14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tabungan 100 Juta Sebelum Usia 30 Tahun | Sebuah Pelajaran Bahwa dengan Tuhan Segalanya Mungkin

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
December 24, 2021
in Esai
Tabungan 100 Juta Sebelum Usia 30 Tahun | Sebuah Pelajaran Bahwa dengan Tuhan Segalanya Mungkin

Arya Bayu & Yoga Pramartha, bersama Tuhan (2016)

Ini mungkin contoh kecil dari sekian banyak cerita mereka yang jauh lebih luar biasa. Mimpi sederhana menjadi nyata. Punya tabungan 100 juta sebelum usia 30 tahun adalah apa yang saya ucapkan kepada diri sendiri kala berusia 22 tahun.

Saya baru tahu bahwa sama seperti saya, sahabat saya, Arya Bayu, memiliki mimpi yang dia gambarkan jelas menjelang selesainya pendidikan sarjana dulu. Kala itu Bayu bermimpi bahwa sebelum 30 tahun kursus rumahan keluarganya dapat menjangkau seluruh Kabupaten Jembrana.

Untuk hitungan orang-orang yang belum bekerja, berlatar belakang keluarga sederhana yang terbelit hutang, mimpi tersebut seakan sungguh luar biasa. Saat tulisan ini dimuat kami berusia 27 tahun dan puji Tuhan saya diberkati Tuhan aset senilai 2 kali lipat dari yang saya harapkan. Kursusnya Bayu kini memiliki 4 cabang di Jembrana dan bahkan dikenal oleh orang-orang di luar Bali.

Ini hanyalah 2 contoh mimpi manusia biasa yang menjadi nyata. Banyak sekali mimpi luar biasa manusia biasa yang telah termanifestasi. Entahlah kenapa, namun ada panggilan hati untuk membagikan kisah kami yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi penyimak.

Ayat Lukas 1:37 menyatakan, “Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.” Hal ini diafirmasi oleh para tokoh New Thought idola saya seperti Wayne Dyer, Louise Hay, Joe Dispenza, Abraham Hicks, serta content creator lain yang dewasa ini semakin menggemakan ajaran Law of Attraction di media sosial. Terdapat beberapa prinsip Law of Attraction yang selama ini secara sadar ataupun tidak kami praktekkan dalam hidup hingga terwujudnya segala mimpi. Meskipun pada prakteknya Law of Attraction tidak sesederhana tulisan ini, beberapa prinsip di sini diharapkan dapat memberikan gambaran bermanfaat bagi pembaca dalam proses memanifestasi harapan.

Langkah pertama menurut Joe Dispenza adalah kita harus memiliki intensi yang jelas serta emosi positif. Dalam kasus saya, saya menyampaikan secara rinci bahwa saya menginginkan tabungan senilai 100 juta sebelum usia 30 tahun.

Pada kasus Bayu, dia menyatakan jelas bahwa ia ingin kursusnya menjangkau seluruh Jembrana. Kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka ingin sukses namun tidak dapat merinci kesuksesan seperti apa yang diharapkan.

Menurut Joe Dispenza, pikiran kita adalah muatan listrik yang memancarkan intensi kita ke semesta. Lalu, emosi kita merupakan medan magnet yang menarik kembali jawaban semesta atas intensi yang kita pancarkan sebelumnya dalam bentuk manifestasi fisik. Sehingga, diperlukan emosi positif seperti kebahagiaan, kedamaian, syukur, dan kasih sayang untuk mewujudkan intensi tersebut dalam wujud fisik.

Selaras dengan Dr. Dispenza, mendiang Louise Hay menyampaikan bahwa semesta itu seperti restoran kosmik, di mana kita cukup ‘memesan’ apa yang kita harapkan lalu let go atau melepaskan segala kekhawatiran dan ketakutan bahwa ‘pesanan’ kita tidak akan sampai. Dalam analogi restoran kosmik, kita bisa membayangkan bagaimana saat kita ke restoran kita memesan makanan, lalu setelahnya kita tidak bolak-balik ke dapur untuk melihat apakah makanan kita sudah jadi atau belum.

Steve Harvey juga memberikan analogi serupa, di mana harapan kita itu seperti pesanan online. Kita tidak tahu kapan paket kita sampai, tapi kita yakin bahwa paket tersebut sampai. Hal inilah yang disebut dengan keyakinan. Seorang petani setelah menanam bibit tidak akan menggali tanah untuk memeriksa apakah bibitnya sudah tumbuh atau belum.

Jika dikaitkan dengan gagasan Joe Dispenza, inilah yang disebut dengan emosi positif, di mana tidak ada ketakutan, kemarahan, dan kesedihan yang merupakan contoh emosi negatif. Menurut tukang cukur langganan salah satu teman kami, Eri, yang ia manifestasi dengan Law of Attraction pula, ketika kita takut itu artinya kita meragukan Tuhan.

Prinsip selanjutnya adalah dari mendiang Wayne Dyer yang menyatakan bahwa kita mendapatkan apa yang kita berikan. Dalam mencapai 100 juta pertama saya, setiap bulan saya tidak pernah absen untuk melakukan donasi secara online maupun berbagi secara langsung. Hal ini merupakan suatu contoh Karma Phala. Apapun yang kita harapkan, kita harus dapat berikan terlebih dahulu.

Saat kita berbagi secara material, kita seakan-akan telah hidup dalam versi diri kita yang memiliki kelimpahan seperti yang diharapkan, dalam kasus saya misalnya memiliki uang 100 juta. Selain Karma Phala, prinsip Tri Kaya Parisudha pun sebenarnya masuk dalam hal ini. Kita hanya akan memiliki hidup yang positif ketika kita berpikir, berkata, dan bertindak positif. Apa yang kita berikan itulah yang kita dapatkan. Saat kita menuangkan pada semesta pikiran, perkataan, dan perbuatan positif, maka hal-hal positiflah yang ditarik kembali menuju kita.

Prinsip terpenting bagi saya adalah syukur. Syukur adalah tindakan yang kita lakukan saat menerima sesuatu yang membuat kita bahagia. Apapun yang kita harapkan, kita harus syukuri bahkan sebelum hal tersebut menjadi nyata. Ini juga merupakan wujud dari rasa keyakinan bahwa Tuhan sedang dalam proses mewujudkan harapan kita. Syukur adalah komposisi utama orang-orang hebat di dunia. Semakin kita mensyukuri apa yang telah kita miliki/capai, semakin banyak hal yang akan kita terima untuk dapat disyukuri.

Dalam hal mewujudkan harapan kita, kita tidak perlu tahu bagaimana caranya. Saya dan Bayu adalah sosok orang yang suka tenggelam dalam perenungan. Jika dipikir, merenung sama sensasinya dengan meditasi. Wayne Dyer mengatakan bahwa keheningan itu sama dengan kosong. Angka nol atau kosong jika kita bagi hasilnya adalah tak terhingga atau infinite.

Dari tempat tak terhingga inilah kita dapat mendapatkan intuisi dan kesempatan tak terhingga yang mengarahkan kita menuju harapan, tujuan, atau intensi yang sudah kita sematkan sebelumnya. Meditasi atau perenungan memberikan kejernihan pikiran sehingga segala intuisi dan petunjuk atas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan kita dapat diterima dengan baik. Dr. Dyer juga mengatakan bahwa, jika doa adalah kita berbicara dengan Tuhan, maka intuisi adalah jawaban atau pesan Tuhan atas doa tersebut.

Prinsip terakhir adalah selalu lakukan yang terbaik dan menjadi versi terbaik diri kita. Bayu adalah satu dari sedikit orang yang saya kenal yang senantiasa memberikan dan melakukan yang terbaik untuk orang lain tanpa harap kembali. Selain itu, emosi-emosi positif seperti cinta, kasih sayang, dan kebaikan hati dalam hidup kita, akan menjadi katalis agar pahala positif dapat terwujud lebih cepat.

Jadi, jangan pernah membatasi diri dan Tuhan. Sekonyol apapun mimpimu utarakanlah kepada semesta dan jadilah versi diri yang selaras dengan mimpi tersebut. Garis besarnya adalah bahwadengan berusaha menjadi orang baik dan berbuat baik, kesuksesan yang diharapkan akan datang menghampiri dengan sendirinya. Berpikir, berkata, dan berbuatlah positif, niscaya hal-hal positif akan ditarik ke dalam hidupmu berkali lipat. Salam damai. [T}

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengguh Nikmat di Desa Les, Mengguh Hingga Mencapai Mata Katak

Next Post

Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian

Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co