23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suryasangkala Pura Dalem Dukuh, Mengwitani, Badung: Kemasan Angka dalam Rupa

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
June 21, 2024
in Esai
Suryasangkala Pura Dalem Dukuh, Mengwitani, Badung: Kemasan Angka dalam Rupa

Suryasangkala di Pura Dalem Dukuh, Desa Mengwitani, Badung. Foto: Weda Adi Wangsa

SURYASANGKALA merupakan seni merangkai angka dengan rupa atau simbol lainnya. Jika ditinjau secara etimologis Suryasangkala berasal dari tiga kata yakni surya, sang dan kala. Surya berarti ‘matahari’, sang merupakan partikel penunjuk untuk orang yang dihormati, dan kala berarti ‘waktu’.  Dengan demikian Suryasangkala dapat didefinisikan menjadi penanggalan waktu menurut peredaran matahari.

Penulisan dari Suryasangkala memiliki keunikan, sebab dalam memberikan keterangan tahun, penulis menggunakan relief atau gambar tertentu yang memiliki nilai atau jumlah secara numerik. Pengetahuan tersebut bersumber pada lontar Candrabhumi yang membahas mengenai dasanama atau sinonim kata, dan kreta basa penafsiran arti dari suatu kata.

Lontar Candrabhumi secara rinci menjelaskan mengenai dasar pemilihan kata dengan jumlah numerik yang dimilikinya. Dalam lontar Candrabhumi kata-kata tersebut digolongkan berdasarkan analoginya dan diberikan istilah watek.

Watek dibagi menjadi beberapa bagian yakni, watek tunggal (golongan satu), watek dwa (golongan dua), watek telu (golongan tiga), watek pat (golongan empat), watek lima (golongan lima), watek nem (golongan enam), watek pitu (golongan tujuh), watek wolu (golongan delapan), watek sanga (golongan sembilan), watek dasa (golongan sepuluh), watek das (golongan nol) (Sukersa dalam Prabhajnana, 2018: 152).

Selain beberapa watek, juga didasarkan pada ketentuan guru. Guru dibagi menjadi delapan yakni, guru dasanama, guru sastra, guru, wanda, guru warga, guru karya, guru sarana, guru darwa, guru jarwa. Beberapa pedoman pokok yang telah disebutkan mesti dipertimbangkan kembali dengan serius, mengingat para penulis dari Suryasangkala kadang kala memiliki interpretasi yang berbeda pada gambar atau simbol-simbol tertentu.

Penggunaan dari Suryasangkala salah satunyadapat ditelusuri di Pura Dalem Dukuh yang terletak di Banjar Sila Dharma, Desa Adat Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali.

Beberapa hari yang lalu saya nangkil untuk bersembahyang di Pura Dalem Dukuh. Kebetulan pada areal tengah atau madya mandala Pura terdapat pelinggih di posisi timur menghadap barat. Menurut pengempon Pura, pelinggih tersebut dibangun untuk menggantikan pohon beringin kembar yang dahulunya tumbuh di posisi tersebut.

Karena ketinggian pohon beringin itu sudah melewati batas bahkan melewati wilayah Pura, maka para pengempon Pura sepakat untuk mrelina atau memotong dan mencabut pohon beringin tersebut. Sebagai penggantinya pengempon pura harus membuat sepasang pelinggih sebagai stana dari penunggu yang terdapat di pohon beringin kembar tersebut. Suatu hal yang unik, secara tidak sengaja saya melihat relief berupa gambar bulan, gajah, naga dan bhuta pada tembok pelinggih itu.

Gambar itu dilengkapi pula dengan angka aksara Bali di sampingnya, maka terbesit di pikiran, ini pasti Suryasangkala. Penyusunan Suryasangkala didasarkan pada peredaran  matahari yang terbit dari timur, karena timur dianggap awal atau dianalogikan sebagai kepala. Maka dari itu cara menyusun dan membacanya dari angka pertama. Setelah menyusun dengan sederhana angka-angka yang terdapat pada gambar tersebut maka diperoleh angka 1885 Caka.

Gambar sengaja saya tampilkan secara terpotong, karena letak dari masing-masing gambar tersebut cukup berjauhan. Sekarang mari kita coba interpretasikan gambar dan bagaimana gambar tersebut memiliki nilainya masing-masing.

  • Gambar pertama merupakan bulan dengan Dewi Sasi berada di tengahnya. Bulan merupakan planet yang hanya ada satu di dunia, seperti matahari atau surya. Jadi gambar bulan memiliki jumlah satu (1).
  • Gambar kedua merupakan gajah. Sesuai dengan penggolongan dari lontar Candrabhumi gajah termasuk pada golongan delapan atau watek wolu. Serta termasuk pada acuan guru sastra. Gajah dalam bahasa Jawa Kuno disebut hasti, kata hasti memiliki kedekatan dengan kata hasta yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti delapan. Jadi Gajah pada gambar kedua sesuai dengan aksara yang mendampinginya yakni delapan (8).
  • Gambar ketiga merupakan naga. Naga memiliki nilai yang sama dengan gajah yakni delapan. Karena dalam lontar Candrabhumi, naga termasuk dalam golongan delapan memiliki nilai (8) watek wolu.
  • Gambar keempat merupakan bhuta. Bhuta menurut lontar Candrabhumi memiliki nilai lima (5). Hal tersebut didasarkan pada lima unsur pembentuk dalam agama Hindu yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta.

Setelah mendapatkan tahun 1885 Caka, mari kita tambahkan 78. Karena jarak antara tahun caka dengan tahun masehi adalah 78 tahun. Setelah dijumlahkan didapatkan angka 1963 yang merupakan tahun masehi dari pembangunan pelinggih tersebut. Lantas siapa orang yang memahat relief tersebut? Interpretasi sementara saya adalah beliau yang bernama pekak Lahi.

Dugaan tersebut didasarkan pada kunjungan pada tahun 2023 dengan tim Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Badung di rumah masyarakat yang leluhurnya adalah seorang penulis lontar. Rumah tersebut terdapat di lingkungan Banjar Wira Dharma, Desa Adat Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung. Di rumah tersebut didapati pula beberapa lontar dengan penanggalan Suryasangkala. Gambar tersebut sangat mirip dengan relief yang terdapat di Pura Dalem Dukuh, Mengwitani.

Suryasangkala pada lontar milik keluarga Pekak Lahi | Foto: Weda Adi Wangsa

Gambar di atas merupakan Suryasangkala karya dari pekak Lahi. Suryasangkala tersebut menampilkan gambar bulan, gajah, naga dan api. Bulan masih bernilai satu seperti ulasan diatas, begitu pula dengan gajah dan naga bernilai delapan, serta api memiliki nilai lima. Api identik dengan Tri Agni atau tiga macam api yang terdiri dari, Ahawanyaghni yaitu api untuk memasak, Grhaspatyaghni adalah api sebagai saksi dalam upacara perkawinan, dan Citaghni yaitu api dalam diri yang identik dengan peleburan Panca Mahabhuta. Setelah mendapatkan nilai dari masing-masing gambar dapat disimpulkan tahun penulisan lontar tersebut adalah 1883 Caka.

Setelah dipastikan kepada pihak pura memang benar pekak Lahi merupakan seniman yang memahatkan relief tersebut pada tembok pelinggih Pura Dalem Dukuh. Karya Suryasangkala pekak Lahi juga ditemukan di wilayah Banjar Celuk, Desa Adat Kapal, Badung tepatnya di rumah warga yang terletak di utara Pura Purusadha. Gambar Suryasangkala yang sama juga ditemukan lebih awal sekitar tahun 2022.

Suryasangkala karya Pekak Lahi, lontar milik keluarga Pan Korni, Kapal | Foto: Weda Adi Wangsa

Gambar selanjutnya juga merupakan Suryasangkala karya dari pekak Lahi. Nampaknya pekak Lahi gemar menggunakan simbol bulan gajah dan naga, namun perbedaannya kali ini adalah terdapat kupu-kupu. Kupu-kupu dianalogikan adalah hewan yang memiliki sayap, sehingga nilai sayap berjumlah dua. Maka dari gambar diatas tahun penulisannya adalah 1882 Caka.

Jika dilacak dari beberapa temuan lontar dan relief di Pura Dalem Dukuh dapat diinterpretasikan bahwasannya Pekak Lahi seorang seniman yang gemar merangkai angka dengan rupa. Setiap detail lukisan beliau mengandung nilai yang tentu harus kita ketahui sebagai generasi. Sekian cerita dari Desa Tani, Mengwitani. Samapta ri āṣāḍa masa, kang ṡakaning basundari Sang Hyang Gana anyangga catur yuga ikang bhumi. [T]

“Pararudan”: Jalinan Kekerabatan Para Leluhur Beringkit-Gegelang
Perjalanan Dari Jantung Ubud Menuju Setra Dalem Puri Pada Puncak Pelebon Puri Agung Ubud
Ogoh-Ogoh Kreasi Ngurah Vandji di Mengwi: Memaknai Peradaban Air
Tags: MengwiMengwitaniPuraSuryangkala
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelegongan Klasik dari Sanggar Seni Cudamani: Indah dan Memukau

Next Post

“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh

"Bali Sing Ngelah Mémé Bapa" [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co