23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sulaman, Buah Tangan dari Jembrana

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
March 5, 2022
in Esai
Sulaman, Buah Tangan dari Jembrana

Koleksi sulaman Jembrana dari Bli Asok [Foto-foto: Dewa Purwita Sukahet]

Apa yang membawa saya sampai merasa harus kembali menjelajah Jembrana adalah sulamannya, selain tentu saja masih banyak sederet artefak yang menyesaki keinginan hati ini untuk mendokumentasikan jejak budaya rupa yang sangat khas dari Tanah Makepung ini.

Pertama kali mendengar kata seni menyulam warna ini pada tahun 2012 ketika studi S2, seorang teman yang akrab dipanggil Pak Gede Rai mengangkat sulaman dari Banjar Samblong sebagai fokus karya tulis thesisnya. Melalui Gede Rai yang kini bekerja pada salah satu instansi dinas yang berlokasi di Denpasar saya pertama kali menyaksikan keunikan bentuk dan warna-warni yang unik dari hasil karya penyulam Jembrana.

Berikutnya adalah dari Sujana Suklu dan Cok Ratna Cora yang ternyata telah melakukan serangkaian riset mengenai sulaman Jembrana. Dan yang ketiga adalah Bli Asok dari Pro-Docs, seorang filmmaker yang juga menjadi rekanan Komunitas Budaya Gurat Indonesia (Gurat Institute), asli putra Negara yang ternyata ibunya juga pernah melakukan aktivitas menyulam.

Di Snerayuza Artsky saya menemukan buku “Story Cloth of Bali” yang ditulis oleh Joseph Fischer di dalamnya semua adalah dokumentasi sulaman Jembrana.  

Yang paling mengesankan adalah cerita dari Pipit, pacar dari kawan saya yaitu Dolar Joe punggawa band The Rolic, Pipit seangkatan dengan saya kelahiran 1989, dan kerennya lagi ia pernah melakukan aktivitas menyulam ini hingga SMP. Ia mewarisi keahlian menyulam dari ibunya dan juga niniknya sekaligus pengalamannya mengenai sulaman Jembrana ini diceritakan kembali kepada saya, sungguh Ngembak Geni yang keren di tahun 2022.

Jumat malam di tanggal 4 Maret 2022, saya bertemu denganya di Warung Men Dolar, tempat pacarnya berdagang Sate Celeng Joosss dan Lawar Super Yahud yang masih dalam wilayah banjar yang sama dengan saya yaitu di Banjar Pohmanis. Ia membawa dua buah karyanya yang dulu berfungsi sebagai ider-ider penghias plangkiran di rumahnya di Jembrana. Kondisinya memang sudah ada penurunan intensitas warna pada benang alias pudar karena tentu efek dari panas matahari ketika dikenakan pada tempatnya.

Saya memperhatikan kepadatan benangnya yang rapi, memenuhi pola suluran dengan motif pepatran, kemudian sambil mengobrol saya mengorek beberapa informasi darinya mengenai sulaman Jembrana.

Koleksi sulaman Jembrana dari Bli Asok

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, ia mendapatkan keahliannya melalui belajar dari Ibu dan Niniknya, pada saat SD-SMP menyulam menjadi kegiatan anak-anak perempuan di desanya. Dari menyulam pada media kecil yang ukuran panjang kurang dari satu meter, hingga yang paling panjang yaitu seukuran umbul-umbul kemungkinan lima meter.

Yang menarik baginya adalah mengkombinasikan warna benang, ternyata ada aturan-aturan tertentu yang menjadi standar kombinasi warna yang diberikan oleh ibunya, misalkan saja benang warna merah haram untuk berdampingan dengan benang warna ungu karena akan berefek mematikan warna keduanya. Untuk kelopak bunga biasanya mempergunakan warna-warna putih apabila dasar kain berwarna kuning sedangkan sari bunganya bebas.

Untuk batang suluran bunga pasti mempergunakan warna benang “hijau botol” yakni warna hijau tua atau warna hitam. Untuk tepi biasanya mempergunakan warna yang cenderung gelap semisal hitam, cokelat, atau ungu.

Untuk warna-warna daun bebas terserah kreativitas masing-masing, namun tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah warna benang yang tidak boleh disandingkan, selain itu mempergunakan warna benang yang sama dengan warna dasar kain sebagai warna latar belakang itu juga haram dalam artian tidak diperbolehkan sebab sudah pasti warna benang tidak akan terlihat.

Dua jenis sulaman, buah tangan dari Jembrana

Saya memperhatikan kembali pola pewarnaan dengan menyulam benang wol pada dua artefak ini, ternyata ada warna-warna yang secara simetris tidak sama penempatannya, hal ini menjadi salah satu keunikan dari sulaman Jembrana.

Pada beberapa kasus karya sulaman akan berbeda-beda tentunya, pada karya yang diperuntukan untuk parba bale-bale akan ditemukan cerita pewayangan, dari yang figurnya wayang secara naturalis-dekoratif hingga sangat sangat naifisme ala gambar anak-anak, semuanya memiliki kekuatan masing-masing tentunya, keunikan bentuk figur wayang itu terbentuk dari tata cara pembuatannya melalui menyulam dan hal ini tentu akan berbeda dengan kasus menggambar dengan nyigar warna ala wayang Kamasan, Klungkung.

Dalam kasus karya dengan figur wayang dalam sulaman Jembrana ini setiap tokoh selalu diberikan nama dengan huruf latin, coba saja searching via Google untuk melihat berbagai karya terutama koleksi museum di Australia.

Yang membuat agak saya merasa agak sedih adalah bahwa tidak banyak anak-anak Jembrana kini yang melewati masa kecilnya dengan menyulam sehingga generasi penyulam dapat dipastikan terputus, hal ini tentu saja akibat dari faktor ekonomi yaitu pemasaran, faktor lainnya adalah ekpsansi hiasan-hiasan kain untuk pura yang instan dan lebih variatif seperti ider-ider dengan tumpukan kain, tambahan oncer yang semarak dijual bergulung-gulung, kain-kain prada dengan berbagai motif warna emas yang tinggal potong, jahit pinggiran, dan pasang, sangat instan.

Detail sulaman Jembrana

Dari Pak Gede Rai, juga Pipit, saya mendapatkan informasi bahwa sketsa di buat dari satu orang yaitu seorang mangku yang berprofesi sebagai undagi wadah (bangunan untuk upacara pengabenan orang Bali), dulu jika orderan membuat wadah mangku ini banyak pasti sketsanya lama selesai, para perempuan baik anak-anak maupun dewasa akan menunggu dengan sabar kain mereka selesai di sketsa dan segera disulam, sampai kini katanya jero mangku ini masih melayani pembuatan sketsa jika ada yang menyulam terutama dari Banjar Samblong di Jembrana.

Dalam buku Fischer saya mendapatkan sebuah gambaran mengenai kesejarahan karya sulaman Jembrana berawal dari mahal dan lamanya menenun songket di Negara maka karya sulaman ini lahir untuk mengisi ruang bagi mereka yang dapat menjangkau karya seni yang masih memiliki dasar dan bernafaskan benang dan kain, benangnya adalah benang wol yang banyak beredar dan relatif murah dipasaran, kainnya juga mempergunakan kain jenis satin yang licin agar mudah dalam menarik benang meski ada mempergunakan kain jenis katun.

Pada akhirnya saya membayangkan apabila menyulam khas Jembrana ini menjadi mata pelajaran wajib atau masuk kurikulum sekolah, dan pemangku jabatan yang berwenang lebih serius membranding daerahya dengan mengangkan keunikan-keunikannya ke permukaan, ahh saya menyadari relaitanya tidak semudah khayalan saya, kembali ke realita saat ini bahwa tulisan ini mengisi kesunyian warna-warni benang sulaman yang kian ditinggalkan peradaban yang kian berlari cepat, mencari yang termudah, terima kasih dua buah tangan dari Jembrana dan saya akan segera ke sana untuk mendokumentasikannya setidaknya sebelum hal ini benar-benar punah. [T]

Pohmanis, 5 Maret 2022

Tags: jembranaSeni Rupasulaman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Next Post

Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co