14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalender Pawukon Bali & Jawa Sama — Peninggalan Medang Kamulan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 5, 2022
in Esai, Pilihan Editor
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Oktober 2022

[][][][][]

Masih banyak yang belum tahu kalau TIKA (papan matrix penghitungan Pawukon) yang dipakai di Bali juga dipakai di Jawa. Jika di Bali disebut sebagai TIKA, di JAWA disebut sebagai KALAMUDENG — silahkan lihat gambar/foto koleksi MUSEUM SENOBUDOYO YOGYAKARTA.

Banyak pula orang Bali yang mengklaim bahwa ilmu Pawukon dan Wariga adalah asli Bali. Padahal, dari periode raja-raja Medang Kamulan dan Bali Kuno, baik di Jawa dan Bali semuanya memakai penanggalan dengan Pawukon dan tahun Śaka secara bersama-sama. Ketika raja Bali Kuno menulis prasasti-prasasti menggunakan penanggalan dengan Pawukon, demikian juga raja-raja Medang Kamulan menggunakan penanggalan yang sama.

Berdasarkan informasi dari LONTAR MEDANG KAMULAN (lontar koleksi Gedong Kirtya), pemakaian sistem Pawukon di Bali merujuk tradisi Pawukon dari Medang Kamulan.

Pertanyaannya: Dimana Medang Kamulan?

Merujuk NASKAH KUNO BUJANGGA MANIK yang merupakan catatan perjalanan tokoh bernama Bujangga Manik dari Sunda, naskah ini ditulis di abad ke-15, pada baris ke-782 dan 783 disebutkan bahwa setelah Bujangga Manik meninggalkan Pulutan (sekarang lokasi ini sebut sebagai wilayah barat Purwodadi, Jawa Tengah), ia sampai di “Medang Kamulan”. Pada bagian lain naskah disebutkan setelah menyeberangi Sungai Wuluyu, ia tiba di Gegelang. Gegelang disebutkan terletak di sebelah selatan Medang Kamulan.

Naskah perjalanan ini menyebutkan secara persis wilayah bernama Medang Kamulan yang merujuk wilayah di Jawa bagian tengah (Jawa Tengah sekarang). Oleh beberapa peneliti Medang Kamulan juga disebut sebagai Mataram Kuno. Raja-raja Mataram Kuno inilah yang peninggalan prasasti atau piagam kerajaannya memang telah memakai kalender Pawukon.

Pemakaian Kalender Pawukon di Bali kehadiran bisa kita lihat dalam prasasti-prasasti Bali Kuno dari semenjak Dinasti Warmadewa bercampur lewat perkawinan Mahendradatta dengan Raja Udayana secara kentara berkembang. Sebelum pemakaian Kalender Pawukon berkembang pemakaian “sistem pasaran” yang tampaknya lebih umum dipakai dalam penulisan prasasti Bali Kuno awal yang sering disebut sebagai “prasasti bertipe yumupakatahu”.

Jika dibandingkan prasasti Bali Kuno dengan Jawa Kuno yang memakai Kalender Pawukon, maka kita akan mendapati prasasti-prasasti di Jawa Kuno lebih tua angka tahunnya. Informasi LONTAR MEDANG KAMULAN tersebut tidak keliru jika dibandingkan dengan bukti-bukti efigrafis ini — bahwa ajaran Pawukon bersumber dari tradisi Medang Kamulan.

Pemakaian Pawukon dalam tradisi Jawa Kuno telah ditemukan bukti-buktinya secara efigrafis (dalama kajian prasasti) diantaranya:

— Secara jelas dalam prasasti Lintakan yang berangka tahun 841 Saka (919 Masehi) disebutkan Pawukon telah digunakan sebagai pedoman perhitungan waktu penyelengaraan upacara ruwatan oleh para raja ketika itu (Boechari, 1986).

— Pawukon juga dipakai pedoman dan perhitungan dalam penulisan prasasti Wanua (abad ke-9); prasasti Watu Kura di Prambanan Jawa Tengah (abad ke-10).

Masih banyak lagi prasasti dalam tradisi pelanjut Dinasti Sanjaya yang memakai Pawukon yang ditemukan di Jawa Tengah.

Kitab-kitab lontar di Jawa banyak berisi penjelasan Pawukon. Demikian juga sampai kini di Jawa dipakai perhitungan Wuku atau Pawukon dalam mencari Weton dan ruwatan. Tradisi Pawukon banyak meninggalkan catatan dan buku-buku di Jawa sampai kini. Ruwatan dalam masyarakat Jawa masih terjaga sampai kini dan ini berdasarkan kalender Pawukon dan Weton yang berbasis perhitungan Wariga yang sama sebagaimana di Bali sampai kini.

Berbagai serat atau naskah kuno Jawa berisi penjelasan detail Pawukon diantaranya: Naskah Serat Pawukan (koleksi Museum Radyapustaka), Naskah Pawukon Jawi (yang dibuat pada era Keraton Kartasura abad XVII dikoleksi Museum Brojobuwono) berisi ilustrasi gambar tiap-tiap wuku dengan sangat detail. Lontar dan naskah lain berisi Pawukon dikoleksi di Sasana Pustaka Karaton Surakarta Hadiningrat menjelaskan mendetail tiap-tiap wuku. Jika kita baca Kitab Centini (ditulis di masa Susuhunan Paku Buwana IV) pun memberikan karakter dari Pawukon dengan masing-masing wuku memiliki masing-masing dewa pelindung, beserta pepohonan dan tumbuhannya.

Dari ratusan catatan dan perhitungan Wariga atau Kalender Pawukon yang masih tertinggal di Jawa, masyarakat Bali (khususnya para akademisi) bisa membandingkan bagaimana tradisi Kalender Pawukon ini tumbuh berkembang dari satu akar tradisi yang sama, kemudian terpisah pulau berkembang sesuai konteks jaman dan agamanya yang berbeda.

Untuk melakukan studi Kalender Pawukon di Bali rasanya tidak bisa paripurna dengan tidak menoleh atau tidak membandingkan dengan tradisi Pawukon di Jawa. Pawukon Bali dan Jawa perlu penanganan studi komprehensif jika hendak didalami dengan serius. [T]

+++Dalam gambar ini bisa dilihat TIKA JAWA (KALAMUDENG) koleksi Museum Sono Budoyo Yogyakarta, dan contoh lembar naskah naskah Jawa yang dikoleksi British Library London. Naskah ini berasal dari Yogyakarta, bertahun 1807, disebutkan bahwa Hyang Smara menjadi pelindung salah satu wuku Wariga (di Jawa disebut Wariga Alit).

[][][][][]

BACA artikel lain dari Sugi Lanus

HITAM PUTIH ILMU GAIB BALI
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
Tags: balijawaMedang Kemulanpawukon
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menziarahi Monumen Kata-kata Kota Singaraja

Next Post

Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?

Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co