28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tutur Pohon Cara Bali Tradisi: Hyang Menumbuhkan Hidup

I Ketut Sumarta by I Ketut Sumarta
May 14, 2022
in Esai
Nyepi: Surya, Suryak, Ramya, Somya, Sunya

“MENGAPA pohon di-banten-in oleh orang Bali?” seorang Sahabat dari seberang pulau bertanya. Saat berlibur di kampung bertepatan dengan hari Tumpek Panguduh, Sahabat ini menyaksikan bagaimana keluarga-keluarga Bali Tradisi memperlakukan pepohonan, layaknya sang Dewa.

“Pohon itu Dewa?” ia tampak kian kebingungan mencari-cari penalaran orang kampung, yang dapat memenuhi hasrat keingintahuannya sebagai manusia modern di kota besar. Bagaimana mungkin pohon itu diperlakukan laksana Dewa Junjungan?

Kesantunan hidup cara Bali Tradisi memahami, Hyang Maha Penghidup itu mewujud sekaligus meresap memenuhi segala isi Semesta Raya ini. Tak terkecuali tetumbuhan—berwujud dan bernama apa pun. Dalam bahasa Bali, Dia Yang Menghidupi Pepohonan itu dinamakan Hyang Tumuwuh. Dia-lah yang menumbuhsuburkan sekaligus menumbuhbiakkan segenap pepohonan: menumbuhkan tunas-tunas baru, menghijaukan dedaunan, menumbuhkan bunga, memunculkan putik, memekarkan bunga, hingga menjadikan pepohonan sanggup berbuah.

Dengan daya hidup yang diterima dari sang Maha Penghidup itu, pepohonan atau tetumbuhan lantas dapat memberikan daya hidup kepada makhluk hidup lainnya. Mulai dari hewan melata, serangga, unggas, binatang berkaki dua maupun berkaki empat, sanggup melanjutkan hidup mereka karena topangan sang pohon, Hyang Tumuwuh, Dia yang Bertumbuh itu.

Tak terkecuali manusia amat sangat berutang kehidupan pada pepohonan. Tak ada manusia di muka Bumi ini yang luput berutang kehidupan pada Hyang Tumuwuh. Manusia mutakhir kini boleh saja membanggakan lompatan teknologi digital dan teknologi pengolahan yang diciptakannya, namun sehebat-hebat manusia tetap saja berketergantungan pada pepohonan untuk melanjutkan hidupnya.

Lewat pengorbanan diri seluruh tubuhnya—entah akar, umbi, pangkal, batang, daun, bunga, hingga buah—kaum pepohonan telah berjasa besar mempertahankan kehidupan kaum hewan atau binatang, juga kaum manusia. Lewat wujud sebagai sarwa mletik, yang tumbuh dari tanah Bumi Pertiwi, itulah Hyang Tumuwuh telah menumbuhkan kehidupan sarwa maurip, termasuk manusia. Kesadaran hidup akan utang kehidupan manusia pada Hyang Tumuwuh, sang Pemberi Hidup, yang mewujud kaum pepohonan atau tetumbuhan sarwa mletik itulah yang menjadikan Bali Tradisi melakonkan kesantunan tradisi Tumpek Panguduh/Tumpek Bubuh/ Tumpek Atag/Tumpek Wariga.

HYANG MAHA MEMAKMURKAN

ANDAI manusia kelak sanggup memakan langsung tanah, boleh jadi manusia tidak lagi berutang kehidupan kepada sang Pohon yang mewujud sarwa mletik atau sarwa tumuwuh itu. Namun kenyataan senyata-nyatanya yang terjadi sampai saat ini, manusia tetap saja belum sanggup langsung mengunyah-nguyah tanah guna mengenyangkan perutnya.

Meskipun manusia kini cenderung begitu serakah untuk menguasai tanah seluas-luasnya lewat politik kertas sertifikat, membabat pepohonan untuk menggantikannya dengan hutan-hutan beton, sampai halaman rumah pun tak memberi celah pepohonan bertumbuh, toh manusia terserakah sekali pun tetap saja mencukupi kebutuhan tubuhnya akan nutrisi dari tetumbuhan dan hewani. Pohon-lah yang paling berjasa menyejahterakan dan memakmurkan manusia. Makmur berarti ‘banyak hasil’, ‘serba berkecukupan’. Pohon itu memang memberikan banyak hasil dan kecukupan, sekaligus menguntungkan kehidupan manusia—selain ada pula manusia yang berpenghidupan dari pohon.

Siapakah yang sejati sesejati-sejatinya melimpahkan kemakmuran itu bagi manusia dalam kehidupan? Bali Tradisi memahami, Dia Yang Menjadikan Kemakmuran itu dengan sebutan Sangkara. Dia-lah, Sangkara, Yang Maha Dermawan. Dia pula Yang Senantiasa Menguntungkan kehidupan.

Sangkara—Yang Maha Dermawan, Yang Menjadikan Kemakmuran, Yang Maha Memakmurkan, Yang Menguntungkan—itulah yang dimuliakan dalam praktik kesantunan Bali Tradisi lewat Tumpek Panguduh. Siapakah Sangkara?

Sangkara adalah satu di antara karakter Siwa. Siwa berarti baik hati, ramah, suka memaafkan, juga sangat menyenangkan, memberi banyak harapan, sekaligus membahagiakan. Itulah, antara lain, karakter sang Maha Penghidup Kehidupan, yang dikonsepsikan dalam istilah Siwa.

Kosmologi Bali Tradisi lantas menstrukturkan dalam penalaran pikiran: Siwa-Sangkara itu berwarna hijau (ijo, gadang, atau wilis) tetumbuhan. Posisinya di barat-laut (wayabhya), titik diagonal pertemuan antara arah barat yang berenergi tanah pertiwi dengan arah utara yang berenergi air. Manakala tanah bertemu dengan air, maka terciptalah kesuburan. Kesuburan secara tampak mata lahiriah mewujud berupa pepohonan atau tetumbuhan dengan dedaunan berwarna hijau.

Selamat menyempurna dalam pelukan teduh Sang Pohon Kehidupan, Sahabat. Rahayu selalu. [T]

  • detak detik Sanaiscara Kliwon, Wariga, Tumpek Pangatag/Tumpek Bubuh, 14.03.2022

_____

BACA KOLOM LAIN DARI KETUT SUMARTA

Tags: Hindu BaliI Ketut Sumartapohontumbuh-tumbuhantumpek wariga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terus Muliakan Tumbuh-Tumbuhan

Next Post

LGBT, Perseteruan Panjang Hak Melawan “Aib”

I Ketut Sumarta

I Ketut Sumarta

Pejalan sunyi

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

LGBT, Perseteruan Panjang Hak Melawan “Aib”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co