13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suryasangkala Pura Dalem Dukuh, Mengwitani, Badung: Kemasan Angka dalam Rupa

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
June 21, 2024
in Esai
Suryasangkala Pura Dalem Dukuh, Mengwitani, Badung: Kemasan Angka dalam Rupa

Suryasangkala di Pura Dalem Dukuh, Desa Mengwitani, Badung. Foto: Weda Adi Wangsa

SURYASANGKALA merupakan seni merangkai angka dengan rupa atau simbol lainnya. Jika ditinjau secara etimologis Suryasangkala berasal dari tiga kata yakni surya, sang dan kala. Surya berarti ‘matahari’, sang merupakan partikel penunjuk untuk orang yang dihormati, dan kala berarti ‘waktu’.  Dengan demikian Suryasangkala dapat didefinisikan menjadi penanggalan waktu menurut peredaran matahari.

Penulisan dari Suryasangkala memiliki keunikan, sebab dalam memberikan keterangan tahun, penulis menggunakan relief atau gambar tertentu yang memiliki nilai atau jumlah secara numerik. Pengetahuan tersebut bersumber pada lontar Candrabhumi yang membahas mengenai dasanama atau sinonim kata, dan kreta basa penafsiran arti dari suatu kata.

Lontar Candrabhumi secara rinci menjelaskan mengenai dasar pemilihan kata dengan jumlah numerik yang dimilikinya. Dalam lontar Candrabhumi kata-kata tersebut digolongkan berdasarkan analoginya dan diberikan istilah watek.

Watek dibagi menjadi beberapa bagian yakni, watek tunggal (golongan satu), watek dwa (golongan dua), watek telu (golongan tiga), watek pat (golongan empat), watek lima (golongan lima), watek nem (golongan enam), watek pitu (golongan tujuh), watek wolu (golongan delapan), watek sanga (golongan sembilan), watek dasa (golongan sepuluh), watek das (golongan nol) (Sukersa dalam Prabhajnana, 2018: 152).

Selain beberapa watek, juga didasarkan pada ketentuan guru. Guru dibagi menjadi delapan yakni, guru dasanama, guru sastra, guru, wanda, guru warga, guru karya, guru sarana, guru darwa, guru jarwa. Beberapa pedoman pokok yang telah disebutkan mesti dipertimbangkan kembali dengan serius, mengingat para penulis dari Suryasangkala kadang kala memiliki interpretasi yang berbeda pada gambar atau simbol-simbol tertentu.

Penggunaan dari Suryasangkala salah satunyadapat ditelusuri di Pura Dalem Dukuh yang terletak di Banjar Sila Dharma, Desa Adat Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali.

Beberapa hari yang lalu saya nangkil untuk bersembahyang di Pura Dalem Dukuh. Kebetulan pada areal tengah atau madya mandala Pura terdapat pelinggih di posisi timur menghadap barat. Menurut pengempon Pura, pelinggih tersebut dibangun untuk menggantikan pohon beringin kembar yang dahulunya tumbuh di posisi tersebut.

Karena ketinggian pohon beringin itu sudah melewati batas bahkan melewati wilayah Pura, maka para pengempon Pura sepakat untuk mrelina atau memotong dan mencabut pohon beringin tersebut. Sebagai penggantinya pengempon pura harus membuat sepasang pelinggih sebagai stana dari penunggu yang terdapat di pohon beringin kembar tersebut. Suatu hal yang unik, secara tidak sengaja saya melihat relief berupa gambar bulan, gajah, naga dan bhuta pada tembok pelinggih itu.

Gambar itu dilengkapi pula dengan angka aksara Bali di sampingnya, maka terbesit di pikiran, ini pasti Suryasangkala. Penyusunan Suryasangkala didasarkan pada peredaran  matahari yang terbit dari timur, karena timur dianggap awal atau dianalogikan sebagai kepala. Maka dari itu cara menyusun dan membacanya dari angka pertama. Setelah menyusun dengan sederhana angka-angka yang terdapat pada gambar tersebut maka diperoleh angka 1885 Caka.

Gambar sengaja saya tampilkan secara terpotong, karena letak dari masing-masing gambar tersebut cukup berjauhan. Sekarang mari kita coba interpretasikan gambar dan bagaimana gambar tersebut memiliki nilainya masing-masing.

  • Gambar pertama merupakan bulan dengan Dewi Sasi berada di tengahnya. Bulan merupakan planet yang hanya ada satu di dunia, seperti matahari atau surya. Jadi gambar bulan memiliki jumlah satu (1).
  • Gambar kedua merupakan gajah. Sesuai dengan penggolongan dari lontar Candrabhumi gajah termasuk pada golongan delapan atau watek wolu. Serta termasuk pada acuan guru sastra. Gajah dalam bahasa Jawa Kuno disebut hasti, kata hasti memiliki kedekatan dengan kata hasta yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti delapan. Jadi Gajah pada gambar kedua sesuai dengan aksara yang mendampinginya yakni delapan (8).
  • Gambar ketiga merupakan naga. Naga memiliki nilai yang sama dengan gajah yakni delapan. Karena dalam lontar Candrabhumi, naga termasuk dalam golongan delapan memiliki nilai (8) watek wolu.
  • Gambar keempat merupakan bhuta. Bhuta menurut lontar Candrabhumi memiliki nilai lima (5). Hal tersebut didasarkan pada lima unsur pembentuk dalam agama Hindu yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta.

Setelah mendapatkan tahun 1885 Caka, mari kita tambahkan 78. Karena jarak antara tahun caka dengan tahun masehi adalah 78 tahun. Setelah dijumlahkan didapatkan angka 1963 yang merupakan tahun masehi dari pembangunan pelinggih tersebut. Lantas siapa orang yang memahat relief tersebut? Interpretasi sementara saya adalah beliau yang bernama pekak Lahi.

Dugaan tersebut didasarkan pada kunjungan pada tahun 2023 dengan tim Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Badung di rumah masyarakat yang leluhurnya adalah seorang penulis lontar. Rumah tersebut terdapat di lingkungan Banjar Wira Dharma, Desa Adat Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung. Di rumah tersebut didapati pula beberapa lontar dengan penanggalan Suryasangkala. Gambar tersebut sangat mirip dengan relief yang terdapat di Pura Dalem Dukuh, Mengwitani.

Suryasangkala pada lontar milik keluarga Pekak Lahi | Foto: Weda Adi Wangsa

Gambar di atas merupakan Suryasangkala karya dari pekak Lahi. Suryasangkala tersebut menampilkan gambar bulan, gajah, naga dan api. Bulan masih bernilai satu seperti ulasan diatas, begitu pula dengan gajah dan naga bernilai delapan, serta api memiliki nilai lima. Api identik dengan Tri Agni atau tiga macam api yang terdiri dari, Ahawanyaghni yaitu api untuk memasak, Grhaspatyaghni adalah api sebagai saksi dalam upacara perkawinan, dan Citaghni yaitu api dalam diri yang identik dengan peleburan Panca Mahabhuta. Setelah mendapatkan nilai dari masing-masing gambar dapat disimpulkan tahun penulisan lontar tersebut adalah 1883 Caka.

Setelah dipastikan kepada pihak pura memang benar pekak Lahi merupakan seniman yang memahatkan relief tersebut pada tembok pelinggih Pura Dalem Dukuh. Karya Suryasangkala pekak Lahi juga ditemukan di wilayah Banjar Celuk, Desa Adat Kapal, Badung tepatnya di rumah warga yang terletak di utara Pura Purusadha. Gambar Suryasangkala yang sama juga ditemukan lebih awal sekitar tahun 2022.

Suryasangkala karya Pekak Lahi, lontar milik keluarga Pan Korni, Kapal | Foto: Weda Adi Wangsa

Gambar selanjutnya juga merupakan Suryasangkala karya dari pekak Lahi. Nampaknya pekak Lahi gemar menggunakan simbol bulan gajah dan naga, namun perbedaannya kali ini adalah terdapat kupu-kupu. Kupu-kupu dianalogikan adalah hewan yang memiliki sayap, sehingga nilai sayap berjumlah dua. Maka dari gambar diatas tahun penulisannya adalah 1882 Caka.

Jika dilacak dari beberapa temuan lontar dan relief di Pura Dalem Dukuh dapat diinterpretasikan bahwasannya Pekak Lahi seorang seniman yang gemar merangkai angka dengan rupa. Setiap detail lukisan beliau mengandung nilai yang tentu harus kita ketahui sebagai generasi. Sekian cerita dari Desa Tani, Mengwitani. Samapta ri āṣāḍa masa, kang ṡakaning basundari Sang Hyang Gana anyangga catur yuga ikang bhumi. [T]

“Pararudan”: Jalinan Kekerabatan Para Leluhur Beringkit-Gegelang
Perjalanan Dari Jantung Ubud Menuju Setra Dalem Puri Pada Puncak Pelebon Puri Agung Ubud
Ogoh-Ogoh Kreasi Ngurah Vandji di Mengwi: Memaknai Peradaban Air
Tags: MengwiMengwitaniPuraSuryangkala
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelegongan Klasik dari Sanggar Seni Cudamani: Indah dan Memukau

Next Post

“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
“Bali Sing Ngelah Mémé Bapa” [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh

"Bali Sing Ngelah Mémé Bapa" [1]: Kepemimpinan dan Joged Jaruh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co