5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Tentang Putra Sang Surya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 14, 2023
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

DRONA adalah seorang guru, banyak dikenal oleh masyarakat sebagai Guru Agung. Pengajar anak-anak dan remaja di kerajaan Hastina Pura. Termasuk keluarga Pandawa juga Kaurawa. Arjuna, Karna, Yudistira, Nakula, Sahadewa, Bima. Juga keluarga lain; yang kita sebut “jahat” kemudian; Duryodhana, dkk. Mereka belajar pada guru yang sama: Guru Drona. Ia dipanggil “Kakek Drona”.

Beliau guru yang hebat, cerdas, semua orang mengakui itu. Namun, di balik itu semua, ia ternyata adalah guru yang kurang bijaksana, karena “pilih-kasih”. Karna, anak haram Kunti dengan  “seseorang”. DEWA SURYA? BISA JADI.

Saat lahir, ia lalu dibuang oleh ibunya dengan cara dihanyutkan ke sungai luas dan besar, dalam sebuah keranjang bayi, dengan air mata kecemasan dan ketakutan seorang ibu. Juga, air mata.

Anak itu terpaksa dilepas karena takut akan “hukuman” dan “opini” keluarga kerajaan dan masyarakat umum jika nantinya tahu ia punya “anak haram” hasil hubungan gelap. Itu aib, stigma, dan cerita yang mesti dikubur dalam-dalam….

“KARNA LALU DITEMUKAN OLEH SEPASANG SUAMI-ISTRI yang lama tidak mempunyai keturunan, “mandul” dan “infertil”. Lama tak DIKARUNIAI anak.

Sama seperti di Bali, pasangan jenis ini dianggap “gagal” karena “anak” dianggap sebagai “penerus garis keturunan”, “leluhur” juga “hadiah” dari “tuhan”. Jika tidak, “dipercaya” ketika setelah “mati”, “roh” ibu atau ayah “akan mengalami sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan –DI alam yang disebut dengan sebutan “neraka”….”. NARKAA.

Anak berkulit agak gelap, dan disebut banyak penulis sejarah lama “bermata bulat, terang, dan memiliki “tanda khusus” di antara alis matanya–ia adalah keturunan “surya” yang nantinya menjadi jenius, berani, teguh, tangguh—namun sayang, mudah sekali terhasut dengan kata-kata halus, baik hati, penolong dan “tampak baik di permukaan”….

Karna namanya. Ia diasuh dan dibesarkan oleh keluarga tukang kusir kuda–anak adopsi yang dianggap sebagai anak sendiri, dengan kasih-sayang tiada tara, perhatian, cara mendidik melalui latihan “bekerja”; membantu ayah angkatnya yang bekerja sebagai kusir kereta. Orang biasa..

Karna kini remaja, sudah saatnya pergi menuntut ilmu. Kala itu di Bharat–wilayah luas yang kini disebut “anak benua India” sekolah adalah gurukula–padepokan, tempat guru mengajar murid-murid, dengan sistem guru-sisya, parampara, garis perguruan yang bersifat turun-temurun dan juga sistematis. Pingit. SAKRAL. SUCI. 

Disiplin, sangat ditekankan di tempat itu. Juga, ketaatan pada senior dan guru sebagai pusat dan figur personal–GURU–penerang batin yang gelap dan penghilang awidya–ketidaktahuan. MAKNA YANG KINI TENTU HILANG.

Drona memiliki ashram. Nama yang kini dalam bahasa Indonesia diadaptasi dan dipakai untuk mengenang kejayaan masa lalu–Asrama. Tempat tinggal siswa dan mahasiswa, juga tentara dan polisi. JUGA TEMPAT TINGGAL SISWA.

Drona guru yang diluar terlihat suka persatuan, dan “mempersatukan”.

Karna, remaja yang datang ke sana untuk mendaftar sebagai murid sekolah di ashram–diterima dengan sangat baik, karena telah lulus tes awal masuk.

Karna tubuhnya tegap, cerdas, dan cocok jika nantinya akan menjadi prajurit—kesatria di masa lalu yang semenjak dini diajari ilmu memanah, pertahanan, militer, kecakapan fisik dan mental, astrologi, dan kesaktian seperti kini banyak disebut sebagai “ilmu pengetahuan”. Ilmu dan Pengetahuan.

Drona sangat menyayangi Karna.

Namun sayang, dia berbalik menjadi sebaliknya, merasa kecewa, marah, merasa tertipu dan dibohongi karena Karna telah memalsukan identitas saat pertama kali memperkenalkan diri ketika datang pertama kali ke ashram: ‘aku anak dari keturunan keluarga kaya, terpandang, asal-usulku jelas ….’

Drona akhirnya tahu bahwa Karna anak angkat dari kusir kereta, golongan masyarakat rendah, bukan keturunan ksatria….

Karna merasa tersisih kemudian.

Hanya Duryodhana, kawan sesama remaja yang terlihat peduli pada anak miskin tersebut. Drona rela berbagi—waktu, tenaga, makanan, juga fasilitas sebagai keluarga kaya yang ia miliki sebagai “orang kaya”.

Karna semakin akrab dengan Duryodhana…

Mereka seperti dua saudara kandung yang mempunyai kesamaan pandangan, kesukaan, rutinitas harian dan…”masa depan”.

Itu terjadi setelah semua rahasia terbongkar. Termasuk “sejarah rahasia” siapa orang-tua dia sebenarnya…

Ibunya, Kunti, yang digambarkan amat lembut, tenang, feminim, penuh kasih juga bersifat keibuan,; suatu hari ingin bertemu dengan Karna yang kala itu telah dewasa.

Dia menatap Karna dengan penuh makna. Memeluk tubuh gagahnya, mengelus pipi, memegang kedua lengan laki-laki itu dengan senang, haru, –sudah lama ibu itu tidak pernah berjumpa dengan sosok bayi yang dulu dibuangnya. Kenangan lama itu.

Itu dilakukan karena kondisi dan keadaan juga waktu yang “belum memihak” — membiarkannya ditemukan dalam aliran sungai yang bisa saja menelannya dalam pusaran air–tenggelam dan lalu “mati”.

Karna dan Kunti bertemu dalam hening; perjumpaan yang sedikit misterius, laki-laki itu tentu bertanya dalam hati–siapakah ibu anggun ini, mengapa ia menjumpaiku, apa gerangan yang terjadi….siapa dan dari mana is berasal?

Ibu dan laki-laki itu terlibat dalam pembicaraan serius. Empat mata

Dengan penuh kesedihan, ada yang harus ibu itu ceritakan pada sosok gagah dan perkasa yang kini ada di hadapannya.

“KARNA ANAKKU….”

AIR MATA KUNTI TUMPAH….

KARNA TERDIAM. HENING. DIA TIDAK MERASA SENANG ATAU SEBALIKNYA, SENANG. JUSTRU DIA MERASA MARAH, KECEWA JUGA SEDIH. MENGAPA BARU SEKARANG KUNTI–Ratu HASTINAPURA, berani berkata jujur? –selama ini dia kemana–saat ia membutuhkan kasih-sayang seorang ibu, seorang perempuan sejati–walau ibu angkatnya juga dalam kenyataannya sangat menyayangi dia, tapi, tetap saja, ia merasa menjadi pesuruh dan pembantu, tak ada “makan siang yang gratis”–tenaga dia diperlukan, untuk kehidupan keluarga angkatnya.

Kunti tambah merasa bersedih.

Air mata dari pipi tidak berhenti mengalir, seperti air sungai yang menghanyutkan bayi mungil yang keluar dari rahimnya, dulu sekali, sebuah kelahiran tak diinginkan…

Karna beranjak dari pertemuan mereka. Meninggalkan ibu kandungnya dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi. Air mukanya datar. Ia pergi tanpa suara.

Kurawa–dengan ibu yang banyak mempunyai anak, Gandari. Anggota jeluarga itu punya karakter terbuka, apa adanya, berpikiran terbuka, tak suka rahasia, suka pengetahuan, juga melindungi–tidak senang melihat orang lain disakiti, apalagi dihina dan direndahkan. Karakter kesatria sejati.

Mereka dari tampak luar memang terlihat kasar, bicara terbuka, ”to the point’, Berbcara seperlunya, jika tidak penting–mereka memilih hening, diam, sambil mengerjakan pekerjaan sederhana, rumah tangga, dan juga sangat rajin belajar.

Karna merasa “at home” di sana.

Biarpun dia kini tahu, bahwa keluarga Pandawa adalah keluarga kandungnya.

Ia merasa tidak memiliki ikatan batin.

[Bersambung pada lain kesempatan….]


Denpasar, 29 Juni 2023, 23:57 WITA

Tags: DronaKarnakisah pewayangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Penulis Cekatan di Tengah Badai Kecerdasan Buatan

Next Post

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co