23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bertemu ‘Memedi’ di Bulan Juni (2-Habis)

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 27, 2024
in Esai
Bertemu ‘Memedi’ di Bulan Juni (2-Habis)

Ilustrasi: Wiradinata

TULISAN ini adalah kelanjutan dari tulisan satu tahun lalu. Sengaja saya baru lanjutkan, karena ingin menjaga jarak dengan emosi. Apa yang saya alami pada Juni 2023 sungguh pengalaman yang ‘tidak biasa’, dari penyintas skizofrenia yang mengalami relapse atau kekambuhan.

Kecewa. Itu yang saya rasakan saat tiba di sebuah ashram di Ubud, Gianyar, saya mendapat penolakan dari seorang staf di sana, hanya karena saat itu saya mengenakan celana pendek dan memang, aturan di ashram tersebut tidak mengharuskan tamu yang datang berpakaian sopan.

Saya jelaskan tentang kondisi saya ketika itu yang ‘darurat’ dan butuh pertolongan segera. Datang ke ashram itu, saya hanya ingin meminjam telepon untuk menghubungi kakak saya agar dia bisa menjemput dan membawa saya pulang kembali ke Denpasar.

Namun, staf tersebut menawarkan hal lain; memesan ojek online agar saya bisa sampai ke tempat awal saya menaruh sepeda motor di sebuah resor meditasi—masih di Gianyar. Saya sempat berkata padanya, “Di mana ajaran tentang kasih yang selama ini diajarkan guru di ashram ini?” Dia diam saja. Saya lalu menyetujui niatnya untuk memesan ojek online, agar saya bisa cepat pergi dari ashram tersebut.

Apa yang saya alami membuat saya teringat pada “I Only Came To Use The Phone”, sebuah cerita pendek yang ditulis oleh Gabriel Garcia Marquez, penulis terkenal asal Kolombia. Cerita ini ditulis pada tahun 1978 dan diterbitkan dalam buku berjudul “Strange Pilgrim”.

Seperti yang ditulis oleh Nirdosh Odhano, jika kita menelusuri kembali ke masa itu, kita menemukan dua gerakan sosial yang sedang berlangsung di Amerika Selatan: Gerakan Deinstitusionalisasi dan Gerakan Anti-Psikiatri. Sesuai dengan gerakan deinstitusionalisasi, orang dengan penyakit mental dipindahkan ke asrama komunitas.

Gerakan lainnya dipelopori oleh Thomas Szasz, disebut “gerakan anti-psikiatri paksaan” dan dia berpendapat bahwa penyakit mental bukanlah penyakit tetapi masalah perilaku dalam hidup.

Odhano menulis, ini mungkin cerita yang terinspirasi oleh peristiwa yang terjadi selama pemindahan pasien gangguan jiwa dari rumah sakit jiwa ke asrama pada tahun 1970-an di Amerika Selatan. Garcia mencoba menggambarkan betapa mudahnya orang normal dianggap sakit jiwa oleh orang lain karena keterbatasan pemahaman.

Maria, tokoh utama dalam cerita pendek itu, perlu menggunakan telepon untuk menelepon suaminya dan dorongannya yang terus-menerus untuk itu, dianggap sebagai penyakit atau ketidaknormalannya.

Cerita pendek tersebut tentu tidak mengggambarkan kondisi saya saat itu. Hanya saja, ada sedikit kemiripan; bisa jadi staf ashram kurang percaya dengan apa yang saya sampaikan, atau, dia memiliki keyakinan bahwa saya harus kembali ke tempat semula—saya “tersesat”.

Saya meninggalkan ashram itu dengan perasaan campur-aduk. Sebenarnya ingin sekali saya berbincang dengan guru di sana menyoal skizofrenia yang saya idap. Namun keadaan berkata lain, dan saya mesti menerimanya dengan apa adanya.

Memang, seperti yang ditulis juga dalam sebuah buku oleh guru di sana, seorang murid bisa membuat gurunya baik atau buruk tergantung bagaimana ia menterjemahkan setiap apa yang diajarkan guru dalam praktik sehari-hari.

Saya tak ingin membahas hal itu lagi. Saat berada di sepeda motor, saya berbincang dengan pengemudi ojek tentang apa yang saya alami sepanjang malam hingga pagi. Ia hanya mendengarkan saja tanpa banyak bicara. Mungkin dia juga heran mendengar apa yang saya sampaikan.

Sesampainya di resor meditasi, saya langsung menuju pos satpam dan melihat sepeda motor saya masih ada di tempat parkir. Saya lalu menyampaikan apa yang saya alami pada satpam tersebut. Oleh dia, saya disuruh duduk sebentar. Karena bensin sepeda motor saya hampir habis, ia kemudian memberikan saya uang untuk membeli bensin eceran agar saya bisa kembali ke Denpasar. Saya mengucapkan terima kasih dan bergegas pamit dari sana.

Tujuan saya selanjutnya adalah Rumah Berdaya, sebuah rehabilitasi psikososial di Denpasar Selatan. Saya sadar bahwa saya mengalami kekambuhan dan butuh pertolongan. Sesampainya di sana, saya langsung disambut oleh Pak Nyoman Sudiasa, koordinator Rumah Berdaya.

Pak Nyoman tampak prihatin melihat kondisi saya. Rupanya dia tahu dari tunangan saya bahwa saya “menghilang”. Ia lalu menghubungi tunangan dan kakak saya dan mengabarkan bahwa saya sudah kembali dan berada di Rumah Berdaya Denpasar.

Kemudian saya dibawa ke ruang perawatan di sana. Perawat menghubungi psikiater untuk penanganan lebih lanjut. Saya disuruh beristirahat di ranjang klinik, hingga obat dari psikiater diantarkan ke Rumah Berdaya dan saya merasa mengantuk lalu tidur.

Satu jam kemudian, saya melihat kakak saya bercakap-cakap dengan Pak Nyoman. Saya merasa malu dan canggung karena telah membuat banyak orang khawatir dengan apa yang saya perbuat dan lakukan, meski itu “di luar kendali saya”, tetap saja bisa membahayakan misalnya terjadi kecelakaan lalu lintas atau saya disakiti orang karena tindak-tanduk saya dianggap aneh dan meresahkan warga desa.

Setelah merasa lebih baik, saya kembali pulang ke kos dan beristirahat. Apa yang saya alami disebabkan oleh putus obat; saya merasa sudah pulih dari skizofrenia dan tidak minum obat selama satu minggu terakhir. Akibatnya sangat fatal; saya sering merasa curiga, ego yang melambung, dengan bersikap superior yang terlihat dari apa yang saya ungkapkan dan tulis di media sosial.

Dengan pasangan, saya juga sering marah-marah. Pemicu dari semua ini yakni saya berhenti bekerja dari sebuah media daring sehingga mengalami kesulitan secara finansial, saya tak punya penghasilan yang menyebabkan saya banyak pikiran dan putus asa.

Waktu itu saya juga meminjam uang di pinjaman online dan tidak bisa membayar; dikejar-kejar penagih utang. Itu juga menjadi pemicu kekambuhan saya. Kondisi saya saat itu benar-benar amat terpuruk.

Akhirnya, melalui diskusi keluarga, untuk sementara waktu kedua kakak saya menanggung biaya kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya kos. Saya tetap di Denpasar dan tidak disarankan pulang ke kampung halaman, dengan pertimbangan nanti jika di sana kondisi saya akan memburuk.

Syukurlah, setelah enam bulan keadaan saya bisa kembali normal berkat dukungan keluarga, tunangan, dan psikiater yang selalu memperhatikan saya. Ini tentu pelajaran berharga bagi saya; obat-obatan untuk skizofrenia tidak boleh dihentikan penggunaannya jika tanpa adanya izin dari psikiater.

Sejak itu saya tidak berani untuk melewatkan jadwal minum obat. Kini, saya sudah bekerja kembali menjadi wartawan dan dalam kondisi stabil dan pulih. Salam dari saya.[T]

Bertemu ‘Memedi’ di Bulan Juni (1)
Tags: skizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Alia Tahu Semua Dosa Laki-Laki” Karya Yuni Lestari akan Dibedah di Jatijagat Kehidupan Puisi

Next Post

Ramuan Sirih-Pinang Dalang Putu Ardiyasa dalam Fragmentari “Ngerajasinga”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ramuan Sirih-Pinang Dalang Putu Ardiyasa dalam Fragmentari “Ngerajasinga”

Ramuan Sirih-Pinang Dalang Putu Ardiyasa dalam Fragmentari “Ngerajasinga”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co