3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sulaman, Buah Tangan dari Jembrana

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
March 5, 2022
in Esai
Sulaman, Buah Tangan dari Jembrana

Koleksi sulaman Jembrana dari Bli Asok [Foto-foto: Dewa Purwita Sukahet]

Apa yang membawa saya sampai merasa harus kembali menjelajah Jembrana adalah sulamannya, selain tentu saja masih banyak sederet artefak yang menyesaki keinginan hati ini untuk mendokumentasikan jejak budaya rupa yang sangat khas dari Tanah Makepung ini.

Pertama kali mendengar kata seni menyulam warna ini pada tahun 2012 ketika studi S2, seorang teman yang akrab dipanggil Pak Gede Rai mengangkat sulaman dari Banjar Samblong sebagai fokus karya tulis thesisnya. Melalui Gede Rai yang kini bekerja pada salah satu instansi dinas yang berlokasi di Denpasar saya pertama kali menyaksikan keunikan bentuk dan warna-warni yang unik dari hasil karya penyulam Jembrana.

Berikutnya adalah dari Sujana Suklu dan Cok Ratna Cora yang ternyata telah melakukan serangkaian riset mengenai sulaman Jembrana. Dan yang ketiga adalah Bli Asok dari Pro-Docs, seorang filmmaker yang juga menjadi rekanan Komunitas Budaya Gurat Indonesia (Gurat Institute), asli putra Negara yang ternyata ibunya juga pernah melakukan aktivitas menyulam.

Di Snerayuza Artsky saya menemukan buku “Story Cloth of Bali” yang ditulis oleh Joseph Fischer di dalamnya semua adalah dokumentasi sulaman Jembrana.  

Yang paling mengesankan adalah cerita dari Pipit, pacar dari kawan saya yaitu Dolar Joe punggawa band The Rolic, Pipit seangkatan dengan saya kelahiran 1989, dan kerennya lagi ia pernah melakukan aktivitas menyulam ini hingga SMP. Ia mewarisi keahlian menyulam dari ibunya dan juga niniknya sekaligus pengalamannya mengenai sulaman Jembrana ini diceritakan kembali kepada saya, sungguh Ngembak Geni yang keren di tahun 2022.

Jumat malam di tanggal 4 Maret 2022, saya bertemu denganya di Warung Men Dolar, tempat pacarnya berdagang Sate Celeng Joosss dan Lawar Super Yahud yang masih dalam wilayah banjar yang sama dengan saya yaitu di Banjar Pohmanis. Ia membawa dua buah karyanya yang dulu berfungsi sebagai ider-ider penghias plangkiran di rumahnya di Jembrana. Kondisinya memang sudah ada penurunan intensitas warna pada benang alias pudar karena tentu efek dari panas matahari ketika dikenakan pada tempatnya.

Saya memperhatikan kepadatan benangnya yang rapi, memenuhi pola suluran dengan motif pepatran, kemudian sambil mengobrol saya mengorek beberapa informasi darinya mengenai sulaman Jembrana.

Koleksi sulaman Jembrana dari Bli Asok

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, ia mendapatkan keahliannya melalui belajar dari Ibu dan Niniknya, pada saat SD-SMP menyulam menjadi kegiatan anak-anak perempuan di desanya. Dari menyulam pada media kecil yang ukuran panjang kurang dari satu meter, hingga yang paling panjang yaitu seukuran umbul-umbul kemungkinan lima meter.

Yang menarik baginya adalah mengkombinasikan warna benang, ternyata ada aturan-aturan tertentu yang menjadi standar kombinasi warna yang diberikan oleh ibunya, misalkan saja benang warna merah haram untuk berdampingan dengan benang warna ungu karena akan berefek mematikan warna keduanya. Untuk kelopak bunga biasanya mempergunakan warna-warna putih apabila dasar kain berwarna kuning sedangkan sari bunganya bebas.

Untuk batang suluran bunga pasti mempergunakan warna benang “hijau botol” yakni warna hijau tua atau warna hitam. Untuk tepi biasanya mempergunakan warna yang cenderung gelap semisal hitam, cokelat, atau ungu.

Untuk warna-warna daun bebas terserah kreativitas masing-masing, namun tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah warna benang yang tidak boleh disandingkan, selain itu mempergunakan warna benang yang sama dengan warna dasar kain sebagai warna latar belakang itu juga haram dalam artian tidak diperbolehkan sebab sudah pasti warna benang tidak akan terlihat.

Dua jenis sulaman, buah tangan dari Jembrana

Saya memperhatikan kembali pola pewarnaan dengan menyulam benang wol pada dua artefak ini, ternyata ada warna-warna yang secara simetris tidak sama penempatannya, hal ini menjadi salah satu keunikan dari sulaman Jembrana.

Pada beberapa kasus karya sulaman akan berbeda-beda tentunya, pada karya yang diperuntukan untuk parba bale-bale akan ditemukan cerita pewayangan, dari yang figurnya wayang secara naturalis-dekoratif hingga sangat sangat naifisme ala gambar anak-anak, semuanya memiliki kekuatan masing-masing tentunya, keunikan bentuk figur wayang itu terbentuk dari tata cara pembuatannya melalui menyulam dan hal ini tentu akan berbeda dengan kasus menggambar dengan nyigar warna ala wayang Kamasan, Klungkung.

Dalam kasus karya dengan figur wayang dalam sulaman Jembrana ini setiap tokoh selalu diberikan nama dengan huruf latin, coba saja searching via Google untuk melihat berbagai karya terutama koleksi museum di Australia.

Yang membuat agak saya merasa agak sedih adalah bahwa tidak banyak anak-anak Jembrana kini yang melewati masa kecilnya dengan menyulam sehingga generasi penyulam dapat dipastikan terputus, hal ini tentu saja akibat dari faktor ekonomi yaitu pemasaran, faktor lainnya adalah ekpsansi hiasan-hiasan kain untuk pura yang instan dan lebih variatif seperti ider-ider dengan tumpukan kain, tambahan oncer yang semarak dijual bergulung-gulung, kain-kain prada dengan berbagai motif warna emas yang tinggal potong, jahit pinggiran, dan pasang, sangat instan.

Detail sulaman Jembrana

Dari Pak Gede Rai, juga Pipit, saya mendapatkan informasi bahwa sketsa di buat dari satu orang yaitu seorang mangku yang berprofesi sebagai undagi wadah (bangunan untuk upacara pengabenan orang Bali), dulu jika orderan membuat wadah mangku ini banyak pasti sketsanya lama selesai, para perempuan baik anak-anak maupun dewasa akan menunggu dengan sabar kain mereka selesai di sketsa dan segera disulam, sampai kini katanya jero mangku ini masih melayani pembuatan sketsa jika ada yang menyulam terutama dari Banjar Samblong di Jembrana.

Dalam buku Fischer saya mendapatkan sebuah gambaran mengenai kesejarahan karya sulaman Jembrana berawal dari mahal dan lamanya menenun songket di Negara maka karya sulaman ini lahir untuk mengisi ruang bagi mereka yang dapat menjangkau karya seni yang masih memiliki dasar dan bernafaskan benang dan kain, benangnya adalah benang wol yang banyak beredar dan relatif murah dipasaran, kainnya juga mempergunakan kain jenis satin yang licin agar mudah dalam menarik benang meski ada mempergunakan kain jenis katun.

Pada akhirnya saya membayangkan apabila menyulam khas Jembrana ini menjadi mata pelajaran wajib atau masuk kurikulum sekolah, dan pemangku jabatan yang berwenang lebih serius membranding daerahya dengan mengangkan keunikan-keunikannya ke permukaan, ahh saya menyadari relaitanya tidak semudah khayalan saya, kembali ke realita saat ini bahwa tulisan ini mengisi kesunyian warna-warni benang sulaman yang kian ditinggalkan peradaban yang kian berlari cepat, mencari yang termudah, terima kasih dua buah tangan dari Jembrana dan saya akan segera ke sana untuk mendokumentasikannya setidaknya sebelum hal ini benar-benar punah. [T]

Pohmanis, 5 Maret 2022

Tags: jembranaSeni Rupasulaman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Next Post

Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co