partisipasi UMKM lokal yang menawarkan produk-produk unggulan Buleleng—hanya saja cakupannya tentu saja lebih luas daripada festival yang digelar di Desa Sudaji itu. Tak hanya itu, beragam seni pertunjukan dan budaya tradisional juga turut memeriahkan acara, memberikan pengalaman yang kaya bagi para pengunjung.

Patriotisme anak-anak di daerah terpencil di Bukit Yangudi, Desa Les, Tejakula, dalam merayakan kemerdekaan | Foto: tatkala.co/Don

Salah satu seni pertunjukan di BDF 2024 yang mengangkat tema perjuangan—atau katakanlah patriotisme—adalah drama tari Calon Arang dengan judul “Rakyān Purwasidhi Anglukat Lara Roga”yang dipentaskan oleh Paguyuban Seniman Bali (PSB) Kabupaten Buleleng.

Ketua PSB Kabupaten Buleleng, Jro Olit, yang menjadi penggagas pertunjukkan itu, mengatakan drama tari ini mengangkat kisah Purwasidhi, seorang tokoh sakti yang berjasa besar dalam menetralisir pengaruh ilmu hitam di pesisir utara Pulau Bali pada masa lalu.

“Dahulu, pesisir utara terkenal dengan kekuatan ilmu hitam yang sangat hebat. Mpu Sidimantra merasa perlu membersihkan kawasan ini, dan dalam prosesnya, beliau menemukan Tirta Amerta, sumber air suci yang melindungi wilayah ini dari pengaruh jahat,” ujar Jro Olit, Sabtu (17/8/2024) malam.

Jro Olit menegaskan bahwa kisah ini bukan sekadar cerita yang hitam-putih, tetapi juga simbol perjuangan untuk membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir utara Bali. Drama ini juga menggambarkan pertempuran epik antara Purwasidhi dan seorang penguasa ilmu hitam—yang pada akhirnya dimenangkan oleh Purwasidhi dengan dukungan rakyat setempat. Jika kita tarik dalam konteks patriotisme, kisah tersebut tak jauh berbeda dengan perjuangan rakyat Nusantara dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Meski tidak secara terang-terangan dijelaskan atau disebut sebagai perayaan HUT Kemerdekaan, Lovina Festival 2024 juga mencerminkan rasa cinta, kebanggaan, dan loyalitas terhadap negara atau Tanah Air. Lovina Festival diselenggarakan demi kejayaan masyarakat Buleleng dan integritas tanah air. Dan Lovina Festival juga mencakup dukungan terhadap nilai-nilai, budaya, dan prinsip-prinsip yang dipegang oleh negara.

Bendera merah putih untuk ojol di Buleleng | Foto: Dok. Kominfosanti Buleleng

Lihatlah, sebagaimana dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, acara tersebut melibatkan lebih dari 1.630 pengisi acara dan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pada pembukaan Lovina Festival diwarnai dengan pementasan Tari Pendet yang ditampilkan secara massal oleh sekitar 500 penari, yang membuat para wisatawan terpesona saat penari-penari itu menari dengan sepuhan matahari tenggelam di Pantai Lovina.

Namun, terlepas dari acara tersebut, di Desa Bondalem, Tejakula, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda dan remaja sedang pontang-panting belari sambil membuat ulatan tipat. Dapat dibayangkan betapa serunya melihat orang berlari sekaligus harus fokus mengulat, menganyam janur menjadi sebuah ketupat yang rapi. Ini merupakan ragam ekspresi yang lain dalam menunjukkan rasa patriotisme—cinta tanah air—dan keterampilan tradisional sekaligus.

Lomba yang dapat dikatakan sebagai pelestarian tradisi ini—dengan cara yang menyenangkan itu—juga dibarengi dengan lomba menangkap bebek. Barangkali panitia hendak mengatakan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan tentu jauh lebih susah daripada mengejar dan menangkap seekor unggas yang tak bisa terbang itu.

Sampai di sini, tentu masih banyak ekspresi atau rupa-rupa patriotisme di Buleleng dalam menyambut dan merayakan HUT Kemerdekan yang tak dapat disebutkan dalam artikel ini. Tetapi, yang jelas, beberapa kegiatan yang disebutkan di atas menjadi bukti bahwa masyarakat Buleleng masih memiliki rasa cinta terhadap tanah air dan rela terlihat konyol dengan masuk ke dalam karung, memakai helm, lalu berusaha lari sekencang mungkin. Ya, sekali lagi, itulah cinta! [T][Adv]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.

Sukses Kuatkan Kompetensi UMKM, Sukses Entaskan Kemiskinan Ekstrem di Buleleng
Kisah Sukses Buleleng Turunkan Stunting, Ada Edukasi untuk Calon Pengantin
Deyana, Devita dan Novita: Kartini-kartini Muda Kebanggaan Buleleng Dalam Pelestarian Gong Kebyar Bali Utara
Sosok-sosok Kartini Buleleng, Dari Segala Lini Menebar Inspirasi Bagi Perempuan Buleleng
Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri
Tags: HUT Kemerdekaan RIPemkab Buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

22 Perempuan Merayakan Kebebasan : Catatan Ringan di Hari Kemerdekaan

Next Post

Kata Grodog  dan Onomatope | Ini Cerita Tentang Lemari

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

by Jaswanto
October 24, 2026
0
Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

Read moreDetails

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails
Next Post
Kata Grodog  dan Onomatope | Ini Cerita Tentang Lemari

Kata Grodog  dan Onomatope | Ini Cerita Tentang Lemari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co