30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Media Sosial, Haidar Hyang Pakwan, Pemuda dari Musi Menjadi Eksportir Nener Bandeng

Jaswanto by Jaswanto
August 23, 2023
in Liputan Khusus
Dari Media Sosial, Haidar Hyang Pakwan, Pemuda dari Musi Menjadi Eksportir Nener Bandeng

Haidar Hyang Pakwan

TAMBAK-TAMBAK bandeng di Lamongan, Jawa Timur, atau umpan tuna cakalang nelayan di Kendari, Sulawesi Tenggara, atau banyak daerah lainnya di Indonesia yang membudidayakan ikan bandeng—bahkan sampai negara-negara Asia seperti Singapura, Vietnam, Filipina, Thailand, hingga Taiwan—terkait bibit atau nener bandeng (Chanos chanos), semuanya nyaris bergantung pada Kabupaten Buleleng.

Benar. Sudah bukan rahasia lagi kalau kabupaten yang terletak di Pulau Bali bagian utara ini memiliki kekayaan, selain pertanian dan perkebunan, berupa ikan bandeng. Di desa-desa Buleleng bagian barat seperti Patas, Gerokgak, Sanggalangit, Musi, Penyabangan, Banyupoh, sampai Pemuteran, bandeng beranak-pinak dengan penuh kasih sayang. Ya, tak berlebihan memang, di desa-desa tersebut, pembudidaya memperlakukan bandeng sama baiknya dengan merawat anak mereka sendiri.

Hamparan HSRT benih bandeng (nener) pesisir Celukan Bawang, Pengulon, Patas, Gerokgak, Sanggalangit, Musi, Penyabangan dan Banyupoh / Foto: Dok. Kampung Bandeng

Seperti Haidar Hyang Pakwan, misalnya. Pemuda dari Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, itu, menganggap bandeng sebagai harta yang berharga. Sebab, katanya, bandeng adalah penyambung hidup masyarakat Musi dan sekitarnya. “Melalui bandeng, Tuhan telah banyak memberikan kehidupan kepada kami,” ujarnya, kepada tatkala.co di tambak bandeng dan udang UD. Lautan Abadi, Patas, Gerokgak, Selasa (23/08/2023).

Sebagai seorang anak pembudidaya bandeng dan udang di Musi yang sukses, pemuda yang akrab dipanggil Haidar itu,  termotivasi untuk meneruskan apa yang telah orang tuanya bangun dan perjuangkan.

Dalam usahanya untuk menjadi pengusaha di bidang perikanan, pemuda kelahiran Cianjur, 17 Februari 2003 itu memutuskan melanjutkan pendidikan ke universitas dan mengambil jurusan akuakultur atau budidaya perairan—ilmu tentang aktivitas pemeliharaan, penangkaran, dan pengembangbiakan biota perairan laut maupun air tawar—di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Sampai saat ini, ia masih berjuang untuk meraih gelar sarjananya.

Menurut cerita Haidar, orang tuanya mulai membangun tambak pada tahun 2003 bersama pamannya dan seorang teman dari Arab. Mitra bisnis tersebut, sebelum beralih ke bandeng, mulai usahanya di bidang budidaya ikan kerapu. “Awalnya ikan kerapu, tapi karena harga ikan kerapu di sekitaran tahun 2010-an itu menurun, bapak mulai berpikir untuk beralih ke yang lain. Nah, pada 2017, bapak memutuskan untuk budidaya bibit ikan bandeng,” terangnya.

Tambak milik UD. Lautan Abadi / Foto: Dok. Haidar

Orang tua Haidar memulai budidaya bandeng dengan cara tradisional (modular)—dengan kolam gali, katanya. Seiring berjalannya waktu, dua tahun setelah memulai, tambak tersebut sudah menggunakan bak atau kolam beton yang dikenal dengan budidaya semi intensif. Bandeng dengan sistem semi intensif jelas lebih menguntungkan. Pasalnya, bandeng dapat dipanen dengan kualitas yang baik dan kuantitas yang lebih banyak.

Perbedaan budidaya secara tradisional dan semi intensif terletak pada pakan yang diberikan dan tempat budidaya. Jika budidaya tradisional memanfaatkan pakan alami berupa tanaman yang tumbuh alami di tambak, budidaya semi intensif menggunakan pakan tambahan berupa pakan pabrik atau buatan.

Sampai saat ini, tambak yang bernama UD. Lautan Abadi itu, telah menyebarkan benih-benih bandengnya ke seluruh Indonesia bahkan sampai ke beberapa negara di Asia.

Bagi orang awam atau orang yang baru saja mau memulai, akan menilai proses budidaya badeng itu rumit, tidak semudah pelihara ikan lele, misalnya. Budidaya bibit bandeng memerlukan proses yang panjang, mulai dari pra-produksi, produksi, sampai pasca produksi.

Haidar menjelaskan, budidaya nener bandeng dimulai dari pemeliharaan induk untuk menghasilkan telur yang berkualitas baik. Pemilihan induk ikan tidak boleh sembarangan. Mulai dari bentuk fisik sampai bobot harus diperhatikan. Fisik indukan, tambahnya, tidak boleh cacat dan bobotnya harus lebih dari 5 kg atau panjang antara 55-60 cm.

Tak hanya itu, pembudidaya juga harus melakukan pembersihan kolam induk dan melakukan pengamatan parameter kualitas air untuk memastikan dan mejaga keseimbangan unsur dalam kolam sesuai dengan standar. Selain perlakuan tersebut, indukan bandeng harus diberi pakan pelet pabrik yang telah dicampur dengan berbagai macam vitamin dan suplemen untuk mendukung kebutuhan nutrisi yang diperlukan.

“Nah, perbandingan indukan antara jantan dan betina dalam satu bak itu satu banding dua. Satu jantan dua betina. Sedangkan umur reproduksi bandeng itu sekitar 3 sampai 5 tahun, meski tak jarang juga ada yang sampai 7 tahun. Dan satu indukan itu bisa menghasilkan 10.000 sampai 1.000.000 telur,” imbuhnya.

Telur bandeng yang bagus akan mengambang di permukaan, sedangkan telur yang jelek sebaliknya, akan tenggelam dan mengendap di dasar. Telur-telur yang bagus akan di tebar di bak-bak budidaya. Benih akan dipelihara kurang lebih 18 sampai 20 hari  hingga siap panen.

Bak beton tempat budidaya nener bandeng di UD. Lautan Abadi / Foto: Dok. Haidar

Dari Facebook Menjadi Eksportir

Transaksi jual beli bibit bandeng di daerah Gerokgak, kata Haidar, sudah terjadi sejak tahun 1990-an. Saat itu, bibit bandeng diambil langsung dari laut, di pinggiran hutan bakau. Baru pada tahun 2005, dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali, saat wilayah Kecamatan Gerokgak ditetapkan sebagai pusat pembenihan bandeng dan kerapu, orang-orang yang tinggal di Patas, Sanggalangit, Musi, Peyabangan dan sekitarnya, berbondong-bondong membangun tambak kerapu dan bandeng.

“Tapi waktu itu skalanya masih lokalan, belum ekspor,” katanya.

Sejak saat itulah, para pembudidaya di wilayah Kecamatan Gerokgak mulai serius berproses demi menghasilkan bibit bandeng yang berkualitas. Dan dalam hal ini, peran pemerintah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng dan Kementerian Kelautan dan Perikanan tak dapat dianggap remeh. Melalui pelatihan-pelatihan budidaya bandeng dan bantuan pakan alami (rotifera) membuat daerah tersebut diakui sebagai penghasil bibit bandeng yang berkualitas.

Ya, itu sudah menjadi rahasia umum di dunia per-bandengan. Nener bandeng dari wilayah Gerokgak memang telah diakui kualitasnya. Bahkan, pada tahun 2019, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengklaim Kecamatan Gerokgak sebagai produsen benih ikan bandeng terbesar di dunia.

Haidar—sebagai anak seorang pengusaha tambak bibit bandeng dan udang vaname—mengaku, mengenai proses produksi dan distribusi, selain belajar dari orang tuannya sendiri, juga belajar dari pengusaha lain, yakni Hengky Putro Raharjo pemilik CV. Putra Bahari Milk Fish Bali (supplier bibit bandeng/nener). Di tambak yang terletak di Desa Patas, Gerokgak, itulah, ia belajar lebih dalam mengenai distribusi bibit bandeng. Haidar memulainya dari lokal sampai internasional (ekspor).

Yang menarik adalah, sejak 2018, Haidar menggunakan Facebook untuk memasarkan dan mendapatkan pembeli—atau buyer dalam bahasa perdagangan internasional. Ia mengaku mengikuti banyak grup perdagangan lokal maupun internasional di media sosial bikinan orang New York itu. Di sana, katanya, tempat berkumpul antara pedagang dan pembeli. “Saya mencari buyer di Facebook—dan itu banyak,” ujarnya.

Nener bandeng / Foto: Dok. Haidar

Bagi Haidar, dalam hal informasi, generasi hari ini sebenarnya lebih diuntungkan daripada generasi lama. Orang tuanya, misalnya, dulu, untuk mendapatkan satu buyer saja susahnya minta ampun. “Jangankan luar negeri, dalam negeri saja susah. Nah, sekarang, kita hanya butuh kuota internet dan mau cari tahu. Udah, sesimpel itu,” katanya.

Haidar percaya bahwa dengan adanya teknologi digital seperti hari ini sebenarnya sangat membantu pembudidaya bibit bandeng dalam memasarkan produksnya. Sebab, jangkauan teknologi digital tidak hanya dalam skala lokal saja, melainkan dunia. Sejak teknologi tersebut mulai ditemukan dan dikembangkan, dunia memang terasa bisa dilipat dan muat dimasukkan ke dalam kantong celana.

Dengan adanya anak muda seperti Haidar yang dapat memanfaatkan media digital sebagai alat promosi, maka hal ini dapat menjadi kabar baik dalam dunia budidaya bibit bandeng. Dan benar, sampai hari ini, selain berhasil mengirim bibit bandeng ke beberapa daerah di Indonesia, Haidar juga telah mengirim bandeng ke Filipina dan Vietnam—sekali lagi, semua itu dimulai dari Facebook.

(Hidup pada zaman teknologi yang memberikan jalan alternatif dan berbagai kemungkinan lain yang nyaris tiada batas, menempuh jalan paling mudah rasanya bukan pilihan yang elok.)

Menurut Haidar, sejauh ini, permintaan benih bandeng terbesar datang dari Filipina. Dari tahun 2017 sampai 2019, misalnya, permintaan bibit bandeng dari Filipina selalu mengalami kenaikan. Negara yang dipimpin oleh Bongbong Marcos itu, rata-rata mengimpor bibit bandeng dari wilayah Kecamatan Gerokgak sebanyak 2 sampai 3 juta ekor nener bandeng. Sedangkan Taiwan berada di posisi ke dua dengan jumlah rata-rata mencapai 1 sampai 2 juta lebih.

Proses pengemasan nener yang akan dikirim ke Filipina / Foto: Dok. Haidar

Mengenai ekspor bibit bandeng hasil budidaya di wilayah Gerokgak, pada Maret 2023, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank meresmikan Desa Devisa Klaster Benih Bandeng di Buleleng.

Program tersebut melibatkan lebih dari 2.000 individu pembudidaya benih bandeng di tujuh desa, yaitu Patas, Gerokgak, Sanggalangit, Musi, Penyabangan, Banyupoh, dan Pemuteran. Sedangkan 2.000 pembudidaya tersebut, menurut Koerniawan Prijambodo, Kepala Kantor Wilayah III LPEI, tergabung dalam Perhimpunan Pembudidaya Perikanan Pantai Buleleng atau disingkat P4B.

Secara keseluruhan, anggota P4B mampu menghasilkan hingga 12 juta benih bandeng per hari. Dan 85 persen dari hasil tersebut telah diekspor ke luar negeri seperti Filipina, Singapura, Malaysia, hingga Taiwan.

Proses pengemasan nener yang akan dikirim ke Filipina / Foto: Dok. Haidar

Menurut Koerniawan, tingginya produktivitas budidaya benih bandeng di Buleleng tak lepas dari kondisi cuaca Bali yang relatif aman dari badai serta dukungan dari Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluh Perikanan (BBRBLPP) Gondol. “Benih bandeng di Buleleng telah menjadi komoditas prioritas dengan total kontribusi devisa sebesar Rp200 miliar pada tahun 2019,” ujarnya.

Sekadar informasi, sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan RI, LPEI diberikan mandat untuk mendorong pertumbuhan ekspor nasional melalui penyediaan pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi ekspor.

Dan, sekali lagi, selain peran pemerintah, peran anak muda seperti Haidar juga tidak boleh dilupakan begitu saja. Kesadarannya dalam meneruskan bisnis budidaya bibit bandeng dan penggunaan media sosial sebagai alat promosi memang patut diapresiasi.[T]

  • Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.
  • BACA artikel LIPUTAN KHUSUS lainnya
Tags: bulelengGerokgakperikanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Undiksha Singaraja Nambah 5 Profesor Lagi

Next Post

Pidato Politik: Analisis Bahasa dan Kuasa (power)

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

by Jaswanto
October 29, 2026
0
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

Read moreDetails

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

by Jaswanto
October 28, 2026
0
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

Read moreDetails

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

by Jaswanto
October 26, 2026
0
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

Read moreDetails

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

by Jaswanto
October 24, 2026
0
Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

Read moreDetails

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails
Next Post
Pidato Politik: Analisis Bahasa dan Kuasa (power)

Pidato Politik: Analisis Bahasa dan Kuasa (power)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co