2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi yang Hidup:  Wayang Ramayana dan Kreativitasnya

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
September 12, 2023
in Esai
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

WAYANG Ramayana merupakan salah satu dari berbagai jenis pertunjukan wayang yang sangat populer di Bali. Kisah epik Ramayana yang dipentaskan dalam wayang ini telah memikat hati masyarakat Bali. Keindahan visual wayang kulit yang hidup, diiringi oleh musik gamelan yang memukau, menciptakan pengalaman pertunjukan yang luar biasa.

Wayang Ramayana melalui kisah ramayananya memiliki pesan mendalam dan memberikan petuah berharga bagi penikmatnya. Kisah tentang kebaikan, kesetiaan, dan perjuangan melawan kejahatan yang dihadirkan dalam cerita Ramayana memberikan inspirasi dan pelajaran moral yang berharga bagi masyarakat Bali.

Oleh karena itu, Wayang Ramayana bukan hanya pertunjukan wayang biasa, melainkan juga sebuah warisan budaya yang memperkaya dan memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai hidup dan spiritualitas di Bali.

Sebelum Wayang Ramayana muncul ada Wayang Parwa yang tak kalah populernya, menceritakan kisah epik Mahabharata yang musik iringannya hanya menggunakan empat buahgender wayang sebagai pendukungnya dramatik.

Pengamatan saya, Dari sajian Wayang Parwa menuju Wayang Ramayana mengalami perkembangan melalui olah kreativitas yang menjadi bukti nyata bagaimana seniman dalam terdahulu dapat mengembangkan dan memperkaya sebuah tradisi seni yang telah ada.

Perkembangan dalam Wayang Ramayana ini bukan hanya mengenai unsur cerita dan aspek musiknya saja, tetapi juga secara signifikan meningkatkan keseluruhan pengalaman pertunjukan. Musik yang lebih dinamis dan mengesankan menciptakan nuansa yang berbeda dan menambah semarak cerita epik Ramayana, hal ini mencerminkan upaya seniman untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam untuk menggugah hati penonton.

Oleh karena itu, Wayang Ramayana adalah contoh sempurna bagaimana seniman dengan kreativitasnya memberikan warna baru dan kehidupan yang tak terlupakan kepada seni pertunjukan Bali.

Saya mengira para dalang Wayang Ramayana di Bali dahulu bukan hanya berjalan dalam keseniman, tetapi juga jiwa penggagas sebuah revolusi seni pertunjukan yang memukau. Mereka memiliki visi kreatif yang memandang pertunjukan Wayang Ramayana agar lebih dari sekadar hiburan dan sebagai sebuah persembahan seni yang menghidupkan kisah epik Ramayana dengan cara yang tak tertandingi. Dengan semangat inovasi, mereka memutuskan untuk menciptakan sebuah genre baru yang benar-benar unik dan mengesankan.

Salah satu langkah terpenting dalam perjalanan ini adalah pengembangan Gamelan Batel dalam Wayang Ramayana, formulasi instrumen musik yang mencakup kendang krumpungan, tawa-tawa, kecek, trenteng, suling Bali, kempur, dan kelenang Ini adalah langkah luar biasa yang melahirkan Wayang Ramayana yang secara fundamental menghadirkan iringan musik yang lebih dinamis dan mendalam.

Hasilnya adalah pengalaman seni yang lebih kompleks, menghadirkan suasana yang mengetarkan dan emosional yang tak terlupakan bagi penonton. Inovasi ini tidak hanya berdampak pada musik, tetapi juga pada seluruh pertunjukan Wayang Ramayana di Bali.

Analisa saya tentang Wayang Ramayana sebagai hasil dari kreativitas ini mengungkapkan bagaimana seniman selalu berusaha untuk melampaui batas-batas dan menciptakan sesuatu yang lebih indah. Mereka menghormati tradisi sambil menghadirkan sesuatu yang segar dan menarik bagi penonton. Wayang Ramayana adalah bukti bahwa seni adalah proses yang selalu berkembang dan terus memberikan makna yang mendalam dalam budaya dan kehidupan masyarakat Bali.

Tempo mengguncang adrenalin

Wayang Ramayana salah satunya gaya Bebadungan memang dikenal dengan ciri khasnya yang mencolok, yaitu kecepatan dan ketegangan yang mampu menghipnotis penontonnya pada setiap adegannya.

Tempo yang mengguncang adrenalin menjadi tanda pengenal utama dari gaya Ramayana Bebadungan ini. Meskipun ada beberapa adegan yang mungkin menggunakan tempo pelan, namun yang mendominasi keseluruhan pertunjukan adalah tempo yang sangat cepat.

Saya mengira kecepatan dan tempo yang gencang dalam pagelaran Wayang Ramayana gaya Bebadungan ini memang di formulasi untuk memberikan sentuhan dramatis yang kuat. Kehadiran karakter palawaga atau para kera yang mendominasi, yang dikenal dengan gerakan cepat mereka dari satu pohon ke pohon lainnya menjadi salah satu elemen penting yang menambah intensitas pertunjukan.

Gerakan yang cepat ini tidak hanya mencerminkan kecepatan fisik karakter tersebut, tetapi juga meningkatkan dramatisme adegan dan meningkatkan ekspektasi penonton. Dengan demikian, tempo yang gencar dalam pertunjukan ini memang berperan besar dalam memberikan semangat dan intensitas pada pagelaran Wayang Ramayana gaya Bebadungan.

Pengamatan saya, penggunaan tempo yang cepat dalam wayang Ramayana gaya Bebadungan ini memang bisa dianggap sebagai sebuah inovasi oleh seniman pendahulu sebelumnya yang unik dalam dunia pewayangan Bali. Hal ini mungkin telah dipikirkan dengan matang untuk menciptakan perbedaan yang jelas antara genre Wayang Ramayana dengan genre wayang lainnya. Dengan demikian, gaya ini menjadi semacam “signature” atau identitas yang kuat bagi pertunjukan wayang Ramayana gaya bebadungan tersebut, dan secara efektif menghidupkan elemen dramatikal dalam dunia pewayangan Bali.

Wayang Rame (Ramai)

Ketika saya mendampingi Dosen saya Dr. Ketut Kodi, dalam kelas Wayang Ramayana di Program Studi Seni Pedalangan, ISI Denpasar, beliau sempat menyatakan bahwa Wayang Ramayana juga dapat dijuluki sebagai “Wayang Ramai” karena riuhnya musik gamelan yang mengiringi pertunjukan ini.

Gamelan Wayang Ramayana memang sangat dinamis dan penuh gairah ini menghadirkan atmosfer yang memikat selama pertunjukan. Dengan demikian, rasa ngantuk penikmatnya seolah sirna saat mereka terpikat dan terikat oleh irama gamelan yang menggugah semangat.

Penggemar seni pertunjukan Bali akan dengan mudah mengenali suara yang mendominasi iringan pementasan Wayang Ramayana dari suara instrumen kempur yang begitu ajeg, khas dan menggetarkan. Suara instrumen kempur ini adalah elemen penting yang memberikan identitas unik pada pertunjukan Wayang Ramayana.

Musik gamelan yang khas ini bukan hanya pelengkap, tetapi juga menjadi bagian integral dari pengalaman Wayang Ramayana, menghidupkan setiap momen dalam kisah epik Ramayana dan memperkaya keseluruhan pertunjukan. Sehingga, julukan “Wayang Rame (ramai)” menggambarkan betapa bergairah dan menghiburnya pertunjukan ini, menjadikannya salah satu seni pertunjukan yang sangat dicintai dan dihargai di Bali.

kreativitas para dalang telah memainkan peran sentral dalam mengembangkan dan memperkaya tradisi seni ini. Dari awalnya hanya menggunakan empat tungguh gender wayang sebagai musik pengiring, mereka telah mengintegrasikan berbagai pernak Pernik instrumen musik gamelan hingga kini kita kenal sebagai gamelan batel.

Perkembangan dalam pertunjukan Wayang Ramayana menggambarkan sejauh mana seni tradisi dapat berkembang dan terus memberikan makna yang mendalam dalam budaya Bali. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA
Imajinasi dan Dalang
Eksplorasi Wayang Dalam Setiap Ruang
Dalang-Dalang Cilik dalam Euforia Hari Wayang Nasional 2021 di Bali

Tags: Dalangkesenian baliRamayanawayangWayang Ramayana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar

Next Post

Gede Rimbawa: Petinju, Pelatih, dan Orang Tua

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Gede Rimbawa: Petinju, Pelatih, dan Orang Tua

Gede Rimbawa: Petinju, Pelatih, dan Orang Tua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co