24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nglanyig

Oka Rusmini by Oka Rusmini
March 8, 2023
in Esai
Nglanyig

tatkala.co

KOPLAK menggigit bibirnya. Belum ada niat tulus dan ikhlas bangun dari tempat tidur. Koplak menarik napas dalam-dalam teringat jaman grubug, saat Indonesia  mengumumkan untuk pertama kali dilanda Covid-19, 2 Maret 2020. 

Koplak ingat persis suasana saat itu terasa biasa-biasa saja, walau pun ada sedikit rasa was-was, karena yang mengumumkan di TV, Presiden. Jika orang nomor satu di negeri ini sampai turun tangan berarti situasi sesungguhnya tidak baik-baik saja. 

Yang membuat Koplak terbelalak respon dari pejabat publik juga lucu-lucu. Beragam gegemet, jimat dan trik bermunculan terasa menghibur. Seorang menteri bahkan mewajibkan jajarannya memakai kalung penangkar C-19. Koplak tersenyum, sambil memiringkan tubuhnya lalu memeluk guling besar . Sambil menatap kaca jendela, hujan deras dan angin kencang menghajar seluruh pohon di halaman rumah.

Waktu pun terus menggelinding, kali ini C-19 bukan persoalan biasa-biasa saja. Kondisi saat itu sudah masuk kelas grubug VVIP atau Very Very Important Person. Semua kacau balau, teror fisik juga psikis menghantam seluruh warga Desa  Sawut  yang hidup dari pertanian, ternak, juga beragam hasil hutan dan sungai di desa.

Desa Sawut adalah desa yang tenang, masyarakatnya saling mengasihi dengan tulus. Kehidupan mengalir ringan dan damai, seolah tidak terusik beragam hingar bingar pembangunan di luar. Tapi kali ini, kehidupan mereka mulai terusik setelah banyaknya kerabat, teman, sahabat dalam sehari berpulang. Dalam kesunyian yang paling buruk dalam sejarah kehidupan manusia di bumi ini. Mati sendiri, tanpa ditemani, juga tidak bersua dengan kerabat dekat.

Seolah kematian yang biasanya dirayakan dengan beragam upacara, ditemani air, bunga, asap dupa berubah jadi sunyi yang menyakitkan. Beberapa kerabat, teman, sahabat, mungkin juga orang-orang yang diam-diam dicintai Koplak berpulang tanpa berpamitan, Koplak pun tidak bisa ikut mengantar. Kehidupan riang di desa jadi terasa dingin dan membuat Koplak tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran-pikiran liar terus beranak pinak di lubang-lubang otaknya. Seolah Koplak sedang menunggu kematiannya sendiri. Hidup jadi kering.

Koplak melempar gulingnya, menarik napas. Setelah masa-masa gering itu lewat, apakah persoalan hidup selesai? Hampir 3 tahun hidup penuh teror, kehidupan berubah drastis. Banyak warung-warung kopi di pinggir-pinggir jalan menuju kota tutup. Entah bangkrut atau pemiliknya meninggal? Entahlah. Banyak hal-hal harus berubah, di kantor desa juga berkali-kali harus disemprot  disinfektan bahan kimia yang digunakan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme (misalnya pada bakteri, virus dan jamur kecuali spora bakteri) pada permukaan benda mati, seperti furniture, ruangan, lantai, alat-alat kerja, pokoknya semuanya. Membuat Koplak sesak napas, tidak nyaman. Tangan kering, kulit juga terasa kasar. Setiap keluar rumah, harus mandi, keramas ganti baju.

Pokoknya hidup terasa aneh, tidak bisa bersantai. Tegang. Untungnya gering itu segera raib, walapun konon tipis-tipis masih ada. Koplak merasa telah dihibahkan hidup kedua. Berusaha untuk menjadi lelaki, bapak, pejabat yang lebih baik lagi. Desa harus dibangun dengan baik, kalau ingin warga sejahtera. Minimal bisa makan dengan baik, mendapatkan air bersih untuk hidup.

 Bagi warga desa, selama karantina, mereka tidak pernah kekurangan gizi, juga tidak perlu “mengemis” bantuan untuk hidup layak. Karena hutan desa, sungai sudah memberi mereka kehidupan yang cukup. Berkali-kali desa Koplak mendapat penghargaan desa mandiri. Karena kebutuhan pangan yang sehat terpenuhi. Warga juga sudah bisa menikmati internet yang baik. Selama masa gering warga makin mapan , karena mahir sedikit menggunakan gawai. Itu berkat Danan. Nama lengkap anak muda itu— I Made Danan Mahadewa. Gagah, cerdas, lagas. Pokoknya jika ingin memiliki menantu yang kekinian, Danan memang pilihan yang tepat.

 “Sebaiknya, Danan itu kau rayulah. Dekati dengan hatimu sebagai bapak-sekaligus ibunya Kemitir.” Suatu hari sahabat Koplak berkata sedikit berbisik kepada Koplak yang sedang asik menyantap be ngeyol – masakan khas Bali biasanya menggunakan bahan utama berupa daging serta kulit babi yang mengandung banyak lemak. Dengan bumbu beragam rempah-rempah. Rasanya khas dan tajam. Sungguh terasa di sorga jika Koplak menyantap be ngenyol dengan nasi hangat dan teh pahit. Asal jangan sampai Kemitir lewat, bisa celaka. Karena jika ketahuan, Kemitir akan rewel, terus berbicara seperti tawon. Berdengung, berdenging, seperti radio rusak. Kalimatnya juga akan berulang-ulang.

“Ingat kolesterol tinggi itu bisa membahayakan, Bape. Kesehatan itu investasi yang sangat mahal. Harus diperjuangkan. Uang memang tidak mudah dicari, tetapi masih bisa diusahakan. Tapi kalau terserang penyakit berat, tubuh akan keropos. Harus dirawat, tubuh lebih rewel dari tumbuhan.” Kemitir duduk di depan mata Koplak, sambil menatapnya serius. Sialnya kali ini sahabatnya yang mengganggu  nikmatnya Koplak yang sedang menyantap makanan favoritnya. Merayu Danan? Ada-ada saja.

“Ya, mungkin kau bisa jodohkan dengan Kemitir,” kata sahabatnya itu serius. Koplak tersedak. Dua gelas air putih tidak juga mampu menghilangkan batuknya. Koplak menarik napas mengingat seluruh peristiwa itu.

Dia menengadah, menatap langit kamar. Kenapa Kemitir tidak pernah bicara kekasih hatinya ya? Koplak semakin sesak napas ketika mendengar dari salah satu teman anaknya yang menikah di usia yang tidak muda dan memilih untuk tidak punya anak. Ada yang raib dalam hidupnya, ada yang terasa gamang dan melayang. Kadang terasa benar Koplak seperti menjelma menjadi mahluk lelaki yang baru, mahluk lelaki yang terasa jauh dan Koplak merasa tidak mengenal dirinya sendiri.

Terasa asing, tetapi semuanya harus dijalani. Karena siapa lagi yang bisa merawat, menjaga dan menemaninya selain anak perempuan satu-satunya, Ni Luh Putu Kemitir. Anak perempuan semata wayang yang sampai hari ini belum juga memilih lelaki yang cocok untuk mendampingi hidupnya. Pernah Koplak, kepo. Mengusik Kemitir,dengan beragam pertanyaan.Percuma.Kemitir santai saja.

“Bape memang mau segera punya cucu?  Sekarang ini jadi perempuan itu boleh memilih gaya hidupnya sendiri. Yang penting tidak merepotkan. Dan membuat nyaman. Bape tahu? Teman-teman Kemitir yang menikah bahkan memilih gaya hidup childfree, hidup tanpa memiliki anak setelah menikah. Alasannya, tidak siap menjadi orang tua, faktor ekonomi, faktor lingkungan bahkan faktor fisik diri sendiri maupun fisik pasangan.“

Kemitir berkata santai. Sambil tersenyum manis membuat selera makan, melinting rokok, dan ngopi pagi hari Koplak raib. Jadi sampai mati tidak bisa melihat Kemitir menikah, tidak juga bisa melihat cucu yang lucu. Mimih, lacur gati — sial sekali. Kopak menutup kepalanya dengan bantal, enggan beranjak dari kasur. Mencoba tetap berpikir, sabar, juga tenang. [T]

Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini
“Men Coblong” dan “Koplak” karya Oka Rusmini: Perempuan dan Laki-laki Feminim
Tags: KoplakOka Rusmini
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswi Fakultas Ekonomi itu Rapi dan Wangi | Jangan Heran, Semua Ada Alasannya

Next Post

Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co