12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Menyelami Rasa, Menggali Akar Jati Diri, Mencipta Meningkatkan Daya Saing

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
December 20, 2023
in Esai
Perjalanan Menyelami Rasa, Menggali Akar Jati Diri, Mencipta Meningkatkan Daya Saing

Salah satu adegan dalam pementasan Melantjaran Ka Sasak Karya, dalam rangka Pembukaan Singaraja Literary Festival 2023 | Foto: Dok. Ardi

“Tidak ada cara lain untuk terlibat dalam perjalan ini selain mengalaminya secara langsung. Ini adalah pengalaman yang membutuhkan mata dan hati untuk merekamnya.” —Maria Tri Sulistiani (2020)

“ARDI, kamu mau gak kolaborasi dengan Mahima?”

Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang teman, kakak, guru (apalah sebutannya), yang jelas ia penulis, dosen sekaligus merangkap sebagai Ketua Komunitas Mahima (Komunitas Sastra di Bali Utara), Kadek Sonia Piscayanti, atau sering saya panggil Mbok Sonia.

Mendengar pertanyaan itu, saya tidak lantas menjawab “Ya”. Masih banyak pertanyaan saya ajukan balik kepadanya. Namun, sekali lagi, kata-katanya meyakinkan saya untuk menerima ajakan kolaborasi tersebut.

Singkatnya saya menerima tawaran kerja kolaborasi itu, dan memulainya dengan sebuah karya Dramatic Reading “Malantjaran Ka Sasak” (2023), sebuah pertunjukan alih wahana dari novel berbahasa Bali karya I Gde Srawana.

Pada saat itu saya banyak bertanya kepada beberapa teman yang sudah pernah membuat pementasan sejenis, termasuk menonton video karyanya di akun YouTube. Juga membaca lagi buku-buku yang berkaitan dengan penciptaan dan kajian seni.  Semua itu saya lakukan sebab pertanyaan, “bagaiamana membuat pementasan ‘membaca’ menjadi lebih menarik?” dan “apakah bisa memasukan elemen gerak?”

Dalam pejelahan itu, saya menemukan pernyataan dari seorang kritiskus tari, Sal Murgiyanto, namanya. Sal memandang bahwa karya seni yang berkualitas bukan sekadar menghibur; tetapi mengajak penonton berpikir kritis dan menambah nutrisi kehidupan jiwa manusia (Murgiyanto, 2016).

Dalam pernyataan lain, sambil menyeruput kopi saya memerhatikan—dan mencoba memahami, tentu saja—pernyataan Made Adnyana Ole yang meyakinkan bahwa “karyamu tidak harus dimengerti oleh semua penonton, tetapi buatlah karya yang bisa mengalami secara langsung dan menikmatinya”.

Dengan sudut pandang ketradisian yang sudah melekat, maka saya mewujudkan karya dengan pendekatan visual melalui gerak-gerak dan unsur musikal yang memperkuat dramatic action dalam pertunjukan.

Proses ini menggiring saya pada ritual penyelaman ke dalam hal-hal yang mendasar, seperti tata kelola produksi, tata teknik pentas, dan tata rias busana. Untuk mewujudkan keberhasilan ritual penyelaman itu, saya bekerja dengan I Nyoman Sugita (Sugita) sebagai Direktur Artistik, Kadek Anggara Rismandika (Anggara) sebagai penata musik,  dan Putu Batria Dama Danayu (Dama) sebagai penata tari untuk mewujudkan karya dramatic reading tersebut.

Pengalaman bersama tim Melantjaran Ka Sasak ini menjadi perihal yang sangat bermakna bagi saya. Saya masih ingat jelas, perjumpaan ide tarian ini lahir di mobil ketika perjalanan ke Desa Tembok, Tejakula, untuk melaksanakan program PKM desa binaan.

Saat itu saya bersama Anggara, Dama, dan beberapa orang lainnya—yang tak dapat saya sebutkan satu per satu di sini—membicarakan ide karya ini. Awalnya mereka masih ragu untuk mengatakan “ya” dengan alasan klise karena belum pernah sekalipun menonton bahkan membuat karya dramatik reading.

“Saya percaya pada kalian,” begitu kalimat pamungkas yang saya katakan kepada mereka berdua. Kalimat itu bukan tanpa alasan, saya sudah mengenal Anggara sejak kulaih magister di Jogja tahun 2015, sedangkan Dama merupakan koegrafer dan penari yang potensial—setidaknya menurut saya pasca covid-19 menyerang. Sedangkan Pak Sugita, beliau memang sudah terbiasa di dunia teater dan tari, saya tidak ragu mengajaknya bekerja, sehingga lengkaplah sarana ritual ini.

Proses mengalami secara langsung ini membuat saya teringat kembali dengan salah satu materi kuliah S2 beberapa waktu silam. Salah satu dosen favorit saya, Ibu Jeannie Park, perempuan Korea yang menjadi penari keraton, pernah menjelaskan tentang pentingnya “aset seni”. Salah satu aset seni yang disebut adalah seniman. Sebagai seorang pengelola, maka harus bisa melihat potensi seniman dan menghadirkan ruang berkesenian baginya (Jeannie Park, 2016).

Materi ini paling melekat dalam ingatan saya, bahkan selalu menjadi spirit dalam proses bekesenian. Materi yang membentuk jiwa berkesenian yang realistis dalam memahami seniman, kesenian, dan masyarakat sebagai aset yang harus dipelihara.

Dalam konteks peciptaan ini, seni sastra yang diwariskan sebagai kesenian yang “esklusif” dialihwahana ke dalam media baru untuk mewacanakan makna dengan pendekatan visual, sehingga masyarakat ikut mengalaminya (makna, pesan, dan lainnya) secara langsung.

Menggali Akar Jati Diri

Sejak kecil saya sudah mengenal kesenian tradisional. Bagi saya, menonton anak-anak dan remaja menari atau bapak-bapak yang memainkan gamelan pada saat odalan di desa atau bajar itu sudah biasa. Bahkan sejak usia 7 tahun saya sudah diajarkan memainkan instrument terompong (salah satu instrumen dalam barungan gamelan Gong Gede/Gong Kebyar).

Pada usia 14 tahun saya sudah masuk sebagai anggota sekaa gong. Dan sekarang, sebagai dalang, saya masih terus mementaskan wayang, memainakn gamelan, dan menari topeng. Saking dekatnya saya dengan kesenian tradisional, saya nyaris tidak bisa menyanyikan lagu pop, karena setiap bernyanyi selalu nyerempet gregel (cengkok) kidung atau macapat. Artinya, sekali lagi, bagi saya ketradisian itu sudah melekat, bahkan sudah menjadi jati diri.

Namun, sering sekali, dalam proses berkesenian, saya ingin terlibat atau membuat karya yang lepas dari tradisi itu. Proses yang masih lekat di ingatan saya, misalnya, pada film I Tundung (2022) Karya I Nengah Juliawan dan film Bukan Kirana (2022) karya Koes Yuliadi.

Adalah dua film tersebut tampaknya yang membuat saya berlatih keras untnuk melepas ketradisian itu—karena yang saya tahu tubuh panggung ini sangat sulit lepas, sekalipun ketika disorot kamera. Pada satu kesempatan menjadi aktor dalam karya Sumahardika berjudul “Igel Jongkok”, saya harus menjadi dalang sekaligus aktor teater modern.

Percaya atau tidak, dialektika proses berkesenian ini memperluas jangkauan pengalaman artistik tentang jati diri saya sebagai pelaku seni yang menggeluti kesenian tradisi dan akrab dengan “modernisasi”. Sebuah perjalan panjang yang mempertemukan saya dengan banyak figur di dunia seni.

Pada tahun 2019, saya bertemu Eko Supriyanto—koreografer dan dosen ISI Surakarta—sebagai mentor karya yang akan pentas di Galeri Indonesia Kaya. Beliau berkata, “Ardi, kamu boleh saja berpakaian jas dan berdasi; tapi ingat, kamu adalah orang Bali, tunjukan bahwa ada anak muda Bali yang masih bisa berbahasa Kawi dan melantunkan tembang layaknya Dalang.”

Dalam sebuah diskusi perayaan May May May di Mahima tahun 2023, Tjok Sawitri pernah berkata bahwa “jangan pernah hilangkan ketradisianmu atau berusaha membohongi jati dirimu, tunjukan kekuatan tradisi itu dalam karyamu.”

Hingga pada suatu ketika, saya mendapat telepon, bukan lagi dari Mbok Sonia, tetapi Pak Ole (Suami Mbok Sonia) dan diberi pesan untuk melanjutkan proses kreatif sebelumnya, Melanjtaran Ka Sasak, yang akan dikembangkan kembali dan dipentaskan dalam ruang yang berbeda. Karya Melantjaran Ka Sasak diikutkan dalam program workshop Pekan Raya Cipta Karya Mahima pada 17 November 2023 dan dipentaskan di penutupan acara tanggal 30 November 2023.

Tidak berhenti pada momen itu, ucapan Pak Ole dan Mbok Sonia tentang melanjutkan proses kreatif sepertinya mendapat restu energi alam. Betapa tidak, selepas workshop tersebut, kesempatan kembali datang untuk mementaskan hasil workshop itu di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Tetapi, sebelum proses latihan di mulai, kami—saya dan Pak Ole—duduk berdua sambil menyeruput kopi di sebelah dapur Rumah Belajar Mahima. Kami membicarakan potensi pengembangan karya dan konsep yang akan digunakan. Kami mempertanyakan karya seni macam apa yang semestinya diproduksi—untuk melayani pasar, atau merawat jiwa? Ya, itulah pengembaraan imajinasi seni, kami berdiskusi, kadang ngarul ngidul, sehingga tidak terasa kopi tinggal seteguk.

Sebelum kopi habis, kami memutuskan membuat karya teater wayang berjudul “RWA” yang bermakna “dua”, dengan menggunakan Geguritan Sucita Subudi Karya Ida Ketut Djelantik (1950-1956) sebagai basis sastra yang dijadikan sumber penciptaan.

Geguritan ini mengisahkan perjalan dua sahabat, yaitu Sucita dan Subudi yang melakukan perjalanan spiritual untuk menemukan pengetahuan yang suci. Kisahnya dituangkan ke dalam bait-bait puisi bertembang tradisional Bali yang disebut pupuh yang begitu indah seakan dapat membasahi sesuatu yang kering, menghaluskan yang kasar, dan menerangi yang gelap.

Teks ini terdiri dari 1877 bait, dan 57 pupuh, di mana tembang Sinom dijadikan sebagai tembang idola untuk memimpin tembang-tembang lainnya. Tembang Sinom erat kaitannya dengan tujuan geguritan ini, yaitu untuk membangkitkan santa rasa, karena bagi Ida Ketut Djelantik tembang Sinom itu sadda rumpuh manis (nadanya empuk manis).

Salah satu adegan dalam pementasan RWA dalam rangka Pentas Karya Komunitas di Taman Ismail Marzuki, Jakarta / Foto: Dok. Ardi

Sesuai dengan spirit geguritannya, tembang Sinom dihadirkan sebagai pembuka karya RWA. Namun, sebagai sutradara, Ole memberikan sentuhan puitis pada terjemahan pupuh sinom itu. Kutipan-kutipan dialog Sicuta dan Subudi diambil ketika Sucita bertemu dengan Diah Karuni. Adegan juga memvisualkan keteguhan sang Subudi melawan musuh dalam diri.

Dengan bahasa visual, karya ini menekankan gerapan pada aspek bayangan, baik bayangan wayang (dua dimensi) ataupun aktor dan penari (3 dimensi). Dialog bertembang dihadirkan dalam wayang, sedangkan oleh aktor, dialog dibawakan dengan diikuti gerak tubuh layaknya penari Arja Klasik di atas panggung.

Perwujudan karya RWA bertitik tolak pada jati diri saya sebagai penggarap dan kekuatan para aktor. Ole mempertegas bahwa kita tidak bisa dilihat lebih baik oleh para maestro sastra di Indonesia apabila membawakan teater modern pada umumnya. “Bawakanlah kekuatan Bali, yang ada pada kesenian-kesenian tradisi kita, berdialoglah sambil menari, itu tidak akan dimikili oleh orang lain selain kita orang Bali.”

Dengan banyak ekslporasi dalam waktu yang singkat, penata tari dan penata musik mampu menerjemahkan ide sutradara dengan maksimal. Namun, sebagai catatan, karya ini masih banyak yang perlu diperkuat, misalnya interaksi aktor dengan wayang, visual gerak yang masih mudah ditebak, serta meningkatkan kemampuan penari dalam bertembang.

Tentu, sebagai orang yang baru pertama menginjakan kaki untuk mementaskan karya di panggung TIM, kesempatan ini sangat bermakna dan penting bagi saya dalam upaya mengali akar jati diri untuk bekal dalam kerja sebagai seorang pewaris kesenian tradisi dan bagaimana cara saya mewarisi kesenian tradisi itu.

Berkarya Meningkatkan Daya Saing

Sal Murgiyanto mengingatkan saya tentang pertemuan peradaban Timur dengan peradaban Barat. Tersedia tiga pilihan untuk menyikapinya: pertama, mengadopsi dan merayakan; kedua, menolak dan mengisolasi diri; ketiga, menyikapinya dengan kritis dan kreatif (Murgiyanto, 2016). Jelas saya tidak mau merayakan saja, atapun sebaliknya, menolak dan menutup diri. Karena saya percaya bahwa pertemuan kedua peradaban ini adalah keniscayaan, maka saya memilih alternatif terakhir.

Dalam ilmu tata kelola seni, maka kita harus mampu membaca “the future life” (masa depan sebuah kesenian), apalagi keterkaitan seni dan masyarakat itu selalu berdampingan.

Seperti dikatakana oleh Maria Tri Sulistyani (pendiri Papermoon Pauppet Theatre), bahwa kita harus mampu membaca perkembangan masyarakat (Sulistyani, 2017)— bahkan dalam penelitian tesis saya di ISI Yogyakarta perlu adanya upaya riset untuk menemukan karya yang relevan dengan zamannya (Ardiyasa, 2017).

Untuk mengingkatkan daya saing pada tingkat global, maka seniman dalam menciptakan seni harus mengembangkan karya sebagai ruang pertukaran pikiran dan sajian karya yang berkelas dunia. Sebagai bandingan, karya Wayang Listrik I Made Sidia (Bali) yang berangkat dari tradisi dengan menggunakan visual bayangan yang aktual dan menggunakan bahasa Inggris, misalnya. Dan karyanya spektakuler dengan kemasan visual yang menarik.

Atau karya Papermoon Puppet Teater (Yogyakarta) yang menggunakna boneka sebagai medium utamanya. Tema-tema besar seperti G30S-PKI dituangkan ke dalam sajian yang sederhana dan mudah dipahami, bahkan Papermoon selaku sutradara melibatkan penonton dalam pertunjukannya. Bahasa visual (gestur boneka) digunakan agar mudah dipahami.

Dalam karya tari ada Eko Supriyanto (Solo), dan almarhum Miroto (Yogyakarta) yang mendunia dengan karya-karya yang berakar dari tradisi, bahkan risetnya terhadap kesenian dan tradisi sangat panjang; baru kemudian di wujudkan dalam karya baru.

Untuk menjadi berdaya saing seperti itu, tidak hanya dilakukan menjelang/pada saat akan ada event festival atau proyek tertentu saja, tetapi harus menjadi bagian dan kegiatan secara terus menerus (berkelanjutan).

Karya Melantjaran Ka Sasak boleh saja berhenti pada titik itu, atau karya RWA yang di TIM akan di kembangkan lagi. Tapi prinsipnya, Mahima sebagai produser berkewajiban untuk mencarikan ruang-ruang pentas yang layak, baik fasilitas panggung maupun kualitas penontonnya. Di sisi seniman, kewajibannya adalah berlatih melakukan eksplorasi untuk mengembangkan dan menyempurnakan karya yang sudah ada.

Keterlibatan media dalam konteks menjaga dan mendistribusikan pesan pertunjukan juga menjadi aspek penting untuk selalu ditumbuhkan melalui proses pendukomentasian dan publikasi dalam bentuk tulisan maupun video-video. Konten seperti ini akan berguna menjadi portofolio dan referensi dalam proses penciptaan sebelumnya.

Tidak terasa, pesawat sudah landing, dan kami bersama menyantap nasi be guling. Tancep Kayonan.[T]

Teater, Jakarta, dan Impian yang Terwujud
Pekan Raya Cipta Karya Mahima 2023: Usaha Merawat Bahasa dan Sastra Indonesia
Antologi Cerpen Singa Raja Berkisah: Cerpen Baik dan Cerpen Baik-Baik
Tags: kesenian balisastrasastra baliseni kontemporerTeaterwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekomendasi Kursi Stool Terbaik yang Kuat dan Multifungsi

Next Post

Teman Vespa Bali: Merayakan Hari Jadi Bersama Sejuta Saudara

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Teman Vespa Bali: Merayakan Hari Jadi Bersama Sejuta Saudara

Teman Vespa Bali: Merayakan Hari Jadi Bersama Sejuta Saudara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co