2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sulaman, Buah Tangan dari Jembrana

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
March 5, 2022
in Esai
Sulaman, Buah Tangan dari Jembrana

Koleksi sulaman Jembrana dari Bli Asok [Foto-foto: Dewa Purwita Sukahet]

Apa yang membawa saya sampai merasa harus kembali menjelajah Jembrana adalah sulamannya, selain tentu saja masih banyak sederet artefak yang menyesaki keinginan hati ini untuk mendokumentasikan jejak budaya rupa yang sangat khas dari Tanah Makepung ini.

Pertama kali mendengar kata seni menyulam warna ini pada tahun 2012 ketika studi S2, seorang teman yang akrab dipanggil Pak Gede Rai mengangkat sulaman dari Banjar Samblong sebagai fokus karya tulis thesisnya. Melalui Gede Rai yang kini bekerja pada salah satu instansi dinas yang berlokasi di Denpasar saya pertama kali menyaksikan keunikan bentuk dan warna-warni yang unik dari hasil karya penyulam Jembrana.

Berikutnya adalah dari Sujana Suklu dan Cok Ratna Cora yang ternyata telah melakukan serangkaian riset mengenai sulaman Jembrana. Dan yang ketiga adalah Bli Asok dari Pro-Docs, seorang filmmaker yang juga menjadi rekanan Komunitas Budaya Gurat Indonesia (Gurat Institute), asli putra Negara yang ternyata ibunya juga pernah melakukan aktivitas menyulam.

Di Snerayuza Artsky saya menemukan buku “Story Cloth of Bali” yang ditulis oleh Joseph Fischer di dalamnya semua adalah dokumentasi sulaman Jembrana.  

Yang paling mengesankan adalah cerita dari Pipit, pacar dari kawan saya yaitu Dolar Joe punggawa band The Rolic, Pipit seangkatan dengan saya kelahiran 1989, dan kerennya lagi ia pernah melakukan aktivitas menyulam ini hingga SMP. Ia mewarisi keahlian menyulam dari ibunya dan juga niniknya sekaligus pengalamannya mengenai sulaman Jembrana ini diceritakan kembali kepada saya, sungguh Ngembak Geni yang keren di tahun 2022.

Jumat malam di tanggal 4 Maret 2022, saya bertemu denganya di Warung Men Dolar, tempat pacarnya berdagang Sate Celeng Joosss dan Lawar Super Yahud yang masih dalam wilayah banjar yang sama dengan saya yaitu di Banjar Pohmanis. Ia membawa dua buah karyanya yang dulu berfungsi sebagai ider-ider penghias plangkiran di rumahnya di Jembrana. Kondisinya memang sudah ada penurunan intensitas warna pada benang alias pudar karena tentu efek dari panas matahari ketika dikenakan pada tempatnya.

Saya memperhatikan kepadatan benangnya yang rapi, memenuhi pola suluran dengan motif pepatran, kemudian sambil mengobrol saya mengorek beberapa informasi darinya mengenai sulaman Jembrana.

Koleksi sulaman Jembrana dari Bli Asok

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, ia mendapatkan keahliannya melalui belajar dari Ibu dan Niniknya, pada saat SD-SMP menyulam menjadi kegiatan anak-anak perempuan di desanya. Dari menyulam pada media kecil yang ukuran panjang kurang dari satu meter, hingga yang paling panjang yaitu seukuran umbul-umbul kemungkinan lima meter.

Yang menarik baginya adalah mengkombinasikan warna benang, ternyata ada aturan-aturan tertentu yang menjadi standar kombinasi warna yang diberikan oleh ibunya, misalkan saja benang warna merah haram untuk berdampingan dengan benang warna ungu karena akan berefek mematikan warna keduanya. Untuk kelopak bunga biasanya mempergunakan warna-warna putih apabila dasar kain berwarna kuning sedangkan sari bunganya bebas.

Untuk batang suluran bunga pasti mempergunakan warna benang “hijau botol” yakni warna hijau tua atau warna hitam. Untuk tepi biasanya mempergunakan warna yang cenderung gelap semisal hitam, cokelat, atau ungu.

Untuk warna-warna daun bebas terserah kreativitas masing-masing, namun tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah warna benang yang tidak boleh disandingkan, selain itu mempergunakan warna benang yang sama dengan warna dasar kain sebagai warna latar belakang itu juga haram dalam artian tidak diperbolehkan sebab sudah pasti warna benang tidak akan terlihat.

Dua jenis sulaman, buah tangan dari Jembrana

Saya memperhatikan kembali pola pewarnaan dengan menyulam benang wol pada dua artefak ini, ternyata ada warna-warna yang secara simetris tidak sama penempatannya, hal ini menjadi salah satu keunikan dari sulaman Jembrana.

Pada beberapa kasus karya sulaman akan berbeda-beda tentunya, pada karya yang diperuntukan untuk parba bale-bale akan ditemukan cerita pewayangan, dari yang figurnya wayang secara naturalis-dekoratif hingga sangat sangat naifisme ala gambar anak-anak, semuanya memiliki kekuatan masing-masing tentunya, keunikan bentuk figur wayang itu terbentuk dari tata cara pembuatannya melalui menyulam dan hal ini tentu akan berbeda dengan kasus menggambar dengan nyigar warna ala wayang Kamasan, Klungkung.

Dalam kasus karya dengan figur wayang dalam sulaman Jembrana ini setiap tokoh selalu diberikan nama dengan huruf latin, coba saja searching via Google untuk melihat berbagai karya terutama koleksi museum di Australia.

Yang membuat agak saya merasa agak sedih adalah bahwa tidak banyak anak-anak Jembrana kini yang melewati masa kecilnya dengan menyulam sehingga generasi penyulam dapat dipastikan terputus, hal ini tentu saja akibat dari faktor ekonomi yaitu pemasaran, faktor lainnya adalah ekpsansi hiasan-hiasan kain untuk pura yang instan dan lebih variatif seperti ider-ider dengan tumpukan kain, tambahan oncer yang semarak dijual bergulung-gulung, kain-kain prada dengan berbagai motif warna emas yang tinggal potong, jahit pinggiran, dan pasang, sangat instan.

Detail sulaman Jembrana

Dari Pak Gede Rai, juga Pipit, saya mendapatkan informasi bahwa sketsa di buat dari satu orang yaitu seorang mangku yang berprofesi sebagai undagi wadah (bangunan untuk upacara pengabenan orang Bali), dulu jika orderan membuat wadah mangku ini banyak pasti sketsanya lama selesai, para perempuan baik anak-anak maupun dewasa akan menunggu dengan sabar kain mereka selesai di sketsa dan segera disulam, sampai kini katanya jero mangku ini masih melayani pembuatan sketsa jika ada yang menyulam terutama dari Banjar Samblong di Jembrana.

Dalam buku Fischer saya mendapatkan sebuah gambaran mengenai kesejarahan karya sulaman Jembrana berawal dari mahal dan lamanya menenun songket di Negara maka karya sulaman ini lahir untuk mengisi ruang bagi mereka yang dapat menjangkau karya seni yang masih memiliki dasar dan bernafaskan benang dan kain, benangnya adalah benang wol yang banyak beredar dan relatif murah dipasaran, kainnya juga mempergunakan kain jenis satin yang licin agar mudah dalam menarik benang meski ada mempergunakan kain jenis katun.

Pada akhirnya saya membayangkan apabila menyulam khas Jembrana ini menjadi mata pelajaran wajib atau masuk kurikulum sekolah, dan pemangku jabatan yang berwenang lebih serius membranding daerahya dengan mengangkan keunikan-keunikannya ke permukaan, ahh saya menyadari relaitanya tidak semudah khayalan saya, kembali ke realita saat ini bahwa tulisan ini mengisi kesunyian warna-warni benang sulaman yang kian ditinggalkan peradaban yang kian berlari cepat, mencari yang termudah, terima kasih dua buah tangan dari Jembrana dan saya akan segera ke sana untuk mendokumentasikannya setidaknya sebelum hal ini benar-benar punah. [T]

Pohmanis, 5 Maret 2022

Tags: jembranaSeni Rupasulaman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Next Post

Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Pameran Seni NFT : FUSION dalam Gairah Nikah Seniman Surya Darma & Luh Wanda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co