2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nglanyig

Oka Rusmini by Oka Rusmini
March 8, 2023
in Esai
Nglanyig

tatkala.co

KOPLAK menggigit bibirnya. Belum ada niat tulus dan ikhlas bangun dari tempat tidur. Koplak menarik napas dalam-dalam teringat jaman grubug, saat Indonesia  mengumumkan untuk pertama kali dilanda Covid-19, 2 Maret 2020. 

Koplak ingat persis suasana saat itu terasa biasa-biasa saja, walau pun ada sedikit rasa was-was, karena yang mengumumkan di TV, Presiden. Jika orang nomor satu di negeri ini sampai turun tangan berarti situasi sesungguhnya tidak baik-baik saja. 

Yang membuat Koplak terbelalak respon dari pejabat publik juga lucu-lucu. Beragam gegemet, jimat dan trik bermunculan terasa menghibur. Seorang menteri bahkan mewajibkan jajarannya memakai kalung penangkar C-19. Koplak tersenyum, sambil memiringkan tubuhnya lalu memeluk guling besar . Sambil menatap kaca jendela, hujan deras dan angin kencang menghajar seluruh pohon di halaman rumah.

Waktu pun terus menggelinding, kali ini C-19 bukan persoalan biasa-biasa saja. Kondisi saat itu sudah masuk kelas grubug VVIP atau Very Very Important Person. Semua kacau balau, teror fisik juga psikis menghantam seluruh warga Desa  Sawut  yang hidup dari pertanian, ternak, juga beragam hasil hutan dan sungai di desa.

Desa Sawut adalah desa yang tenang, masyarakatnya saling mengasihi dengan tulus. Kehidupan mengalir ringan dan damai, seolah tidak terusik beragam hingar bingar pembangunan di luar. Tapi kali ini, kehidupan mereka mulai terusik setelah banyaknya kerabat, teman, sahabat dalam sehari berpulang. Dalam kesunyian yang paling buruk dalam sejarah kehidupan manusia di bumi ini. Mati sendiri, tanpa ditemani, juga tidak bersua dengan kerabat dekat.

Seolah kematian yang biasanya dirayakan dengan beragam upacara, ditemani air, bunga, asap dupa berubah jadi sunyi yang menyakitkan. Beberapa kerabat, teman, sahabat, mungkin juga orang-orang yang diam-diam dicintai Koplak berpulang tanpa berpamitan, Koplak pun tidak bisa ikut mengantar. Kehidupan riang di desa jadi terasa dingin dan membuat Koplak tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran-pikiran liar terus beranak pinak di lubang-lubang otaknya. Seolah Koplak sedang menunggu kematiannya sendiri. Hidup jadi kering.

Koplak melempar gulingnya, menarik napas. Setelah masa-masa gering itu lewat, apakah persoalan hidup selesai? Hampir 3 tahun hidup penuh teror, kehidupan berubah drastis. Banyak warung-warung kopi di pinggir-pinggir jalan menuju kota tutup. Entah bangkrut atau pemiliknya meninggal? Entahlah. Banyak hal-hal harus berubah, di kantor desa juga berkali-kali harus disemprot  disinfektan bahan kimia yang digunakan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme (misalnya pada bakteri, virus dan jamur kecuali spora bakteri) pada permukaan benda mati, seperti furniture, ruangan, lantai, alat-alat kerja, pokoknya semuanya. Membuat Koplak sesak napas, tidak nyaman. Tangan kering, kulit juga terasa kasar. Setiap keluar rumah, harus mandi, keramas ganti baju.

Pokoknya hidup terasa aneh, tidak bisa bersantai. Tegang. Untungnya gering itu segera raib, walapun konon tipis-tipis masih ada. Koplak merasa telah dihibahkan hidup kedua. Berusaha untuk menjadi lelaki, bapak, pejabat yang lebih baik lagi. Desa harus dibangun dengan baik, kalau ingin warga sejahtera. Minimal bisa makan dengan baik, mendapatkan air bersih untuk hidup.

 Bagi warga desa, selama karantina, mereka tidak pernah kekurangan gizi, juga tidak perlu “mengemis” bantuan untuk hidup layak. Karena hutan desa, sungai sudah memberi mereka kehidupan yang cukup. Berkali-kali desa Koplak mendapat penghargaan desa mandiri. Karena kebutuhan pangan yang sehat terpenuhi. Warga juga sudah bisa menikmati internet yang baik. Selama masa gering warga makin mapan , karena mahir sedikit menggunakan gawai. Itu berkat Danan. Nama lengkap anak muda itu— I Made Danan Mahadewa. Gagah, cerdas, lagas. Pokoknya jika ingin memiliki menantu yang kekinian, Danan memang pilihan yang tepat.

 “Sebaiknya, Danan itu kau rayulah. Dekati dengan hatimu sebagai bapak-sekaligus ibunya Kemitir.” Suatu hari sahabat Koplak berkata sedikit berbisik kepada Koplak yang sedang asik menyantap be ngeyol – masakan khas Bali biasanya menggunakan bahan utama berupa daging serta kulit babi yang mengandung banyak lemak. Dengan bumbu beragam rempah-rempah. Rasanya khas dan tajam. Sungguh terasa di sorga jika Koplak menyantap be ngenyol dengan nasi hangat dan teh pahit. Asal jangan sampai Kemitir lewat, bisa celaka. Karena jika ketahuan, Kemitir akan rewel, terus berbicara seperti tawon. Berdengung, berdenging, seperti radio rusak. Kalimatnya juga akan berulang-ulang.

“Ingat kolesterol tinggi itu bisa membahayakan, Bape. Kesehatan itu investasi yang sangat mahal. Harus diperjuangkan. Uang memang tidak mudah dicari, tetapi masih bisa diusahakan. Tapi kalau terserang penyakit berat, tubuh akan keropos. Harus dirawat, tubuh lebih rewel dari tumbuhan.” Kemitir duduk di depan mata Koplak, sambil menatapnya serius. Sialnya kali ini sahabatnya yang mengganggu  nikmatnya Koplak yang sedang menyantap makanan favoritnya. Merayu Danan? Ada-ada saja.

“Ya, mungkin kau bisa jodohkan dengan Kemitir,” kata sahabatnya itu serius. Koplak tersedak. Dua gelas air putih tidak juga mampu menghilangkan batuknya. Koplak menarik napas mengingat seluruh peristiwa itu.

Dia menengadah, menatap langit kamar. Kenapa Kemitir tidak pernah bicara kekasih hatinya ya? Koplak semakin sesak napas ketika mendengar dari salah satu teman anaknya yang menikah di usia yang tidak muda dan memilih untuk tidak punya anak. Ada yang raib dalam hidupnya, ada yang terasa gamang dan melayang. Kadang terasa benar Koplak seperti menjelma menjadi mahluk lelaki yang baru, mahluk lelaki yang terasa jauh dan Koplak merasa tidak mengenal dirinya sendiri.

Terasa asing, tetapi semuanya harus dijalani. Karena siapa lagi yang bisa merawat, menjaga dan menemaninya selain anak perempuan satu-satunya, Ni Luh Putu Kemitir. Anak perempuan semata wayang yang sampai hari ini belum juga memilih lelaki yang cocok untuk mendampingi hidupnya. Pernah Koplak, kepo. Mengusik Kemitir,dengan beragam pertanyaan.Percuma.Kemitir santai saja.

“Bape memang mau segera punya cucu?  Sekarang ini jadi perempuan itu boleh memilih gaya hidupnya sendiri. Yang penting tidak merepotkan. Dan membuat nyaman. Bape tahu? Teman-teman Kemitir yang menikah bahkan memilih gaya hidup childfree, hidup tanpa memiliki anak setelah menikah. Alasannya, tidak siap menjadi orang tua, faktor ekonomi, faktor lingkungan bahkan faktor fisik diri sendiri maupun fisik pasangan.“

Kemitir berkata santai. Sambil tersenyum manis membuat selera makan, melinting rokok, dan ngopi pagi hari Koplak raib. Jadi sampai mati tidak bisa melihat Kemitir menikah, tidak juga bisa melihat cucu yang lucu. Mimih, lacur gati — sial sekali. Kopak menutup kepalanya dengan bantal, enggan beranjak dari kasur. Mencoba tetap berpikir, sabar, juga tenang. [T]

Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Berkenalan dengan Karya Sastra Kuno Lewat Cara Kekinian | Novel “Jerum” Oka Rusmini
“Men Coblong” dan “Koplak” karya Oka Rusmini: Perempuan dan Laki-laki Feminim
Tags: KoplakOka Rusmini
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswi Fakultas Ekonomi itu Rapi dan Wangi | Jangan Heran, Semua Ada Alasannya

Next Post

Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co