30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Tentang Putra Sang Surya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 14, 2023
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

DRONA adalah seorang guru, banyak dikenal oleh masyarakat sebagai Guru Agung. Pengajar anak-anak dan remaja di kerajaan Hastina Pura. Termasuk keluarga Pandawa juga Kaurawa. Arjuna, Karna, Yudistira, Nakula, Sahadewa, Bima. Juga keluarga lain; yang kita sebut “jahat” kemudian; Duryodhana, dkk. Mereka belajar pada guru yang sama: Guru Drona. Ia dipanggil “Kakek Drona”.

Beliau guru yang hebat, cerdas, semua orang mengakui itu. Namun, di balik itu semua, ia ternyata adalah guru yang kurang bijaksana, karena “pilih-kasih”. Karna, anak haram Kunti dengan  “seseorang”. DEWA SURYA? BISA JADI.

Saat lahir, ia lalu dibuang oleh ibunya dengan cara dihanyutkan ke sungai luas dan besar, dalam sebuah keranjang bayi, dengan air mata kecemasan dan ketakutan seorang ibu. Juga, air mata.

Anak itu terpaksa dilepas karena takut akan “hukuman” dan “opini” keluarga kerajaan dan masyarakat umum jika nantinya tahu ia punya “anak haram” hasil hubungan gelap. Itu aib, stigma, dan cerita yang mesti dikubur dalam-dalam….

“KARNA LALU DITEMUKAN OLEH SEPASANG SUAMI-ISTRI yang lama tidak mempunyai keturunan, “mandul” dan “infertil”. Lama tak DIKARUNIAI anak.

Sama seperti di Bali, pasangan jenis ini dianggap “gagal” karena “anak” dianggap sebagai “penerus garis keturunan”, “leluhur” juga “hadiah” dari “tuhan”. Jika tidak, “dipercaya” ketika setelah “mati”, “roh” ibu atau ayah “akan mengalami sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan –DI alam yang disebut dengan sebutan “neraka”….”. NARKAA.

Anak berkulit agak gelap, dan disebut banyak penulis sejarah lama “bermata bulat, terang, dan memiliki “tanda khusus” di antara alis matanya–ia adalah keturunan “surya” yang nantinya menjadi jenius, berani, teguh, tangguh—namun sayang, mudah sekali terhasut dengan kata-kata halus, baik hati, penolong dan “tampak baik di permukaan”….

Karna namanya. Ia diasuh dan dibesarkan oleh keluarga tukang kusir kuda–anak adopsi yang dianggap sebagai anak sendiri, dengan kasih-sayang tiada tara, perhatian, cara mendidik melalui latihan “bekerja”; membantu ayah angkatnya yang bekerja sebagai kusir kereta. Orang biasa..

Karna kini remaja, sudah saatnya pergi menuntut ilmu. Kala itu di Bharat–wilayah luas yang kini disebut “anak benua India” sekolah adalah gurukula–padepokan, tempat guru mengajar murid-murid, dengan sistem guru-sisya, parampara, garis perguruan yang bersifat turun-temurun dan juga sistematis. Pingit. SAKRAL. SUCI. 

Disiplin, sangat ditekankan di tempat itu. Juga, ketaatan pada senior dan guru sebagai pusat dan figur personal–GURU–penerang batin yang gelap dan penghilang awidya–ketidaktahuan. MAKNA YANG KINI TENTU HILANG.

Drona memiliki ashram. Nama yang kini dalam bahasa Indonesia diadaptasi dan dipakai untuk mengenang kejayaan masa lalu–Asrama. Tempat tinggal siswa dan mahasiswa, juga tentara dan polisi. JUGA TEMPAT TINGGAL SISWA.

Drona guru yang diluar terlihat suka persatuan, dan “mempersatukan”.

Karna, remaja yang datang ke sana untuk mendaftar sebagai murid sekolah di ashram–diterima dengan sangat baik, karena telah lulus tes awal masuk.

Karna tubuhnya tegap, cerdas, dan cocok jika nantinya akan menjadi prajurit—kesatria di masa lalu yang semenjak dini diajari ilmu memanah, pertahanan, militer, kecakapan fisik dan mental, astrologi, dan kesaktian seperti kini banyak disebut sebagai “ilmu pengetahuan”. Ilmu dan Pengetahuan.

Drona sangat menyayangi Karna.

Namun sayang, dia berbalik menjadi sebaliknya, merasa kecewa, marah, merasa tertipu dan dibohongi karena Karna telah memalsukan identitas saat pertama kali memperkenalkan diri ketika datang pertama kali ke ashram: ‘aku anak dari keturunan keluarga kaya, terpandang, asal-usulku jelas ….’

Drona akhirnya tahu bahwa Karna anak angkat dari kusir kereta, golongan masyarakat rendah, bukan keturunan ksatria….

Karna merasa tersisih kemudian.

Hanya Duryodhana, kawan sesama remaja yang terlihat peduli pada anak miskin tersebut. Drona rela berbagi—waktu, tenaga, makanan, juga fasilitas sebagai keluarga kaya yang ia miliki sebagai “orang kaya”.

Karna semakin akrab dengan Duryodhana…

Mereka seperti dua saudara kandung yang mempunyai kesamaan pandangan, kesukaan, rutinitas harian dan…”masa depan”.

Itu terjadi setelah semua rahasia terbongkar. Termasuk “sejarah rahasia” siapa orang-tua dia sebenarnya…

Ibunya, Kunti, yang digambarkan amat lembut, tenang, feminim, penuh kasih juga bersifat keibuan,; suatu hari ingin bertemu dengan Karna yang kala itu telah dewasa.

Dia menatap Karna dengan penuh makna. Memeluk tubuh gagahnya, mengelus pipi, memegang kedua lengan laki-laki itu dengan senang, haru, –sudah lama ibu itu tidak pernah berjumpa dengan sosok bayi yang dulu dibuangnya. Kenangan lama itu.

Itu dilakukan karena kondisi dan keadaan juga waktu yang “belum memihak” — membiarkannya ditemukan dalam aliran sungai yang bisa saja menelannya dalam pusaran air–tenggelam dan lalu “mati”.

Karna dan Kunti bertemu dalam hening; perjumpaan yang sedikit misterius, laki-laki itu tentu bertanya dalam hati–siapakah ibu anggun ini, mengapa ia menjumpaiku, apa gerangan yang terjadi….siapa dan dari mana is berasal?

Ibu dan laki-laki itu terlibat dalam pembicaraan serius. Empat mata

Dengan penuh kesedihan, ada yang harus ibu itu ceritakan pada sosok gagah dan perkasa yang kini ada di hadapannya.

“KARNA ANAKKU….”

AIR MATA KUNTI TUMPAH….

KARNA TERDIAM. HENING. DIA TIDAK MERASA SENANG ATAU SEBALIKNYA, SENANG. JUSTRU DIA MERASA MARAH, KECEWA JUGA SEDIH. MENGAPA BARU SEKARANG KUNTI–Ratu HASTINAPURA, berani berkata jujur? –selama ini dia kemana–saat ia membutuhkan kasih-sayang seorang ibu, seorang perempuan sejati–walau ibu angkatnya juga dalam kenyataannya sangat menyayangi dia, tapi, tetap saja, ia merasa menjadi pesuruh dan pembantu, tak ada “makan siang yang gratis”–tenaga dia diperlukan, untuk kehidupan keluarga angkatnya.

Kunti tambah merasa bersedih.

Air mata dari pipi tidak berhenti mengalir, seperti air sungai yang menghanyutkan bayi mungil yang keluar dari rahimnya, dulu sekali, sebuah kelahiran tak diinginkan…

Karna beranjak dari pertemuan mereka. Meninggalkan ibu kandungnya dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi. Air mukanya datar. Ia pergi tanpa suara.

Kurawa–dengan ibu yang banyak mempunyai anak, Gandari. Anggota jeluarga itu punya karakter terbuka, apa adanya, berpikiran terbuka, tak suka rahasia, suka pengetahuan, juga melindungi–tidak senang melihat orang lain disakiti, apalagi dihina dan direndahkan. Karakter kesatria sejati.

Mereka dari tampak luar memang terlihat kasar, bicara terbuka, ”to the point’, Berbcara seperlunya, jika tidak penting–mereka memilih hening, diam, sambil mengerjakan pekerjaan sederhana, rumah tangga, dan juga sangat rajin belajar.

Karna merasa “at home” di sana.

Biarpun dia kini tahu, bahwa keluarga Pandawa adalah keluarga kandungnya.

Ia merasa tidak memiliki ikatan batin.

[Bersambung pada lain kesempatan….]


Denpasar, 29 Juni 2023, 23:57 WITA

Tags: DronaKarnakisah pewayangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Penulis Cekatan di Tengah Badai Kecerdasan Buatan

Next Post

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co