6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton “Lautan Bernyanyi” Putu Wijaya di Atas Panggung Kekinian

Arif Wibowo by Arif Wibowo
August 7, 2023
in Ulas Pentas
Menonton “Lautan Bernyanyi” Putu Wijaya di Atas Panggung Kekinian

Pementasan Lautan Bernyayi oleh kelompok teater Legion 28 asal Tasikmalaya dalam rangkaian Festival Bali Jani ke-5, Minggu (23/7/2023) | Foto: Dok. Tim Kreatif FSBJ 2023

BAGI PEGIAT dan penikmat teater di tanah air, naskah teater berjudul “Lautan Bernyanyi” karya Putu Wijaya itu sudah tak asing di jagad sastra dan drama pertunjukan. Bahkan bisa dikatakan sudah menjadi salah satu naskah yang menjadi rujukan dalam pementasan berbagai kelompok teater baik di tingkat pelajar, mahasiswa maupun kelompok teater komunitas.

Bagi saya yang awam dengan teater, pengalaman menonton pementasan ini menjadi sangat berkesan. Seperti pada pementasan Lautan Bernyayi oleh kelompok teater Legion 28 asal Tasikmalaya dalam rangkaian Festival Bali Jani ke-5, Minggu (23/7/2023), di Taman Budaya Bali, telah  berhasil merebut antusias penonton. Bahkan kelompok teater dari Universitas Siliwangi itu dinobatkan sebagai juara 1 pada Utsawa (parade) teater modern terbaik di Festival Bali Jani 2023 ini.

***

Ketika memasuki ruang pertunjukan gedung Ksirinawa itu, saya ditakjubkan dengan setting panggung berupa kehadiran kapal kayu yang cukup besar. Kapal kayu itu disetting menjorok ke arah penonton, memberi kejutan skala gigantik.

Melalui video mapping, Pesisir Sanur di timur Kota Denpasar yang menjadi latar tempat drama itu seakan dihadirkan di atas panggung secara nyata oleh sutradara, Bode Riswandi.

Suara debur ombak, desir angin yang kencang pun memecah kesunyian pesisir Sanur yang terkenal wingit melalui okestrasi audio-visual dan tata cahaya yang dirancang dengan matang.

Kapal kayu di atas panggung pementasan teater “Lautan Bernyanyi” / Foto: Dok. Tim Kreatif FSBJ 2023

Sebagai naskah teater yang cukup legendaris—karena ditulis pada tahun 1969, ketika Putu Wijaya berusia 23 tahun—maka kebaruan pementasan teater Lautan Bernyanyi ini perlu dihadirkan untuk menarik minat penoton lintas generasi terutama anak muda.

Naskah drama ini memang memantik peluang menghadirkan artistik panggung dengan berbagai kemungkinan inovasinya. Dengan latar cerita di lautan dan seluruh adegan di atas kapal pinisi, jika diterjemahkan ke panggung dalam bentuk setting artistik, tentu akan menciptakan visual dan scenary panggung yang sangat apik. Inilah poin keberhasilan Legion 28 dalam pementasan sore itu.

Temaram lampu panggung pun mulai menciptakan suasana Pesisir Sanur yang penuh misteri. Syahdan, julukan kapal Harimau Laut yang dinahkondai Kapten Leo dan beberapa awak kapal lain seperti Panieka, Rubi, Abu, Dangin beserta Comol sebagai juru masak pun kandas di perairan sekitar Pesisir Sanur.

Kapten Leo bersama anak buahnya di kapal Harimau Laut / Foto: Dok. Tim Kreatif FSBJ 2023

Peristiwa itu disebabkan oleh kelalaian awak kapal akibat melanggar larangan adat yang dipercaya masyarakat setempat. Kandasnya Harimau Luat yang telah malang melintang menjelajahi lautan itu membuat seluruh awak kapal mencari bantuan ke pesisir pantai. Sementara Kapten Leo dan Comol tetap berada di kapal.

Kapten Leo yang tegas, gagah, berwiba, cepat ambil keputusan—bahkan pemarah—menggambarkan sifat pelaut sejati sebagai pengembara lautan yang terbiasa menghadapi tantangan alam yang selalu mengancamnya.

Sedangkan Comol, menghadirkan sosok yang secara fisik tak sempurna, tubuh yang kecil dengan cara berjalan yang bongkok. Namun, sosoknya menghadirkan sikap bijak berupa kesetiaan kepada Kapten Leo. Ia sangat hormat dan menerima segala konsekuensi buruk menghadapi kemarahan Kapten Leo bahkan ancaman bahaya di lautan sekalipun.

Kedua pemeran utama ini mendominasi seluruh adegan pementasan. Di usianya yang cukup muda, kedua pemeran menampilkan akting teatrikal yang mumpuni dalam membawakan sosok Kapten Leo dan Comol.

Kapten Leo bersama Comol / Foto: Dok. Tim Kreatif FSBJ 2023

Vokal pemeran Comol yang khas berhasil menggambarkan sosok Comol yang kadang menghadirkan sosok jenaka. Begitu juga dengan Kapten Leo yang penuh ketegasan sebagai sosok pemimpin.

Dengan latar cerita di atas kapal yang berada di lautan, selain akting tubuh dan ekpresi wajah, teknik vokal menghadirkan dialog di tengah lautan yang membutuhkan intonasi tinggi seperti selayaknya para pelaut sungguhan berhasil dibawakan dengan baik. Tentu, dukungan perangkat audio dan akustik ruang pertunjukan juga memberikan peran yang cukup penting.

Kandasnya Harimau Laut selama tujuh hari tujuh malam itu telah menyebabkan Kapten Leo dilanda kecemasan akibat teror suara misterius yang selalu menghantuinya. Teror itu telah menumbangkan kegagahan sosok Kapten Leo yang pemberani.

Saban malam ia mendengar suara-suara gaib tak berwujud yang selalu mengancam dan membuat Kapten ketakutan. Berulang kali ia memastikan keberadaan suara itu kepada Comol yang tak tahu menahu. Keberadan para pelaut ini telah menganggu penunggu gaib yang menjaga lautan Pesisir Sanur. Para pelaut ini menyebut suara gaib itu sebagai lautan bernyayi, sebuah pertanda peristiwa buruk akan terjadi.

Celakanya, Panieka, salah satu awak kapal telah membawa kabur gadis bernama Dayu Badung. Di mana gadis itu ternyata adalah anak Dayu Sanur, seorang tukang leak yang sangat ditakuti warga sekitar.

Kaburnya Dayu Badung membuat kemarahan wanita tukang leak itu yang mengancam akan membunuh sang anak. Mengetahui ancaman itu, Panieka membawa gadis yang dicintainya itu ke kapal Harimau Laut untuk disembunyikan di dalam lambung kapal.

Celakannya lagi, Dayu Badung sedang menderita virus cacar, wabah mematikan yang sedang melanda warga pesisir Sanur kala itu. Peristiwa ini membuat kepanikan semua orang di atas kapal. Kapten Leo pun, putus asa. Ia mengambil langkah menyeburkan diri ke lautan untuk mencari berbagai bantuan. Comol dibiarkan di atas kapal, ia setia menjaga Harimau Laut.

Comol sendirian di atas kapal / Foto: Dok. Tim Kreatif FSBJ 2023

Sosok Dayu Sanur pun hadir menyeruak, membawa suasana panggung pertunjukan yang mencekam. Comol menghadapi wanita sihir itu dengan ancaman kematian. Dayu Sanur pun meminta persembahan tiga bayi harus dipenuhi agar selamat dari kemarahannya.

Namun akhirnya, ia dikalahkan oleh sosok spiritual dari pesisir yang mengetahui kejahatannya itu. Ketika Dayu Sanur tumbang, Comol meniup kerang atas perintah wanita itu sebagai syarat menjadi muridnya agar bisa diampuni kesalahannya.

Suara tiupan kerang itu disangka Kapten Leo sebagai suara gaib yang selama ini mengganggunya. Maka, tembakan pun tepat menyasar sumber suara itu yang tak lain adalah Comol. Comol pun akhirnya mati tertembak senapan dari tangan Kapten Leo.

Dayu Sanur / Foto: Dok. Tim Kreatif FSBJ 2023

Kapten Leo awalnya sangat gembira menyambut kemenangan yang disangkanya berhasil mengalahkan Dayu Sanur. Setelah menaiki kapal dan mencari-cari anak buahnya yang paling setia itu, ia menemukan Comol tergeletak tak bernyawa di atas geladak kapal. Kapten Leo pun sangat menyesal atas terbunuhnya Comol dari tangannya itu.

Pertunjukan berakhir dengan apresiasi yang sangat luar biasa dari penonton. Di akhir pertunjukan saya menemui salah satu penonton untuk saya minta pendapat mengenai pertunjukan teater ini. Saya sengaja meminta pendapat dari kalangan anak muda yang hadir kala itu.

Jonathan Alfian Setyawan, siswa  SMAN 2 Denpasar yang juga bergiat di kelompok teater sekolahnya memberikan testimoni yang sangat apresiatif dalam pertunjukan ini.

“Keren, bagus apalagi saya tertarik dengan setting panggung yang dibuat sangat realis berupa Kapal Kayu dan Video Mapping itu,” ujarnya dalam sebuah obrolan di tengah audience yang mulai meninggalkan ruang pertunjukan.

***

Upaya menghadirkan kebaruan melalui pendekatan desain setting panggung pada teater Lautan Bernyayi oleh Legion 28 ini memberikan kesegaran pada kesenian teater dengan naskah yang cukup legendaris itu. Walaupun menurut Bode Riswandi, penggunaan video mapping pada pertunjukan teater itu bukan sesuatu hal yang baru.

Ia menegaskan, pemelihan setting panggung dengan pendekatan setting panggung realistik berupa kapal kayu dan video mapping itu sebagai upaya menerjemahkan teks dalam naskah dalam bentuk visual yang mendukung cerita Lautan Bernyanyi ini secara tepat. Apalagi, rekam jejak Sang Sutradara itu kerap kali menghadirkan eksperimen setting panggung teater dengan pendekatan realis semacam itu pada karya-karya sebelumnya.

Di samping itu, kekuatan naskah teater Lautan Bernyanyi yang ditulis Putu Wijaya ini memang memberikan warna pada lanskap teater di zamannya.

Latar belakang Putu Wijaya sebagai orang Bali yang menghadirkan kampung halamannya pada jagad yang lebih luas melalui kesenian teater, menciptakan karya otentik yang khas.

Seperti pada teater Lautan Bernyayi, naskah ini mungkin sudah dipentaskan oleh berbagai kelompok teater di Indonesia dengan berbagai latar belakang budaya yang berbeda.

Melalui karyanya, penulis naskah seakan berupaya mengenalkan realitas kebudayaan Bali melalui cerita rakyat ilmu Pengleakan yang berkembang di masyarakat.

Kehadiran rombongan kapal Harimau Laut itu melalui dialog antara Kapten Leo dan Comol menggambarkan orang pendatang yang memang benar-benar memiliki nalar berpikir yang berbeda antara Kapten Leo dengan masyarakat lokal pesisir Sanur. Sehingga menciptakan kutub dialog nalar berpikir antara luar dan dalam, antara orang pendatang dan yang lokal.

Maka, upaya penghadiran kembali teater Lautan Bernyayi dengan respon kebaruan oleh kelompok teater Legion 28 ini memberi kesegaran pada naskah teater legendaris karya seniman Putu Wijaya yang selalu memberikan ruang kreatif melalu berbagai interpretasi bagi sutradara penggarapnya.

Kebaruan itu juga sebagai upaya untuk menjaga karya-karya maestro seniman dan sastrawan itu agar bisa dijangkau dan dinikmati oleh anak-anak muda yang haus tontonan dengan kurasi yang berkualitas.[T]

Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran
Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya: Dari Chaos ke Chaosmos Kembali ke Chaos
Teror Kreatif Putu Wijaya di Tanah Kelahirannya – Catatan 3 Monolog dari Tabanan
Anak Sekolahan “Memainkan” Putu Wijaya – Catatan Festival Monolog di SMA Bali Mandara
Festival 100 Monolog Putu Wijaya di Bali: Sejarah yang Belum Pernah Terjadi
Tags: Festival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2023Putu WijayaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KPK Masuk Desa, Sebuah Keharusan!

Next Post

“Tarung Bebas” Lomba Baca Puisi dalam Festival Umbu Landu Paranggi 2023

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
“Tarung Bebas” Lomba Baca Puisi dalam Festival Umbu Landu Paranggi 2023

“Tarung Bebas” Lomba Baca Puisi dalam Festival Umbu Landu Paranggi 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co