12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karma Itu Nyata | Kisah “Penjarah” dari Hutan yang Masuk Rumah

Ananta Kurnia by Ananta Kurnia
February 21, 2022
in Esai
Karma Itu Nyata | Kisah “Penjarah” dari Hutan yang Masuk Rumah

Seekor monyet masuk rumah di Gilimanuk

Keseharian saya dan warga sekitar di daerah Gilimanuk, sekitar Hutan Bali Barat, awalnya berjalan normal seperti biasa. Keadaan sekitar, suasana rumah, termasuk suasana warung kecil-kecilan yang saya kelola dengan sederhana selalu kondusif; tenang, nyaman, dan aman sebagai manamestinya.

Namun, suatu saat, suatu hari, ketenangan itu secara mendadak sirna.  Ada  penjarah masuk rumah, dan rasanya ketenangan ini seperti diserang Negara Api Konohagakure.

Mereka secara menyerang secara diam-diam, senyap dan menyusup. Mereka menyerang warung saya. Mereka mencuri makanan serta makanan ringan semacam chiki-chiki-an yang luput dari penjagaan manusia.

Para penyerang ini sungguh ahli. Mereka bisa datang tanpa kedengaran. Mereka bisa menyusuri kabel tanpa terjatuh. Mereka tentu juga ahli melompat dari rumah ke rumah lain, seperti yang biasa dilakukan Naruto.

Bukan hanya saya yang merasakan keresahan ini, tetangga lain pun merasakan nasib yang sama, dan bahkan beberapa nitizen pun mencuitkan keresahannya lewat media sosial. Terlebih-lebih para warga yang mempunyai pohon berbuah produktif seperti jambu, mangga, kelengkeng, belimbing, pisang dan buah lainnya yang siap panen malah dibabat habis oleh si penjarah.

Para pencuri ini melakukan aksinya tidak secara bersamaan, namun beraksi dengan cara mereka masing-masing sehingga banyak rumah warga yang telah menjadi korbannya. Bukan hanya makanan dan buah-buahan saja yang raib, terkadang juga genteng rumah yang agak rapuh jadi pecah, asbes yang sudah tua jadi jebol, kalvalum yang sudah lama jadi reot. Pokoknya magenep kerugian yang ditanggung akibat ulah sang pencuri ini.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ternyata penjarah ini posturnya sangat mini, bahkan lebih minimalis dari tuyul dan juga konon jauh lebih bodoh dari manusia. Ini memang nyata, aneh bin ajaib. Meskipun dengan segala keterbatasannya jika dibandingkan manusia, hingga saat ini, saya dan juga termasuk para warga lainnya belum menemukan solusi yang efektif untuk menghentikan ulah para penjarah ini.

Yah, meskipun begitu, kita sebagai manusia yang cerdas, selalu punya cara dan ide brilian dalam menghadapi penjarah ini. Salah satu upaya yang saya lakukan adalah membuat senjata pamungkas guna menakut-nakuti si penjarah ini agar berhenti dan jera dari perbuatannya.

Dengan penuh keyakinan, senjata pamungkas tersebut mulai saya buat dengan memanfaatkan kayu bekas yang kutemukan di RRC (Rawa-wara Cacalan) Gilimanuk. Setelah senjata  sudah jadi, langsung saja saya lakukan uji coba gladi bersih untuk memastikan seberapa akurat bidikan dan seberapa besar kekuatan tembakan yang dihasilkan.

Hari demi hari kulalui seperti biasanya, namun kali ini hampir setiap hari selama sepekan diam-diam saya mempelajari gerak-gerik dan jam terbang para penjarah itu. Karena seringnya menjarah pohon serta isi rumah sebagian warga Gilimanuk, saya pun hapal jam-jam rawan para penjarah datang untuk mencuri. Biasanya penjarahan dilakukan pada pagi dan sore hari.

Berbekal pengamatan tersebut, saya pun mencoba mengelabuinya dengan cara sengaja meletakkan satu renteng chiki-chiki harga 500-an di warung dalam posisi agak di tengah, sementara itu saya bersembunyi sambil mengamati kedatangan si penjarah.

Seetelah menunggu beberapa saat, di waktu yang tepat dan di momen yang tepat pula, penjarah secara senyap berusaha mengambil chiki-chiki jebakan, dan satu  detik sebelum jemarinya meraih chiki-chiki, saya langsung lompat dan meneriakkan “Hwaaaaaaa…!”.

Tujuannya untuk membuat si penjarah kaget dan jantungan. Begitu penjarah itu kaget saya langsung membidik dan melontarkan ketapel sehingga peluru kerikil pun melesat. Karena si penjarah gerakannya sangat gesit dan lincah, alhasil peluru ketapel saya meleset.

Penjarah itu selamat, dan kabur, lalu  menjauh melompati rumah tetangga hingga pada jarak yang dirasa cukup aman.

Di atas rumah tetangga, penjarah itu berhenti dan berbalik arah seraya menatap wajah saya dengan ekspresi mata melotot sambil memain-mainkan alisnya ditambah juga membuli saya dengan menjulurkan lidahnya.

Saya benar-benar diejek. Penjarah itu seakan-akan melontarkan kalimat ejekan dan kalimat balas dendam.

“Makanya, Bos, jangan merusak hutan, tak enak kan rasanya kalau diusik rumahnya? Rasain lu sekarang!”

Penjarah itu rumahnya memang di hutan. Penjarah itu adalah kera atau monyet. Mungkin karena makanan di hutan langka akibat hutan yang sering dirusak manusia, makanya monyet itu mulai masuk ke kampung.

Kawanan monyet silih berganti masuk rumah, makin bertambah banyak dan terus menerus menyatroni rumah saya dan sejumlah rumah warga lain di Gilimanuk. Ulah monyet itu kerapkali juga difoto dan fotonya diunggah di media sosial seperti facebook. Bertaburanlah komen-komenan para nitizen.

Dari sinilah akhirnya saya sadar, sudah kodrat hukum alam. Setiap ada aksi, pasti ada reaksi. Kalau hutan dirusak, maka penghuni hutan akan masuk ke kampung warga. Makanya, jika ingin rumah aman dari monyet, rawatlah hutan agar makanan para hewan tetap tersedia di dalam hutan. [T]

Tags: faunakehutananTaman Nasional Bali Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Wisata Taman Sari di Banyuwangi, Hebat Bersama, Bumdes Kelola Homestay Milik Warga

Next Post

Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Ananta Kurnia

Ananta Kurnia

Pengangguran. Lahir dan tinggal di Gilimanuk, Jembrana, Bali

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co