3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bertemu ‘Memedi’ di Bulan Juni (2-Habis)

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 27, 2024
in Esai
Bertemu ‘Memedi’ di Bulan Juni (2-Habis)

Ilustrasi: Wiradinata

TULISAN ini adalah kelanjutan dari tulisan satu tahun lalu. Sengaja saya baru lanjutkan, karena ingin menjaga jarak dengan emosi. Apa yang saya alami pada Juni 2023 sungguh pengalaman yang ‘tidak biasa’, dari penyintas skizofrenia yang mengalami relapse atau kekambuhan.

Kecewa. Itu yang saya rasakan saat tiba di sebuah ashram di Ubud, Gianyar, saya mendapat penolakan dari seorang staf di sana, hanya karena saat itu saya mengenakan celana pendek dan memang, aturan di ashram tersebut tidak mengharuskan tamu yang datang berpakaian sopan.

Saya jelaskan tentang kondisi saya ketika itu yang ‘darurat’ dan butuh pertolongan segera. Datang ke ashram itu, saya hanya ingin meminjam telepon untuk menghubungi kakak saya agar dia bisa menjemput dan membawa saya pulang kembali ke Denpasar.

Namun, staf tersebut menawarkan hal lain; memesan ojek online agar saya bisa sampai ke tempat awal saya menaruh sepeda motor di sebuah resor meditasi—masih di Gianyar. Saya sempat berkata padanya, “Di mana ajaran tentang kasih yang selama ini diajarkan guru di ashram ini?” Dia diam saja. Saya lalu menyetujui niatnya untuk memesan ojek online, agar saya bisa cepat pergi dari ashram tersebut.

Apa yang saya alami membuat saya teringat pada “I Only Came To Use The Phone”, sebuah cerita pendek yang ditulis oleh Gabriel Garcia Marquez, penulis terkenal asal Kolombia. Cerita ini ditulis pada tahun 1978 dan diterbitkan dalam buku berjudul “Strange Pilgrim”.

Seperti yang ditulis oleh Nirdosh Odhano, jika kita menelusuri kembali ke masa itu, kita menemukan dua gerakan sosial yang sedang berlangsung di Amerika Selatan: Gerakan Deinstitusionalisasi dan Gerakan Anti-Psikiatri. Sesuai dengan gerakan deinstitusionalisasi, orang dengan penyakit mental dipindahkan ke asrama komunitas.

Gerakan lainnya dipelopori oleh Thomas Szasz, disebut “gerakan anti-psikiatri paksaan” dan dia berpendapat bahwa penyakit mental bukanlah penyakit tetapi masalah perilaku dalam hidup.

Odhano menulis, ini mungkin cerita yang terinspirasi oleh peristiwa yang terjadi selama pemindahan pasien gangguan jiwa dari rumah sakit jiwa ke asrama pada tahun 1970-an di Amerika Selatan. Garcia mencoba menggambarkan betapa mudahnya orang normal dianggap sakit jiwa oleh orang lain karena keterbatasan pemahaman.

Maria, tokoh utama dalam cerita pendek itu, perlu menggunakan telepon untuk menelepon suaminya dan dorongannya yang terus-menerus untuk itu, dianggap sebagai penyakit atau ketidaknormalannya.

Cerita pendek tersebut tentu tidak mengggambarkan kondisi saya saat itu. Hanya saja, ada sedikit kemiripan; bisa jadi staf ashram kurang percaya dengan apa yang saya sampaikan, atau, dia memiliki keyakinan bahwa saya harus kembali ke tempat semula—saya “tersesat”.

Saya meninggalkan ashram itu dengan perasaan campur-aduk. Sebenarnya ingin sekali saya berbincang dengan guru di sana menyoal skizofrenia yang saya idap. Namun keadaan berkata lain, dan saya mesti menerimanya dengan apa adanya.

Memang, seperti yang ditulis juga dalam sebuah buku oleh guru di sana, seorang murid bisa membuat gurunya baik atau buruk tergantung bagaimana ia menterjemahkan setiap apa yang diajarkan guru dalam praktik sehari-hari.

Saya tak ingin membahas hal itu lagi. Saat berada di sepeda motor, saya berbincang dengan pengemudi ojek tentang apa yang saya alami sepanjang malam hingga pagi. Ia hanya mendengarkan saja tanpa banyak bicara. Mungkin dia juga heran mendengar apa yang saya sampaikan.

Sesampainya di resor meditasi, saya langsung menuju pos satpam dan melihat sepeda motor saya masih ada di tempat parkir. Saya lalu menyampaikan apa yang saya alami pada satpam tersebut. Oleh dia, saya disuruh duduk sebentar. Karena bensin sepeda motor saya hampir habis, ia kemudian memberikan saya uang untuk membeli bensin eceran agar saya bisa kembali ke Denpasar. Saya mengucapkan terima kasih dan bergegas pamit dari sana.

Tujuan saya selanjutnya adalah Rumah Berdaya, sebuah rehabilitasi psikososial di Denpasar Selatan. Saya sadar bahwa saya mengalami kekambuhan dan butuh pertolongan. Sesampainya di sana, saya langsung disambut oleh Pak Nyoman Sudiasa, koordinator Rumah Berdaya.

Pak Nyoman tampak prihatin melihat kondisi saya. Rupanya dia tahu dari tunangan saya bahwa saya “menghilang”. Ia lalu menghubungi tunangan dan kakak saya dan mengabarkan bahwa saya sudah kembali dan berada di Rumah Berdaya Denpasar.

Kemudian saya dibawa ke ruang perawatan di sana. Perawat menghubungi psikiater untuk penanganan lebih lanjut. Saya disuruh beristirahat di ranjang klinik, hingga obat dari psikiater diantarkan ke Rumah Berdaya dan saya merasa mengantuk lalu tidur.

Satu jam kemudian, saya melihat kakak saya bercakap-cakap dengan Pak Nyoman. Saya merasa malu dan canggung karena telah membuat banyak orang khawatir dengan apa yang saya perbuat dan lakukan, meski itu “di luar kendali saya”, tetap saja bisa membahayakan misalnya terjadi kecelakaan lalu lintas atau saya disakiti orang karena tindak-tanduk saya dianggap aneh dan meresahkan warga desa.

Setelah merasa lebih baik, saya kembali pulang ke kos dan beristirahat. Apa yang saya alami disebabkan oleh putus obat; saya merasa sudah pulih dari skizofrenia dan tidak minum obat selama satu minggu terakhir. Akibatnya sangat fatal; saya sering merasa curiga, ego yang melambung, dengan bersikap superior yang terlihat dari apa yang saya ungkapkan dan tulis di media sosial.

Dengan pasangan, saya juga sering marah-marah. Pemicu dari semua ini yakni saya berhenti bekerja dari sebuah media daring sehingga mengalami kesulitan secara finansial, saya tak punya penghasilan yang menyebabkan saya banyak pikiran dan putus asa.

Waktu itu saya juga meminjam uang di pinjaman online dan tidak bisa membayar; dikejar-kejar penagih utang. Itu juga menjadi pemicu kekambuhan saya. Kondisi saya saat itu benar-benar amat terpuruk.

Akhirnya, melalui diskusi keluarga, untuk sementara waktu kedua kakak saya menanggung biaya kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya kos. Saya tetap di Denpasar dan tidak disarankan pulang ke kampung halaman, dengan pertimbangan nanti jika di sana kondisi saya akan memburuk.

Syukurlah, setelah enam bulan keadaan saya bisa kembali normal berkat dukungan keluarga, tunangan, dan psikiater yang selalu memperhatikan saya. Ini tentu pelajaran berharga bagi saya; obat-obatan untuk skizofrenia tidak boleh dihentikan penggunaannya jika tanpa adanya izin dari psikiater.

Sejak itu saya tidak berani untuk melewatkan jadwal minum obat. Kini, saya sudah bekerja kembali menjadi wartawan dan dalam kondisi stabil dan pulih. Salam dari saya.[T]

Bertemu ‘Memedi’ di Bulan Juni (1)
Tags: skizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Alia Tahu Semua Dosa Laki-Laki” Karya Yuni Lestari akan Dibedah di Jatijagat Kehidupan Puisi

Next Post

Ramuan Sirih-Pinang Dalang Putu Ardiyasa dalam Fragmentari “Ngerajasinga”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ramuan Sirih-Pinang Dalang Putu Ardiyasa dalam Fragmentari “Ngerajasinga”

Ramuan Sirih-Pinang Dalang Putu Ardiyasa dalam Fragmentari “Ngerajasinga”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co