2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karma Itu Nyata | Kisah “Penjarah” dari Hutan yang Masuk Rumah

Ananta Kurnia by Ananta Kurnia
February 21, 2022
in Esai
Karma Itu Nyata | Kisah “Penjarah” dari Hutan yang Masuk Rumah

Seekor monyet masuk rumah di Gilimanuk

Keseharian saya dan warga sekitar di daerah Gilimanuk, sekitar Hutan Bali Barat, awalnya berjalan normal seperti biasa. Keadaan sekitar, suasana rumah, termasuk suasana warung kecil-kecilan yang saya kelola dengan sederhana selalu kondusif; tenang, nyaman, dan aman sebagai manamestinya.

Namun, suatu saat, suatu hari, ketenangan itu secara mendadak sirna.  Ada  penjarah masuk rumah, dan rasanya ketenangan ini seperti diserang Negara Api Konohagakure.

Mereka secara menyerang secara diam-diam, senyap dan menyusup. Mereka menyerang warung saya. Mereka mencuri makanan serta makanan ringan semacam chiki-chiki-an yang luput dari penjagaan manusia.

Para penyerang ini sungguh ahli. Mereka bisa datang tanpa kedengaran. Mereka bisa menyusuri kabel tanpa terjatuh. Mereka tentu juga ahli melompat dari rumah ke rumah lain, seperti yang biasa dilakukan Naruto.

Bukan hanya saya yang merasakan keresahan ini, tetangga lain pun merasakan nasib yang sama, dan bahkan beberapa nitizen pun mencuitkan keresahannya lewat media sosial. Terlebih-lebih para warga yang mempunyai pohon berbuah produktif seperti jambu, mangga, kelengkeng, belimbing, pisang dan buah lainnya yang siap panen malah dibabat habis oleh si penjarah.

Para pencuri ini melakukan aksinya tidak secara bersamaan, namun beraksi dengan cara mereka masing-masing sehingga banyak rumah warga yang telah menjadi korbannya. Bukan hanya makanan dan buah-buahan saja yang raib, terkadang juga genteng rumah yang agak rapuh jadi pecah, asbes yang sudah tua jadi jebol, kalvalum yang sudah lama jadi reot. Pokoknya magenep kerugian yang ditanggung akibat ulah sang pencuri ini.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ternyata penjarah ini posturnya sangat mini, bahkan lebih minimalis dari tuyul dan juga konon jauh lebih bodoh dari manusia. Ini memang nyata, aneh bin ajaib. Meskipun dengan segala keterbatasannya jika dibandingkan manusia, hingga saat ini, saya dan juga termasuk para warga lainnya belum menemukan solusi yang efektif untuk menghentikan ulah para penjarah ini.

Yah, meskipun begitu, kita sebagai manusia yang cerdas, selalu punya cara dan ide brilian dalam menghadapi penjarah ini. Salah satu upaya yang saya lakukan adalah membuat senjata pamungkas guna menakut-nakuti si penjarah ini agar berhenti dan jera dari perbuatannya.

Dengan penuh keyakinan, senjata pamungkas tersebut mulai saya buat dengan memanfaatkan kayu bekas yang kutemukan di RRC (Rawa-wara Cacalan) Gilimanuk. Setelah senjata  sudah jadi, langsung saja saya lakukan uji coba gladi bersih untuk memastikan seberapa akurat bidikan dan seberapa besar kekuatan tembakan yang dihasilkan.

Hari demi hari kulalui seperti biasanya, namun kali ini hampir setiap hari selama sepekan diam-diam saya mempelajari gerak-gerik dan jam terbang para penjarah itu. Karena seringnya menjarah pohon serta isi rumah sebagian warga Gilimanuk, saya pun hapal jam-jam rawan para penjarah datang untuk mencuri. Biasanya penjarahan dilakukan pada pagi dan sore hari.

Berbekal pengamatan tersebut, saya pun mencoba mengelabuinya dengan cara sengaja meletakkan satu renteng chiki-chiki harga 500-an di warung dalam posisi agak di tengah, sementara itu saya bersembunyi sambil mengamati kedatangan si penjarah.

Seetelah menunggu beberapa saat, di waktu yang tepat dan di momen yang tepat pula, penjarah secara senyap berusaha mengambil chiki-chiki jebakan, dan satu  detik sebelum jemarinya meraih chiki-chiki, saya langsung lompat dan meneriakkan “Hwaaaaaaa…!”.

Tujuannya untuk membuat si penjarah kaget dan jantungan. Begitu penjarah itu kaget saya langsung membidik dan melontarkan ketapel sehingga peluru kerikil pun melesat. Karena si penjarah gerakannya sangat gesit dan lincah, alhasil peluru ketapel saya meleset.

Penjarah itu selamat, dan kabur, lalu  menjauh melompati rumah tetangga hingga pada jarak yang dirasa cukup aman.

Di atas rumah tetangga, penjarah itu berhenti dan berbalik arah seraya menatap wajah saya dengan ekspresi mata melotot sambil memain-mainkan alisnya ditambah juga membuli saya dengan menjulurkan lidahnya.

Saya benar-benar diejek. Penjarah itu seakan-akan melontarkan kalimat ejekan dan kalimat balas dendam.

“Makanya, Bos, jangan merusak hutan, tak enak kan rasanya kalau diusik rumahnya? Rasain lu sekarang!”

Penjarah itu rumahnya memang di hutan. Penjarah itu adalah kera atau monyet. Mungkin karena makanan di hutan langka akibat hutan yang sering dirusak manusia, makanya monyet itu mulai masuk ke kampung.

Kawanan monyet silih berganti masuk rumah, makin bertambah banyak dan terus menerus menyatroni rumah saya dan sejumlah rumah warga lain di Gilimanuk. Ulah monyet itu kerapkali juga difoto dan fotonya diunggah di media sosial seperti facebook. Bertaburanlah komen-komenan para nitizen.

Dari sinilah akhirnya saya sadar, sudah kodrat hukum alam. Setiap ada aksi, pasti ada reaksi. Kalau hutan dirusak, maka penghuni hutan akan masuk ke kampung warga. Makanya, jika ingin rumah aman dari monyet, rawatlah hutan agar makanan para hewan tetap tersedia di dalam hutan. [T]

Tags: faunakehutananTaman Nasional Bali Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Wisata Taman Sari di Banyuwangi, Hebat Bersama, Bumdes Kelola Homestay Milik Warga

Next Post

Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Ananta Kurnia

Ananta Kurnia

Pengangguran. Lahir dan tinggal di Gilimanuk, Jembrana, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Teruna Banjar Pegok-Sesetan Gabungkan Baleganjur dan Janger, Terciptalah Tabuh Khas Pegok

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co