16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Tentang Putra Sang Surya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 14, 2023
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

DRONA adalah seorang guru, banyak dikenal oleh masyarakat sebagai Guru Agung. Pengajar anak-anak dan remaja di kerajaan Hastina Pura. Termasuk keluarga Pandawa juga Kaurawa. Arjuna, Karna, Yudistira, Nakula, Sahadewa, Bima. Juga keluarga lain; yang kita sebut “jahat” kemudian; Duryodhana, dkk. Mereka belajar pada guru yang sama: Guru Drona. Ia dipanggil “Kakek Drona”.

Beliau guru yang hebat, cerdas, semua orang mengakui itu. Namun, di balik itu semua, ia ternyata adalah guru yang kurang bijaksana, karena “pilih-kasih”. Karna, anak haram Kunti dengan  “seseorang”. DEWA SURYA? BISA JADI.

Saat lahir, ia lalu dibuang oleh ibunya dengan cara dihanyutkan ke sungai luas dan besar, dalam sebuah keranjang bayi, dengan air mata kecemasan dan ketakutan seorang ibu. Juga, air mata.

Anak itu terpaksa dilepas karena takut akan “hukuman” dan “opini” keluarga kerajaan dan masyarakat umum jika nantinya tahu ia punya “anak haram” hasil hubungan gelap. Itu aib, stigma, dan cerita yang mesti dikubur dalam-dalam….

“KARNA LALU DITEMUKAN OLEH SEPASANG SUAMI-ISTRI yang lama tidak mempunyai keturunan, “mandul” dan “infertil”. Lama tak DIKARUNIAI anak.

Sama seperti di Bali, pasangan jenis ini dianggap “gagal” karena “anak” dianggap sebagai “penerus garis keturunan”, “leluhur” juga “hadiah” dari “tuhan”. Jika tidak, “dipercaya” ketika setelah “mati”, “roh” ibu atau ayah “akan mengalami sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan –DI alam yang disebut dengan sebutan “neraka”….”. NARKAA.

Anak berkulit agak gelap, dan disebut banyak penulis sejarah lama “bermata bulat, terang, dan memiliki “tanda khusus” di antara alis matanya–ia adalah keturunan “surya” yang nantinya menjadi jenius, berani, teguh, tangguh—namun sayang, mudah sekali terhasut dengan kata-kata halus, baik hati, penolong dan “tampak baik di permukaan”….

Karna namanya. Ia diasuh dan dibesarkan oleh keluarga tukang kusir kuda–anak adopsi yang dianggap sebagai anak sendiri, dengan kasih-sayang tiada tara, perhatian, cara mendidik melalui latihan “bekerja”; membantu ayah angkatnya yang bekerja sebagai kusir kereta. Orang biasa..

Karna kini remaja, sudah saatnya pergi menuntut ilmu. Kala itu di Bharat–wilayah luas yang kini disebut “anak benua India” sekolah adalah gurukula–padepokan, tempat guru mengajar murid-murid, dengan sistem guru-sisya, parampara, garis perguruan yang bersifat turun-temurun dan juga sistematis. Pingit. SAKRAL. SUCI. 

Disiplin, sangat ditekankan di tempat itu. Juga, ketaatan pada senior dan guru sebagai pusat dan figur personal–GURU–penerang batin yang gelap dan penghilang awidya–ketidaktahuan. MAKNA YANG KINI TENTU HILANG.

Drona memiliki ashram. Nama yang kini dalam bahasa Indonesia diadaptasi dan dipakai untuk mengenang kejayaan masa lalu–Asrama. Tempat tinggal siswa dan mahasiswa, juga tentara dan polisi. JUGA TEMPAT TINGGAL SISWA.

Drona guru yang diluar terlihat suka persatuan, dan “mempersatukan”.

Karna, remaja yang datang ke sana untuk mendaftar sebagai murid sekolah di ashram–diterima dengan sangat baik, karena telah lulus tes awal masuk.

Karna tubuhnya tegap, cerdas, dan cocok jika nantinya akan menjadi prajurit—kesatria di masa lalu yang semenjak dini diajari ilmu memanah, pertahanan, militer, kecakapan fisik dan mental, astrologi, dan kesaktian seperti kini banyak disebut sebagai “ilmu pengetahuan”. Ilmu dan Pengetahuan.

Drona sangat menyayangi Karna.

Namun sayang, dia berbalik menjadi sebaliknya, merasa kecewa, marah, merasa tertipu dan dibohongi karena Karna telah memalsukan identitas saat pertama kali memperkenalkan diri ketika datang pertama kali ke ashram: ‘aku anak dari keturunan keluarga kaya, terpandang, asal-usulku jelas ….’

Drona akhirnya tahu bahwa Karna anak angkat dari kusir kereta, golongan masyarakat rendah, bukan keturunan ksatria….

Karna merasa tersisih kemudian.

Hanya Duryodhana, kawan sesama remaja yang terlihat peduli pada anak miskin tersebut. Drona rela berbagi—waktu, tenaga, makanan, juga fasilitas sebagai keluarga kaya yang ia miliki sebagai “orang kaya”.

Karna semakin akrab dengan Duryodhana…

Mereka seperti dua saudara kandung yang mempunyai kesamaan pandangan, kesukaan, rutinitas harian dan…”masa depan”.

Itu terjadi setelah semua rahasia terbongkar. Termasuk “sejarah rahasia” siapa orang-tua dia sebenarnya…

Ibunya, Kunti, yang digambarkan amat lembut, tenang, feminim, penuh kasih juga bersifat keibuan,; suatu hari ingin bertemu dengan Karna yang kala itu telah dewasa.

Dia menatap Karna dengan penuh makna. Memeluk tubuh gagahnya, mengelus pipi, memegang kedua lengan laki-laki itu dengan senang, haru, –sudah lama ibu itu tidak pernah berjumpa dengan sosok bayi yang dulu dibuangnya. Kenangan lama itu.

Itu dilakukan karena kondisi dan keadaan juga waktu yang “belum memihak” — membiarkannya ditemukan dalam aliran sungai yang bisa saja menelannya dalam pusaran air–tenggelam dan lalu “mati”.

Karna dan Kunti bertemu dalam hening; perjumpaan yang sedikit misterius, laki-laki itu tentu bertanya dalam hati–siapakah ibu anggun ini, mengapa ia menjumpaiku, apa gerangan yang terjadi….siapa dan dari mana is berasal?

Ibu dan laki-laki itu terlibat dalam pembicaraan serius. Empat mata

Dengan penuh kesedihan, ada yang harus ibu itu ceritakan pada sosok gagah dan perkasa yang kini ada di hadapannya.

“KARNA ANAKKU….”

AIR MATA KUNTI TUMPAH….

KARNA TERDIAM. HENING. DIA TIDAK MERASA SENANG ATAU SEBALIKNYA, SENANG. JUSTRU DIA MERASA MARAH, KECEWA JUGA SEDIH. MENGAPA BARU SEKARANG KUNTI–Ratu HASTINAPURA, berani berkata jujur? –selama ini dia kemana–saat ia membutuhkan kasih-sayang seorang ibu, seorang perempuan sejati–walau ibu angkatnya juga dalam kenyataannya sangat menyayangi dia, tapi, tetap saja, ia merasa menjadi pesuruh dan pembantu, tak ada “makan siang yang gratis”–tenaga dia diperlukan, untuk kehidupan keluarga angkatnya.

Kunti tambah merasa bersedih.

Air mata dari pipi tidak berhenti mengalir, seperti air sungai yang menghanyutkan bayi mungil yang keluar dari rahimnya, dulu sekali, sebuah kelahiran tak diinginkan…

Karna beranjak dari pertemuan mereka. Meninggalkan ibu kandungnya dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi. Air mukanya datar. Ia pergi tanpa suara.

Kurawa–dengan ibu yang banyak mempunyai anak, Gandari. Anggota jeluarga itu punya karakter terbuka, apa adanya, berpikiran terbuka, tak suka rahasia, suka pengetahuan, juga melindungi–tidak senang melihat orang lain disakiti, apalagi dihina dan direndahkan. Karakter kesatria sejati.

Mereka dari tampak luar memang terlihat kasar, bicara terbuka, ”to the point’, Berbcara seperlunya, jika tidak penting–mereka memilih hening, diam, sambil mengerjakan pekerjaan sederhana, rumah tangga, dan juga sangat rajin belajar.

Karna merasa “at home” di sana.

Biarpun dia kini tahu, bahwa keluarga Pandawa adalah keluarga kandungnya.

Ia merasa tidak memiliki ikatan batin.

[Bersambung pada lain kesempatan….]


Denpasar, 29 Juni 2023, 23:57 WITA

Tags: DronaKarnakisah pewayangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Penulis Cekatan di Tengah Badai Kecerdasan Buatan

Next Post

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co