2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nglanyig

Oka Rusmini by Oka Rusmini
March 8, 2023
in Esai
Nglanyig

tatkala.co

KOPLAK menggigit bibirnya. Belum ada niat tulus dan ikhlas bangun dari tempat tidur. Koplak menarik napas dalam-dalam teringat jaman grubug, saat Indonesia  mengumumkan untuk pertama kali dilanda Covid-19, 2 Maret 2020. 

Koplak ingat persis suasana saat itu terasa biasa-biasa saja, walau pun ada sedikit rasa was-was, karena yang mengumumkan di TV, Presiden. Jika orang nomor satu di negeri ini sampai turun tangan berarti situasi sesungguhnya tidak baik-baik saja. 

Yang membuat Koplak terbelalak respon dari pejabat publik juga lucu-lucu. Beragam gegemet, jimat dan trik bermunculan terasa menghibur. Seorang menteri bahkan mewajibkan jajarannya memakai kalung penangkar C-19. Koplak tersenyum, sambil memiringkan tubuhnya lalu memeluk guling besar . Sambil menatap kaca jendela, hujan deras dan angin kencang menghajar seluruh pohon di halaman rumah.

Waktu pun terus menggelinding, kali ini C-19 bukan persoalan biasa-biasa saja. Kondisi saat itu sudah masuk kelas grubug VVIP atau Very Very Important Person. Semua kacau balau, teror fisik juga psikis menghantam seluruh warga Desa  Sawut  yang hidup dari pertanian, ternak, juga beragam hasil hutan dan sungai di desa.

Desa Sawut adalah desa yang tenang, masyarakatnya saling mengasihi dengan tulus. Kehidupan mengalir ringan dan damai, seolah tidak terusik beragam hingar bingar pembangunan di luar. Tapi kali ini, kehidupan mereka mulai terusik setelah banyaknya kerabat, teman, sahabat dalam sehari berpulang. Dalam kesunyian yang paling buruk dalam sejarah kehidupan manusia di bumi ini. Mati sendiri, tanpa ditemani, juga tidak bersua dengan kerabat dekat.

Seolah kematian yang biasanya dirayakan dengan beragam upacara, ditemani air, bunga, asap dupa berubah jadi sunyi yang menyakitkan. Beberapa kerabat, teman, sahabat, mungkin juga orang-orang yang diam-diam dicintai Koplak berpulang tanpa berpamitan, Koplak pun tidak bisa ikut mengantar. Kehidupan riang di desa jadi terasa dingin dan membuat Koplak tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran-pikiran liar terus beranak pinak di lubang-lubang otaknya. Seolah Koplak sedang menunggu kematiannya sendiri. Hidup jadi kering.

Koplak melempar gulingnya, menarik napas. Setelah masa-masa gering itu lewat, apakah persoalan hidup selesai? Hampir 3 tahun hidup penuh teror, kehidupan berubah drastis. Banyak warung-warung kopi di pinggir-pinggir jalan menuju kota tutup. Entah bangkrut atau pemiliknya meninggal? Entahlah. Banyak hal-hal harus berubah, di kantor desa juga berkali-kali harus disemprot  disinfektan bahan kimia yang digunakan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme (misalnya pada bakteri, virus dan jamur kecuali spora bakteri) pada permukaan benda mati, seperti furniture, ruangan, lantai, alat-alat kerja, pokoknya semuanya. Membuat Koplak sesak napas, tidak nyaman. Tangan kering, kulit juga terasa kasar. Setiap keluar rumah, harus mandi, keramas ganti baju.

Pokoknya hidup terasa aneh, tidak bisa bersantai. Tegang. Untungnya gering itu segera raib, walapun konon tipis-tipis masih ada. Koplak merasa telah dihibahkan hidup kedua. Berusaha untuk menjadi lelaki, bapak, pejabat yang lebih baik lagi. Desa harus dibangun dengan baik, kalau ingin warga sejahtera. Minimal bisa makan dengan baik, mendapatkan air bersih untuk hidup.

 Bagi warga desa, selama karantina, mereka tidak pernah kekurangan gizi, juga tidak perlu “mengemis” bantuan untuk hidup layak. Karena hutan desa, sungai sudah memberi mereka kehidupan yang cukup. Berkali-kali desa Koplak mendapat penghargaan desa mandiri. Karena kebutuhan pangan yang sehat terpenuhi. Warga juga sudah bisa menikmati internet yang baik. Selama masa gering warga makin mapan , karena mahir sedikit menggunakan gawai. Itu berkat Danan. Nama lengkap anak muda itu— I Made Danan Mahadewa. Gagah, cerdas, lagas. Pokoknya jika ingin memiliki menantu yang kekinian, Danan memang pilihan yang tepat.

 “Sebaiknya, Danan itu kau rayulah. Dekati dengan hatimu sebagai bapak-sekaligus ibunya Kemitir.” Suatu hari sahabat Koplak berkata sedikit berbisik kepada Koplak yang sedang asik menyantap be ngeyol – masakan khas Bali biasanya menggunakan bahan utama berupa daging serta kulit babi yang mengandung banyak lemak. Dengan bumbu beragam rempah-rempah. Rasanya khas dan tajam. Sungguh terasa di sorga jika Koplak menyantap be ngenyol dengan nasi hangat dan teh pahit. Asal jangan sampai Kemitir lewat, bisa celaka. Karena jika ketahuan, Kemitir akan rewel, terus berbicara seperti tawon. Berdengung, berdenging, seperti radio rusak. Kalimatnya juga akan berulang-ulang.

“Ingat kolesterol tinggi itu bisa membahayakan, Bape. Kesehatan itu investasi yang sangat mahal. Harus diperjuangkan. Uang memang tidak mudah dicari, tetapi masih bisa diusahakan. Tapi kalau terserang penyakit berat, tubuh akan keropos. Harus dirawat, tubuh lebih rewel dari tumbuhan.” Kemitir duduk di depan mata Koplak, sambil menatapnya serius. Sialnya kali ini sahabatnya yang mengganggu  nikmatnya Koplak yang sedang menyantap makanan favoritnya. Merayu Danan? Ada-ada saja.

“Ya, mungkin kau bisa jodohkan dengan Kemitir,” kata sahabatnya itu serius. Koplak tersedak. Dua gelas air putih tidak juga mampu menghilangkan batuknya. Koplak menarik napas mengingat seluruh peristiwa itu.

Dia menengadah, menatap langit kamar. Kenapa Kemitir tidak pernah bicara kekasih hatinya ya? Koplak semakin sesak napas ketika mendengar dari salah satu teman anaknya yang menikah di usia yang tidak muda dan memilih untuk tidak punya anak. Ada yang raib dalam hidupnya, ada yang terasa gamang dan melayang. Kadang terasa benar Koplak seperti menjelma menjadi mahluk lelaki yang baru, mahluk lelaki yang terasa jauh dan Koplak merasa tidak mengenal dirinya sendiri.

Terasa asing, tetapi semuanya harus dijalani. Karena siapa lagi yang bisa merawat, menjaga dan menemaninya selain anak perempuan satu-satunya, Ni Luh Putu Kemitir. Anak perempuan semata wayang yang sampai hari ini belum juga memilih lelaki yang cocok untuk mendampingi hidupnya. Pernah Koplak, kepo. Mengusik Kemitir,dengan beragam pertanyaan.Percuma.Kemitir santai saja.

“Bape memang mau segera punya cucu?  Sekarang ini jadi perempuan itu boleh memilih gaya hidupnya sendiri. Yang penting tidak merepotkan. Dan membuat nyaman. Bape tahu? Teman-teman Kemitir yang menikah bahkan memilih gaya hidup childfree, hidup tanpa memiliki anak setelah menikah. Alasannya, tidak siap menjadi orang tua, faktor ekonomi, faktor lingkungan bahkan faktor fisik diri sendiri maupun fisik pasangan.“

Kemitir berkata santai. Sambil tersenyum manis membuat selera makan, melinting rokok, dan ngopi pagi hari Koplak raib. Jadi sampai mati tidak bisa melihat Kemitir menikah, tidak juga bisa melihat cucu yang lucu. Mimih, lacur gati — sial sekali. Kopak menutup kepalanya dengan bantal, enggan beranjak dari kasur. Mencoba tetap berpikir, sabar, juga tenang. [T]

Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini
“Men Coblong” dan “Koplak” karya Oka Rusmini: Perempuan dan Laki-laki Feminim
Tags: KoplakOka Rusmini
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswi Fakultas Ekonomi itu Rapi dan Wangi | Jangan Heran, Semua Ada Alasannya

Next Post

Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co