6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Prakata: Jejak di Atas Jalan Bahasa

I Wayan Artika by I Wayan Artika
November 25, 2023
in Esai
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Prakata: Jejak di Atas Jalan Bahasa

(Mungkin kalimat awal yang tidak enak dibaca!) Ada empat keterampilan berbahasa. Maka hanya para penulis yang melakukan dengan lengkap. Keempatnya! Para penulis menyisakan atau meninggalkan dokumen. Berupa tulisan yang dicetak (print capitalism). Penulis menghasilkan produk berbahasa, entah buku risalah, resep masakan, mantra purba dari diksi-diksi bertanda salib dari sebuah kamus, surat-surat dari dunia yang dipingit, etnogafi persalinan seorang antropolog atau deskripsi desa yang serupa novel yang sangat memukau karena rel kereta membelah persawahan jadi dua bagian simestris, sebaris lirik, ramuan obat dari negeri usada, pengalaman di penjara, memoar sebuah pulau gulag, dan masih banyak contoh lain yang tiada berhingga.

Benarkan para penulis tidak perlu pembaca?

Apa harus tulisan mendapat para pembaca?

Untuk apa dan untuk siapa seorang menulis?

Beberapa genre atau jenis tulisan mengharuskan pembaca karena tulisan ini memang ditujukan untuk pembaca. Surat Kartini! Ini contoh yang baik. Tapi Gao Xinjian berbisik bahwa ia menulis untuk berbicara dengan dirinya sendiri.

Mungkin Anne Frank juga. Ia menulis perasaannya atas perang. Bagaimana dengan Darwin atau Wallace? Mereka para petualang dunia fosil dan pengoleksi specimen serangga. Setelah pulang dari Galapagos atau dari Malaya, mereka merawat koleksinya. Lantas menulis risalah-risalah. Untuk apa Darwin menulis? Dan, untuk apa Walace menulis? Apakah hanya untuk berbisik kepada dirinya sendiri? Tidak. Darwin menulis The Origin of Species untuk mengajukan teori baru mengenai asal mula kehidupan dan akan menentang  “Bab Kejadian” dalam Perjanjian Lama. Tugasnya sebagai penulis teori tidak selesai pada tersusunnya risalah tetapi masih harus menyebarkannya kepada masyarakat agar ada yang membaca. Untuk ini Darwin harus bekerja dengan perebit. Tapi tidak semua penerbit percaya penulis. Karena itu, buku Darwin ditolak sebelum dibaca.

Ada kekuatan lain yang ikut bermain dalam keterampilan menulis. Lembaga penerbitan dan industri percetakan. Merekalah yang getol menemukan penulis dan mencetak karya untuk dijual. Tiga keterampilan berbahasa lainnya gagal dalam hal ini.

Di atas dunia dagang. tulisan pun menjadi komoditas. Di sini penulis seolah mendapat pembaca. Tidak; tetapi hanya mendapat gerombolan para pembeli yang dimuliakan untuk menggerakan roda industri buku. Di tengah keadaan dunia yang seperti ini, para penulis tidak banyak yang ingin kaya dari tulisannya. Mereka sama sekali tidak bisa memprediksi tulisan mereka akan laku di pasar buku. Maka para editor penerbitan pun mencoba masuk untuk membantu penulis agar karya mereka laris di pasar.

Yang pertama bagi penulis adalah menyampaikan untuk dirinya sendiri. Jadi, demi sederhananya, Gao atau Anne Frank, dapat dibenarkan. Setelah sebaris kalimat usai para penulis tidak meninggalkan kalimat itu di atas kertas ketika tinta mengeras. Penulis kembali membacanya. Terjadi peristiwa metamorfosis: dari penulis jadi pembaca. Artinya, pembaca itu amat mutlak dalam dunia tulis-menulis. Penulis selalu butuh pembaca dan itu adalah irinya karena yang menjadi pembaca pertama setiap kalimat yang disusun adalah dirinya sendiri, penulis itu: K’tut Tantri, Soe Hok Gie, Linus Suryadi, dan siapapun penulis itu.

Para penulis pada mulanya adalah kaum mastubator!

Proses ini berkembang secara sosial, kelak setelah suatu tulisan dibaca ramai-ramai dan melewati abad-abad kemudian. Para pembaca pun hadir dalam konstelasi komunikasi tertulis. Mereka adalah penerima pesan yang (katanya) dikirim oleh penulis dari tempat, waktu, zaman lain yang jauh. Inilah hebatnya tulisan. Melewati waktu dan ruang. Semakin luas lagi dengan adanya pertimbangan tertentu seperti industri atau perdagangan buku atau idealisme penyebaran luas pemikiran. Maka lahirlah penerjemahan buku. Dunia pun diikat atau disatukan oleh pengetahuan yang sama. Di sini juga lahir pusat-pusat wacana dan pengetahuan yang dirujuk selama berabad-abad, sampai ditemukan tulisan lain ayng menyimpan pengetahuan atau wacana baru, baik kiranya untuk menggusur pusat-pusat yang telah ada.

Hubungan pembaca dan penulis sangat sulit diprediksi. Pembaca sama sekali tidak bisa diciptakan, lalu dikendalikan atau hanya dikontrol. Hal ini mungkin bagi tulisan-tulisan di sekolah atau uinversitas sebagai bacaan wajib.

Selebihnya pembaca bebas memilih buku yang dibaca. Maka penulis yang sukses meraih banyak pembaca adalah karena kebetulan belaka atau nasib baik. Penulis sama sekali, dengan demikian tidak mau pusing mengurus pembaca. Itu wilayah lain. Kiranya itu bukan bagian pekerjaan seorang penulis. Itu ranah yang tidak dijangkau. Artinya, penulis dan pembaca tidak bisa saling memengaruhi. Mereka merdeka mutlak. Tugas penulis hanya menulis. Pembaca hanya membaca. Yang pusing soal ini adalah industri buku (penerbitan, percetakan, toko buku). Print Capitalism yang baru saja lewat, sukses membangun Menara bisnis tulisan.

Bagi seorang penulis baru yang sedang masa masturbasi awal yang memabokkan, maka jangan sekali-sekali bercita-cita mendapat pembaca. Ini ide yang membunuh motivasi. Karena bertahun tahun atau lebih lama lagi, pembaca tak akan ada. Maka menulis hanyalah menulis dan untuk memenuhi hasrat pembaca, jadilah kaum mastubator.

Maka, Gao benar! Ia menjadi penulis terbaik untuk dirinya sendiri. Karena itu ia puas dan terus menulis. Tanpa target jadi penulis atau tak pernah menghitung dan berharap pembaca atau buku-bukunya dicetak dan tersebar luas. Juga berharap meraih Nobel Sastra! Tapi, ia hanya nulis untuk dirinya sendiri. Atau minimal bagi Kartini di ruang pingitan Jepara Pantura Jawa, menulis surat-surat kepada sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda, seperti Stella. Tak ada maksud untuk terbit jadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini hanya menulis pengalaman jiwanya dalam pucuk-pucuk surat esai untuk diungkapkan. Surat-suratnya terkirim dengan gerobak ditarik sepasang sapi jawa berpunuk, menjadi salah satu pernik kecil di antara bergoni-goni hasil bumi Hindia Belanda yang dikeruk di tanah jajahan, melewati Posweg, menuju Pelabuhan di pesisir Semarang atau Batavia, naik kapal laut dan suatu musim yang telah berganti, tibalah jua di Pelabuhan di Negeri Belanda.

Kuasa penulis atas tulisannya tidak ada, sepanjang hidupnya sebatas merahasiakan. Seperti cerita Penyair Umbu Landu Paranggi yang menyelipkan puisi-puisinya di bawah kardus alas tidurnya di Kota Denpasar. Tapi kelak, sepeninggal para penulis itu, keluarganya secara tidak sengaja menemukan tulisan. Sejarah pembacaan telah dimulai di sini. Lantas, menyebar secara terbatas. Memicu rasa penasaran lebih banyak orang. Ujungnya terbit jadi buku, beredar luas. Mungkin ini Nasib baik.

Tapi memang sebaliknya, pengarang tidak hanya menulis dalam sunyi dan bagi dialog diri. Mereka juga berjuang  agar tulisannya dibaca. Sampai pada terbit jadi buku dan dijual di toko-toko atau dibeli untuk perpustakaan; masih mampu penulis lakukan dengan jejaring kerja industri buku. Tapi apakah buku ini dibaca atau tetap bergeming di rak toko atau perpustakaan; sama sekali berada jauh dari jangkauan dan harapan penulis. Buku-buku yang bernasib malang, segera dimasukkan kardus lagi. Tempat sangat terbatas di rak toko dan ada buku baru yang akan bertaruh uji nasibnya. Apakah buku-buku ini hanya akan mengulang nasib buku yang malang? Semua itu ada di tangan pembaca. Para pembaca penguasa.

Betapa terasa mulia sebuah buku yang baru dicetak. Hidup mati penulisnya. Tapi cerita bisa berbalik di masyarakat. Banyak buku tidak tersentuh pembaca. Buku ini gagal. Yang membaca hanya penulisnya.

Karena itu, pasti terlalu jemawa ucapan Gao (walaupun sejatinya realistis), menulis untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Demikian adanya jika kehadiran pembaca mutlak dalam konstelasi penulis dan pemba. Tapi pada mulanya adalah aktivitas untuk diri sendiri. Siapapun penulis hanya menulis untuk dirinya sebagai syahwat purba dan ini tidak menjadi umum, untuk sebuah ”masturbasi”. Karena pembaca itu tidak jelas pada awalnya, misteri terbesar dunia kepenulisan, kalau saja itu menjadi target para penulis, maka mereka tidak pernah menulis.

Anne Frank, Soe Hok Gie, K’tut Tantri menuliskan kengerian Perang Dunia II dari mata kanak-kanak yang ras atau etniknya terancam; Gie menuliskan protes-protesnya dalam sunyi buku harian yang kelak menjadi Catatan seorang Demonstran; menulis bagi K’tut Tantri adalah dokumentasi kenangan indah dalam perjalanan mencari tanah impian, di sebuah negeri yang tengah dilanda revolusi, kelak jua menjadi Revolt in Paradise.

Syukurnya para penulis tidak pernah memulai untuk pembaca sebagai mana pengetian sosiologis atau bangunan pasar industri buku. Pada mulanya penulis memang dirinya sendiri. Prinsip hidupnya menjadikan ia bertahan sebagai penulis atau meninggalkannya. Pada tahap inilah seseorang adalah penulis. Mereka memilih menulis sebagai jalan bahasa.

Tapi peranan pembaca sangat besar. Bagi penulis ini untuk legitimasi jiwa atau pengakuan. Seorang penulis telah lolos uji. Tapi bagi industri atau kapitalisme kertas, pembaca adalah pasar. Kemuliaan ide dalam buku-buku tidak penting. Tetap sebagai tumpukan kertas dan tinta. Karena itu, jika semulia apapun buku yang tidak laku harus dikembalikan pada materialnya: kertas dan tinta. Lantas dirajang untuk mengepak barang-barang yang mudah pecah yang akan dikirim jauh. Atau diobral di loak. Amat jauh antara isi buku dan buku itu sendiri (kertas dan tinta).

Banyak penulis pada akhirnya menerima kemuliaan dari para pembacanya. Harga dirinya merangkak. Tulisan telah memberi posisi sosial yang tinggi. Itu artinya, pada sesi selanjutnya peranan pembaca sangat penting.

Jika saja saya menulis untuk pembaca, maka saya tidak akan menulis terus. Saya telah mencapai jalan menulis sejak lama, puluhan tahun. Ini bukan jalan orang banyak. Hanya keberuntungan yang paling dalam artinya bagi saya atau jalan sesat. Tapi saya merasa bahagia di jalan ini.  Saya memiliki pembaca walaupun tidak banyak. Saya memiliki belasan buku dan akan membedakan saya dengan mereka yang tidak memiliki karya. Buku dan banyak tulisan lain sebagai jejak di jalan bahasa.

Karena peranan pembaca itu sangat penting, saya pun berjuang untuk mendapat pembaca. Hal ini dilakukan dengan menulis di media massa. Satu tulisan yang dimuat adalah tabungan rasa bahagia yang panjang sehingga tetap dapat menulis tiada henti: dimuat atau tidak.

Era disrupsi mengubah makna pembaca dalam pandangan lama era print capitalism. Para redaktur penjaga mutu tulisan di industrI media dan buku sudah tidak diperlukan lagi. Menjadi penulis yang menulis saja, lagi-lagi seperti Gao. Media sosial adalah ruang baru bagi kultur menulis. Segala tulisan disebarkan di sini. Jadi, dalam konstelasi penulis dan pembaca, media sosial adalah savana luas sidang pembaca.

Di dunia media sosial itulah saya menyampaikan tulisan. Buku ini dibuat dari kertas dan tinta yang harum. Kembali ke era yang sudah ditinggalkan, walau tidak secara total. Dibutuhkan uang untuk membayar penerbit dan percetakan. Di sini saya menyampaikan terima kasih kepada Universitas Pendidikan Ganesha yang sepenuhnya mendanai buku ini dan untuk kesekian kalinya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang mengelola media online yang telah memuat hampir seluruhnya dari tulisan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada sejumlah mahasiswa yang kebetulan saya beri satu atau dua dari tulisan buku ini untuk dijadikan materi kuliah.

Kata kunci judul buku ini adalah ”menafsir”, ”realitas”, dan ”wacana”. Penulis, dari pandangan saya, selalu berurusan dengan realitas dan waca sebagai objek yang akan dipindahkan dengan suatu teknik ke atas ruang tulisan, entah digital atau kertas. Ada oposisi antara realitas dan wacana. Tulisan pun kemungkinan besar adalah berbagai takaran deskripsi atas realitas atau kenyataan dan wacana yang mengambang dalam dunia pikiran sosial. Tulisan dalam buku ini adalah disusun dengan metode interpretasi. Karena itulah judul buku ini demikian, Menafsir Realitas dan Wacana.

Mungkin suatu sikap yang menyederhanakan bahwa saya memahami suatu entitas sosial yang kompleks dalam atau lewat oposisi antara realitas dan wacana. Tafsir atau interpretasi terhadap realitas dan wacana akan mengubah keduanya untuk semakin subjektif. Pada akhirnya tulisan pun sama sekali tidak objektif. Ia hanya konstruksi yang bergantung kepada penulisnya. Kalau saja tulisan dibaca  dan diakui kehebatannya atau dipercaya oleh orang-orang di luar diri penulis, maka ini adalah sebuah kesamaan saja. Orang yang tidak menulis menggunakan tulisan orang lain yang dibacanya dan yang dipercayainya sebagai yang mewakili dirinya sendiri. Jadi, hanya itulah arti pembaca bagi tulisan. Maka hubungan yang ada di antara penulis dan pembaca adalah hubungan-hubungan yang subjektif dan bebas. [T]

Catatan:

  • Tulisan ini diambil dari Prakata dalam buku “Menafsir Realitas dan Wacana” karya I Wayan Artika
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca
Tags: BahasaBukurealitaswacana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

STAHN Mpu Kuturan Singaraja: 2 Guru Besar Dikukuhkan, 129 Mahasiswa Diwisuda

Next Post

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

Buku "Menafsir Realitas dan Wacana" | Epilog: Mencari Pembaca

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co