6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
August 13, 2023
in Tualang
Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang

Penulis berpose di Bukit Sylvia Labuan Bajo | Foto: Dok. Nyoman Nadiana

SORE ITU, Rabu, 9 Agustus 2023, seperti biasa, saya sedang bersantai di selasar studio sekaligus tempat nongkrong favourit saya di desa Sembiran, Pagi Motley Studio. Seperti biasa, obrolan yang ditemani secangkir kopi itu membahas banyak hal—tentang apa saja—meski tak jauh-jauh dari warna, umkm dan komunitas kreatif.

Obrolan mengalir begitu saja, sebelum Andika (tuan rumah Pagi Motley) sore itu mendapat kabar harus mengikuti kurasi Produk Wastra di Labuan Bajo. Spontan dia menanyakan ke saya, dan ini yang membuat kaget, “Nyoman bisa ke Bajo?”

Saya sempat berpikir beberapa saat—sat set sat set—sebelum akhirnya menjawab: “Ya, boleh.” Apa boleh buat, keputusan sudah saya ambil. Toh, di sana, selain bisa berdiskusi dan bertemu dengan pengrajin wastra di kawasan Indonesia Timur, saya juga bisa melihat dan merasakan bagaimana Labuan Bajo yang memang sangat di gadang-gadang dalam obrolan wisata di Indonesia sebagai destinasi top—meminjam bahasa tongktongan di tatkala.co.

***

Pada Kamis, 10 Agustus 2023, saya berangkat bersama lima UMKM dari Bali di bawah Binaan Bank Indonesia Bali. Meski sudah puluhan kali saya bepergian naik pesawat, tapi baru kali ini saya agak berpikir lumayan ruwet tentang rute penerbangan.

Tiket Denpasar-Labuan Bajo sold out alias Habis. Sontak saya berpikir, pasti Labuan Bajo padat merayap sampai tiket habis semua. Untuk itu kami berangkat menuju Bajo dengan random flight. Dari Denpasar-Jakarta via Halim Perdana Kusuma. Layover ke Bandara Soetta baru ke LBJ ( Labuan Bajo). Mau ke timur tapi harus ke barat dulu.

Gara-gara rute yang membingungkan itu membuat perjalanan  terasa lama. Bagimana tidak, saya berangkat pukul 7.30 Wita dan sampai Labuan Bajo Pukul 16.30 Wita—tidak ada perbedaan waktu antara Bali dan Labuan Bajo. Padahal, jika flight normal, langsung dari Dps-LBJ, cuma 1 jam 10 menit. Tapi tak apalah, itung-itung sebagai pengalaman.

Sesampainya di Labuan Bajo kami sudah dijemput pihak hotel tempat kami menginap. Hanya dua kilometer jarak dari Bandara Komodo menuju La Prima Hotel Labuan Bajo. Pada saat perjalanan menuju tempat penginapan, insting pariwisata saya bergerak cepat untuk menemukan tempat sekadar melihat bagaimana Labuan Bajo di sore hari. Konon, semua sunset di sini adalah representasi “surga”.

Sunset di Bukit Syilvia, Labuan Bajo / Foto: Dok. Nyoman Nadiana

Akhirnya, dari staf hotel saya mendapat informasi ada salah satu puncak bukit yang menjadi primadona pengunjung untuk menikmati sunset di Kota Labuan Bajo. “Namanya Bukit Sylvia,” kata staf tersebut. Sylvia? Mungkin itu perumpamaan dari perempuan cantik tiada tara, pikir  saya.

Tapi belakangan saya tahu, nama Sylvia diambil dari nama Sylvia Resort yang berada di dekat bukit tersebut. Bukit ini awalnya hanya dikunjungi wisatawan yang menginap di resort tersebut. Tetapi seiring berjlannya waktu, tempat itu menjadi terkenal dan menjadi spot wisata yang dikunjungi wisatawan maupun warga Labuan Bajo.

Kami menuju bukit sylvia dengan menyewa mobil. Nah, sekadar informasi, sewa mobil di sini per 1 jam Rp150.000. Lumayan juga.

Bukit Sylvia berada di Labuan Bajo, Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Jika Anda berada di Pelabuhan Bajo, untuk menuju bukit ini membutuhkan waktu 30 menit berjalan kaki atau sekitar 5 menit menggunakan angkot atau ojek.

Kondisi jalanan sudah beraspal sehingga ramah untuk diakses baik menggunakan kendaraan maupun tidak. Biasanya sebagian wisatawan memang menikmati perjalanan menuju bukit dengan berjalan kaki karena keberadaan bukit ini yang dekat dengan Pantai Waecicu.

***

Sesampainya di Bukit Sylvia saya mendaki hanya 200 meter dan pemandanganya memang sangat indah. Bukit Sylvia dikelilingi oleh pulau-pulau kecil khas wilayah timur. Pengunjung dan para penjaja souvenir seperti kain khas Manggarai semua berkumpul di sini.

Konon katanya, Bukit Sylvia juga disebut Bukit Cinta karena bukit ini menawarkan nuansa romantis. Dari bukit Sylvia, wisatawan akan dibuat takjub dengan pemandangan indah gugusan pulau kecil di tengah laut. Wisatawan juga bakal disuguhi deretan kapal wisata yang berlabuh dari kejauhan. Dan ini yang banyak dicari: sunset-nya.

Dan benar, sunset itu memang indah. Saat saya sedang menikmati matahari terbenam di puncak bukit sambil merekam lewat handphone, tiba-tiba ingatan saya tentang apa saja hadir seolah memenuhi kepala.

Foto bersama di Bukit Sylvia, Labuan Bajo / Foto: Dok. Nyoman Nadiana

Di bawah bukit ini telah berdiri hotel sekelas Ayana Komodo, Katamaram, dan Plataran Komodo. Saya pikir kantong saya tidak akan cukup untuk menginap di sana. Ah, bagaimanapun saya tetap bersykur bisa  menikmati matahari terbenam yang paling mewah—untuk urusan ini peran Bukit Sylvia tak bisa diabaikan begitu saja. Tapi terlepas dari semua keindahan itu, satu hal yang terpenting: tak ada tiket masuk alias gratis.

Petang menjelang, kami bergegas menemukan tempat untuk mengisi perut setelah sebelumnya hanya diisi air mineral dan roti saja.

Kami menuju ke pusat kuliner seafood di Kota Bajo. Suasana malam yang syahdu, khas daerah pantai. Warna jingga merah temaram matahari terbenam itu masih menghiasi langit petang Labuan Bajo. Mondar-mandir perahu besar dan kecil, mewah dan merakyat keluar masuk water front (penyebrangan).

Suasana menjelang malam di Labuan Bajo / Foto: Dok. Nyoman Nadiana

Semua orang tertawa sebelum akhirnya makanan khas pesisir itu diantarkan. Ada ikan bakar, plecing kangkung, slice mentimun, terong goreng, dan nasi putih.

Pengunjung dari berbagai penjuru Indonesia dan dunia memang membaur di sini. Para pedagang sangat sibuk menyiapkan pesanan para tamu. Kami pun dengan sangat lahap menghabiskan satu persatu menu di temani cahaya lampu perahu yang menuju ke gugusan pulau-pulau kecil di Labuan Bajo.

Karena esok hari adalah tugas saya mempresentasikan produk unggulan Pagi Motley, saya bergegas ke hotel untuk beristirahat. Dalam perjalanan pulang, Kaka Andi, pengemudi yang mengantar kami berkata, “Puji Tuhan, rame Kaka. Terus ada acara e.” Dan saya berjanji, besok saya akan mengulik Bajo lagi.

Foto bersama Andi, driver di Labuan Bajo / Foto: Dok. Nyoman Nadiana

***

Kata Labuan Bajo sudah sangat familiar di telinga orang-orang. Hari ini, nama itu paling banyak dibicarakan atau di posting di media sosial, khususnya oleh para penikmat dan pelaku wisata.

Sebagai orang Bali yang sangat familiar dengan kehidupan pariwisata, ke manapun dan di manapun saya berusaha merekam hal-hal yang terkait dengan tempat yang saya kunjungi dan selalu diawali dengan pertanyaan: “Bagaimana tempat ini sebelum dan sesudah ada geliat pariwisata?”

Malam hari, 11 Agustus 2023, saya mengaktifkan aplikasi ojek online di gawai saya. Tak berselang lama Bapak Ojol (ojek online) itu pun datang dan menyambut saya dengan SOP ojol pada umumnya.

“Bapak Nyoman?” tanyanya kepada saya, meski sebenarnya juga untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Ya, Pak. Saya Nyoman,” jawab saya.

Bapak Ojol ini bernama Stanislaus Gonsales. Laki-laki 43 tahun yang biasa dipanggil dengan sebutan Pak Edo. Dia berasal dari Desa Nampar Macing, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat.

“Pak Nyoman Bali ija?” Pertanyaan itu membuat saya kaget. Bukan karena sulit untuk dijawab, tapi dia bertanya dalam bahasa Bali. Ija atau dija itu artinya dari mana?

Karena saya merasa Pak Edo bisa bahasa Bali, saya menjawab: “Icang uli Buleleng, Pak.”—Saya dari Buleleng, Pak. Nah, sejak saat itulah, dalam perjalanan ke pusat Kota Labuan Bajo, akhirnya saya bertanya banyak hal kepada Pak Edo.

Stanislaus Gonsales / Foto: Dok. Nyoman Nadiana

Merasa tak cukup mendapat informasi, saya memutuskan untuk mengajak Pak Edo ngopi di kedai pinggir jalan sekadar menemani saya melihat bagaimana suasana malam dan syukur-syukur bisa mendapat informasi dan belajar lewat cerita tentang Labuan Bajo dan Manggarai darinya.

Di temani kopi robusta khas Manggarai, cerita mengalir di tengah hiruk-pikuk masyarakat dan wisatawan yang berlalu-lalang. Kebetulan saat itu sedang berlangsung Festival Golo Koe 2023. Semua etnis dan komunitas diberikan ruang temu untuk berunjuk kreatifitas—dan saya sangat tertarik saat melihat semua stand dipenuhi dengan produk UMKM bukan yang lain.

Dari Pak Gonsales yang sekarang tinggal di Labuan Bajo—ia baru kembali satu setengah tahun lalu dari tanah rantau—saya belajar bagaimana menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Pak edo pernah merantau ke Bali selama 20 tahun dari 2002 sampai 2022. Istrinya dari Tabanan, Bali. Pantas saja dia bisa bahasa Bali.

Festival Golo Koe di Labuan Bajo dan salah satu produk UMKM yang dipamerkan / Foto: Dok. Nyoman Nadiana

Bapak tiga anak ini banyak bercerita tentang masa kecil dan remajanya di kota ini. Dulu, katanya, di sini tidak ada apa-apa. “Makanya kita semua merantau, toh. Tidak ada yang garap potensi [wisata] seperti sekarang,” tambahnya.

Pak Gonsales mengaku banyak belajar dari Bali. Dia belajar bagaimana agar pariwisata dan orang-orang di sini bisa menjadi tuan rumah di tanah sendiri. “Bagimana caranya? Harus kreatif dan Inovatif,” jelasnya.

Seperti yang sempat disinggung di atas—dan itu yang membuat saya terkejut—Pak Gonsales memang menikahi perempuan Tabanan, Bali, Yohana Made Juniawati, namanya, asal Banjar Wani, Desa Serampingan Bajra, Kecamatan Selemadeg Barat.

Selain keindahan pantai dan bukit yang sudah biasa kita dengar, hal menarik dari Labuan Bajo adalah tentang kehidupan dan kebiasaan sosial masyarakatnya. Tak hanya itu, bagi para pencinta olahan enau/lontar/siwalan seperti arak (sopi dalam bahasa lokal) dan gula semut, atau pecinta kopi akan sangat dimanjakan di tempat ini. Dan sekadar informasi, di sini, dari shorgum sampai kelor semua gemah ripah loh jinawi. Belum lagi berbicara tenun dan wastranya.

Akhirnya saya belajar, bahwa wilayah yang dulunya identikan dengan kata tandus, tidak ada apa-apa, ternyata sejatinya adalah kaya raya. Dulu saat mendengar kata Flores, saya akan langsung teringat kata “jauh” dan “kering”. Tetapi hari ini, di mana ikan laut dan ikan hias berlimpah, produk lokal, dan masyarakatnya yang ramah, membuat Flores menjadi istimewa.

Semoga keindahan senantiasa dibarengi dengan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan lingkungan dalam tindakan nyata.

Tidak ada yang abadi selain perubahan, kata orang-orang. Perubahan itu pasti. “Tidak apa-apa, yang penting  berubah menjadi lebih baik lagi,” kata Pak Gonsales. Terima kasih, Pak. Semoga bisa berjumpa kembali, suatu hari nanti. Semoga Bajo tetap menjadi Bajo, bukan Bali.

***

Tepat di Hari Raya Kuningan, Sabtu, 12 Agustus 2023, saya masih berada di Labuan Bajo. Sebagai orang Bali yang memeluk agama Hindu, saya penasaran, apakah di sini ada pura? Jika ada saya akan menyempatkan sembahyang ke sana.

Saya bertanya kepada Pak Gonsales ada pura di Labuan Bajo apa tidak. Dia menjawab: “Ada, luas, dekat Bandara.”

Tepat siang hari saya dan rombongan menuju ke pura yang belakangan saya tahu namanya Pura Segara Giri, Labuan Bajo. Lokasi pura tersebut hanya berjarak 900 meter dari Bandara Internasional Komodo.

Seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya saat sembahyang di pura di luar Bali, tanpa mengurangi rasa hormat, dengan keterbatasan pakaian adat saya masuk Pura Segara Giri dengan niat tulus. Saya memakai pakaian yang penting sopan.

Foto selfi seusai sembahyang di Pura Segara Giri / Foto: Dok. Nyoman Nadiana

Dupa sudah disediakan dan tinggal mencari bunga—yang kebetulan ditanam di halaman pura—untuk sembahyang. Kami sembahyang dengan sangat khusuk.

Hal menarik yang saya temui di pura ini, selain kebersihannya, juga adanya barcode Qris untuk dana punia (sumbangan seikhlasnya—semacam kotak amal). Sontak saja kami mengeluarkan gawai dan menyumbang sesuai kemampuan.

Tidak ada umat yang saya temui saat itu, karena memang sudah siang. Tetapi tampak sarana upacara yang sudah dirapikan dan beberapa umat sedang berkumpul di rumah makan sekitar pura dengan menu andalan: sei babi.

Selepas sembahyang saya melihat sekeliling pura. Hamparan laut luas khas Labuan Bajo, berpadu dengan bukit tinggi menjadikan pura yang terletak di Kecamatan Komodo, Labuan Bajo, ini, tampak eksotis dan magis.

Pemandangan dari Pura Segara Giri / Foto: Dok. Nyoman Nadiana

Ah, sampai di sini, ternyata, Labuan Bajo tak hanya tentang pulau-pulau yang indah di foto atau video saja. Lebih dari itu, Bajo juga tentang banyak hal indah lainnya, seperti keragaman agama dan budayanya. Sekian.[T]

Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo
Melawat ke Flores [2]: Mengarungi Perairan Komodo
Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo
Melawat ke Flores [4]: Enam Jam di Atas Motor
Melawat ke Flores [5] : Singgah ke Wae Rebo
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Tags: Labuan BajoNTT
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Raka Kusuma, Lebih Guru Dari Guru

Next Post

Perjanjian Pengalihan dan Komersialisasi Paten dalam Teori dan Praktek

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Perjanjian Pengalihan dan Komersialisasi Paten dalam Teori dan Praktek

Perjanjian Pengalihan dan Komersialisasi Paten dalam Teori dan Praktek

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co