15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Tentang Putra Sang Surya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 14, 2023
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

DRONA adalah seorang guru, banyak dikenal oleh masyarakat sebagai Guru Agung. Pengajar anak-anak dan remaja di kerajaan Hastina Pura. Termasuk keluarga Pandawa juga Kaurawa. Arjuna, Karna, Yudistira, Nakula, Sahadewa, Bima. Juga keluarga lain; yang kita sebut “jahat” kemudian; Duryodhana, dkk. Mereka belajar pada guru yang sama: Guru Drona. Ia dipanggil “Kakek Drona”.

Beliau guru yang hebat, cerdas, semua orang mengakui itu. Namun, di balik itu semua, ia ternyata adalah guru yang kurang bijaksana, karena “pilih-kasih”. Karna, anak haram Kunti dengan  “seseorang”. DEWA SURYA? BISA JADI.

Saat lahir, ia lalu dibuang oleh ibunya dengan cara dihanyutkan ke sungai luas dan besar, dalam sebuah keranjang bayi, dengan air mata kecemasan dan ketakutan seorang ibu. Juga, air mata.

Anak itu terpaksa dilepas karena takut akan “hukuman” dan “opini” keluarga kerajaan dan masyarakat umum jika nantinya tahu ia punya “anak haram” hasil hubungan gelap. Itu aib, stigma, dan cerita yang mesti dikubur dalam-dalam….

“KARNA LALU DITEMUKAN OLEH SEPASANG SUAMI-ISTRI yang lama tidak mempunyai keturunan, “mandul” dan “infertil”. Lama tak DIKARUNIAI anak.

Sama seperti di Bali, pasangan jenis ini dianggap “gagal” karena “anak” dianggap sebagai “penerus garis keturunan”, “leluhur” juga “hadiah” dari “tuhan”. Jika tidak, “dipercaya” ketika setelah “mati”, “roh” ibu atau ayah “akan mengalami sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan –DI alam yang disebut dengan sebutan “neraka”….”. NARKAA.

Anak berkulit agak gelap, dan disebut banyak penulis sejarah lama “bermata bulat, terang, dan memiliki “tanda khusus” di antara alis matanya–ia adalah keturunan “surya” yang nantinya menjadi jenius, berani, teguh, tangguh—namun sayang, mudah sekali terhasut dengan kata-kata halus, baik hati, penolong dan “tampak baik di permukaan”….

Karna namanya. Ia diasuh dan dibesarkan oleh keluarga tukang kusir kuda–anak adopsi yang dianggap sebagai anak sendiri, dengan kasih-sayang tiada tara, perhatian, cara mendidik melalui latihan “bekerja”; membantu ayah angkatnya yang bekerja sebagai kusir kereta. Orang biasa..

Karna kini remaja, sudah saatnya pergi menuntut ilmu. Kala itu di Bharat–wilayah luas yang kini disebut “anak benua India” sekolah adalah gurukula–padepokan, tempat guru mengajar murid-murid, dengan sistem guru-sisya, parampara, garis perguruan yang bersifat turun-temurun dan juga sistematis. Pingit. SAKRAL. SUCI. 

Disiplin, sangat ditekankan di tempat itu. Juga, ketaatan pada senior dan guru sebagai pusat dan figur personal–GURU–penerang batin yang gelap dan penghilang awidya–ketidaktahuan. MAKNA YANG KINI TENTU HILANG.

Drona memiliki ashram. Nama yang kini dalam bahasa Indonesia diadaptasi dan dipakai untuk mengenang kejayaan masa lalu–Asrama. Tempat tinggal siswa dan mahasiswa, juga tentara dan polisi. JUGA TEMPAT TINGGAL SISWA.

Drona guru yang diluar terlihat suka persatuan, dan “mempersatukan”.

Karna, remaja yang datang ke sana untuk mendaftar sebagai murid sekolah di ashram–diterima dengan sangat baik, karena telah lulus tes awal masuk.

Karna tubuhnya tegap, cerdas, dan cocok jika nantinya akan menjadi prajurit—kesatria di masa lalu yang semenjak dini diajari ilmu memanah, pertahanan, militer, kecakapan fisik dan mental, astrologi, dan kesaktian seperti kini banyak disebut sebagai “ilmu pengetahuan”. Ilmu dan Pengetahuan.

Drona sangat menyayangi Karna.

Namun sayang, dia berbalik menjadi sebaliknya, merasa kecewa, marah, merasa tertipu dan dibohongi karena Karna telah memalsukan identitas saat pertama kali memperkenalkan diri ketika datang pertama kali ke ashram: ‘aku anak dari keturunan keluarga kaya, terpandang, asal-usulku jelas ….’

Drona akhirnya tahu bahwa Karna anak angkat dari kusir kereta, golongan masyarakat rendah, bukan keturunan ksatria….

Karna merasa tersisih kemudian.

Hanya Duryodhana, kawan sesama remaja yang terlihat peduli pada anak miskin tersebut. Drona rela berbagi—waktu, tenaga, makanan, juga fasilitas sebagai keluarga kaya yang ia miliki sebagai “orang kaya”.

Karna semakin akrab dengan Duryodhana…

Mereka seperti dua saudara kandung yang mempunyai kesamaan pandangan, kesukaan, rutinitas harian dan…”masa depan”.

Itu terjadi setelah semua rahasia terbongkar. Termasuk “sejarah rahasia” siapa orang-tua dia sebenarnya…

Ibunya, Kunti, yang digambarkan amat lembut, tenang, feminim, penuh kasih juga bersifat keibuan,; suatu hari ingin bertemu dengan Karna yang kala itu telah dewasa.

Dia menatap Karna dengan penuh makna. Memeluk tubuh gagahnya, mengelus pipi, memegang kedua lengan laki-laki itu dengan senang, haru, –sudah lama ibu itu tidak pernah berjumpa dengan sosok bayi yang dulu dibuangnya. Kenangan lama itu.

Itu dilakukan karena kondisi dan keadaan juga waktu yang “belum memihak” — membiarkannya ditemukan dalam aliran sungai yang bisa saja menelannya dalam pusaran air–tenggelam dan lalu “mati”.

Karna dan Kunti bertemu dalam hening; perjumpaan yang sedikit misterius, laki-laki itu tentu bertanya dalam hati–siapakah ibu anggun ini, mengapa ia menjumpaiku, apa gerangan yang terjadi….siapa dan dari mana is berasal?

Ibu dan laki-laki itu terlibat dalam pembicaraan serius. Empat mata

Dengan penuh kesedihan, ada yang harus ibu itu ceritakan pada sosok gagah dan perkasa yang kini ada di hadapannya.

“KARNA ANAKKU….”

AIR MATA KUNTI TUMPAH….

KARNA TERDIAM. HENING. DIA TIDAK MERASA SENANG ATAU SEBALIKNYA, SENANG. JUSTRU DIA MERASA MARAH, KECEWA JUGA SEDIH. MENGAPA BARU SEKARANG KUNTI–Ratu HASTINAPURA, berani berkata jujur? –selama ini dia kemana–saat ia membutuhkan kasih-sayang seorang ibu, seorang perempuan sejati–walau ibu angkatnya juga dalam kenyataannya sangat menyayangi dia, tapi, tetap saja, ia merasa menjadi pesuruh dan pembantu, tak ada “makan siang yang gratis”–tenaga dia diperlukan, untuk kehidupan keluarga angkatnya.

Kunti tambah merasa bersedih.

Air mata dari pipi tidak berhenti mengalir, seperti air sungai yang menghanyutkan bayi mungil yang keluar dari rahimnya, dulu sekali, sebuah kelahiran tak diinginkan…

Karna beranjak dari pertemuan mereka. Meninggalkan ibu kandungnya dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi. Air mukanya datar. Ia pergi tanpa suara.

Kurawa–dengan ibu yang banyak mempunyai anak, Gandari. Anggota jeluarga itu punya karakter terbuka, apa adanya, berpikiran terbuka, tak suka rahasia, suka pengetahuan, juga melindungi–tidak senang melihat orang lain disakiti, apalagi dihina dan direndahkan. Karakter kesatria sejati.

Mereka dari tampak luar memang terlihat kasar, bicara terbuka, ”to the point’, Berbcara seperlunya, jika tidak penting–mereka memilih hening, diam, sambil mengerjakan pekerjaan sederhana, rumah tangga, dan juga sangat rajin belajar.

Karna merasa “at home” di sana.

Biarpun dia kini tahu, bahwa keluarga Pandawa adalah keluarga kandungnya.

Ia merasa tidak memiliki ikatan batin.

[Bersambung pada lain kesempatan….]


Denpasar, 29 Juni 2023, 23:57 WITA

Tags: DronaKarnakisah pewayangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Penulis Cekatan di Tengah Badai Kecerdasan Buatan

Next Post

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co