15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Nyelang Margi”, Pinjam Jalan di Bali

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
February 8, 2022
in Esai
“Nyelang Margi”, Pinjam Jalan di Bali

Foto: Nengah Januartha

Tertutupnya akses jalan menuju sebuah bangunan suci bersejarah yang terletak di kota besar di Bali begitu menggemparkan publik. Banyak pihak kemudian tiba-tiba beramai-ramai mendatangi tempat itu dengan berbagai tujuan. Paling tidak untuk mendapatkan kepastian apa yang sedang terjadi disana.

Kendatipun ini bukan kasus pertama dan terparah yang terjadi di Bali. Pasalnya kalau boleh jujur, sejatinya pada beberapa tempat tidak saja jalan masuknya, keseluruhan areal banguan suci yang beralih menjadi tempat profan juga banyak terjadi. Tidak pula kita bisa menyalahkan pariwisata, globalisasi, modernitas, posmo, atau apalah namanya itu.

Pasalnya bila masuk lebih dalam ke keseharian manusia Bali, kerap kita pergoki bangunan angker (karang panes) yang tidak pernah berani dihuni secara permanen. Paling-paling pemiliknya hanya menjadikannya sebagai tempat usaha, gudang, atau fungsi lainnya yang hanya ditempati pada siang hari. Ketika ditelusuri lebih jauh orang-orang sekitar biasanya akan berbisik-bisik bila lahan itu dahulu bekas bangunan suci. Lahan itu telah dipersengketakan sebelum maraknya pariwisata. Oleh karena putusan pengadilan menetapkan pemiliknya adalah individu tertentu, bangunan suci yang sebelumnya diempon banyak orang itupun kemudian tamat riwayatnya. Meski demikian pemilik sahnya kemudian juga selanjutnya dihantui semacam rasa bersalah untuk menempatinya.

Hal serupa juga berlaku bagi jalanan. Orang Bali yang masih berpikiran tradisional meyakini jalanan adalah sesuatu yang sakral. Banyak ritual penting yang membutuhkan jalanan. Mulai dari ruwatan (mabayuh) hingga upacara besar sekelas tawur. Kita tentu tidak asing dengan pemandangan perempatan utama (pempatan agung) di suatu kota yang tiba-tiba dipadati umat Hindu sehari sebelum Nyepi. Bahkan semenjak beberapa hari sebelumnya tempat itu telah disterilkan dengan diikuti pengalihan arus lalulintas.

Orang yang sedang cekcokpun tidak luput dari peran jalanan. Lazimnya mereka akan menyebut berani tidak mendapat selamat di jalanan (tusing selamet di margi agung) apabila perbuatannya tidak benar. Disamping itu orang-orang yang merasa mendapat perlakuan tidak adil juga kerap meminta keadilan di margi agung dengan sesajen tertentu.

Tidak ketinggalan mereka yang sedang sakitpun bermaksud membuang penyakitnya di margi agung. Biasanya ritual ini bersaranakan canang dan uang kepeng. Diyakini siapapun yang mengambil uang kepeng itu akan menggantikan posisi si sakit. Itulah sebabnya dahulu sangat jarang ada orang yang berani memungut uang kepeng dari jalanan. Termasuk Orang Bali menghukum pelanggar norma adat yang parah dengan larangan melewati jalan. Pelanggar aturan adat berat memang tidak serta merta diusir dari desa, melainkan dibiarkan tetap tinggal di rumahnya semula. Hanya saja dilarang melewati jalan desa. Bayangkan betapa menderitanya hidup terisolir dalam keramaian seperti itu.

Orang Bali tidak berani pula secara sembarangan menutup jalanan. Terlebih jalanan yang sudah ada semenjak lama. Walaupun seandainya akses jalan itu merupakan bagian dari lahan miliknya. Kerap pula ada cerita tentang seseorang yang mendapat musibah atau menemui ajal karena berani menutup jalan. Itulah sebabnya dahulu Orang Bali tidak terlalu khawatir bila lokasi lahannya berada di belakang lahan milik orang lain. Pinjam jalan adalah sesuatu yang mudah. Mereka dapat melewati lahan yang ada di depannya tentunya dengan tetap menjaga hubungan baik dengan si pemilik lahan. Pemilik lahanpun tidak pernah menghalangi orang yang lewat. Antara pemilik dan orang yang lewat sama-sama ‘tahu diri’.

Entah mulai kapan Orang Bali mulai menjadikan akses jalan sebagai sesuatu yang pelik. Banyak pula kasus sengketa jalan yang tidak murni ekonomi. Seperti pada beberapa tempat, pemilik lahan yang berada di dekat jalan besar tidak pernah setuju bila lahannya dijadikan jalan meski dibeli dengan harga berapapun. Mereka tidak ragu mengatakan tidak butuh uang. Hal ini menunjukkan bila egoisme mereka juga sulit dibeli dengan uang. Mereka memilih membalaskan sakit hati dan dendam tinimbang mendapatkan ganti rugi material.

Permasalahan jalan yang pelik inilah yang juga membuat banyak pihak menyusun siasat. Mulai dari tukang kapling lahan dengan modal terbatas yang fokus membeli jalan ketimbang membeli lahan. Mereka memilih membebaskan lahan untuk dijadikan akses masuk terlebih dahulu daripada membayar lahan yang menjadi incaran utamanya. “Jika akses masuk sudah dikuasai maka lahan yang diincar sudah ada dalam genggaman”, kata mereka.

Walaupun seandainya mereka tidak kesampaian membeli lahan yang diincar, setidaknya bisa mendapatkan untung besar dari ‘jual jalan’. Belum lagi pemilik lahan yang lokasinya terhalang oleh lahan milik orang lain juga tiada henti mencari cara untuk mendapatkan akses jalan. Disinilah dimulai drama ‘sok akrab’ mereka dengan pemilik lahan yang ada di depannya. Selain menggunakan iming-iming materi, mereka juga memanfaatkan sifat dasar Orang Bali yang senang dipuji. Mereka tidak ragu merendahkan diri (ngajum-ngajum) pemilik lahan untuk mengambil hatinya. Apabila beruntung, dengan cara ini mereka juga bisa mendapatkan potongan harga yang gila. Akhirnya dapat ditebak, setelah akses jalan diperoleh mantan pemilik lahan tidak akan pernah lagi kedatangan tamu yang berkata-kata manis seperti sebelumnya. Hubungan merekapun selesai, terlebih lahan yang dibukakan jalan telah berpindah tangan ke pihak lain.

Belum pula hilang dari ingatan saya, beberapa tahun lalu dua orang warga desa bersitegang pasca pelebaran jalan. Permasalahan ini sampai memusingkan perangkat desa di tempat kejadian. Jalan yang sebelumnya telah dilebarkan tiba-tiba ditutup lagi oleh si pemilik dengan batang pepohonan. Alasannya ternyata karena si pemilik merasa tanahnya digerus terlalu banyak. Ia meminta keadilan. Jadilan kemudian dilakukan pengukuran ulang dengan sedetail-detailnya. Dari beberapa kejadian itu, setidaknya menandakan perubahan persepsi orang Bali tentang jalan. Mereka perlahan tidak lagi menganggap jalan sebagai milik bersama, namun komoditas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar mendatangkan keuntungan maksimal.

Dahulu Orang Bali latah pula berkata, “Nyelang margi” (saya pinjam jalan)” apabila lewat di depan orang yang kebetulan duduk-duduk di pinggir jalan. Tanpa peduli jika sesungguhnya jalan itu berlokasi di wilayahnya, bahkan bagian dari lahan miliknya. Mereka juga tidak gengsi mengatakan nyelang margi kepada orang asing. Jalan yang demikian sakral itulah yang menumbuhkan beragam budaya luhur dalam tata kehidupan Orang Bali terutama saling menghormati.

Kini ketika nilai-nilai itu dilanggar jadilan ucapan nyelang margi semakin jarang terdengar. Lebih jauh, para pendatang tidak lagi menghormati penduduk lokal. Mereka berbuat seenaknya dan malah dengan terang-terangan datang untuk menaklukkan orang lokal. Terlebih ada cerita apabila mereka punya nyali untuk cekcok atau adu otot dengan penduduk lokal maka akan dapat mendongkrak prestise dalam lingkungannya, baik sesama pendatang maupun di kampung asalnya. Penduduk lokal juga tidak mau ketinggalan, mereka cenderung menganggap pendatang sebagai musuh.

Puncaknya banyak pertikaian yang lagi-lagi bertema jalan. Selain pertikaian itu kebanyakan terjadi di jalanan, juga menggunakan jalan sebagai penanda wilayah. Orang-orang yang bermukim di sepanjang jalan A mengancam akan mencelakai musuhnya bila sampai kelihatan batang hidungnya disana, begitu pula sebaliknya. Jadilah semakin banyak anak muda yang pikir-pikir untuk lewat di suatu jalan, khawatir kalau-kalau jalan itu merupakan daerah kekuasaan musush-musuhnya. Acapkali mereka cari aman dengan mencari jalan lain yang lebih jauh ketika hendak menuju suatu tempat.

Jumlah kendaraan bermotor yang semakin padatpun tidak ketinggalan membuat sesama pengendara kerap salah paham. Belum lama ini viral rekaman video seorang pemuda asli Bali yang adu jotos dengan sekelompok pemuda yang diduga pendatang. Demikian pula kini jalanan umum semakin lazim digunakan sebagai arena balapan liar. Jika dahulu hanya satu merk sepeda motor yang bergelar raja jalanan, kini kendaraan apapun ingin jadi raja jalanan. Dan itu tentu membahayakan pengendara lain. Belum disusul dengan banyaknya kejahatan yang semakin menjamur di jalanan mulai dari begal, jambret, sayat paha, pura-pura tertabrak, dan sebagainya.

Kembali lagi ke kasus penutupan jalan menuju tempat suci di tengah kota besar tadi. Benar atau tidak konon pelakunya telah pindah agama meskipun adalah Orang Bali asli yang telah memiliki bukti hak kepemilikan yang sah atas lahan tersebut. Ada yang menyebut pindah agama inilah yang menjadi sebab utamanya. Jika kita ikut-ikutan berpikir demikian berarti turut membenarkan bila nilai nyelang margi itu endemik dan mustahil bertumbuh dalam diri orang yang telah menganut agama atau kepercayaan tertentu.

Padahal leluhur Orang Bali tampaknya mempersiapkan nilai ini untuk semua orang yang bermukim di Bali, tanpa kecuali. Tentu mereka akan terhindar dari masalah jika menaatinya dengan sungguh-sungguh. Sebab, pastinya kita sepakat bila semua orang di masa ini membutuhkan akses jalan, tanpa kecuali. Jika demikian mesti disadari pula bila di jalanan ada hak-hak orang lain, nyelang margi…nyelang margiii….  [T]             

Tags: balifilosofifilsafat baliJalan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Donor Darah di DPRD Buleleng, Sehatkan Sesama, Sehatkan Diri

Next Post

Dari Aliansi Subak sampai Proses Menjaga Kedaulatan Kerajaan Bali: Memandang Batur dari Jendela Sastra

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Dari Aliansi Subak sampai Proses Menjaga Kedaulatan Kerajaan Bali: Memandang Batur dari Jendela Sastra

Dari Aliansi Subak sampai Proses Menjaga Kedaulatan Kerajaan Bali: Memandang Batur dari Jendela Sastra

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co