2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Belajar Menulis di Utara | Catatan dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
December 4, 2023
in Esai
Aku Belajar Menulis di Utara | Catatan dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima

Sastrawan Panita Dewi saat menjadi narasumber dalam workshop cipta karya sastra di Komunitas Mahima

“Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Pramoedya Ananta Toer

Menulis itu sederhana, sederhananya tinggal kita temukan kubangannya lalu berendamlah di sana. Sungguh sederhana dalam menulis, namun apakah dalam kesederhanaan itu apakah menulis mampu dipahami secara sederhana juga?

Dalam acara workshop menulis karya sastra serangkaian Pekan Raya Cipta Karya Mahima,  28 November 2023, kami, para pemula, dituntun untuk menyederhanakan pikiran kami dalam menulis.

Banyak hal istimewa yang kami dengar dari para narasumber (dibaca: suhu). Ada si feminis Pranita Dewi, lalu sosok misterius Supartika, hingga sang anggun dewan tertinggi Mahima, Bu Sonia (Kadek Sonia Piscayanti) dan tak kalah kondang sang inspirator Pak Ole (Made Adnyana Ole).

Dari mereka, kami para pemula menarik benang merah bahwasannya dalam kesederhanaan muncul kata “bebas”.

Katanya menulis itu bebas, bebas mulai dari pikiran lalu dibicarakan hingga melakukannya (menulis).

Namun saya secara pribadi bertanya apakah sebuah bentuk kebebasan tersebut?

Tentu kebebasan tidak sesederhana dalam ranah perkataan, secara sederhana dalam alam bawah sadar manusia, Masing-masing individu memberikan sebuah standar pada dirinya, dan memberikan tekanan pada setiap langkah memulainya.

Narasumber pada workshop cipta karya sastra di Komunitas Mahima

Standar ini dimulai dalam diri kita sudah sejak mendengar kata bebas itu. Coba saja dalam langkah awal di saat memulai memikirkan, sebut saja saat mencoba open mind, tentu akan ada sound of judgement (suara-suara penghakiman) dalam benak kita. Bener gak ya tulisanku? Bagus gak ya tulisanku? Dan sejenis lainnya.

Lalu di saat kita memulai open heart, mencoba untuk menyingkirkan suara-suara penghakiman entah darimana datangnya, angin Pantai Penimbangan memunculkan sound of sinism, suara-suara bernada sinis dari sebelah, dengan hinaan purba, menyatakan, “Ih sok serius sekali menulis!” Ih, ih dan ih gak jelas banget, dan sinis-sinis yang lain.

Suara ini membuat tekenan yang luar biasa untuk kita (baca: saya) untuk menutup laptop dan tidak melanjutkan menulis.

Namun setelah mendengar kicauan manis kakak Pranita, hey, hey, menulis itu katanya gak usah diambil pusing.

Dalam diri kita, kata Pranita, ada Jin Iprit yang menjadi sumber inspirasi dan tenaga untuk terus berkarya. Jadi, jadikanlah dia sebagai pembantu imajinasimu, dan tinggalkan dan biarkan suara-suara penghakiman dan sinis berlalu ditelan gerimis.

Sebagai manusia kita merdeka untuk menulis, ini ditambahkan oleh Bu Sonia.

Wah bener juga yaa. Oke, aku selesaikan menulisnya, entah kenapa lagi selalu ada kendala dalam prosesnya. Selanjutnya di saat sudah ada karya dan memulai open will (dibaca: menulis) muncul sound of fear. Nah ini yang biasanya menjadi terali kebebasan dalam berkarya.

“Tulisan apa yang dibuat ini, tulisan yang tidak berkelas, tulisan yang jelek!”. Suara-suara ketakutan kembali muncul dalam berkarya,

Namun bak pelangi di senja Pantai Indah, Ole datang dengan rokok masih melekat di bibirnya. Eh engko nulis jangan takut.

Oke ini contoh sederhana, misalnya seorang bersepeda gunung (downhill) jika ingin berhasil maka jangan melihat banyaknya pohon sebagai penghalang, tapi melihat banyaknya celah-celah jalan guna menjadi rute. Bungkam suara-suara tak penting dengan sudut kreativitas yang wajib menyenangkan, dan dibawa senang.

Hal-hal yang menyenangkan adalah hal-hal kita tahu, hal-hal yang dekat dengan kita, dan untuk membicarakan sebuah tujuan, arah lebih penting daripada sebuah kecepatan. Jeg lagasang gen.

Sastrawan Panita Dewi saat menjadi narasumber dalam workshop cipta karya sastra di Komunitas Mahima

Aku mulai tersadar bahwasannya manusia hadir dan hidup karena sebuah harapan, seiring berjalannya waktu muncul kecemasan dari setiap harapannya. Jadi masa bodo, kalau mau jadi penulis yang baik, maka bacalah karya-karya yang baik, dan mulai berpikir bahwa manusia berpikir.

Jadi bilamana ingin menjadi manusia maka menulis.  Karena menulis, manusia butuh berpikir.

Menulis itu subyektivitas di antara sudut padang yang muncul. Diantara sebuah kalimat bahkan kata selalu muncul berbagai intepretasi yang berbeda. Pada waktunya sebuah kalimat memunculkan beberapa paragraf yang memberikan hadiah dari waktu, itu yang kami sebut kenangan.

Terakhir bangunkan logika-logika estetika seorang sastrawan yang memilih dan memilah diksi yang mampu mempengaruhi psikologis pembaca. Mampu menjadi influencer bagi pembaca. Membaca menentukan manis pedasnya tulisan yang lahir. Membacalah karya yang manis, membacalah karya yang pedas.

Aku merasa senang dapat belajar, dan aku akan selalu rindu untuk belajar, apabila rindu itu punya nama, aku harap itu adalah Mahima. [T]

Pekan Raya Cipta Karya Mahima 2023: Usaha Merawat Bahasa dan Sastra Indonesia
Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima
Tags: Komunitas Mahimasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Astra Manobhawa: Panah-Panah Cinta dalam Gurit Sri Nata Wasitwa Amla Nagantun Karya Tjokorde Gde Ngoerah

Next Post

Wihara Giri Manggala: Menyatukan Kearifan Hindu dan Buddha

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Wihara Giri Manggala: Menyatukan Kearifan Hindu dan Buddha

Wihara Giri Manggala: Menyatukan Kearifan Hindu dan Buddha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co