6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
September 18, 2023
in Khas
Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja

Suasana Minikino Film Week di Singaraja | Foto: Dok. Bayu

BANYAK yang beranggapan barangkali “diskusi” memang bukan menjadi nama tengah Singaraja. Di kota yang terletak di Bali bagian utara ini, meski terdapat beberapa perguruan tinggi, nyatanya ruang diskusi jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan manusia.

Dari sedikitnya ruang diskusi serius, selain di Rumah Belajar Komunitas Mahima tentu saja, Kedai Kopi DeKakiang bisa jadi salah satu ruang penawar dahaga orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Kedai kopi yang terletak di Jl. Sedap Malam, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, itu memang tercatat beberapa kali menjadi ruang diskusi serius—tapi asyik—tentang banyak hal.

Selain tempatnya yang representatif: luas, sederhana, dengan menu yang tak sampai menguras gaji bulanan, pemiliknya juga pintar membangun dan memelihara relasi.

Barangkali itulah asalan kenapa kolaborator penyelenggara Minikino Film Week memilih kedai kopi tersebut menjadi salah satu venue untuk memutar beberapa film pendek yang terpilih.

Minikino Film Week 9 diselenggarakan dari tanggal 15 sampai 23 September 2023 di 14 tempat di Bali, termasuk Kedai Kopi DeKakiang di Singaraja. Maka tak heran, jauh sebelum hari pemutaran film dilaksanakan, di beberapa sudut kedai kopi tersebut, terdapat beberapa poster dan banner panjang yang dipasang sebagai bahan penunjang informasi.

Bekerja sama dengan Singaraja Menonton, sebuah platform yang menyediakan informasi seputar screening, workshop, dan festival film, Minikino Film Week di Singaraja diselenggarakan pada 16-17 September kemarin dari pukul 18.30 sampai 22.00 Wita.

Suasana Kedai Kopi DeKakiang saat Minikino Film Week berlangsung / Foto: Dok. Bayu

“Ada empat program yang diputar di Singaraja. Program Jolly, Surprise!, Toronto Reel Asian, dan Mother! Dari keempat program tersebut, terdapat 24 film pendek dari berbagai negara,” jelas Kardian Narayana, Founder Singaraja Menonton.

Dalam Program Jolly terdapat tujuh film pendek: 11 (2022) karya Vuk Jevremovic dari Jerman; Spirit of the Fores (2022) karya Nandini Rao dari India; On the Other Side of the Mountain (2022) karya Yosman Serrano Lindarte dari Kolombia; Letters from the Edge of the Forest (2022) karya Jelena Oroz dari Kroasia; Luce and the Rock (2022) karya Britt Raes dari Belgia; Svetla (Lights) (2023) karya Jitka Nemikinsova dari Czech Republic; dan I’m not Afraid! (2022) dari Marita Mayer dari Jerman.

Semua film dalam program tersebut mengangkat tema tentang pengalaman filosofis dan petualangan yang berkaitan dengan alam: hutan, gunung, dan laut. Film Spirit of the Fores, misalnya, bercerita tentang pengalaman dan kesadaran seorang anak dalam memahami bagaimana pentingnya sebutir biji pohon terhadap berlangsungnya kehidupan mahluk di bumi. Film pendek ini mengingatkan kita pada film animasi—sebagaimana genre Spirit of the Fores—The Lorax (2012) karya Chirs Renaud.

Atau film On the Other Side of the Mountain, yang bercerita tentang kekonyolan dua orang anak kecil yang melakukan perjalanan jauh hanya untuk melihat laut secara nyata. Diceritakan, selama hidup, mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman empiris tentang laut. Bahkan mereka tidak tahu, apakah warna laut sama birunya dengan warna langit? Premis utama dalam film ini, meski dibalut dengan humor, sebenarnya memiliki muatan yang serius, yaitu masalah ekologi.

“Ada tiga tema yang saya tangkap dalam ketujuh film tersebut: soal ekologis, gotong royong (kolaborasi), dan filsafat—mempertannyakan eksistensi sebagai manusia,” ujar Altha Rivan, salah satu penonton yang hadir.

Sementara itu, dalam Program Surprise! terdapat enam film yang diputar: Ma Gueule (Facking Head) (2022) karya Gregory Carnoli dan Thibaut Wohifahrt dari Belgia; Kakak Jenggot (2022) karya Nur Falah Muzakkir dari Indonesia; Garek (2022) karya Cech Adrea dari Malaysia; At Little Wheelie Three Days Ago (2022) karya Andrew Stephen Lee dari United States; Safe as Houses (2022) karya Mia Mullarkey dari Irlandia; dan It’s You (2021) karya Yu WON dari Korea Selatan.

Sebagaimana nama programnya, keenam film pendek di atas memang menghadirkan kejutan-kejutan kepada penonton. Seperti Ma Gueule yang pemeran utamanya dituduh dan dicurigai sebagai seorang teroris, atau Kakak Jenggot yang bercerita tentang anak kecil dengan pikiran bahwa jenggot adalah penyebab seseorang menjadi teroris, atau It’s You yang memberi kejutan melalui absurditas dan membuat penonton mengutuk diri sendiri sebab tak paham apa yang sedang diperdebatkan oleh para pemerannya.

Kardian Narayana saat sedang memantik diskusi / Foto: Dok. Bayu

“Saya melihat, dalam film Ma Gueule, terdapat semacam Arabphobia dan trauma kolektif jangka panjang terhadap aksi terorisme di Eropa. Sebagai sebuah premis, tema ini sebenarnya sudah usang. Tapi, secara realitas, beberapa orang Eropa barangkali masih memiliki trauma itu,” terang Azman H. Bahbereh, kritikus film muda yang turut hadir dalam screening.

Dan seperti program sebelumnya, dalam Program Toronto Reel Asian juga terdapat enam film pendek yang semuanya dari Kanada: Dutar (2022) karya Roda Medhat; Perennials (2022) karya Hannah Polinski; In Silence, We Sing (2022) karya Vivian Li; Maya (2022) karya Samyukth Movva; Papaya (2022) karya Dede Chen; dan Once in a Reed Moon (2022) karya Yi Shi.

Keenam film tersebut mencoba menyampaikan cerita tentang diaspora orang-orang imigran di Kanada yang gelisah akan indentitas, kesepian, kesendirian, dan bagaimana menjadi seorang minoritas. Dari semua film tersebut, terdapat dua film experimental, yaitu Dutar dan Papaya. Sisanya bergenre fiksi. Dan yang menarik adalah, beberapa sutradara dari enam film tersebut, turut hadir meramaikan acara screening. Mereka datang langsung dari Kanada.

“Ini kunjungan kami yang pertama di Indonesia dan di Bali. Kami sangat berterima kasih kepada semuanya atas apresiasi film karya kami,” kata Dede Chen, sutradara film Papaya, sesaat setelah menjawab beberapa pertanyaan dari penonton.

Terakhir, dalam Program Mother! terdapat lima film pendek yang diputar: Sweet Summer (2021) karya Sabrina Mertens dari Jerman; File (2022) karya Sonia K. Hadad dari Iran; A Day That Year (2022) karya Stanley Xu dari Singapura; Aime (2022) karya Gillie Cinneri dan Anouk Ferreira da Silva dari Belgia; dan Your Way My Way (2022) karya Sharon Kleinberg dari Mexico.

Film-film dalam Program Mother! bercerita tentang hubungan kompleks antara ibu dan anak. File (2022) karya Sonia K. Hadad terpilih sebagai nominasi film terbaik dalam Festival Minikino Film Week 2023 kategori fiksi. Meski bercerita tentang hubungan antara ibu dan anak, menurut Azman, jika ditelisik lebih dalam, kita akan menemukan sesuatu yang lebih daripada itu.

“Saya melihat film File justru bukan hanya sekadar hubungan antara ibu dan anak, lebih dari itu, sutradara mengajak kita untuk melihat dan mempertanyakan kebenaran dari berbagai sudut pandang—dan itu memang ciri khas sineas-sineas dari Iran,” terangnya.

Sedangkan, film Aime (2022) karya Gillie Cinneri dan Anouk Ferreira da Silva memiliki gaya bercerita, khususnya di ending, seperti dalam cerpen-cerpen Anton Chekhov—selain meng-“KO”-kan, ia juga bisa membuat kita tersenyum simpul dan senang. Lega. Tanpa beban, tapi membuat penasaran, juga mengejutkan, lalu berkata, “Oh, sialan. Ternyata begitu ceritanya.”

Sementara itu, tanggapan juga datang dari seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Singaraja, Rusdi Ulumudin. Menurutnya, film-film dalam Program Mother! merupakan kritik kepada orang tua yang melakukan atau memperlihatkan perbuatan negatif di depan anak-anak mereka. “Dan itulah yang menyebabkan anak-anak di beberapa film melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan dan diajarkan oleh ibu mereka,” jelasnya.

Keempat program tersebut diputar dalam dua malam secara kontinu. Artinya, satu malam diputar dua program. Malam pertama film-film dari Program Jolly dan Surprise yang diputar lebih dulu, Sabtu (16/9/2023). Sedangkan film dalam Program Toronto dan Mother diputar di malam berikutnya, Minggu (17/9/2033).

Hidupnya Ruang Kolaboratif

Pada malam itu, Kedai Kopi DeKakiang menjadi pusat perhatian. Orang-orang ke sana tak lagi hanya sekadar ingin nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul, tapi juga menikmati film-film pendek yang diputar dan didiskusikan. Selama dua malam, DeKakiang seolah menjelma menjadi Le Procope di Paris pada abad ke-18.

Layaknya Le Procope—kedai kopi milik orang Italia bernama Francesco Procopio Dei Coltelli yang menjadi tempat berbagi informasi pencerahan kalangan intelektual dan seniman Paris seperti JJ Rousseau, Diderot, Voltaire, dan Pirot, sampai menghasilkan Revolusi Prancis—DeKakiang juga menjadi ruang tukar informasi dan pemikiran, meski dengan bobot yang berbeda tentu saja, tentang tafsir, kritik, hingga ekosistem film di Bali.

Diskusi yang dipantik oleh Kardian Narayana, wartawan sekaligus programer film Indonesia Raja; Dian Suryantini, wartawan cum sutradara film; dan Azman H. Bahbereh, selaku kritikus film muda dari Singaraja itu, membuat Minikino Film Week 9 semakin hidup dan meriah: luber akan tafsir dan argumen mengenai film yang diputar.

Dian Suryantini, selaku sutradara yang memulai debutnya dengan dua film pendek: Renjana dan AIR, mengaku senang dengan kegiatan tersebut. “Kegiatan ini merupakan tempat belajar bagi saya. Dari film-film yang diputar, sebagai sutradara yang masih baru, saya banyak mendapatkan inspirasi dan pelajaran yang sangat berharga,” ujarnya.

Azman H. Bahbereh dan Dian Suryantini sedang memantik diskusi / Foto: Dok. Bayu

Hadirnya Minikino Film Week 9 di Singaraja, disadari atau tidak, telah menghidupkan ruang-ruang kolaborasi antarkomunitas. Hal ini dibuktikan dengan terlibatnya komunitas seperti Singaraja Menonton (sebagai pihak kolaborator Minikino) dan Komunitas Omah Laras Singaraja—yang mengadakan workshop sablon cukil terlebih dahulu sebelum acara screening film dimulai.

Menurut Kardian Narayana, kolaborasi tersebut sebagai bentuk solidaritas antarkomunitas yang ada di Singaraja. Ia ingin bergerak bersama-sama dan membuktikan kepada siapa pun bahwa  film bisa terhubung dengan banyak hal; dengan kopi, tongkrongan, bahkan fashion: sablon. Melalui screening film, banyak orang dari latar belakang yang berbeda juga dapat duduk bersama. Jadi, selain menghubungkan, juga menyatukan.

“Saya ingin mendekatkan film pendek kepada teman-teman yang mungkin masih awam soal itu. Okelah semua orang tahu soal film panjang di banyak platform, tapi kalau film pendek kan kebanyakan hanya bisa ditonton melalui festival. Meski di YouTube ada sebenarnya, tapi lebih seru kalau nonton bareng-barenglah,” imbuhnya.

Selain itu, wartawan Kompas TV itu mengaku bahwa dirinya ingin orang-orang datang ke Buleleng. Menurutnya, ini kesempatan bagus untuk menumbuhkan ekonomi kreatif, jika saja pemerintah peka akan hal tersebut. Selama ini, ketika berbicara ekonomi kreatif, pemerintah belum menyentuh ruang-ruang kolaboratif semacam ini.

“Ruang kolaboratif itu saling menghidupkan,” ujar Kardian.

Sebagai kota yang pernah menjadi pusat segala hal di Bali dan NTB, Singaraja memang memerlukan lebih banyak ruang-ruang kolaborasi. Bukan saja soal film, tapi juga ekonomi, sastra, politik, filsafat, sejarah, agama, sains, dan ilmu pengetahuan secara umum. Memperbanyak pusat perbelanjaan dan hiburan profan tanpa diimbangi dengan usaha untuk menumbuhkan ruang-ruang diskusi atau wacana, ide, gagasan yang serius—tapi asyik—hanya akan menjadikan Singaraja sebagai kota yang “membosankan”.

Semoga, dengan adanya Minikino Film Week selama dua malam kemarin, menjadi pemantik kesadaran bersama akan pentingnya ruang-ruang kolaborasi antarkomunitas di Singaraja.[T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Minikino Film Week 2023: Tempat Bertemunya Pelaku Industri Film dan Upaya Penguatan Perfilman Bali
Tags: balifilmfilm pendekMinikinoMinikino Film WeekSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof. Ni Luh Kartini dan Perjuangan Pertanian Organik

Next Post

Dinasti dalam Pendidikan Tinggi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Dinasti dalam Pendidikan Tinggi

Dinasti dalam Pendidikan Tinggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co