2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karma Itu Nyata | Kisah “Penjarah” dari Hutan yang Masuk Rumah

Ananta Kurnia by Ananta Kurnia
February 21, 2022
in Esai
Karma Itu Nyata | Kisah “Penjarah” dari Hutan yang Masuk Rumah

Seekor monyet masuk rumah di Gilimanuk

Keseharian saya dan warga sekitar di daerah Gilimanuk, sekitar Hutan Bali Barat, awalnya berjalan normal seperti biasa. Keadaan sekitar, suasana rumah, termasuk suasana warung kecil-kecilan yang saya kelola dengan sederhana selalu kondusif; tenang, nyaman, dan aman sebagai manamestinya.

Namun, suatu saat, suatu hari, ketenangan itu secara mendadak sirna.  Ada  penjarah masuk rumah, dan rasanya ketenangan ini seperti diserang Negara Api Konohagakure.

Mereka secara menyerang secara diam-diam, senyap dan menyusup. Mereka menyerang warung saya. Mereka mencuri makanan serta makanan ringan semacam chiki-chiki-an yang luput dari penjagaan manusia.

Para penyerang ini sungguh ahli. Mereka bisa datang tanpa kedengaran. Mereka bisa menyusuri kabel tanpa terjatuh. Mereka tentu juga ahli melompat dari rumah ke rumah lain, seperti yang biasa dilakukan Naruto.

Bukan hanya saya yang merasakan keresahan ini, tetangga lain pun merasakan nasib yang sama, dan bahkan beberapa nitizen pun mencuitkan keresahannya lewat media sosial. Terlebih-lebih para warga yang mempunyai pohon berbuah produktif seperti jambu, mangga, kelengkeng, belimbing, pisang dan buah lainnya yang siap panen malah dibabat habis oleh si penjarah.

Para pencuri ini melakukan aksinya tidak secara bersamaan, namun beraksi dengan cara mereka masing-masing sehingga banyak rumah warga yang telah menjadi korbannya. Bukan hanya makanan dan buah-buahan saja yang raib, terkadang juga genteng rumah yang agak rapuh jadi pecah, asbes yang sudah tua jadi jebol, kalvalum yang sudah lama jadi reot. Pokoknya magenep kerugian yang ditanggung akibat ulah sang pencuri ini.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ternyata penjarah ini posturnya sangat mini, bahkan lebih minimalis dari tuyul dan juga konon jauh lebih bodoh dari manusia. Ini memang nyata, aneh bin ajaib. Meskipun dengan segala keterbatasannya jika dibandingkan manusia, hingga saat ini, saya dan juga termasuk para warga lainnya belum menemukan solusi yang efektif untuk menghentikan ulah para penjarah ini.

Yah, meskipun begitu, kita sebagai manusia yang cerdas, selalu punya cara dan ide brilian dalam menghadapi penjarah ini. Salah satu upaya yang saya lakukan adalah membuat senjata pamungkas guna menakut-nakuti si penjarah ini agar berhenti dan jera dari perbuatannya.

Dengan penuh keyakinan, senjata pamungkas tersebut mulai saya buat dengan memanfaatkan kayu bekas yang kutemukan di RRC (Rawa-wara Cacalan) Gilimanuk. Setelah senjata  sudah jadi, langsung saja saya lakukan uji coba gladi bersih untuk memastikan seberapa akurat bidikan dan seberapa besar kekuatan tembakan yang dihasilkan.

Hari demi hari kulalui seperti biasanya, namun kali ini hampir setiap hari selama sepekan diam-diam saya mempelajari gerak-gerik dan jam terbang para penjarah itu. Karena seringnya menjarah pohon serta isi rumah sebagian warga Gilimanuk, saya pun hapal jam-jam rawan para penjarah datang untuk mencuri. Biasanya penjarahan dilakukan pada pagi dan sore hari.

Berbekal pengamatan tersebut, saya pun mencoba mengelabuinya dengan cara sengaja meletakkan satu renteng chiki-chiki harga 500-an di warung dalam posisi agak di tengah, sementara itu saya bersembunyi sambil mengamati kedatangan si penjarah.

Seetelah menunggu beberapa saat, di waktu yang tepat dan di momen yang tepat pula, penjarah secara senyap berusaha mengambil chiki-chiki jebakan, dan satu  detik sebelum jemarinya meraih chiki-chiki, saya langsung lompat dan meneriakkan “Hwaaaaaaa…!”.

Tujuannya untuk membuat si penjarah kaget dan jantungan. Begitu penjarah itu kaget saya langsung membidik dan melontarkan ketapel sehingga peluru kerikil pun melesat. Karena si penjarah gerakannya sangat gesit dan lincah, alhasil peluru ketapel saya meleset.

Penjarah itu selamat, dan kabur, lalu  menjauh melompati rumah tetangga hingga pada jarak yang dirasa cukup aman.

Di atas rumah tetangga, penjarah itu berhenti dan berbalik arah seraya menatap wajah saya dengan ekspresi mata melotot sambil memain-mainkan alisnya ditambah juga membuli saya dengan menjulurkan lidahnya.

Saya benar-benar diejek. Penjarah itu seakan-akan melontarkan kalimat ejekan dan kalimat balas dendam.

“Makanya, Bos, jangan merusak hutan, tak enak kan rasanya kalau diusik rumahnya? Rasain lu sekarang!”

Penjarah itu rumahnya memang di hutan. Penjarah itu adalah kera atau monyet. Mungkin karena makanan di hutan langka akibat hutan yang sering dirusak manusia, makanya monyet itu mulai masuk ke kampung.

Kawanan monyet silih berganti masuk rumah, makin bertambah banyak dan terus menerus menyatroni rumah saya dan sejumlah rumah warga lain di Gilimanuk. Ulah monyet itu kerapkali juga difoto dan fotonya diunggah di media sosial seperti facebook. Bertaburanlah komen-komenan para nitizen.

Dari sinilah akhirnya saya sadar, sudah kodrat hukum alam. Setiap ada aksi, pasti ada reaksi. Kalau hutan dirusak, maka penghuni hutan akan masuk ke kampung warga. Makanya, jika ingin rumah aman dari monyet, rawatlah hutan agar makanan para hewan tetap tersedia di dalam hutan. [T]

Tags: faunakehutananTaman Nasional Bali Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Wisata Taman Sari di Banyuwangi, Hebat Bersama, Bumdes Kelola Homestay Milik Warga

Next Post

Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Ananta Kurnia

Ananta Kurnia

Pengangguran. Lahir dan tinggal di Gilimanuk, Jembrana, Bali

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co